Pintar-pintar Bodoh
Yang Bernyanyi Itu, Keledai
Banyak juga nilai yang kita petik dari sifat-sifat
keledai. Tindakannya yang bodoh lahir dari pikiran yang bodoh.
Tetapi ia tidak mau dibilang bodoh. Merasa diri pintar membuat
pandangan terlalu percaya kepada diri sendiri. Kekuatan lain dapat
dijadikan bahan pertimbangan selama kekuatan itu menguntungkan.
Akibatnya terjadi tindakan yang ceroboh, di luar kontrol akal
sehat.
----------
BERBAHAYA
sekali berteman dengan perangai seperti itu. Kalau tidak mau
terjerumus, sebaiknya simaklah kisah yang dialami oleh keledai dan
serigala berikut ini.
***
Adalah seekor keledai yang tidak beruntung.
Majikannya seorang pencuci pakaian. Majikan itu selalu menyuruh
sang keledai membawa beban berat, tetapi tidak pernah
bersungguh-sungguh mengurus makanannya. Keledai itu dibiarkan
lepas pada malam hari untuk mencari makan sendiri. Keesokan
harinya, pagi-pagi benar, keledai itu harus sudah berada di rumah
sang majikan.
Seperti biasanya, pada malam hari, keledai itu
merumput di sebuah kebun yang cukup luas. Di sana ia bertemu
dengan serigala yang juga sedang mencari makan. Setelah berkenalan
dengan akrab, mereka berdua lalu berjalan-jalan mengelilingi
kebun. Di sebuah tempat, serigala dan keledai itu sangat gembira
melihat kebun yang penuh dengan buah mentimun yang ranum. Mereka
pun makan sepuas-puasnya.
''Kawan Serigala!'' kata keledai kepada temannya.
''Enak benar makanan malam ini. Apalagi suasananya aman, indah dan
mempesona. Lihat bulan yang cerah itu di langit. Sayang kalau
tidak dinikmati.''
''Aku tidak mengerti maksudmu, Kawan Keledai,''
sahut serigala.
''Aku ingin memperindah malam ini dengan
bernyanyi.''
''Apa? Bernyanyi?'' seru serigala itu heran.
''Bukankah kita sedang mencuri? Mana ada pencuri ribut-ribut.
Berbisik saja tidak boleh, apalagi bernyanyi.''
''Tetapi Serigala, aku tak sanggup menahan hati
yang riang-gembira ini. Ohoi...! Terang benderang bulan di langit,
hatiku riang jangan dipingit!'' Keledai itu bernyanyi sambil
berjingkrak-jingkrak.
Berkali-kali serigala itu memperingatkan temannya,
tetapi tidak digubris. Lalu kata serigala itu, ''Kawan, nikmatilah
malam yang indah ini sendirian. Aku menunggumu di luar kebun.
Setelah puas, temuilah aku di sana!''
''Ohoi...! Terang benderang bulan dilangit, hatiku
riang jangan dipingit! Tralala, lala, lala...''
Pak tani pemilik kebun itu mendengar suara aneh
dari kebun mentimunnya. Suara itu bukan nyanyian, tetapi teriakan
yang serak dan memekakkan. Ia merasa terganggu dan curiga.
Diambilnya sebuah tongkat. Di kebun itu dilihatnya seekor keledai
berjingkrak-jingkrak. Pang! Sekali pukul keledai itu pingsan.
Setelah siuman, keledai itu bangkit perlahan-lahan.
Dengan langkah terhuyung-huyung ia menemui serigala yang sedang
menunggu di luar kebun.
''Kalau tadi pertunjukmu kuturuti, pastilah aku
tidak bernasib seperti ini,'' katanya di depan serigala.
''Tak perlu menyesal!'' kata serigala. ''Seharusnya
kau berbangga karena batu yang tergantung di lehermu adalah hadiah
bagi penyanyi yang baik.''
***
Dari mana datangnya batu itu? Syukur keledai itu
tidak dibunuh oleh pak tani. Pak tani hanya memberi pelajaran. Di
leher keledai itu digantungkan sebongkah batu. Itulah ''kalungan
bunga'' bagi penyanyi dan sekaligus pencuri.
Keledai itu hanya menuruti perasaannya. Kegembiraan
yang meluap-luap telah membutakan daya nalarnya. Sang serigala tak
mau mengecewakan temannya. Ia hanya memberi kesempatan kepada
temannya untuk belajar dari pengalaman pahit yang akan
dihadapinya. Keledai hanya menikmati apa yang memuaskan hatinya,
tetapi tak pernah terpikir apakah kepuasan hatinya itu juga
memuaskan orang lain. Begitulah perilaku orang yang pintar-pintar
bodoh.
* made taro