kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 21 Mei 2006 tarukan valas
 

KELUARGA


Pintar-pintar Bodoh
Yang Bernyanyi Itu, Keledai

Banyak juga nilai yang kita petik dari sifat-sifat keledai. Tindakannya yang bodoh lahir dari pikiran yang bodoh. Tetapi ia tidak mau dibilang bodoh. Merasa diri pintar membuat pandangan terlalu percaya kepada diri sendiri. Kekuatan lain dapat dijadikan bahan pertimbangan selama kekuatan itu menguntungkan. Akibatnya terjadi tindakan yang ceroboh, di luar kontrol akal sehat.

----------

 

BERBAHAYA sekali berteman dengan perangai seperti itu. Kalau tidak mau terjerumus, sebaiknya simaklah kisah yang dialami oleh keledai dan serigala berikut ini.

***

 

Adalah seekor keledai yang tidak beruntung. Majikannya seorang pencuci pakaian. Majikan itu selalu menyuruh sang keledai membawa beban berat, tetapi tidak pernah bersungguh-sungguh mengurus makanannya. Keledai itu dibiarkan lepas pada malam hari untuk mencari makan sendiri. Keesokan harinya, pagi-pagi benar, keledai itu harus sudah berada di rumah sang majikan.

Seperti biasanya, pada malam hari, keledai itu merumput di sebuah kebun yang cukup luas. Di sana ia bertemu dengan serigala yang juga sedang mencari makan. Setelah berkenalan dengan akrab, mereka berdua lalu berjalan-jalan mengelilingi kebun. Di sebuah tempat, serigala dan keledai itu sangat gembira melihat kebun yang penuh dengan buah mentimun yang ranum. Mereka pun makan sepuas-puasnya.

''Kawan Serigala!'' kata keledai kepada temannya. ''Enak benar makanan malam ini. Apalagi suasananya aman, indah dan mempesona. Lihat bulan yang cerah itu di langit. Sayang kalau tidak dinikmati.''

''Aku tidak mengerti maksudmu, Kawan Keledai,'' sahut serigala.

''Aku ingin memperindah malam ini dengan bernyanyi.''

''Apa? Bernyanyi?'' seru serigala itu heran. ''Bukankah kita sedang mencuri? Mana ada pencuri ribut-ribut. Berbisik saja tidak boleh, apalagi bernyanyi.''

''Tetapi Serigala, aku tak sanggup menahan hati yang riang-gembira ini. Ohoi...! Terang benderang bulan di langit, hatiku riang jangan dipingit!'' Keledai itu bernyanyi sambil berjingkrak-jingkrak.

Berkali-kali serigala itu memperingatkan temannya, tetapi tidak digubris. Lalu kata serigala itu, ''Kawan, nikmatilah malam yang indah ini sendirian. Aku menunggumu di luar kebun. Setelah puas, temuilah aku di sana!''

''Ohoi...! Terang benderang bulan dilangit, hatiku riang jangan dipingit! Tralala, lala, lala...''

Pak tani pemilik kebun itu mendengar suara aneh dari kebun mentimunnya. Suara itu bukan nyanyian, tetapi teriakan yang serak dan memekakkan. Ia merasa terganggu dan curiga. Diambilnya sebuah tongkat. Di kebun itu dilihatnya seekor keledai berjingkrak-jingkrak. Pang! Sekali pukul keledai itu pingsan.

Setelah siuman, keledai itu bangkit perlahan-lahan. Dengan langkah terhuyung-huyung ia menemui serigala yang sedang menunggu di luar kebun.

''Kalau tadi pertunjukmu kuturuti, pastilah aku tidak bernasib seperti ini,'' katanya di depan serigala.

''Tak perlu menyesal!'' kata serigala. ''Seharusnya kau berbangga karena batu yang tergantung di lehermu adalah hadiah bagi penyanyi yang baik.''

***

 

Dari mana datangnya batu itu? Syukur keledai itu tidak dibunuh oleh pak tani. Pak tani hanya memberi pelajaran. Di leher keledai itu digantungkan sebongkah batu. Itulah ''kalungan bunga'' bagi penyanyi dan sekaligus pencuri.

Keledai itu hanya menuruti perasaannya. Kegembiraan yang meluap-luap telah membutakan daya nalarnya. Sang serigala tak mau mengecewakan temannya. Ia hanya memberi kesempatan kepada temannya untuk belajar dari pengalaman pahit yang akan dihadapinya. Keledai hanya menikmati apa yang memuaskan hatinya, tetapi tak pernah terpikir apakah kepuasan hatinya itu juga memuaskan orang lain. Begitulah perilaku orang yang pintar-pintar bodoh.

 

* made taro

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com