kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 21 Mei 2006 tarukan valas
 

BERITA


Usai UN, Mandi di Pantai Kuta ----
Enam Siswa Dihantam Ombak, Empat Tewas

Denpasar (Bali Post) -
Tidak pernah dibayangkan, kedatangan 300 siswa SMUN 4 Surabaya untuk refreshing dan menikmati indahnya Pulau Bali justru berakhir bencana. Enam siswa yang berenang di Pantai Double Six, Legian, Kuta, tepatnya di depan Bali Holiday Resort, Sabtu (20/5) kemarin, diterjang ombak setinggi empat meter. Akibatnya empat siswa tewas, dua selamat.

Mereka yang tewas Wenny Wilujeng (17), Nurcholis (17), Ninis Wijayanti (17), dan Agresti Mita (17) berasal dari Surabaya. Namun, jenazah Agresti hingga kini belum ditemukan. Sementara, siswa yang berhasil diselamatkan dari maut yaitu Doni Setiawan (18) dan Irvan Maulana (18).

Informasi yang berhasil dihimpun Bali Post di TKP Sabtu kemarin menyebutkan awal peristiwa naas tersebut terjadi ketika Wenny, Nurcholis, Ninis, Agresti, Doni, dan Irvan mandi ke pantai sambil berpegangan tangan membuat lingkaran, sekitar pukul 05.45 wita. Mereka yang baru tiba di Bali Jumat (19/5) malam ini, pergi ke pantai bermaksud untuk berenang. Sambil asyik bermain di tengah laut, tanpa diduga ombak setinggi empat meter menghantam mereka. Tak pelak, keenam korban tersebut digulung ombak dan berusaha minta tolong kepada temannya yang berada di tepi pantai. ''Sebelum kejadian tragis ini, saya juga sempat dipaksa sambil didorong teman-teman untuk mandi ke laut. Namun saat saya ke tengah laut, ombak sempat menyeret saya. Karena takut, saya tidak berani lagi dan hanya main di tepi pantai. Sementara teman-teman masih berada tengah laut,'' tutur Putri Maharani, teman sekelas korban.

Mendengar teriakan, beberapa warga termasuk orang asing yang kebetulan di TKP berusaha menolong korban. Namun sayang, dari enam korban, tiga di antaranya ditemukan telah menjadi mayat, sedangkan dua berhasil diselamatkan. Satu jenazah hingga sore kemarin masih dalam pencarian petugas gabungan Polair Polda Bali dengan Balawista Badung. ''Setelah menerima laporan, beberapa petugas langsung terjun ke TKP guna melakukan pencarian. Dengan menggunakan dua jetsky dan sebuah ruber boat, dua korban berhasil diselamatkan. Sedangkan tiga korban ditemukan telah menjadi mayat,'' papar salah satu petugas Balawista.

Ketiga jenazah korban selanjutnya dibawa ke RS Sanglah untuk divisum. Sementara, menurut keterangan salah seorang guru, Tri Djatmiko, kedatangan siswa tersebut ke Bali adalah refreshing sekaligus perpisahan. ''Mereka semua adalah siswa kelas III. Berhubung baru saja selesai ujian, maka untuk perpisahan sekaligus darmawisata ke Bali'' ujar Tri.

Dijelaskannya, darmawisata ini dibuat untuk sekadar beristirahat, sehingga tidak banyak kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa. ''Rencananya pukul sebelas (kemarin) nanti, kami baru akan berangkat ke GWK lalu ke Tanjung Benoa kemudian ke Joger. Lalu keesokan harinya kami hanya menjadwal anak-anak ke Bedugul dan Tanah Lot. Senin subuh kami merencanakan sudah sampai lagi di Surabaya, karena mereka harus mempersiapkan diri untuk ujian UMPTN,'' jelas Tri.

 

Salat Gaib

Sebagai tanda ikut berduka cita, keluarga besar SMAN 4 Surabaya menggelar doa bersama dan salat gaib. Salat gaib dilaksanakan mulai pukul 10.00 WIB di halaman SMAN 4 di Jalan Prof. Dr. Moestopo Surabaya. Isak tangis pun terlihat. Terutama dari para ibu guru sekolah itu. Mereka tidak dapat menahan sedih dari musibah yang menimpa anak didiknya yang baru saja selesai mengikuti ujian nasional.

''Saya tidak menyangka liburan ke Bali yang menggunakan delapan bus itu berubah menjadi malapetaka,'' kata Wakil Kepala SMAN 4 Surabaya, Shohib, di Surabaya Sabtu kemarin. Tragedi yang menimpa enam siswa SMAN 4 Surabaya pertama kali diterima dari seorang guru, Heri Yudi, yang ikut mendampingi ratusan siswa/siswinya ke Bali. Padahal, kata dia, sudah ada papan peringatan di pinggir pantai tentang bahanya ombak di Pantai Kuta. Saat mereka sedang berupaya menjangkau lebih jauh dari bibir pantai untuk mencari kerang, tiba-tiba ada ombak besar dan langsung menggulung enam siswa. Mereka langsung dan menjerit histeris melihat kejadian itu.

Setelah mendapat kabar duka itu, pihaknya langsung lapor polisi dan memberitahukan ke rumah wali murid yang jadi korban. Tidak sedikit orang tua yang langsung menghujat guru SMAN 4 dengan kata-kata kasar yang kebetulan tugas piket di pos pengaduan. ''Kami minta maaf kepada wali murid atas tragedi ini,'' kata Shohib. Minggu (21/5) ini, semua siswa langsung dipulangkan ke Surabaya karena ditungu keluarganya.  Sementara jenazah ketiga siswa/siswi yang tewas langsung diterbangkan dari Bali menuju Surabaya melalui Bandara Juanda Sabtu (20/5) petang. (jay/san/059)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com