Usai UN, Mandi di Pantai Kuta ----
Enam Siswa Dihantam Ombak, Empat Tewas
Denpasar
(Bali Post) -
Tidak pernah dibayangkan, kedatangan 300 siswa SMUN 4 Surabaya
untuk refreshing dan menikmati indahnya Pulau Bali justru berakhir
bencana. Enam siswa yang berenang di Pantai Double Six, Legian,
Kuta, tepatnya di depan Bali Holiday Resort, Sabtu (20/5) kemarin,
diterjang ombak setinggi empat meter. Akibatnya empat siswa tewas,
dua selamat.
Mereka yang tewas Wenny Wilujeng (17), Nurcholis
(17), Ninis Wijayanti (17), dan Agresti Mita (17) berasal dari
Surabaya. Namun, jenazah Agresti hingga kini belum ditemukan.
Sementara, siswa yang berhasil diselamatkan dari maut yaitu Doni
Setiawan (18) dan Irvan Maulana (18).
Informasi yang berhasil dihimpun Bali Post di TKP
Sabtu kemarin menyebutkan awal peristiwa naas tersebut terjadi
ketika Wenny, Nurcholis, Ninis, Agresti, Doni, dan Irvan mandi ke
pantai sambil berpegangan tangan membuat lingkaran, sekitar pukul
05.45 wita. Mereka yang baru tiba di Bali Jumat (19/5) malam ini,
pergi ke pantai bermaksud untuk berenang. Sambil asyik bermain di
tengah laut, tanpa diduga ombak setinggi empat meter menghantam
mereka. Tak pelak, keenam korban tersebut digulung ombak dan
berusaha minta tolong kepada temannya yang berada di tepi pantai.
''Sebelum kejadian tragis ini, saya juga sempat dipaksa sambil
didorong teman-teman untuk mandi ke laut. Namun saat saya ke
tengah laut, ombak sempat menyeret saya. Karena takut, saya tidak
berani lagi dan hanya main di tepi pantai. Sementara teman-teman
masih berada tengah laut,'' tutur Putri Maharani, teman sekelas
korban.
Mendengar teriakan, beberapa warga termasuk orang
asing yang kebetulan di TKP berusaha menolong korban. Namun
sayang, dari enam korban, tiga di antaranya ditemukan telah
menjadi mayat, sedangkan dua berhasil diselamatkan. Satu jenazah
hingga sore kemarin masih dalam pencarian petugas gabungan Polair
Polda Bali dengan Balawista Badung. ''Setelah menerima laporan,
beberapa petugas langsung terjun ke TKP guna melakukan pencarian.
Dengan menggunakan dua jetsky dan sebuah ruber boat, dua korban
berhasil diselamatkan. Sedangkan tiga korban ditemukan telah
menjadi mayat,'' papar salah satu petugas Balawista.
Ketiga jenazah korban selanjutnya dibawa ke RS
Sanglah untuk divisum. Sementara, menurut keterangan salah seorang
guru, Tri Djatmiko, kedatangan siswa tersebut ke Bali adalah
refreshing sekaligus perpisahan. ''Mereka semua adalah siswa kelas
III. Berhubung baru saja selesai ujian, maka untuk perpisahan
sekaligus darmawisata ke Bali'' ujar Tri.
Dijelaskannya, darmawisata ini dibuat untuk sekadar
beristirahat, sehingga tidak banyak kegiatan yang akan dilakukan
oleh siswa. ''Rencananya pukul sebelas (kemarin) nanti, kami baru
akan berangkat ke GWK lalu ke Tanjung Benoa kemudian ke Joger.
Lalu keesokan harinya kami hanya menjadwal anak-anak ke Bedugul
dan Tanah Lot. Senin subuh kami merencanakan sudah sampai lagi di
Surabaya, karena mereka harus mempersiapkan diri untuk ujian
UMPTN,'' jelas Tri.
Salat Gaib
Sebagai tanda ikut berduka cita, keluarga besar
SMAN 4 Surabaya menggelar doa bersama dan salat gaib. Salat gaib
dilaksanakan mulai pukul 10.00 WIB di halaman SMAN 4 di Jalan
Prof. Dr. Moestopo Surabaya. Isak tangis pun terlihat. Terutama
dari para ibu guru sekolah itu. Mereka tidak dapat menahan sedih
dari musibah yang menimpa anak didiknya yang baru saja selesai
mengikuti ujian nasional.
''Saya tidak menyangka liburan ke Bali yang
menggunakan delapan bus itu berubah menjadi malapetaka,'' kata
Wakil Kepala SMAN 4 Surabaya, Shohib, di Surabaya Sabtu kemarin.
Tragedi yang menimpa enam siswa SMAN 4 Surabaya pertama kali
diterima dari seorang guru, Heri Yudi, yang ikut mendampingi
ratusan siswa/siswinya ke Bali. Padahal, kata dia, sudah ada papan
peringatan di pinggir pantai tentang bahanya ombak di Pantai Kuta.
Saat mereka sedang berupaya menjangkau lebih jauh dari bibir
pantai untuk mencari kerang, tiba-tiba ada ombak besar dan
langsung menggulung enam siswa. Mereka langsung dan menjerit
histeris melihat kejadian itu.
Setelah mendapat kabar duka itu, pihaknya langsung
lapor polisi dan memberitahukan ke rumah wali murid yang jadi
korban. Tidak sedikit orang tua yang langsung menghujat guru SMAN
4 dengan kata-kata kasar yang kebetulan tugas piket di pos
pengaduan. ''Kami minta maaf kepada wali murid atas tragedi ini,''
kata Shohib. Minggu (21/5) ini, semua siswa langsung dipulangkan
ke Surabaya karena ditungu keluarganya. Sementara jenazah
ketiga siswa/siswi yang tewas langsung diterbangkan dari Bali
menuju Surabaya melalui Bandara Juanda Sabtu (20/5) petang.
(jay/san/059)