kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 21 Mei 2006 tarukan valas
 

APRESIASI


Samakah Pagi dengan Sisipus?

Sebuah Pagi di Bali...

BUKU-BUKU tidak memenuhi ruang kosong. Ia mengesahkan adanya kekosongan, justru dengan memenuhinya. Keindahan sebuah pagi menjadi sia-sia, karena batin sudah tidak lagi aman, walau hanya untuk berdialog sesaat dengan kecemasan. Yang salah justru karena kita semua merasa benar.

Kita sudah terbiasa saling tidak mendengar, ketika berbicara menjadi model kebebasan baru. Ribuan bahkan jutaan suara alam yang halus telah luput dari pendengaran. Karena kuping lebih terpesona mendengar nyanyian burung Gagak yang berkisah tentang keindahan awan hitam penutup langit biru rumah matahari. Sementara burung Crukcuk tak henti-hentinya ngoceh, bahwa hidup ini indah dan penting. Indah karena akan berakhir dengan kematian:  sebuah irama tidak menoton. Penting karena dengan hidup, kita bisa begini dan begitu. Bila Elang menyambar anak ayam, mematuk dan mematikannya di tempat, itu karena hidup makhluk  lain dianggapnya tidak penting. Atau, penting untuk dirinya. Burung Bangkai bertambah banyak, karena kebusukan tak bisa lagi ditutup-tutupi dengan pakaian seindah apa pun, di dalam istana semewah apa pun. Para Gagak lebih dahulu mencium datangnya kematian. Mereka yang berguru pada burung Gagak, bila berhasil akan menjadi Gagak juga.

Kita perlu berkenalan ulang dengan orang sekitar, yang tetap saja gagal dipahami. Bahasa yang semestinya menghubungkan, telah menjadi tembok pemisah. Sementara tembok pemisah yang melindungi perbedaan telah dirobohkan oleh koor kebersamaan yang semu. Haruskah kita tinggal di rumah yang sebenarnya belum kita kenal ini: sebuah bangunan tradisi berbahankan kekerasan dipolesi cat agama; sebuah bangunan yang kita duga kokoh ternyata rapuh, dan bisa ambruk hanya oleh sebuah isu.

Ternyata sebutir embun di rumput lebih ramah daripada sebuah ritual bagi sebuah pagi. Uap halus bergerak pelan dalam udara yang diam: itulah penari tak bertulang. Ia menerobos kerapatan sinar matahari. Dan berhasil. Dalam terang yang benderang tiba-tiba banyak orang tak mampu melihat. Terang yang menyilaukan mata hati. Pasti ada sesuatu yang tidak benar di dalamnya. Tapi peradaban ini harus terus berjalan. Karena sudah terlanjut dikatakan luhur. Di sini masih ada arah dan jarak yang titunjukkan oleh tangan entah siapa pemiliknya. Utang arah dibayar tuju. Utang jarak dibayar tempuh. Kembaliannya berupa keringat bercampur debu.

Sebuah pagi, sepotong sunyi, dan segenggam keberanian. Bagaimana menjelaskan hubungan ketiga ''makhluk halus'' itu. Dan bagaimana pula wajahnya bila ketiganya bergabung menjadi satu. Jutaan cerita telah diciptakan untuk sekadar menjelaskannya. Semuanya terasa gagal. Karena keinginan menjelaskan ternyata menjadi jurang menjerumuskan. Menjelaskan menjadi godaan besar, justru karena menjanjikan otoritas, yang tidak bisa tidak mengantarkan pada ketakberdayaan. Api yang terang membakar kayu bakarnya. Api semangat dan benih kecerdasan bermuara pada kesia-siaan.

Banyak orang membalikkan kesia-siaan menjadi cita-cita luhur. Kemudian dikukuhkan menjadi tradisi, yang bila ditoleh dari kejauhan nampak seperti sebuah benteng besi di tengah gurun kehidupan yang gersang. Tujuan institusi adalah menstandarkan sebuah penjelasan. Sampai nantinya lahir institusi baru yang siap mencairkan kebekuan darah dagingnya. Demikian seterusnya, dan selanjutnya. Sebuah bangunan kemegahan pasti berdiri di atas pengorbanan orang banyak. Berapa nyawa melayang untuk sebuah kemegahan Taj Mahal? Keagungan Borobudur juga mengabarkan pengorbanan orang-orang di sekitarnya. Tradisi adalah bangunan megah yang dibangun dan dipertahankan dengan mengubur suara-suara yang berbeda. Tapi kemegahan orang-orang yang dikorbankan lebih tinggi dari tradisi itu sendiri. Bila yang dicatat dan diberitakan hanyalah yang menang, itu masalah lain. Kita tidak akan tertipu oleh penampakan.

Orang-orang merasa telah berjalan jauh, jauh sekali. Padahal mereka hanya berputar dan terus berputar di halaman rumah tradisi yang besar. Seperti ternak sapi terikat tali panjang di bawah pohon angker. Apabila kemudian telah sampai pada kecemasan tak berujung pangkal, diciptakanlah musuh bersama. Kemudian diciptakan cerita tentang sejumlah keberhasilah, betapa hebatnya kita dulu. Betapa kita begini, betapa kita begitu. Memang kekalahan dalam realita bisa jadi kemenangan dalam cerita. Dan itu boleh, karena memiliki pembenaran dan pendukung. Demikian seterusnya, seterusnya, terus.

Sementara kekacauan, penistaan kemanusiaan, juga terus berjalan di sisi yang lain. Jangan sebut ini takdir. Karena selalu sisi yang satu nampak jelas ketika kita berada pada sisi yang satunya lagi. Asalkan mau menoleh. Asalkan leher tidak terlalu kaku. Terlalu dekat membuat perasaan terlalu jauh. Tapi peradaban tidak hanya dibangun oleh dua sisi. Sehingga pemutlakan sebuah tafsir selalu gagal, cepat atau lambat. Seperti sebuah rekayasa agama dan provokasi umat pasti akan ambruk bila berhadapan dengan rasa yang dalam, sentuhan manusiawi. Tafsir yang dipaksakan dengan tega-hati hanya menyuburkan perlawanan baru, korban baru, mitos baru. Untuk siapakah bondres ini dipertunjukkan berulang-ulang, bila sudah jelas setiap generasi adalah putra zamannya.

 

PAGI yang indah datang ketika orang masih tertidur. Malam-malam orang tidur dengan kecemasan. Pagi bagai perawan tua yang tak pernah disentuh. Orang-orang sibuk melestarikan ini, mempertahankan itu. Seolah sudah tak ada lagi yang bisa dikerjakan selain itu. Tapi sebuah pagi yang mungil akan datang lagi, dan datang lagi, seperti ombak selalu menghantam cadas yang kaku. Apakah pagi sedang menjalani sebuah kutukan menempuh barisan kesia-siaan? Samakah Pagi dengan Sisipus yang dikutuk mendorong batu ke puncak gunung, dan harus mendorongnya kembali setiap batu itu menggelinding ke bawah? Siapa begitu tega-hati merusak pagi yang polos seperti bayi dengan sejumlah rencana di kepalanya.

''Ah, bayi anakku, bernama Pagi, lahir di Bali. Jadilah kau nanti dirimu sendiri, apa adanya. Jangan cepat mempercayai rekayasa orang suci.''

Pertanyaan tentang pagi menggiring pada pencarian sebuah jawaban. Bila yang dicari mulai nampak, walau samar-samar, dada pun ditepuk. ''Sebenarnya begini, sebenarnya begitu, kalau itu begini, kalau ini begitu.'' Bermodalkan tafsir sendiri, orang ngotot merebut kewenangan untuk menata kehidupan di sekitarnya. Di bawah kendalinya. Ada dalam kontrolnya. Sementara ia yang tidak lagi tergoda dengan janji-janji sebuah tafsir kebenaran, puas menerima keterharuan hati sebagai imbalan dari tapa-lugunya. Setelah berdamai dengan keterharuan yang menyesakkan dada, ia akan diam. Bisu yang dalam. Lebih dalam daripada sumur di padang pasir. Tak peduli seribu tangan kiri menuding. Ada yang diam karena tidak tahu bahasa. Ada yang diam karena tahu banyak bahasa. Keduanya sama-sama diam. Keduanya tidak sama.

Tapi ia kembali merasa menjadi manusia. Manusia itu indah, karena ia dekat dengan dirinya. Dewa itu juga indah, karena ia jauh dan samar-samar. Keduanya sama-sama indah, tapi berbeda. Perasaan kemanusiaan tidak harus dipertentangkan secara ekstrem dengan perasaan ketuhanan, seperti mempertentangkan suci dengan leteh. Agama tidak bermusuhan dengan humanisme dan demokrasi. Agama tidak punya musuh. Yang punya musuh adalah elite agama. Orang boleh mengagungkan dewa, tapi janganlah dengan menistakan manusia. Bila Kidung Coak baris pertamanya berbunyi ''diri bodoh karena pintar'' (awak belog baan ririh), apalah bedanya dengan ''diri kotor karena suci''. Tapi baiklah, itu tafsir belaka. Bukankah kebudayaan dan tradisi adalah kumpulan tafsir yang bertahan karena dilembagakan dengan sanksi yang keras? Kapankah kita rela mendengarkan suara berbeda dari dalam maupun luar? Tanpa harus buru-buru membunuhnya dan membuangnya demi stabilitas dan sejumlah argumentasi lainnya. Kanapa sampai lupa, bahwa musik yang indah dibangun oleh berbagai bunyi berbeda.

 

* IMB Dharma Palguna

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com