Samakah Pagi dengan Sisipus?
Sebuah Pagi di Bali...
BUKU-BUKU
tidak memenuhi ruang kosong. Ia mengesahkan adanya kekosongan,
justru dengan memenuhinya. Keindahan sebuah pagi menjadi sia-sia,
karena batin sudah tidak lagi aman, walau hanya untuk berdialog
sesaat dengan kecemasan. Yang salah justru karena kita semua
merasa benar.
Kita sudah terbiasa saling tidak mendengar, ketika
berbicara menjadi model kebebasan baru. Ribuan bahkan jutaan suara
alam yang halus telah luput dari pendengaran. Karena kuping lebih
terpesona mendengar nyanyian burung Gagak yang berkisah tentang
keindahan awan hitam penutup langit biru rumah matahari. Sementara
burung Crukcuk tak henti-hentinya ngoceh, bahwa hidup ini indah
dan penting. Indah karena akan berakhir dengan kematian:
sebuah irama tidak menoton. Penting karena dengan hidup, kita bisa
begini dan begitu. Bila Elang menyambar anak ayam, mematuk dan
mematikannya di tempat, itu karena hidup makhluk lain
dianggapnya tidak penting. Atau, penting untuk dirinya. Burung
Bangkai bertambah banyak, karena kebusukan tak bisa lagi
ditutup-tutupi dengan pakaian seindah apa pun, di dalam istana
semewah apa pun. Para Gagak lebih dahulu mencium datangnya
kematian. Mereka yang berguru pada burung Gagak, bila berhasil
akan menjadi Gagak juga.
Kita perlu berkenalan ulang dengan orang sekitar,
yang tetap saja gagal dipahami. Bahasa yang semestinya
menghubungkan, telah menjadi tembok pemisah. Sementara tembok
pemisah yang melindungi perbedaan telah dirobohkan oleh koor
kebersamaan yang semu. Haruskah kita tinggal di rumah yang
sebenarnya belum kita kenal ini: sebuah bangunan tradisi
berbahankan kekerasan dipolesi cat agama; sebuah bangunan yang
kita duga kokoh ternyata rapuh, dan bisa ambruk hanya oleh sebuah
isu.
Ternyata sebutir embun di rumput lebih ramah
daripada sebuah ritual bagi sebuah pagi. Uap halus bergerak pelan
dalam udara yang diam: itulah penari tak bertulang. Ia menerobos
kerapatan sinar matahari. Dan berhasil. Dalam terang yang
benderang tiba-tiba banyak orang tak mampu melihat. Terang yang
menyilaukan mata hati. Pasti ada sesuatu yang tidak benar di
dalamnya. Tapi peradaban ini harus terus berjalan. Karena sudah
terlanjut dikatakan luhur. Di sini masih ada arah dan jarak yang
titunjukkan oleh tangan entah siapa pemiliknya. Utang arah dibayar
tuju. Utang jarak dibayar tempuh. Kembaliannya berupa keringat
bercampur debu.
Sebuah pagi, sepotong sunyi, dan segenggam
keberanian. Bagaimana menjelaskan hubungan ketiga ''makhluk
halus'' itu. Dan bagaimana pula wajahnya bila ketiganya bergabung
menjadi satu. Jutaan cerita telah diciptakan untuk sekadar
menjelaskannya. Semuanya terasa gagal. Karena keinginan
menjelaskan ternyata menjadi jurang menjerumuskan. Menjelaskan
menjadi godaan besar, justru karena menjanjikan otoritas, yang
tidak bisa tidak mengantarkan pada ketakberdayaan. Api yang terang
membakar kayu bakarnya. Api semangat dan benih kecerdasan bermuara
pada kesia-siaan.
Banyak orang membalikkan kesia-siaan menjadi
cita-cita luhur. Kemudian dikukuhkan menjadi tradisi, yang bila
ditoleh dari kejauhan nampak seperti sebuah benteng besi di tengah
gurun kehidupan yang gersang. Tujuan institusi adalah
menstandarkan sebuah penjelasan. Sampai nantinya lahir institusi
baru yang siap mencairkan kebekuan darah dagingnya. Demikian
seterusnya, dan selanjutnya. Sebuah bangunan kemegahan pasti
berdiri di atas pengorbanan orang banyak. Berapa nyawa melayang
untuk sebuah kemegahan Taj Mahal? Keagungan Borobudur juga
mengabarkan pengorbanan orang-orang di sekitarnya. Tradisi adalah
bangunan megah yang dibangun dan dipertahankan dengan mengubur
suara-suara yang berbeda. Tapi kemegahan orang-orang yang
dikorbankan lebih tinggi dari tradisi itu sendiri. Bila yang
dicatat dan diberitakan hanyalah yang menang, itu masalah lain.
Kita tidak akan tertipu oleh penampakan.
Orang-orang merasa telah berjalan jauh, jauh
sekali. Padahal mereka hanya berputar dan terus berputar di
halaman rumah tradisi yang besar. Seperti ternak sapi terikat tali
panjang di bawah pohon angker. Apabila kemudian telah sampai pada
kecemasan tak berujung pangkal, diciptakanlah musuh bersama.
Kemudian diciptakan cerita tentang sejumlah keberhasilah, betapa
hebatnya kita dulu. Betapa kita begini, betapa kita begitu. Memang
kekalahan dalam realita bisa jadi kemenangan dalam cerita. Dan itu
boleh, karena memiliki pembenaran dan pendukung. Demikian
seterusnya, seterusnya, terus.
Sementara kekacauan, penistaan kemanusiaan, juga
terus berjalan di sisi yang lain. Jangan sebut ini takdir. Karena
selalu sisi yang satu nampak jelas ketika kita berada pada sisi
yang satunya lagi. Asalkan mau menoleh. Asalkan leher tidak
terlalu kaku. Terlalu dekat membuat perasaan terlalu jauh. Tapi
peradaban tidak hanya dibangun oleh dua sisi. Sehingga pemutlakan
sebuah tafsir selalu gagal, cepat atau lambat. Seperti sebuah
rekayasa agama dan provokasi umat pasti akan ambruk bila
berhadapan dengan rasa yang dalam, sentuhan manusiawi. Tafsir yang
dipaksakan dengan tega-hati hanya menyuburkan perlawanan baru,
korban baru, mitos baru. Untuk siapakah bondres ini dipertunjukkan
berulang-ulang, bila sudah jelas setiap generasi adalah putra
zamannya.
PAGI yang indah datang ketika orang masih tertidur.
Malam-malam orang tidur dengan kecemasan. Pagi bagai perawan tua
yang tak pernah disentuh. Orang-orang sibuk melestarikan ini,
mempertahankan itu. Seolah sudah tak ada lagi yang bisa dikerjakan
selain itu. Tapi sebuah pagi yang mungil akan datang lagi, dan
datang lagi, seperti ombak selalu menghantam cadas yang kaku.
Apakah pagi sedang menjalani sebuah kutukan menempuh barisan
kesia-siaan? Samakah Pagi dengan Sisipus yang dikutuk mendorong
batu ke puncak gunung, dan harus mendorongnya kembali setiap batu
itu menggelinding ke bawah? Siapa begitu tega-hati merusak pagi
yang polos seperti bayi dengan sejumlah rencana di kepalanya.
''Ah, bayi anakku, bernama Pagi, lahir di Bali.
Jadilah kau nanti dirimu sendiri, apa adanya. Jangan cepat
mempercayai rekayasa orang suci.''
Pertanyaan tentang pagi menggiring pada pencarian
sebuah jawaban. Bila yang dicari mulai nampak, walau samar-samar,
dada pun ditepuk. ''Sebenarnya begini, sebenarnya begitu, kalau
itu begini, kalau ini begitu.'' Bermodalkan tafsir sendiri, orang
ngotot merebut kewenangan untuk menata kehidupan di sekitarnya. Di
bawah kendalinya. Ada dalam kontrolnya. Sementara ia yang tidak
lagi tergoda dengan janji-janji sebuah tafsir kebenaran, puas
menerima keterharuan hati sebagai imbalan dari tapa-lugunya.
Setelah berdamai dengan keterharuan yang menyesakkan dada, ia akan
diam. Bisu yang dalam. Lebih dalam daripada sumur di padang pasir.
Tak peduli seribu tangan kiri menuding. Ada yang diam karena tidak
tahu bahasa. Ada yang diam karena tahu banyak bahasa. Keduanya
sama-sama diam. Keduanya tidak sama.
Tapi ia kembali merasa menjadi manusia. Manusia itu
indah, karena ia dekat dengan dirinya. Dewa itu juga indah, karena
ia jauh dan samar-samar. Keduanya sama-sama indah, tapi berbeda.
Perasaan kemanusiaan tidak harus dipertentangkan secara ekstrem
dengan perasaan ketuhanan, seperti mempertentangkan suci dengan
leteh. Agama tidak bermusuhan dengan humanisme dan demokrasi.
Agama tidak punya musuh. Yang punya musuh adalah elite agama.
Orang boleh mengagungkan dewa, tapi janganlah dengan menistakan
manusia. Bila Kidung Coak baris pertamanya berbunyi ''diri bodoh
karena pintar'' (awak belog baan ririh), apalah bedanya dengan
''diri kotor karena suci''. Tapi baiklah, itu tafsir belaka.
Bukankah kebudayaan dan tradisi adalah kumpulan tafsir yang
bertahan karena dilembagakan dengan sanksi yang keras? Kapankah
kita rela mendengarkan suara berbeda dari dalam maupun luar? Tanpa
harus buru-buru membunuhnya dan membuangnya demi stabilitas dan
sejumlah argumentasi lainnya. Kanapa sampai lupa, bahwa musik yang
indah dibangun oleh berbagai bunyi berbeda.
* IMB
Dharma Palguna