|
Prof. Dr. I Made Bandem, M.A
Kebyar, Pencapaian
Spektakuler dalam Kesenian Bali
Hampir
seabad masyarakat Bali larut dalam euforia gegap gamelan Gong Kebyar
dan pesona tari-tariannya. Menyimak kian berkibarnya seni Kebyar
belakangan ini, bisa dipastikan beberapa generasi ke depan akan ikut
kecipratan menikmati sumringah seni yang ensambel gamelannya hampir
dapat dijumpai di setiap banjar dan desa di Bali ini.
Pakar seni Prof. Dr. I Made Bandem, M.A., menyebut
seni Kebyar sebagai ekspresi seni yang meluap-luap dengan aksi
dramatis yang menakjubkan. Menurut seniman dan budayawan kelahiran
Singapadu, Gianyar, yang kini menjadi Rektor Institut Seni Indonesia
(ISI) Yogyakarta ini, Kebyar adalah sebuah pencapaian spektakuler
dalam kesenian Bali. Pendapatnya ini disampaikannya pada 11 Mei 2006
di Tokyo, Jepang, saat penerimaan "The Koizumi Fumio Prize Awardee",
sebuah perhargaan internasional untuk dedikasinya dalam bidang
etnomusikologi -- musik bangsa-bangsa. Bandem yang sejak muda
menjadi pelaku, penggagas, dan saksi perjalanan seni Kebyar,
mengungkapkan pandangan dan kajiannya dalam pidatonya di Gedung
Tokyo Jonh Bull, Jepang. Berikut petikan wawancara dengan
cendekiawan dan tokoh revitalisasi kesenian Bali ini.
-----------------------------------------
KENDATI
Kebyar begitu akrab dengan masyarakat Bali, apa definisi tentang
kesenian ini menurut Anda?
Kebyar adalah sebuah istilah yang digunakan untuk
memberikan nama kepada ensambel baru dan tari kreasi baru dalam
kesenian Bali yang keduanya memiliki ciri-ciri tempo cepat, rumit,
keras, dan dinamis. Ensambel baru ini disebut Gong Kebyar dan tari
kreasi barunya disebut tari Kebyar. Gamelan Gong Kebyar dan tari
Kebyar tak dapat dipisahkan, keduanya merupakan ekspresi kesenian
Bali yang lahir pada awal abad ke-20.
Apakah sejak awal gamelan Gong Kebyar dan tari Kebyar
muncul secara integral?
Tidak. Semula, Gong Kebyar diciptakan hanya sebagai
musik instrumental untuk konser dan festival, namun dalam
perkembangannya gamelan ini juga digunakan mengiringi tari, dan
tariannya pun disebut tari Kebyar. Kata kebyar berarti kilat atau
halilintar, bisa jadi karena setiap lagu Kebyar dimulai dengan bunyi
yang keras eksplosif. Kini ketika Gong Kebyar dijadikan media untuk
menyajikan lagu-lagu klasik dari khazanah gamelan kuno, dia juga
dapat berfungsi dalam konteks ritual keagamaan, termasuk upacara
ritus kehidupan.
Sejak kapan Gong Kebyar mengiringi tari kreasi yang
kemudian disebut masyarakat dengan seni Kebyar?
Embrionya sudah ada dalam tari Kebyar Legong di Bali
Utara. Namun tokoh yang sangat penting peranannya mengembangkan tari
kreasi dengan iringan Gong Kebyar adalah I Mario, penari Gandrung
dari Tabanan. Ketika mengajar tari di Busungbiu, Buleleng, Mario
menarikan lagu Gong Kebyar secara improvisasi, ber-ibing-ibingan
dengan pemain kendang, bergerak bebas dengan posisi jongkok dan aksi
itu menjadi cikal bakal kelahiran tari Kebyar Duduk pada 1920 dan
kemudian tari Kebyar Trompong pada 1925. Demikian fenomenalnya I
Mario sebagai penari Kebyar Duduk, masyarakat hampir melupakan bahwa
Kebyar itu adalah musik instrumental. Sedangkan konsep estetik
tari-tarian Kebyar saat itu berorientasi pada tari laki-laki tunggal,
keterampilan pribadi, kemampuan menafsirkan, ungkapan emosi yang
meluap-luap, serta aksi dramatis yang mengagumkan.
Lalu, kapan wanita menyemarakkan seni Kebyar,
khususnya dalam bidang tari?
Perkembangannya terjadi pada periode 1930-1940-an
yang dimulai oleh I Nyoman Kaler, koreografer dan komposer dari
Kelandis, Denpasar. Ia menciptakan tari Panji Semirang, Candrametu,
hingga Margapati yang ditarikan oleh wanita. Tampak kemudian konsep
tari Kebyar berubah drastis dari improvisatif ke tarian yang lebih
terstruktur ketat -- tari dan musik menjadi satu kesatuan.
Penampilan penari pria yang tampan digeser penari wanita cantik.
Muncullah kemudian sebutan tari babancihan akibat karakter laki-laki
dibawakan penari perempuan. Namun tak lama kemudian muncul tari
dengan konsep duet laki-laki dan perempuan gagasan Mario pada 1951,
ketika akan mempersiapkan sebuah misi kesenian ke Eropa dan Amerika.
Bagaimana dengan tarian berkelompok?
Konsep estetik Kebyar itu terus bergulir. Maka
hadirlah kemudian tarian berkelompok seperti Kebyar Rajapala, Tani,
Nelayan, dan Kupu-kupu Tarum yang bersifat realistik programatik. I
Ketut Merdana dari Buleleng dan I Wayan Beratha dari Badung adalah
dua kreator tari yang dalam ciptaannya sering menyertakan lagu vokal
berbahasa Indonesia dengan tujuan membangun apresiasi kepada
penonton dari luar Bali. Lalu, seni Kebyar dengan konsep estetis
sendratari baru muncul pada HUT I Konservatori Karawitan (Kokar)
Indonesia dengan sendratari Jayaprana garapan I Wayan Beratha.
* * *
SENDRATARI
kolosal sempat menjadi tontonan primadona masyarakat Bali dalam
Pesta Kesenian Bali. Bagi Anda, bukankah hal-hal kolosal itu
mengubah karakter tari Bali yang sarat dengan detail?
Bukan mengubah karakter tari Bali secara total. Tapi
untuk kebutuhan estetika, Kebyar dalam sendratari kolosal itu memang
memunculkan perubahan drastis. Karakter tari Bali yang semula
disajikan dalam arena intim, dalam sendratari kolosal itu berubah
menjadi pementasan panggung besar. Akibatnya, estetika kerumitan
berubah jadi estetika global. Hampir semua gerak tari yang rumit dan
terinci dikembangkan menjadi gerak-gerak tari bervolume besar agar
dapat disaksikan oleh ribuan penonton.
Apakah perkembangan tari dengan estetika Kebyar itu
membuat Gong Kebyar sebagai musik instrumental kurang mendapat
perhatian masyarakat?
Tak sepenuhnya begitu. Pada 1959 muncul dua lagu
instrumental kreasi Kebyar yaitu Swabhuwana Paksa dan Jayasemara
ciptaan I Wayan Beratha. Bersamaan dengan itu di Kedis Kaja,
Buleleng, lahir juga lagu Gambang Suling dan Hujan Mas gubahan Ketut
Merdana dan Putu Sumiasa, sebagai adaptasi lagu-lagu Jawa ke dalam
Gong Kebyar. Kesemarakan pemunculan lagu-lagu instrumental tampak
signifikan sejak dimulainya Utsawa Meredangga pada 1968 yang kini
dikenal sebagai Festival Gong Kebyar. Entah sudah berapa banyaknya
komposer Bali melahirkan lagu instrumental dalam festival yang kini
ditampilkan di arena Pesta Kesenian Bali (PKB). Gong Kebyar memang
wadah kreasi yang fleksibel dan telah memberikan kontribusi penting
terhadap gamelan lainnya.
Apa saja kontribusi penting Gong Kebyar terhadap
kesenian lainnya?
Kontribusinya yang besar pada perkembangan gamelan
yang lain seperti Gender Wayang, Angklung, Gong Suling, hingga Drama
Gong. Bahkan Jegog telah dimasuki juga gaya kakebyaran ketika di era
1990-an I Ketut Suwentra menciptakan tari Makepung sebagai karya
akhir kesarjanaannya di STSI Denpasar. Begitu juga sendratari, musik
maupun tarinya adalah kreasi lanjutan dari Gong Kebyar. Pun
sesungguhnya Adi Merdangga yang diciptakan STSI tahun 1984 adalah
prinsip gamelan Bleganjur yang di-kebyar-kan, dimasukkan konsep
emosi dan aksi dramatis. Di situlah fleksibelitas Gong Kebyar bisa
menerima dan mempengaruhi gamelan lain, sehingga dapat dianggap
sebagai sumber yang kaya akan melodi, ritme, harmoni dan aspek
musikal lainnya.
Terfokusnya perhatian para insan seni dan masyarakat
Bali terhadap seni Kebyar konon sempat menelantarkan bentuk-bentuk
seni pertunjukan klasik. Begitukah?
Jangan salah, euforia seni Kebyar di sisi lain
membangkitkan kerinduan orang pada kesenian klasik Bali. Memang
muncul kekhawatiran sejumlah pihak, kesenian Bali akan kehilangan
dramatari Gambuh, Wayang Wong, Arja, Legong dan lain-lainnya.
Makanya, dengan dukungan Listibiya dan Pemda Bali, pada 1972
diadakan proyek-proyek penggalian, pemeliharaan, dan pengembangan
kesenian klasik dan baru. Kesenian klasik yang hampir punah
direkonstruksi dan direvitalisasi. Kesenian baru diberikan ruang
seluas-luasnya. Munculnya tari bertema dunia fauna pada 1980-an
seperti tari Manukrawa ciptaan I Wayan Dibia, Kijang Kencana oleh I
Gusti Ngurah Supartha, sampai Cendrawasih karya Swasthi Wijaya
disambut antusias masyarakat Bali. Eksistensi para komposer seperti
I Nyoman Astita, I Wayan Rai (kini rektor ISI Denpasar, red), I
Nyoman Windha, hingga Ketut Gede Asnawa kian diakui masyarakat
pecinta seni. ISI Denpasar termasuk ikut mengkondisikan munculnya
koreografer dan komposer dengan kepribadian ciptaannya masing-masing.
* * *
DATA
pemetaan kesenian pada tahun 1992 mencatat lebih dari 1.600 ensambel
Gong Kebyar yang berkembang di Bali, bagaimana dengan di luar negeri?
Gamelan Bali sudah menyebar ke mancanegara, di
antaranya ada sekitar 100 ensambel Gong Kebyar yang tersebar luas di
Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Australia, Spanyol, Kanada, India,
hingga Thailand. Gamelan Gong Kebyar yang bersifat perkusif mungkin
menjadi alasan kuat kenapa ia bisa diterima bangsa lain. Hampir di
seluruh dunia ada perkusi, mulai dari bentuk dan permainan instrumen
yang sederhana sampai yang paling rumit. Masyarakat dunia lebih
memahami Gong Kebyar juga lewat penerbitan buku ilmiah berbahasa
asing seperti "De Toonkunst van Bali" oleh Jaap Kunst (1925), "Music
in Bali" oleh Colin McPhee (1966), dan "Gamelan Gong Kebyar The Art
of Twentieth-Century Balinese Music" oleh Michael Tenzer (2000).
Kemajuan teknologi media rekam ikut pula meluaskan wilayah
penyebaran seni Kebyar.
Apakah masa kejayaan seni Kebyar di usianya menjelang
seratus tahun mendatang ini perlu dirayakan
?
Sangat perlu. Kebyar sebagai seni spektakuler masyarakat Bali memang
sangat pantas dibanggakan. Mungkin tonggak tepat seabad usia
kesenian ini, pada tumpek krulut misalnya yang di Bali dikenal
sebagai otonan gamelan, para seniman, sekaa-sekaa Gong Kebyar yang
ada di seluruh Bali menabuh secara serentak. Atau bila perlu,
menggelar pentas seni Kebyar secara akbar dengan mendatangkan
grup-grup Gong Kebyar dari seluruh dunia, misalnya. Jika itu yang
diinginkan, tentu perlu disiapkan dari sekarang. Saya yakin,
pemerintah, masyarakat luas, kalangan akademisi, yayasan-yayasan
atau para maesenas yang memiliki komitmen dengan kesenian akan
memberikan dukungannya.
* pewawancara
kadek suartaya
gus martin
Prof. Dr. I Made Bandem, M.A
. adalah guru besar dalam bidang etnomusikologi yang
kini Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia telah
menghasilkan lebih dari 120 karya ilmiah dalam bidang seni (musik,
tari, teater dan lukis) berupa buku maupun artikel dalam bahasa
Indonesia maupun Inggris. Selama kariernya, ia telah menerima
berbagai penghargaan dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni antara
lain International Music Council Award dari Unesco (1994), Dharma
Kusuma (1995), Lempad Prize (1998), dan Habibie Award (2003).
Lahir di Singapadu, Gianyar, 22 Juni 1945, sejak umur
5 tahun Bandem sudah belajar menari pada ayahnya, I Made Keredek --
penari Bali terkenal pada zamannya. Setamat dari Konservatori
Karawitan Indonesia (Kokar) Denpasar, ia ikut kuliah di IHD Denpasar
dan kemudian di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar angkatan
pertama (1967-1968). Gelar Master of Arts dalam bidang etnologi tari
diperolehnya dari University of California Los Angeles (UCLA) pada
1972.
Pada 1980 ia menyelesaikan Ph.D. dalam bidang
etnomusikologi pada Wesleyan University, Midletown Connecticut, AS.
Pada 1981-1998, ia memimpin ASTI-STSI (kini ISI) Denpasar. Salah
satu bukunya yang beredar secara internasional adalah "Kaja and
Kelod, Balinese Dance in Transition" yang diterbitkan oleh Oxford
University Press, 1981. Buku tentang seni pertunjukan Bali ini
ditulisnya bersama Fredrik Eugene deBoer, guru besar bidang teater
dari AS
|