kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 14 Mei 2006 tarukan valas
 

POTRET


Prof. Dr. I Made Bandem, M.A
Kebyar, Pencapaian Spektakuler dalam Kesenian Bali
 

Hampir seabad masyarakat Bali larut dalam euforia gegap gamelan Gong Kebyar dan pesona tari-tariannya. Menyimak kian berkibarnya seni Kebyar belakangan ini, bisa dipastikan beberapa generasi ke depan akan ikut kecipratan menikmati sumringah seni yang ensambel gamelannya hampir dapat dijumpai di setiap banjar dan desa di Bali ini.

Pakar seni Prof. Dr. I Made Bandem, M.A., menyebut seni Kebyar sebagai ekspresi seni yang meluap-luap dengan aksi dramatis yang menakjubkan. Menurut seniman dan budayawan kelahiran Singapadu, Gianyar, yang kini menjadi Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini, Kebyar adalah sebuah pencapaian spektakuler dalam kesenian Bali. Pendapatnya ini disampaikannya pada 11 Mei 2006 di Tokyo, Jepang, saat penerimaan "The Koizumi Fumio Prize Awardee", sebuah perhargaan internasional untuk dedikasinya dalam bidang etnomusikologi -- musik bangsa-bangsa. Bandem yang sejak muda menjadi pelaku, penggagas, dan saksi perjalanan seni Kebyar, mengungkapkan pandangan dan kajiannya dalam pidatonya di Gedung Tokyo Jonh Bull, Jepang. Berikut petikan wawancara dengan cendekiawan dan tokoh revitalisasi kesenian Bali ini.

-----------------------------------------

KENDATI Kebyar begitu akrab dengan masyarakat Bali, apa definisi tentang kesenian ini menurut Anda?

Kebyar adalah sebuah istilah yang digunakan untuk memberikan nama kepada ensambel baru dan tari kreasi baru dalam kesenian Bali yang keduanya memiliki ciri-ciri tempo cepat, rumit, keras, dan dinamis. Ensambel baru ini disebut Gong Kebyar dan tari kreasi barunya disebut tari Kebyar. Gamelan Gong Kebyar dan tari Kebyar tak dapat dipisahkan, keduanya merupakan ekspresi kesenian Bali yang lahir pada awal abad ke-20. 

Apakah sejak awal gamelan Gong Kebyar dan tari Kebyar muncul secara integral?

Tidak. Semula, Gong Kebyar diciptakan hanya sebagai musik instrumental untuk konser dan festival, namun dalam perkembangannya gamelan ini juga digunakan mengiringi tari, dan tariannya pun disebut tari Kebyar. Kata kebyar berarti kilat atau halilintar, bisa jadi karena setiap lagu Kebyar dimulai dengan bunyi yang keras eksplosif. Kini ketika Gong Kebyar dijadikan media untuk menyajikan lagu-lagu klasik dari khazanah gamelan kuno, dia juga dapat berfungsi dalam konteks ritual keagamaan, termasuk upacara ritus kehidupan.

Sejak kapan Gong Kebyar mengiringi tari kreasi yang kemudian disebut masyarakat dengan seni Kebyar?

Embrionya sudah ada dalam tari Kebyar Legong di Bali Utara. Namun tokoh yang sangat penting peranannya mengembangkan tari kreasi dengan iringan Gong Kebyar adalah I Mario, penari Gandrung dari Tabanan. Ketika mengajar tari di Busungbiu, Buleleng, Mario menarikan lagu Gong Kebyar secara improvisasi, ber-ibing-ibingan dengan pemain kendang, bergerak bebas dengan posisi jongkok dan aksi itu menjadi cikal bakal kelahiran tari Kebyar Duduk pada 1920 dan kemudian tari Kebyar Trompong pada 1925. Demikian fenomenalnya I Mario sebagai penari Kebyar Duduk, masyarakat hampir melupakan bahwa Kebyar itu adalah musik instrumental. Sedangkan konsep estetik tari-tarian Kebyar saat itu berorientasi pada tari laki-laki tunggal, keterampilan pribadi, kemampuan menafsirkan, ungkapan emosi yang meluap-luap, serta aksi dramatis yang mengagumkan. 

Lalu, kapan wanita menyemarakkan seni Kebyar, khususnya dalam bidang tari?

Perkembangannya terjadi pada periode 1930-1940-an yang dimulai oleh I Nyoman Kaler, koreografer dan komposer dari Kelandis, Denpasar. Ia menciptakan tari Panji Semirang, Candrametu, hingga Margapati yang ditarikan oleh wanita. Tampak kemudian konsep tari Kebyar berubah drastis dari improvisatif ke tarian yang lebih terstruktur ketat -- tari dan musik menjadi satu kesatuan. Penampilan penari pria yang tampan digeser penari wanita cantik. Muncullah kemudian sebutan tari babancihan akibat karakter laki-laki dibawakan penari perempuan. Namun tak lama kemudian muncul tari dengan konsep duet laki-laki dan perempuan gagasan Mario pada 1951, ketika akan mempersiapkan sebuah misi kesenian ke Eropa dan Amerika. 

Bagaimana dengan tarian berkelompok?

Konsep estetik Kebyar itu terus bergulir. Maka hadirlah kemudian tarian berkelompok seperti Kebyar Rajapala, Tani, Nelayan, dan Kupu-kupu Tarum yang bersifat realistik programatik. I Ketut Merdana dari Buleleng dan I Wayan Beratha dari Badung adalah dua kreator tari yang dalam ciptaannya sering menyertakan lagu vokal berbahasa Indonesia dengan tujuan membangun apresiasi kepada penonton dari luar Bali. Lalu, seni Kebyar dengan konsep estetis sendratari baru muncul pada HUT I Konservatori Karawitan (Kokar) Indonesia dengan sendratari Jayaprana garapan I Wayan Beratha.

* * * 

SENDRATARI kolosal sempat menjadi tontonan primadona masyarakat Bali dalam Pesta Kesenian Bali. Bagi Anda, bukankah hal-hal kolosal itu mengubah karakter tari Bali yang sarat dengan detail?

Bukan mengubah karakter tari Bali secara total. Tapi untuk kebutuhan estetika, Kebyar dalam sendratari kolosal itu memang memunculkan perubahan drastis. Karakter tari Bali yang semula disajikan dalam arena intim, dalam sendratari kolosal itu berubah menjadi pementasan panggung besar. Akibatnya, estetika kerumitan berubah jadi estetika global. Hampir semua gerak tari yang rumit dan terinci dikembangkan menjadi gerak-gerak tari bervolume besar agar dapat disaksikan oleh ribuan penonton. 

Apakah perkembangan tari dengan estetika Kebyar itu membuat Gong Kebyar sebagai musik instrumental kurang mendapat perhatian masyarakat?

Tak sepenuhnya begitu. Pada 1959 muncul dua lagu instrumental kreasi Kebyar yaitu Swabhuwana Paksa dan Jayasemara ciptaan I Wayan Beratha. Bersamaan dengan itu di  Kedis Kaja, Buleleng, lahir juga lagu Gambang Suling dan Hujan Mas gubahan Ketut Merdana dan Putu Sumiasa, sebagai adaptasi lagu-lagu Jawa ke dalam Gong Kebyar. Kesemarakan pemunculan lagu-lagu instrumental tampak signifikan sejak dimulainya Utsawa Meredangga pada 1968 yang kini dikenal sebagai Festival Gong Kebyar. Entah sudah berapa banyaknya komposer Bali melahirkan lagu instrumental dalam festival yang kini ditampilkan di arena Pesta Kesenian Bali (PKB). Gong Kebyar memang wadah kreasi yang fleksibel dan telah memberikan kontribusi penting terhadap gamelan lainnya.

Apa saja kontribusi penting Gong Kebyar terhadap kesenian lainnya?

Kontribusinya yang besar pada perkembangan gamelan yang lain seperti Gender Wayang, Angklung, Gong Suling, hingga Drama Gong. Bahkan Jegog telah dimasuki juga gaya kakebyaran ketika di era 1990-an I Ketut Suwentra menciptakan tari Makepung sebagai karya akhir kesarjanaannya di STSI Denpasar. Begitu juga sendratari, musik maupun tarinya adalah kreasi lanjutan dari Gong Kebyar. Pun sesungguhnya Adi Merdangga yang diciptakan STSI tahun 1984 adalah prinsip gamelan Bleganjur yang di-kebyar-kan, dimasukkan konsep emosi dan aksi dramatis. Di situlah fleksibelitas Gong Kebyar bisa menerima dan mempengaruhi gamelan lain, sehingga dapat dianggap sebagai sumber yang kaya akan melodi, ritme, harmoni dan aspek musikal lainnya.

Terfokusnya perhatian para insan seni dan masyarakat Bali terhadap seni Kebyar konon sempat menelantarkan bentuk-bentuk seni pertunjukan klasik. Begitukah?

Jangan salah, euforia seni Kebyar di sisi lain membangkitkan kerinduan orang pada kesenian klasik Bali. Memang muncul kekhawatiran sejumlah pihak, kesenian Bali akan kehilangan dramatari Gambuh, Wayang Wong, Arja, Legong dan lain-lainnya. Makanya, dengan dukungan Listibiya dan Pemda Bali, pada 1972 diadakan proyek-proyek penggalian, pemeliharaan, dan pengembangan kesenian klasik dan baru. Kesenian klasik yang hampir punah direkonstruksi dan direvitalisasi. Kesenian baru diberikan ruang seluas-luasnya. Munculnya tari bertema dunia fauna pada 1980-an seperti tari Manukrawa ciptaan I Wayan Dibia, Kijang Kencana oleh I Gusti Ngurah Supartha, sampai Cendrawasih karya Swasthi Wijaya disambut antusias masyarakat Bali. Eksistensi para komposer seperti I Nyoman Astita, I Wayan Rai (kini rektor ISI Denpasar, red), I Nyoman Windha, hingga Ketut Gede Asnawa kian diakui masyarakat pecinta seni. ISI Denpasar termasuk ikut mengkondisikan munculnya koreografer dan komposer dengan kepribadian ciptaannya masing-masing.

* * * 

DATA pemetaan kesenian pada tahun 1992 mencatat lebih dari 1.600 ensambel Gong Kebyar yang berkembang di Bali, bagaimana dengan di luar negeri?

Gamelan Bali sudah menyebar ke mancanegara, di antaranya ada sekitar 100 ensambel Gong Kebyar yang tersebar luas di Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Australia, Spanyol, Kanada, India, hingga Thailand. Gamelan Gong Kebyar yang bersifat perkusif mungkin menjadi alasan kuat kenapa ia bisa diterima bangsa lain. Hampir di seluruh dunia ada perkusi, mulai dari bentuk dan permainan instrumen yang sederhana sampai yang paling rumit. Masyarakat dunia lebih memahami Gong Kebyar juga lewat penerbitan buku ilmiah berbahasa asing seperti "De Toonkunst van Bali" oleh Jaap Kunst (1925), "Music in Bali" oleh Colin McPhee (1966), dan "Gamelan Gong Kebyar The Art of Twentieth-Century Balinese Music" oleh Michael Tenzer (2000). Kemajuan teknologi media rekam ikut pula meluaskan wilayah penyebaran seni Kebyar.

Apakah masa kejayaan seni Kebyar di usianya menjelang seratus tahun mendatang ini perlu dirayakan

?
Sangat perlu. Kebyar sebagai seni spektakuler masyarakat Bali memang sangat pantas dibanggakan. Mungkin tonggak tepat seabad usia kesenian ini, pada tumpek krulut misalnya yang di Bali dikenal sebagai otonan gamelan, para seniman, sekaa-sekaa Gong Kebyar yang ada di seluruh Bali menabuh secara serentak. Atau bila perlu, menggelar pentas seni Kebyar secara akbar dengan mendatangkan grup-grup Gong Kebyar dari seluruh dunia, misalnya. Jika itu yang diinginkan, tentu perlu disiapkan dari sekarang. Saya yakin, pemerintah, masyarakat luas, kalangan akademisi, yayasan-yayasan atau para maesenas yang memiliki komitmen dengan kesenian akan memberikan dukungannya.

* pewawancara
  kadek suartaya
  gus martin
 

Prof. Dr. I Made Bandem, M.A

. adalah guru besar dalam bidang etnomusikologi yang kini Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia telah menghasilkan lebih dari 120 karya ilmiah dalam bidang seni (musik, tari, teater dan lukis) berupa buku maupun artikel dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Selama kariernya, ia telah menerima berbagai penghargaan dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni antara lain International Music Council Award dari Unesco (1994), Dharma Kusuma (1995), Lempad Prize (1998), dan Habibie Award (2003).

Lahir di Singapadu, Gianyar, 22 Juni 1945, sejak umur 5 tahun Bandem sudah belajar menari pada ayahnya, I Made Keredek -- penari Bali terkenal pada zamannya. Setamat dari Konservatori Karawitan Indonesia (Kokar) Denpasar, ia ikut kuliah di IHD Denpasar dan kemudian di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar angkatan pertama (1967-1968). Gelar Master of Arts dalam bidang etnologi tari diperolehnya dari University of California Los Angeles (UCLA) pada 1972.

Pada 1980 ia menyelesaikan Ph.D. dalam bidang etnomusikologi pada Wesleyan University, Midletown Connecticut, AS. Pada 1981-1998, ia memimpin ASTI-STSI (kini ISI) Denpasar. Salah satu bukunya yang beredar secara internasional adalah "Kaja and Kelod, Balinese Dance in Transition" yang diterbitkan oleh Oxford University Press, 1981. Buku tentang seni pertunjukan Bali ini ditulisnya bersama Fredrik Eugene deBoer, guru besar bidang teater dari AS

 
 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com