kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 14 Mei 2006 tarukan valas
 

OPINI


Dinosaurus dan Serigala 

REFORMASI di Indonesia adalah mahluk yang aneh. Dia bisa meruntuhkan kekuasaan yang berusia 32 tahun sekaligus menggeser presiden. Dia bisa mengirim orang-orang penting ke penjara. Juga bisa menjadikan orang biasa jadi orang penting, orang miskin jadi kaya mendadak. Malah bisa mengamandemen UUD 1945 sebanyak lima kali. Ironisnya, dia bergerak liar dan meninggalkan orang-orang yang menggagasnya, sehingga tak bisa mengendalikannya lagi. Kalau boleh diusulkan, reformasi hendaknya dimasukkan ke dalam Guiness Book of The Records.

Demikian kurang lebih komentar Jenderal (Purnawirawan) Wiranto dalam tayangan acara "Dialog Khusus Sewindu Reformasi. Mencari Visi Indonesia 2030", Rabu (10/5) malam. Selain Wiranto, ada empat tokoh nasional "gaek" lain yang berbicara bergiliran di podium. Para audiences-nya, di antaranya ada wajah-wajah "penting" lain di situ. Anehnya, forum bertajuk "dialog" yang dipandu Eros Djarot itu ternyata hanya "monolog". Karena, sebelum acara dimulai, konon ada kesepakatan untuk tidak melakukan tanya jawab.   Padahal, melihat ketokohan kelima pembicara yang hidup dan berperan di segala zaman -- dari Orde Lama hingga Orde Reformasi -- itu, di situ kemungkinan akan terjadi debat hangat.

Kekesalan dan kekecewaan adalah nada yang terlontar dari masing-masing pembicara dalam mengomentari kondisi negara saat ini. Rata-rata pembicara mengkritisi pemimpin nasional yang dikatakan lemah, lembek dan tak punya konsep jelas, serta kurang tegas memimpin negara. Kalaupun punya konsep, itu cuma berjangka pendek demi kepentingan kekuasaan selama lima tahun. Janji-janji dalam kampanye Pemilu 2004, nyaris tak terpenuhi sehingga Syafii Maarif yang juga pembicara khawatir kalau slogan "Bersama Kita Bisa" mengarah ke "Bersama Kita Gagal".

Namun Syafii Maarif bersyukur, Indonesia masih punya Pancasila, yang menjaga keutuhan bangsa. Dulu, tuturnya, dia termasuk dalam kelompok yang ingin mengubah dasar negara itu. Namun, setelah belajar dan membaca banyak buku, dia  justru bertekad mempertahankan Pancasila. Syafii malah menyerukan agar masyarakat jangan terlalu khawatir terhadap kelompok yang dia sebut sebagai "preman berjubah" yang ingin mengganti daasr negara Pancasila, sebab kelompok itu sangat kecil dan akan lenyap bila masalah kemiskinan dan pengangguran dituntaskan serta perekonomian dibangkitkan.

*** 

RUBAG memang sepaham kalau Pancasila yang lahir lewat pidato Bung Karno, 1 Juni 1945 di hadapan para anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) di Jakarta adalah lem perekat bangsa. Saking besarnya hasrat proklamator itu akan persatuan dan kesatuan, maka "Kebangsaan" diletakkannya sebagai sila pertama Pancasila. Kemudian sila ini berubah menjadi "Persatuan Indonesia". Untuk paham kebangsaan, dia mengambil pendapat Ernest Renan dan Otto Bauer, yang selanjutnya dikombinasikan dengan pikirannya sendiri guna mendefinisikannya.

Bangsa, menurut Bung Karno, adalah segerombolan manusia yang berdiam di sebuah geopolitik, memiliki kemauan keras untuk bersatu dan punya persamaan karakter yang lahir karena kesamaan pengalaman. Dasar negara yang kemudian dijadikan falsafah bangsa atau way of life itu, setelah kemerdekaan diindoktrinasi lewat kursus-kursus langsung oleh Bung Karno di berbagai kesempatan. Bukan hanya itu, di depan Sidang Umum PBB, 30 September 1960, Presiden I RI itu pernah memperkenalkan Pancasila dalam pidato berjudul "To Build The World A New".

Terbukti politik devide et impera yang dilakukan Belanda serta sekutunya, sejak kemerdekaan hingga menjelang peristiwa G 30 S tahun 1965, tidak berhasil memecah belah bangsa Indonesia.

 Sayang, pemahaman tentang Pancasila mulai bergeser sejak rezim Orde Baru mulai berkuasa. Ideologi Pembangunan yang diusung para developmentalis atau teknobirokrat sering menggunakan Pancasila sebagai alat untuk menakut-nakuti rakyat. Penggusuran untuk perumahan, pertokoan, pembukaan pertambangan baru, areal industri, penguasaan hutan sering menggunakan stigma "Anti Pancasilais" atau "PKI" bagi anggota masyarakat yang menentang.

Bahkan setelah dimulainya program Eka Prasetya Pancakarsa atau penataran P-4 sejak tahun 1978, setiap pencari kerja atau murid yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, harus melengkapi administrasinya dengan piagam P-4. Ironisnya, perlakuan yang bertentangan dengan ajaran Pancasila, khususnya "Perikemanusiaan yang Adil dan Beradab" yang dilakukan penguasa dengan alat-alat kekuasaannya terhadap rakyat terus terjadi.

"Dor! Hidup Ketuhanan Yang Maha Esa! Dor! Dor! Hidup Kemanusiaan yang Adil dan Beradab! Dor! Dor! Dor! Hidup Persatuan Indonesia! Dor! Dor! Dor! Dor! Hidup Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Hidup keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia!"

Begitu tulis KHA Mustofa Bisri penuh sarkasme dalam "Ohoi Kumpulan Puisi Balsem" untuk menyindir penguasa 0rde Baru, yang menggunakan Pancasila untuk menundukkan yang dikuasainya. 

*** 

GERAKAN reformasi yang dimotori mahasiswa mulai meningkat pasca Kerusuhan 27 Juli 1996 disingkat "Kudatuli" -- kantor DPP PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri di Jl. Diponegoro 58 Jakarta, menjadi sasaran. Selanjutnya, sepanjang 1997-1998 terjadi penculikan terhadap 14 aktivis yang kemudian dinyatakan hilang tidak tentu rimbanya, termasuk Wiji Thukul penulis puisi berjudul "Peringatan!" yang karyanya selalu dibaca mahasiswa saat berdemonstrasi.

Tragedi Trisakti, 12 Mei 1998 yang menewaskan empat mahasiswa, merupakan penyulut terjadinya kerusuhan di berbagai wilayah di Jawa dan sekitarnya, yang berkulminasi pada diserbunya Gedung DPR-MPR di Senayan oleh mahasiswa dan rakyat. Akibatnya, Soeharto lengser dari kekuasaannya. Turunnya "Sang Kaisar" itu rupanya tak diterima secara ikhlas oleh para pengikut setianya, sehingga pada 13 November 1998 terjadi lagi Tragedi Semanggi I yang menewaskan lima mahasiswa, disusul Tragedi Semanggi II, 24 September 1999, menewaskan lima orang lagi.

Berdasarkan catatan Rubag, sinyalemen yang mengatakan bahwa reformasi menjadi liar dan tak terkendali jadi terdengar wajar. Sebab, gerakan yang bertujuan mengerem tindakan para penguasa Orde Baru yang dirasakan sewenang-wenang merupakan gerakan yang dimotori para mahasiswa. Gerakan yang kemudian oleh para intelektual dan politisi disebut "reformasi" itu bukan gerakan dengan rencana yang matang dan sengaja untuk melakukan kudeta. Malah, setelah sukses menumbangkan kekuasaan yang totaliter otoritarian, yang sebelumnya belum pernah mereka bayangkan begitu mencengangkan hasilya, para mahasiswa justru back to campus.

Maka, bagai mendapat durian runtuh, panen yang merupakan hasil jerih payah dan pengorbanan mahasiswa itu, dituai para politisi yang di antaranya mantan pengabdi kekuasaan yang ditumbangkan. Bahkan, orang-orang yang sebelumnya antipolitik dan buta politik serta senantiasa bersikap  hipokrit ikut rebutan kekuasaan. Akibatnya, krisis multidimensi nyaris tak berkesudahan dan reformasi yang sudah berusia sewindu pun tetap berstatus transisional.

Mungkin itu sebabnya reformasi disebut mahluk aneh, mirip dinosaurus yang besar dan perkasa namun mati lebih awal daripada serigala tua yang sakit-sakitan.

* aridus

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com