Dinosaurus dan Serigala
REFORMASI
di Indonesia adalah mahluk yang aneh. Dia bisa meruntuhkan
kekuasaan yang berusia 32 tahun sekaligus menggeser presiden. Dia
bisa mengirim orang-orang penting ke penjara. Juga bisa menjadikan
orang biasa jadi orang penting, orang miskin jadi kaya mendadak.
Malah bisa mengamandemen UUD 1945 sebanyak lima kali. Ironisnya,
dia bergerak liar dan meninggalkan orang-orang yang menggagasnya,
sehingga tak bisa mengendalikannya lagi. Kalau boleh diusulkan,
reformasi hendaknya dimasukkan ke dalam Guiness Book of The
Records.
Demikian kurang lebih komentar Jenderal (Purnawirawan)
Wiranto dalam tayangan acara "Dialog Khusus Sewindu Reformasi.
Mencari Visi Indonesia 2030", Rabu (10/5) malam. Selain Wiranto,
ada empat tokoh nasional "gaek" lain yang berbicara bergiliran di
podium. Para audiences-nya, di antaranya ada wajah-wajah "penting"
lain di situ. Anehnya, forum bertajuk "dialog" yang dipandu Eros
Djarot itu ternyata hanya "monolog". Karena, sebelum acara dimulai,
konon ada kesepakatan untuk tidak melakukan tanya jawab.
Padahal, melihat ketokohan kelima pembicara yang hidup dan
berperan di segala zaman -- dari Orde Lama hingga Orde Reformasi
-- itu, di situ kemungkinan akan terjadi debat hangat.
Kekesalan dan kekecewaan adalah nada yang terlontar
dari masing-masing pembicara dalam mengomentari kondisi negara
saat ini. Rata-rata pembicara mengkritisi pemimpin nasional yang
dikatakan lemah, lembek dan tak punya konsep jelas, serta kurang
tegas memimpin negara. Kalaupun punya konsep, itu cuma berjangka
pendek demi kepentingan kekuasaan selama lima tahun. Janji-janji
dalam kampanye Pemilu 2004, nyaris tak terpenuhi sehingga Syafii
Maarif yang juga pembicara khawatir kalau slogan "Bersama Kita
Bisa" mengarah ke "Bersama Kita Gagal".
Namun Syafii Maarif bersyukur, Indonesia masih
punya Pancasila, yang menjaga keutuhan bangsa. Dulu, tuturnya, dia
termasuk dalam kelompok yang ingin mengubah dasar negara itu.
Namun, setelah belajar dan membaca banyak buku, dia justru
bertekad mempertahankan Pancasila. Syafii malah menyerukan agar
masyarakat jangan terlalu khawatir terhadap kelompok yang dia
sebut sebagai "preman berjubah" yang ingin mengganti daasr negara
Pancasila, sebab kelompok itu sangat kecil dan akan lenyap bila
masalah kemiskinan dan pengangguran dituntaskan serta perekonomian
dibangkitkan.
***
RUBAG
memang sepaham kalau Pancasila yang lahir lewat pidato Bung Karno,
1 Juni 1945 di hadapan para anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai
atau Badan Penyidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)
di Jakarta adalah lem perekat bangsa. Saking besarnya hasrat
proklamator itu akan persatuan dan kesatuan, maka "Kebangsaan"
diletakkannya sebagai sila pertama Pancasila. Kemudian sila ini
berubah menjadi "Persatuan Indonesia". Untuk paham kebangsaan, dia
mengambil pendapat Ernest Renan dan Otto Bauer, yang selanjutnya
dikombinasikan dengan pikirannya sendiri guna mendefinisikannya.
Bangsa, menurut Bung Karno, adalah segerombolan
manusia yang berdiam di sebuah geopolitik, memiliki kemauan keras
untuk bersatu dan punya persamaan karakter yang lahir karena
kesamaan pengalaman. Dasar negara yang kemudian dijadikan falsafah
bangsa atau way of life itu, setelah kemerdekaan diindoktrinasi
lewat kursus-kursus langsung oleh Bung Karno di berbagai
kesempatan. Bukan hanya itu, di depan Sidang Umum PBB, 30
September 1960, Presiden I RI itu pernah memperkenalkan Pancasila
dalam pidato berjudul "To Build The World A New".
Terbukti politik devide et impera yang dilakukan
Belanda serta sekutunya, sejak kemerdekaan hingga menjelang
peristiwa G 30 S tahun 1965, tidak berhasil memecah belah bangsa
Indonesia.
Sayang, pemahaman tentang Pancasila mulai bergeser
sejak rezim Orde Baru mulai berkuasa. Ideologi Pembangunan yang
diusung para developmentalis atau teknobirokrat sering menggunakan
Pancasila sebagai alat untuk menakut-nakuti rakyat. Penggusuran
untuk perumahan, pertokoan, pembukaan pertambangan baru, areal
industri, penguasaan hutan sering menggunakan stigma "Anti
Pancasilais" atau "PKI" bagi anggota masyarakat yang menentang.
Bahkan setelah dimulainya program Eka Prasetya
Pancakarsa atau penataran P-4 sejak tahun 1978, setiap pencari
kerja atau murid yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan
lebih tinggi, harus melengkapi administrasinya dengan piagam P-4.
Ironisnya, perlakuan yang bertentangan dengan ajaran Pancasila,
khususnya "Perikemanusiaan yang Adil dan Beradab" yang dilakukan
penguasa dengan alat-alat kekuasaannya terhadap rakyat terus
terjadi.
"Dor! Hidup Ketuhanan Yang Maha Esa! Dor! Dor!
Hidup Kemanusiaan yang Adil dan Beradab! Dor! Dor! Dor! Hidup
Persatuan Indonesia! Dor! Dor! Dor! Dor! Hidup Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan!
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Hidup keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia!"
Begitu tulis KHA Mustofa Bisri penuh sarkasme dalam
"Ohoi Kumpulan Puisi Balsem" untuk menyindir penguasa 0rde Baru,
yang menggunakan Pancasila untuk menundukkan yang dikuasainya.
***
GERAKAN
reformasi yang dimotori mahasiswa mulai meningkat pasca Kerusuhan
27 Juli 1996 disingkat "Kudatuli" -- kantor DPP PDI pimpinan
Megawati Soekarnoputri di Jl. Diponegoro 58 Jakarta, menjadi
sasaran. Selanjutnya, sepanjang 1997-1998 terjadi penculikan
terhadap 14 aktivis yang kemudian dinyatakan hilang tidak tentu
rimbanya, termasuk Wiji Thukul penulis puisi berjudul "Peringatan!"
yang karyanya selalu dibaca mahasiswa saat berdemonstrasi.
Tragedi Trisakti, 12 Mei 1998 yang menewaskan empat
mahasiswa, merupakan penyulut terjadinya kerusuhan di berbagai
wilayah di Jawa dan sekitarnya, yang berkulminasi pada diserbunya
Gedung DPR-MPR di Senayan oleh mahasiswa dan rakyat. Akibatnya,
Soeharto lengser dari kekuasaannya. Turunnya "Sang Kaisar" itu
rupanya tak diterima secara ikhlas oleh para pengikut setianya,
sehingga pada 13 November 1998 terjadi lagi Tragedi Semanggi I
yang menewaskan lima mahasiswa, disusul Tragedi Semanggi II, 24
September 1999, menewaskan lima orang lagi.
Berdasarkan catatan Rubag, sinyalemen yang
mengatakan bahwa reformasi menjadi liar dan tak terkendali jadi
terdengar wajar. Sebab, gerakan yang bertujuan mengerem tindakan
para penguasa Orde Baru yang dirasakan sewenang-wenang merupakan
gerakan yang dimotori para mahasiswa. Gerakan yang kemudian oleh
para intelektual dan politisi disebut "reformasi" itu bukan
gerakan dengan rencana yang matang dan sengaja untuk melakukan
kudeta. Malah, setelah sukses menumbangkan kekuasaan yang
totaliter otoritarian, yang sebelumnya belum pernah mereka
bayangkan begitu mencengangkan hasilya, para mahasiswa justru back
to campus.
Maka, bagai mendapat durian runtuh, panen yang
merupakan hasil jerih payah dan pengorbanan mahasiswa itu, dituai
para politisi yang di antaranya mantan pengabdi kekuasaan yang
ditumbangkan. Bahkan, orang-orang yang sebelumnya antipolitik dan
buta politik serta senantiasa bersikap hipokrit ikut rebutan
kekuasaan. Akibatnya, krisis multidimensi nyaris tak berkesudahan
dan reformasi yang sudah berusia sewindu pun tetap berstatus
transisional.
Mungkin itu sebabnya reformasi disebut mahluk aneh,
mirip dinosaurus yang besar dan perkasa namun mati lebih awal
daripada serigala tua yang sakit-sakitan.
* aridus