Kentel
Gumi
Hiranyagarbhah
samavartatagre
Bhutasya
jatah
patireka asit,
Sa dadhara
prthivim
dyam
utemam
Kasmai
devaya
havisa vidhema (Rgveda
X.121.1)
Maksudnya:
Tuhan Yang
Mahaesa yang
menguasai planet
ada
dalam diri-Nya.
Tuhan
itu mahatunggal
sebagai
pencipta segala.
Tuhanlah
sebagai
penyangga bumi
dan
langit, sebagai
dewata
tertinggi sumber
kebahagiaan yang
suci,
kami persembahkan
doa
kebaktian dengan
ketulusan
hati.
MENEGAKKAN
bumi
dimaksudkan menegakkan
kebenaran
dengan
perilaku mulia.
Perilaku
mulia
menegakkan bumi
ini
diawali dengan
meyakini
bahwa
Tuhanlah sebagai
pencipta
dan
penyangga bumi
dan
langit.
Tujuan
Tuhan
menciptakan bumi
dan
langit adalah
sebagai
wadah kehidupan
semua
makhluk terutama
manusia
untuk memperbaiki
kualitas
perilakunya.
Mengawali
perbaikan
kualitas
perilaku
dengan
meningkatkan pemujaan
pada
Tuhan dengan
doa
persembahan.
Demikianlah
Pura
Kentel Gumi didirikan
untuk
menegakkan kualitas
perilaku
di bumi.
Kentel Gumi
sama
dengan istilah
dalam
bahasa Bali yaitu
enteg
gumi yang maknanya
tegaknya
stabilitas
keharmonisan
hidup
di bumi
ini.
Pura
Kentel Gumi
terletak
di Desa
Tusan,
Kecamatan Banjarangkan,
Kabupaten
Klungkung.
Pura
Agung Kentel Gumi
didirikan
atas
anjuran Mpu
Kuturan
sebagaimana dinyatakan
dalam
Lontar Babad
Bendesa
Mas.
Dalam
lontar
tersebut dinyatakan
atas
kehendak Mpu
Kuturan
didirikanlah Pura
Penataran
Agung
Padang di
Silayukti,
Pura
Gowa Lawah,
Pura
Dasar Gelgel,
Pura
Klotok dan
Pura
Agung Kentel Gumi.
Hal ini
mengandung makna
bahwa
kehidupan di
bumi
akan tegak
atau
ajeg apabila
dilakukan
kesadaran
rohani.
Pura Silayukti
di
Padang, Karangasem
itu
adalah Asrama
Mpu
Kuturan. Fungsi
asrama
adalah untuk
mendidik
dan
melatih umat
mendapatkan
pemahaman
akan
kerohanian.
Pura
Goa
Lawah adalah
pura
untuk mendapatkan
pemahaman
akan
kedudukan dan
fungsi
samudera. Samudera
kena
sinar matahari
berproses
menjadi
mendung. Mendung
menjadi
hujan. Hujan
ditampung
oleh
hutan yang tumbuh
di
gunung. Proses
alam
itulah yang menyebabkan
terjadinya
kesejahteraan.
Karena
itu Pura
Goa
Lawah disebut
stana
Tuhan sebagai
Hyang
Basuki atau
Batara
Telenging Segara.
Basuki
artinya rahayu
atau
selamat.
Sementara
Pura
Dasar Gelgel
adalah
tempat suci
untuk
mempersatukan umat
berdasarkan
kesetaraan,
persaudaraan
dan
kemerdekaan untuk
bereksistensi
sesuai
dengan swadharma
masing-masing.
Pelinggih
leluhur
berbagai warga
di Pura
Dasar
Gelgel untuk
mengingatkan
pada
pemujaan roh
suci
leluhur (Dewa
Pitara),
bukan
untuk membeda-bedakan
harkat
dan martabat
manusia.
Pura
Klotok adalah
tempat
memohon Tirtha
Amerta
Kamandalu (air suci
kehidupan)
sebagai
puncak dari
prosesi ritual
melasti. Hal
itulah
sebagai simbol yang
melukiskan
jalannya
kehidupan
untuk
mencapai Kentel Gumi
atau
tegaknya kehidupan.
Itulah
warisan zaman
Mpu
Kuturan pada
abad ke-11
Masehi.
Dalam
Lontar
Purana Pura
Agung
Kental Gumi diceritrakan
perjalanan
seorang raja
dari
Tegal Suci
Mekah
menuju Bali atau
Bangsul.
Sampai
di Desa
Tusan,
Klungkung, Raja berkehendak
mendirikan
pemujaan.
Salah
seorang pengikut Raja
bernama
Arya Kenceng
ditugaskan
mewujudkan
kehendak sang Raja.
Untuk
itu maka
didirikanlah
Meru
Tumpang 11, Padmasana,
Meru
Tumpang 9 stana
Batara
Maha Dewa,
Meru
Tumpang 7 stana
Batara
Segara, Meru
Tumpang 5
stana
Batara di
Batur,
Meru Tumpeng 3
stana
Batara Ulun
Danu
dan pelinggih
Basundhari
Dasa.
Adanya
nama
Arya Kenceng
dalam
Lontar Purana
Pura
Agung Kentel Gumi
sebagai
pengikut Raja sangat
besar
kemungkinannya peristiwa
itu
terjadi abad ke-14
Masehi
saat ekspedisi
Gajah
Mada ke Bali.
Nama
Arya Kenceng
atau
Arya Ken Jeng
menurut
Lontar Babad
Tabanan
adalah seorang
kesatria
dari
Kauripan (Kediri,
Jawa
Timur) yang bersaudara
dengan
Arya Dharma, Arya
Sentong,
Arya
Kuta Waringin,
dan
Arya Belog.
Adanya
nama tempat
Tegal
Suci Mekah
kemungkinan
nama
Pulau Jawa
pada
abad ke-14 Masehi
itu.
Jadi,
Pura
Kentel Gumi mungkin
diperluas
saat raja
keturunan Raja Sri
Kresna
Kepakisan berkuasa
di Bali.
Setelah
pemerintahan Raja Sri Asta
Sura
Ratna Bumi
Banten
berakhir atas
ekspedisi
Gajah
Mada ke Bali
maka yang
memegang
tampuk
pemerintahan di Bali
adalah
keturunan Sri Kresna
Kepakisan.
Kekuasaan raja
dari
Jawa ini
baru
stabil atau
kentel
saat berpusat
di
Klungkung.
Pada
mulanya
pusat kerajaan
di
Samprangan, Gianyar
terus
pindah ke
Gegel. Dari
Gelgel
lanjut pindah
ke
Semarapura atau
Klungkung.
Perpindahan
pusat
kerajaan ini
menandakan
keadaan
kerajaan tidak
stabil
karena banyak
gangguan.
Setelah
pusat kerajaan
berada
di Klungkung
inilah
keadaan kerajaan
baru
stabil artinya
keadaan
gumi Bali menjadi
kentel.
Kemungkinan istilah
enteng
gumine dalam
bahasa Bali yang
sangat
populer sampai
sekarang
di Bali
berasal dari
zaman
stabilnya keadaan
Bali di
abad ke-14 Masehi
itu.
Keadaan stabil
itu
mungkin baru
dapat
diwujudkan setelah
adanya
perhatian pada
Pura
Agung Kentel Gumi
yang memang
sudah
ada sejak
zaman
Mpu Kuturan.
Pura
Kentel Gumi
ini di
bagian
jeroan pura
ada
tiga kelompok
pura.
Ada
kelompok
Pura
Agung Kentel Gumi,
kelompok
Pura
Maspahit, dan
kelompok
Pura
Masceti. Seluruh
kelompok
pura
inilah yang disebut
Pura
Agung Kentel Gumi.
Pada
kelompok Pura
Kentel Gumi
ini
pelinggih yang paling utama
adalah
Meru Tumpang 11
sebagai
stana Batara
Sakti
Kentel Gumi yaitu
Tuhan yang
dipuja
sebagai pemberi
stabilitas
kerajaan
dalam
arti luas.
Pelinggih
Pesamuan
Agung
berbentuk Meru
Tumpang 11
sebagai
pesamuan Batara
di
sebelah pura
di Pura
Agung
Kentel Gumi. Balai
Mudra
Manik sebagai
tempat
untuk menstanakan
pralingga
dari
sebelah pura
di
sekitar Pura
Agung
Kentel Gumi.
Ada
pelinggih
Sanggar
Agung Rong
Telu
stana Mpu Tri
Bhuwana
yaitu pemujaan
Tuhan
sebagai Parama
Siwa,
Sadha Siwa
dan
Siwa.
Ada
pelinggih
Manjangan
Saluwang
sebagai
stana rohani
Mpu
Kuturan.
Ada
pelinggih
Catur
Muka sebagai
tempat
pemujaan Batara
Brahma. Di
kelompok
Pura
Kentel Gumi ini
ada
berbagai pelinggih
pesimpangan.
Ada
Pesimpangan Jambu
Dwipa
sebagai pelinggih
Batara
Maspahit. Pesimpangan
Batara
Ulun Danu,
Batara
di Batur.
Ada
pesimpangan
Batara
Gunung Agung
berbentuk
pelinggih
Meru
Tumpang 9. Pesimpangan
Ratu
Segara dan
banyak
lagi pesimpangan
sebagaimana
layaknya
Pura
Kahyangan Jagat
umumnya.
Pada
kelompok Pura
Maspahit
ada
pelinggih Gedong Bata
dengan
arca manjangan
untuk
mengingatkan kedatangan
Mpu
Kuturan ke Bali.
Selebihnya
sebagai
pelinggih pesimpangan.
Demikian
juga
kelompok Pura
Masceti
ada Pesimpangan
Dewa
Sadha Siwa
dan
Siwa, Gunung
Agung,
Batara Segara
dan
Ngerurah dan
Kemulan
Bumi. Upacara
Piodalannya
setiap
Weraspati Manis
Wuku
Dungulan atau
Umanis
Galungan.
*
Ketut
Gobyah