Pendidikan
Bali melalui
Pasraman
Oleh
I Wayan
Carma
JIKA
benar
terjadi
ribuan
anak
usia
sekolah di
Bali tidak
mendapat
kesempatan
untuk
mengenyam pendidikan
formal, hal
tersebut
tentu
sangat menyedihkan.
Apa
yang akan
terjadi
pada masa
depan
mereka, jelas
merupakan
bayangan
gelap,
sedangkan banyak
warga yang
telah
mengenyam pendidikan
sampai
sarjana pun masih
bingung
akan kepastian
masa
depannya. Jelas
bayangan
gelap
akan menimpa Bali
secara
tidak
langsung
tanpa
kita
sadari.
Apa
solusinya?
Menambah
anggaran
pendidikan
jelas
sangat
susah karena
harus
menunggu DPRD baru
setelah
pemilu berikutnya,
itu pun
kalau pemerintah
peka.
Kalau
solusi
pemerintah tidak
kunjung
tiba, ada
beberapa
solusi yang
seharusnya
dikembangkan.
Alternatif
pertama,
jangka
pendek dan
relatif
mudah, yaitu
memaksimalkan
kapasitas
sarana
pendidikan di
semua
jenjang.
Contoh,
jika yang
tak
tertampung itu
adalah
jenjang pendidikan
SD, mungkin
di SLTP
dan SLTA bahkan
di
Perguruan Tinggi
masih
ada kapasitas.
Jika
yang kelebihan
kapasitas
adalah
jenjang pendidikan
lebih
rendah, maka
jenjang
pendidikan yang lebih
tinggi
harus mengambil
tanggung
jawab
untuk mengelola
kelebihan
kapasitas
tersebut.
Jika
yang terjadi
sebaliknya,
di mana
jenjang yang
di
bawahnya harus
menampung
jenjang
di atasnya,
maka
dari segi
sarana
mungkin tidak
masalah,
tetapi
ada sedikit
harus
ada penyesuaian
pada
tenaga pengajarnya.
Untuk
menutupi kekurangan
tenaga
pengajar ini
bisa
dilakukan kerja
sama
dengan
perusahaan, institusi
sosial
atau lembaga
pemerintah agar
memberikan
sebagian
kecil
tenaganya untuk
mengajar.
Bila yang
terjadi
adalah ketidakmerataan
antara
jenjang pendidikan
yang sama
tetapi
beda lokasi
atau
daerah, maka
hal ini
tentu
tidak menjadi
masalah,
baik
dari segi
sarana
maupun tenaga
pengajar.
Alternatif
memaksimalkan
kapasitas
ini
perlu koordinasi
dan
kerja
sama yang baik
mulai
dari informasi
kebutuhan,
informasi
sarana
maupun tenaga
pengajar.
Akan
bijaksana
sekali
kalau komando
koordinasi
ini
segera diambil
oleh
Dinas Pendidikan.
Alternatif
kedua,
alternatif jangka
menengah,
yaitu
dengan mengembangkan
pusat-pusat
pembelajaran
atau
pesraman model Bali. Konsep
pasraman
ini
sebagai pusat
pembelajaran non formal yang
didirikan
bertujuan
untuk
menampung umat yang
ingin
memperdalam agama dan
budaya Bali,
mendidik
generasi
mempunyai emotion
quotion
dan spiritual quotion
yang solid serta
wawasan yang
luas.
Walaupun
fokus
utamanya adalah
pengembangan
keagamaan
dan
budaya, juga
diselipkan
pelajaran-pelajaran yang
sesuai
dengan kurikulum
sekolah formal.
Malah
sejak
dini sudah
mulai
dikembangkan pendidikan
ekstra
seperti bahasa
Inggris,
komputer
dan
ketrampilan seperti
memasak,
seni
ukir dan lain
sebagainya.
Pasraman
ini
tidak saja
untuk
mereka yang tidak
tertampung
di
sekolah formal, bagi
mereka yang
pagi
hari mendapatkan
pendidikan
di
sekolah formal pun bisa
memanfaatkan
pasraman
ini.
Konsep
pasraman
ini
juga bertujuan
dalam
jangka panjang
untuk
memutus budaya
judi
warga
Bali
di
pedesaan.
Idealnya
pasraman
ini
dilengkapi dengan
perpustakaan,
laboratorium
bahasa, lab
komputer
dan
jaringan internet.
Siapa
yang harus
mendirikan
pasraman
ini?
Pertama-tama
mari
kita
gugah hati
warga Bali yang
telah
sukses untuk
menyisihkan
sebagian
dananya
untuk diserahkan
kepada
orang yang punya
idealis
mengabdi ke
dunia
pendidikan. Jika
model ini
dianggap
sukses
selanjutnya pemerintah
daerah
lewat jawatan
agamanya
bersama
dinas
pendidikan
bisa
menggodok untuk
mengembangkan
konsep
ini.
Jika
kita
sadar dan
ingin
generasi kita
menjadi
tuan rumah
di
negeri sendiri,
serta
selangkah lebih
maju
mulai merambah
dunia
internasional, pemerintah
daerah,
para pemikir,
dan
para dermawan
harus
tergerak hatinya
memikirkan
konsep
pendidikan bagi
warga Bali
ini.
Jika tidak
kita
tinggal
akan menjadi
penonton,
menyaksikan
ekplorasi Bali.
Semoga
hati
kita tergerak.
I Wayan
Carma
Praktisi
Human Resources
Manajemen
Pecinta
Pendidikkan
carma_central_learning@hotmail.com