Pascagempa Guncang Bima---
Khawatir Tsunami, Warga masih Mengungsi
Kota Bima (Suara NTB) -
Warga Kota Bima, khususnya warga dari Kelurahan Kolo
Kecamatan Asakota Kota Bima hingga Minggu (3/12)
kemarin, masih enggan kembali ke rumah. Mereka memilih
tetap mengungsi di perbukitan karena khawatir akan
datangnya tsunami.
Demikian dikatakan Lurah Kolo, M. Amin
kepada Suara NTB saat dihubungi, Minggu (3/12) kemarin.
Gempa yang mengguncang Kota Bima, Kabupaten Bima dan
Dompu, Jumat (1/12) lalu, mengakibatkan sedikitnya 928
kepala keluarga (KK) di Kelurahan Kolo Kota Bima
mengungsi di atas bukit. Warga terpaksa mengungsi karena
khawatir datangnya tsunami karena gempa berkekuatan 5,8
SR pada Jumat malam lalu diikuti empat gempa susulan
beskala rendah. Kemudian disusul empat kali gempa
susulan keesokan harinya, Sabtu (2/11) lalu.
Akibat masih adanya guncangan gempa
menurut M. Amin, membuat sebagian warganya enggan untuk
kembali ke rumahnya. Tadi masih ada gempa (Minggu
(32/12)--red), tapi kecil, sehingga warga saya kembali
ke gunung (tempat pengungsian-red), kata M. Amin. Karena
masih adanya kekhawatiran warga akan datangnya tsunami,
warga Kolo sepakat untuk bermalam di atas bukit dan
kembali ke perkampungan saat paginya.
M. Amin juga mengaku, hingga Minggu
(3/12) kemarin jumlah kerusakan rumah di Kelurahan Kolo
sebanyak 79 rumah dari data sebelumnya hanya 51 rumah.
Laporan ini baru akan disampaikan kepada Wali Kota Bima
Senin (4/12) hari ini. Selain itu, Amin mengaku, hingga
Minggu kemarin warganya mengungsi, belum ada pihak
manapun yang memberikan bantuan termasuk dari Pemerintah
Kota (Pemkot). Sampai sekarang, belum satu pun pihak
yang memberikan bantuan kepada warga kami, kata M. Amin
seraya mengaku, tenda pengungsian dibuat dari terpal
pribadi.
Hasil pendataan sementara, kerugian
akibat kerusakan saat gempa bumi Jumat lalu di Kota Bima
diperkirakan mencapai Rp 12 milyar. Sementara di
Kabupaten Bima kerugian materialnya masih dalam
pendataan tim penanganan bencana alam.
Gempa yang mengguncang Bima,
mengakibatkan satu korban tewas, sejumlah luka-luka dan
lebih dari 100 bangunan baik rumah penduduk, fasilitas
umum dan perkantoran mengalami rusak berat. Sementara
Wakil Wali Kota Bima, H. Umar H. Abubakar, BA yang
dihubungi mengatakan, pihaknya baru bisa memberikan
bantuan kepada keluarga korban tewas Siti Siyah warga
Kelurahan Kendo Rasa Nae Timur Kota Bima sebesar Rp 1
juta.
Belum Terima
Sementara hingga Minggu kemarin, Pemprop
NTB masih menunggu laporan dari Pemerintah Kota dan
Kabupaten Bima mengenai jumlah kerusakan, baik materiil
atau lainnya akibat gempa bumi yang berkuatan 5,9 skala
richter tersebut. ''Kami masih menunggu laporan dan
melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kota Bima
mengenai kerusakan maupun kerugian lainnya,''
ungkap Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial dan
Pemberdayaan Perempuan (Kessos dan PP) NTB Drs. H.
Junaidi Najmuddin, M.M., yang dihubungi Suara NTB via
ponselnya mengenai langkah Pemprop NTB terhadap dampak
gempa bumi di Bima, Minggu (3/12) kemarin.
Pemprop NTB, kata dia, tidak tinggal diam
dengan musibah yang terjadi di Bima. Bagaimana pun,
ujarnya, pihaknya tetap akan memberikan bantuan pada
korban, terutama warga yang rumahnya mengalami kerusakan
akibat gempa tersebut. ''Sekarang ini sedang dilakukan
pendataan mengenai berapa jumlah bangunan milik warga
atau fasilitas umum yang rusak. Kita upayakan, bisa
memberikan bantuan,'' terangnya.
Menyinggung pemberian bantuan kepada
korban gempa bumi di Bima, baik konsumsi atau lainnya,
untuk sementara masih ditangani pemerintah setempat.
Pun, bantuan dari Dinas Kessos dan PP NTB, dalam waktu
dekat akan segera disalurkan pada korban, terutama
kebutuhan yang sangat diperlukan warga.
(ula/ham)