Oposisi
Lebanon
Tekan
PM Siniora
untuk
Mundur
Beirut -
Kekacauan
dan
perpecahan politik
di Lebanon
makin
menunjukkan arah yang
lebih
parah.
Memasuki
hari
ketiga Minggu (3/12)
kemarin
demonstrasi menuntut
pengunduran
diri
pemerintah oleh
grup
militan Hizbullah
terus
dilakukan.
Namun,
pemerintah
pimpinan PM
Fuad
Siniora yang mendapat
dukungan
Barat
tetap bersikukuh
dan
tidak menggubris
tuntutan
tersebut.
Siniora
dan
beberapa anggota
legislatif
lainnya yang
bergabung
dalam
mayoritas parlemen
anti-Suriah
berjanji
akan
tetap
memangku jabatan
mereka
saat pertarungan
kekuasaan
antara
kubu pro dan anti-Suriah
terus
berlangsung.
Menurut
koresponden AFP,
setelah
aksi unjuk
rasa
Jumat yang menyerukan
agar terciptanya
pemerintah
nasional
bersatu,
beberapa
ratus
demonstran oposisi
dari
berbagai komunitas
Shiah
dan faksi Kristen
kemudian
berkemah
di
depan pintu
masuk
gedung pemerintahan
Sabtu.
Beberapa
ribu
orang juga
ikut
meramaikan aksi
ini
pada saat jam-jam
kerja.
Namun
pada
malam harinya
hanya
sedikit dari
mereka yang
mau
menginap di
tenda-tenda yang
dibangun
oleh
pihak penyelenggara.
Sabtu
malam,
beberapa ribu
demonstran
memblokir
dua
jalan utama yang
mengarah
ke
kantor
Siniora.
Aksi
ini
terus berlangsung
sepanjang
Sabtu
malam, di
mana
komunitas pendemo
dari
Shiah terus
melambaikan
bendera-bendera
Lebanon
dan
mengumandangkan himne
Hizbullah.
Di
tempat yang
jaraknya
cukup
jauh, oposisi
dari
para pendemo
dari
kaum Kristen juga
membangun
tenda-tenda.
Lalu
lintas
di
Beirut
pusat
benar-benar lumpuh
total Minggu
(3/12) pagi
kemarin
di mana
banyak
jalanan ditutup,
karena
penyelenggara aksi
unjuk
rasa menggelar
ajang
maraton tahunan
sebagai
bagian dari
protes
kepada pemerintah.
Pemimpin
parlemen
mayoritas
Saad
Hariri, anak
dari
mantan PM Rafiq
Hariri yang
tewas
akibat
insiden pengeboman,
dengan
lantangnya berkata "pemerintah
Siniora
tidak akan
jatuh
karena tekanan
dari
penduduk di
jalan.
Pemerintah
tidak
akan goyah
meski
demonstrasi dilakukan
dalam
jangka waktu yang
lama."
Pemerintah
Siniora
sendiri mendapat
dukungan
kuat
dari pihak
Barat
dan beberapa
negara Arab.
Amr
Mussa, pemimpin
Liga Arab,
rencananya
akan
menggelar
pembicaraan
di Beirut,
Minggu,
untuk menawarkan
diri
sebagai mediator pada
kedua
pihak yang berseteru.
Dari Washington, jubir
Menlu AS Tom Casey
kemudian
mengutuk
apa
yang ia
sebut sebagai "ancaman
intimidasi
atau
kekerasan yang bertujuan
menggulingkan
pemerintah Lebanon yang
legitimate dan
terpilih
secara
demokrasi."
Menlu
Inggris Margaret Beckett
juga
sempat menggelar
pembicaraan
dengan
Siniora, Sabtu
lalu
untuk memberikan
dukungan
atas
kepemimpinannya.
(ton/afp)