kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 4 Desember 2006

 Mancanegara


Oposisi
Lebanon
Tekan
PM Siniora untuk Mundur  

Beirut -
Kekacauan
dan perpecahan politik di Lebanon makin menunjukkan arah yang lebih parah. Memasuki hari ketiga Minggu (3/12) kemarin demonstrasi menuntut pengunduran diri pemerintah oleh grup militan Hizbullah terus dilakukan. Namun, pemerintah pimpinan PM Fuad Siniora yang mendapat dukungan Barat tetap bersikukuh dan tidak menggubris tuntutan tersebut.

Siniora dan beberapa anggota legislatif lainnya yang bergabung dalam mayoritas parlemen anti-Suriah berjanji akan tetap memangku jabatan mereka saat pertarungan kekuasaan antara kubu pro dan anti-Suriah terus berlangsung.

Menurut koresponden AFP, setelah aksi unjuk rasa Jumat yang menyerukan agar terciptanya pemerintah nasional bersatu, beberapa ratus demonstran oposisi dari berbagai komunitas Shiah dan faksi Kristen kemudian berkemah di depan pintu masuk gedung pemerintahan Sabtu.

Beberapa ribu orang juga ikut meramaikan aksi ini pada saat jam-jam kerja. Namun pada malam harinya hanya sedikit dari mereka yang mau menginap di tenda-tenda yang dibangun oleh pihak penyelenggara.

Sabtu malam, beberapa ribu demonstran memblokir dua jalan utama yang mengarah ke kantor Siniora. Aksi ini terus berlangsung sepanjang Sabtu malam, di mana komunitas pendemo dari Shiah terus melambaikan bendera-bendera Lebanon dan mengumandangkan himne Hizbullah. Di tempat yang jaraknya cukup jauh, oposisi dari para pendemo dari kaum Kristen juga membangun tenda-tenda.

Lalu lintas di Beirut pusat benar-benar lumpuh total Minggu  (3/12) pagi kemarin di mana banyak jalanan ditutup, karena penyelenggara aksi unjuk rasa menggelar ajang maraton tahunan sebagai bagian dari protes kepada pemerintah.

Pemimpin parlemen mayoritas Saad Hariri, anak dari mantan PM Rafiq Hariri yang tewas akibat insiden pengeboman, dengan lantangnya berkata "pemerintah Siniora tidak akan jatuh karena tekanan dari penduduk di jalan. Pemerintah tidak akan goyah meski demonstrasi dilakukan dalam jangka waktu yang lama."

Pemerintah Siniora sendiri mendapat dukungan kuat dari pihak Barat dan beberapa negara Arab. Amr Mussa, pemimpin Liga Arab, rencananya akan menggelar pembicaraan di Beirut, Minggu, untuk menawarkan diri sebagai mediator pada kedua pihak yang berseteru.

Dari Washington, jubir Menlu AS Tom Casey kemudian mengutuk apa yang ia sebut sebagai "ancaman intimidasi atau kekerasan yang bertujuan menggulingkan pemerintah Lebanon yang legitimate dan terpilih secara demokrasi."

Menlu Inggris Margaret Beckett juga sempat menggelar pembicaraan dengan Siniora, Sabtu lalu untuk memberikan dukungan atas kepemimpinannya. (ton/afp)

 

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)