INFO
Bahaya Sampah Dibakar
SEBUAH
keluarga di daerah yang jauh dari
kota
besar di Amerika (daerah rural) yang beranggotakan empat
orang membakar sampah rumah tangga mereka di dalam drum
di pekarangan belakang rumah mereka.
Asap pembakaran sampah ini (catat: dari satu
rumah tangga) menghasilkan racun udara dioksin dan furan
yang sama banyaknya dengan racun udara yang dikeluarkan
oleh mesin pembakar sampah rumah tangga (biasa disebut
Municipal Waste Combustor atau MWC, atau incinerator)
yang sanggup melayani puluhan ribu rumah tangga.
Ini adalah praktik biasa sehari hari
yang dilakukan oleh masyarakat Amerika di daerah rural.
Laporan dari U.S. Environmental Protection Agency
(US-EPA) dan Departemen Kesehatan Negara Bagian New York
mengatakan bahwa pembakaran sampah rumah tangga di dalam
pekarangan adalah salah satu sumber polusi yang paling
parah di Amerika.
Dari hasil penelititan yang intensif dalam beberapa
tahun terakhir ini dikatakan bahwa pembakaran sampah
rumah tangga pada kondisi pembakaran dan suhu yang
rendah dapat menimbulkan gas racun dioksin dan furan,
demikian dikatakan oleh Paul Lemieux, Ph.D., salah
seorang peneliti dari National Risk Management Research
Laboratory, US-EPA.
Pengukuran emisi dari pembakaran sampah rumah tangga di
dalam sebuah drum berukuran 200 liter telah dilakukan di
Carolina Utara ditempat percobaan fasilitas pembakaran
dari EPA. Sampah yang dibakar adalah sampah yang
biasanya dibakar oleh sebuah rumah tangga yang terdiri
dari
surat
kabar bekas, buku, majalah, surat, karton, karton susu,
sampah makanan, beberapa jenis plastik, kaleng dan botol.
Oli gemuk, minyak bekas, ban bekas, dan bahan cat atau
bahan rumah tangga yang bersifat bahan berbahaya dan
beracun (B3) tidak diikutsertakan di dalam percobaan
tersebut.
Sesudah itu, hasil pembakaran percobaan ini dibandingkan
dengan hasil pembakaran dari alat pembakaran rumah
tangga yang terkendali (MWC/incinerator) yang
menghasilkan dioksin yang lebih kecil daripada yang
ditetapkan oleh EPA.
Ternyata hasil
pembakaran rumah tangga ini menghasilkan senyawa
polychlorinated seperti dioksin di dalam jumlah yang
sangat jauh lebih besar daripada hasil pembakaran alat
MWC yang sanggup melayani puluhan ribu sampah rumah
tangga.
Di banyak daerah di Amerika Serikat, pembakaran sampah
di udara terbuka sudah dilarang.
Daerah yang masih diperbolehkan
membakar sampah di udara terbuka adalah daerah rural.
Racun udara dioksin dengan jelas
memperlihatkan efek kesehatan terhadap binatang
percobaan seperti pada gangguan fungsi daya tahan tubuh,
kanker, perubahan hormon, dan pertumbuhan yang abnormal.
Dioksin adalah istilah yang umum dipakai untuk salah
satu keluarga bahan kimia beracun yang mempunyai
struktur kimia yang mirip serta mekanisma peracunan yang
sama. Keluarga bahan kimia
beracun ini termasuk (a) Tujuh Polychlorinated Dibenzo
Dioxins (PCDD); (b) Duabelas Polychlorinated Dibenzo
Furans (PCDF); dan (c) Dua belas Polychlorinated
Biphenyls (PCB). PCDD dan PCDF bukanlah produk kimia
yang dikomersilkan, tetapi produk sampingan yang secara
tidak sengaja terjadi di dalam banyak proses pembakaran
dan beberapa proses industri kimia.
PCB dengan sengaja diproduksi secara komersil dalam
jumlah besar sampai produksi tersebut dilarang di tahun
1977.
Di Amerika Serikat, tingkat dioksin sudah menurun terus
sejak awal tahun 1970-an
sebagai akibat dari aksi aksi pembersihan serta
peraturan dari negara bagian dan pusat.
Meskipun begitu, tingkat dioksin
yang ada sekarang masih harus tetap menjadi perhatian.
Dioksin bersifat ada terus-menerus (persistent) dan
terakumulasi secara biologi (bioaccumulated), dan
tersebar di dalam lingkungan dalam konsentrasi yang
rendah.
Tingkat konsentrasinya rendah, sampai parts per trilyun
(satu per 10 pangkat 12), terakumulasi sepanjang
kehidupan dan ada terus bertahun tahun,
walaupun tidak ada penambahan
lagi ke dalam lingkungan.
Hal ini bisa meningkatkan risiko terkena kanker dan efek
lainnya terhadap binatang dan manusia.
Dioksin termasuk ke dalam kelas bahan yang bersifat
carcinogen (yang
menyebabkan
kanker). Efek samping dioksin
terhadap binatang adalah perubahan sistem hormon,
perubahan pertumbuhan janin, menurunkan kapasitas
reproduksi, dan penekanan terhadap sistim kekebalan
tubuh. Efek samping dioksin
terhadap manusia adalah perubahan kode keturunan
(marker) dari tingkat pertumbuhan awal dari hormon.
Pada dosis yang lebih besar bisa
mengakibatkan sakit kulit yang serius yang disebut
chloracne.
Dioksin dapat terdeteksi di udara, tanah, lapisan
sedimen dan makanan.
Dioksin ditranspor terutama melalui udara dan terkumpul
di permukaan tanah, bangunan, jalanan, kaki
lima,
air dan daun daunan. Kebanyakan
dioksin berasal dari produksi sampingan dari suatu
pembakaran. Dioksin banyak dikeluarkan oleh
sumber-sumber sebagai berikut:
*
Tempat pembakaran sampah perumahan (MWC, incinerator)
*
Pembakaran sampah rumah tangga dipekarangan/udara
terbuka
*
Pemakaian kayu bakar untuk masak
*
Kebakaran hutan
*
Tempat pembakaran bekas alat alat kedokteran
*
Peleburan tembaga tahap kedua
*
Tempat pengeringan semen di pabrik semen (cement kiln)
*
Pembangkit listrik tenaga batubara
*
Pemutihan (dengan bahan khlor) bubur kayu dipabrik
pembuatan kertas
Kebanyakan kita terekspos (terkena) dengan dioksin dari
makanan yang kita makan khususnya dari lemak binatang
yang berhubungan dengan daging sapi, babi, unggas, ikan,
susu, dan produk produk susu.
Di samping dioksin dan furan, pembakaran sampah didalam
udara terbuka juga menimbulkan kabut
asap yang tebal yang mengandung bahan bahan
lainnya seperti partikel debu yang kecil kecil yang
biasa disebut particulate matter (PM) serta bahan bahan
racun lainnya. Particulate Matter ini bisa berukuran 10
mikron (kira kira sama dengan
rambut kita yang dibelah tujuh), biasa disebut PM10.
Alat saring
pernapasan kita tidak sanggup menyaring PM10 ini,
sehingga PM10 ini bisa masuk ke dalam paru-paru kita dan
bisa mengakibatkan sakit gangguan pernapasan (astma dan
paru paru).
Kita masih banyak melihat pembakaran sampah di
pekarangan rumah tangga setiap hari, dan ini
kelihatannya merupakan hal yang biasa.
Apabila kita terbang dengan pesawat udara dari Jakarta
ke daerah lain, ketika
pesawat mau naik atau mau mendarat, kita melihat banyak
sekali halaman-halaman rumah penduduk membakar sampah
mereka. Bisa
kita bayangkan berapa banyak polusi udara yang
ditimbulkan setiap harinya dari hasil pembakaran sampah
ini.
Di dalam jangka waktu yang pendek, kelihatannya
cara-cara ini lebih praktis dan lebih mengirit ketimbang
harus menjalankan proses daur ulang yang panjang.
Di dalam jangka waktu yang panjang,
cara-cara seperti ini sebenarnya lebih merugikan
individu yang bersangkutan, komunitas, dan negara secara
keseluruhan. Polusi yang
kelihatannya sedikit ini, lama lama menjadi bukit.
Polusi ini perlahan lahan akan
membuat sebagian orang yang seharusnya hidup sehat
menjadi sakit, antara lain sakit gangguan pernapasan (astma
dan paru paru). Orang-orang tersebut yang seharusnya
bisa bekerja 8 jam per hari tanpa sakit sepanjang tahun,
bisa bekerja kurang dari 8
jam
per hari dan sakit beberapa hari per tahunnya.
Kehilangan sejenis ini, kalau kita mau, masih bisa
digambarkan dalam bentuk uang.
Secara keseluruhan negara juga
dirugikan karena mempunyai rakyat yang sebagian tidak
bisa kerja efisien karena sakit.
Ditambah lagi negara harus
mengeluarkan biaya tambahan untuk mengurus dan mengobati
rakyat yang sakit gangguan pernapasan.
Belum lagi dihitung biaya pengobatan
untuk rakyat yang menderita kanker paru paru.
Jadi, kalau dilihat secara kasarnya (tanpa perhitungan
ekonomi yang detail), lebih banyak ruginya ketimbang
untungnya.
Sekadar sebagai informasi tambahan, penyakit paru-paru
adalah penyakit penyebab kematian nomor tiga di Amerika
Serikat dengan total penduduk sekitar 280 juta jiwa, dan
setiap tahun ada sekitar 335.000 orang meninggal karena
sakit paru paru dan ada sekitar 30 juta orang yang
menderita sakit paru-paru kronis.
Biaya untuk menanggulangi penyakit pneumonia, influenza,
kondisi pernapasan akut, dan asthma adalah 34.2 milyar
dolar per tahunnya, atau Rp 324.900 milyar dengan nilai
tukar US$ 1.00 = Rp 9500.00. Angka di dalam rupiah ini
mungkin tidak 100 persen tepat, tetapi paling tidak
cukup mendekati, karena banyak obat-obatan dan alat-alat
pengobatan yang diproduksi masih mengandung banyak
komponen impor yang dinilai di dalam dolar. Di samping
itu jumlah penderita penyakit yang
sama di Indonesia kemungkinan besar jumlahnya
lebih besar dari jumlah penderita penyakit yang sama di
Amerika Serikat. (iah/net)