kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Kliwon, 4 Desember 2006

 Ekonomi


Minyak
Tanah Langka,Harga Rp 3.500 per Liter

Banyuwangi (Bali Post) -
Pasokan
minyak tanah makin langka di pelabuhan. Masyarakat kawasan pesisir pantai Muncar, Banyuwangi terus mengeluhkan langkanya bahan bakar jenis ini. Setiap hari mereka harus antre untuk bisa mendapatkannya. Harganya pun kian melambung hingga menembus Rp 3.500 per liter.

Ditengarai, kelangkaan ini disebabkan oleh meningkatnya penggunaan minyak tanah untuk bahan bakar perahu nelayan. Sejak naiknya harga solar, nelayan mulai beralih ke minyak tanah untuk bahan bakar mesin diesel. Warga setempat mencampurnya dengan solar untuk menekan biaya operasional. Akibatnya, minyak tanah yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga harus dibagi dengan para nelayan.

"Kami terpaksa menggunakan minyak tanah karena harga solar kian melambung," ujar Sukirman, salah satu nelayan Muncar, kepada Bali Post, Minggu (3/12) kemarin. Rata-rata para nelayan membutuhkan sekitar 30.000 liter minyak tanah per hari. Jumlah itu digunakan oleh sedikitnya 50 kapal slerek yang mencari ikan di perairan Muncar. Setiap kapal membutuhkan bahan bakar minimal 600 liter per hari.

Pantauan Bali Post  sehari kemarin hampir setiap pangkalan minyak terjadi antrean jeriken. Warga yang ingin mendapatkan minyak harus rela antre hingga beberapa jam. Bahkan, warga terpaksa meninggalkan jerikennya di pangkalan akibat lama menunggu antrean. Biasanya, warga memarkir jeriken pada malam hari dan diambil keesokan harinya.

Sejatinya, jatah pengiriman minyak tanah tetap normal dari Pertamina. Hanya, akibat tingginya permintaan, jumlah pasokan selalu terjual habis. Bahkan cenderung kekurangan. "Permintaan terus melonjak. Terutama di kalangan nelayan," ujar salah satu pemilik pangkalan minyak di Muncar yang enggan disebut namanya.

Untuk menghindari kecemburuan, jatah pembelian terpaksa dibatasi. Setiap warga hanya diperbolehkan membeli minyak maksimal 10-15 liter.

Pasokan minyak tanah tidak hanya digunakan oleh para nelayan. Pemilik gerandong (kendaraan rakitan khas Banyuwangi - red) juga ikut-ikutan menggunakan minyak tanah untuk bahan bakar.  Satu kendaraan gerandong membutuhkan minyak tanah minimal 20 liter per hari. Padahal, jumlah gerandong yang beroperasi setiap harinya mencapai 2.000 lebih. Jumlah ini ditengarai akan terus meningkat seiring mahalnya harga solar.

Kelangkaan minyak tanah ini mendapat kritik tajam dari Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK) Banyuwangi. Koordinator LPK Banyuwangi Mustoli mengatakan Pertamina mestinya segera membentuk tim khusus untuk mengawasi peredaran minyak tanah di lapangan. Pasalnya, jika kondisi ini terus dibiarkan, masyarakat kecil akan semakin dirugikan. "Idealnya minyak tanah itu untuk kebutuhan rumah tangga. Bukan untuk bahan bakar nelayan," kritiknya kemarin.

Sementara data dari Dipo Pertamina Banyuwangi disebutkan jatah subsidi minyak tanah di Banyuwangi mencapai 280.000 liter per hari. Jumlah ini dialirkan melalui 18 agen yang tersebar di beberapa kecamatan di Banyuwangi. Jumlah itu dinilai cukup untuk kebutuhan masyarakat Banyuwangi dalam kondisi normal. (udi)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)