Minyak
Tanah
Langka,Harga
Rp 3.500 per Liter
Banyuwangi
(Bali Post) -
Pasokan
minyak
tanah makin
langka
di pelabuhan.
Masyarakat
kawasan
pesisir pantai
Muncar,
Banyuwangi terus
mengeluhkan
langkanya
bahan
bakar jenis
ini.
Setiap
hari
mereka harus
antre
untuk bisa
mendapatkannya.
Harganya
pun kian
melambung
hingga
menembus Rp 3.500 per
liter.
Ditengarai,
kelangkaan
ini
disebabkan oleh
meningkatnya
penggunaan
minyak
tanah untuk
bahan
bakar perahu
nelayan.
Sejak
naiknya
harga solar, nelayan
mulai
beralih ke
minyak
tanah untuk
bahan
bakar mesin diesel.
Warga
setempat
mencampurnya
dengan solar
untuk
menekan biaya
operasional.
Akibatnya,
minyak
tanah yang seharusnya
digunakan
untuk
kebutuhan rumah
tangga
harus dibagi
dengan
para nelayan.
"Kami
terpaksa
menggunakan
minyak
tanah karena
harga solar
kian
melambung," ujar
Sukirman,
salah
satu nelayan
Muncar,
kepada Bali Post, Minggu
(3/12) kemarin.
Rata-rata para
nelayan
membutuhkan sekitar
30.000 liter minyak
tanah per
hari.
Jumlah
itu
digunakan oleh
sedikitnya 50
kapal
slerek yang mencari
ikan di
perairan
Muncar.
Setiap
kapal
membutuhkan bahan
bakar minimal 600 liter per
hari.
Pantauan
Bali Post
sehari kemarin
hampir
setiap pangkalan
minyak
terjadi antrean
jeriken.
Warga
yang ingin
mendapatkan
minyak
harus rela
antre
hingga beberapa jam.
Bahkan,
warga
terpaksa meninggalkan
jerikennya
di
pangkalan akibat lama
menunggu
antrean.
Biasanya,
warga
memarkir jeriken
pada
malam hari
dan
diambil keesokan
harinya.
Sejatinya,
jatah
pengiriman minyak
tanah
tetap normal dari
Pertamina.
Hanya,
akibat
tingginya permintaan,
jumlah
pasokan selalu
terjual
habis.
Bahkan
cenderung
kekurangan.
"Permintaan
terus
melonjak.
Terutama
di
kalangan nelayan,"
ujar
salah satu
pemilik
pangkalan minyak
di
Muncar yang enggan
disebut
namanya.
Untuk
menghindari
kecemburuan,
jatah
pembelian terpaksa
dibatasi.
Setiap
warga
hanya diperbolehkan
membeli
minyak maksimal 10-15
liter.
Pasokan
minyak
tanah tidak
hanya
digunakan oleh
para
nelayan.
Pemilik
gerandong (kendaraan
rakitan
khas Banyuwangi -
red) juga
ikut-ikutan
menggunakan
minyak
tanah untuk
bahan
bakar.
Satu
kendaraan
gerandong
membutuhkan
minyak
tanah minimal 20 liter per
hari.
Padahal,
jumlah
gerandong yang beroperasi
setiap
harinya mencapai
2.000 lebih.
Jumlah
ini ditengarai
akan
terus
meningkat seiring
mahalnya
harga solar.
Kelangkaan
minyak
tanah ini
mendapat
kritik
tajam dari
Lembaga
Perlindungan Konsumen
(LPK) Banyuwangi.
Koordinator LPK
Banyuwangi
Mustoli
mengatakan Pertamina
mestinya
segera
membentuk
tim
khusus
untuk mengawasi
peredaran
minyak
tanah di
lapangan.
Pasalnya,
jika
kondisi ini
terus
dibiarkan, masyarakat
kecil
akan
semakin
dirugikan. "Idealnya
minyak
tanah itu
untuk
kebutuhan rumah
tangga.
Bukan
untuk
bahan bakar
nelayan,"
kritiknya
kemarin.
Sementara
data dari
Dipo
Pertamina Banyuwangi
disebutkan
jatah
subsidi minyak
tanah
di Banyuwangi
mencapai 280.000 liter per
hari.
Jumlah
ini
dialirkan melalui 18
agen yang
tersebar
di
beberapa kecamatan
di
Banyuwangi.
Jumlah
itu
dinilai cukup
untuk
kebutuhan masyarakat
Banyuwangi
dalam
kondisi normal. (udi)