Direktur
PDAM Dinilai Balas
Dendam
Amlapura
(Bali Post) -
Wakil
Ketua
Komisi I DPRD Karangasem
IB Mahadewa
menilai
Direktur PDAM Karangasem
Gede
Putu Kertia, S.E.
menerapkan
manajemen balas
dendam.
Hal
itu
terkait pernyataan
Kertia yang
merencanakan
bakal
mencopot dua
kepala
bagian (kabag)
di PDAM
Karangasem yang telah
menggerakkan
karyawan
untuk
berdemo ke
Bupati
Karangasem Wayan
Geredeg.
Seperti
diberitakan
sebelumnya,
Kertia
merencanakan sementara
bakal
mencopot Kabag
Keuangan IB
Manuaba
dan Kabag
Teknik
Wayan Sujana
dari
jabatannya.
Pasalnya,
beberapa
waktu
lalu, dua
kabag
itu dinilai
punya
andil sebagai
juru
bicara dalam demo
ratusan
karyawan PDAM.
Selain
menuntut
Bupati
Geredeg agar memberhentikan
Kertia
dari jabatan
Direktur PDAM.
Pendemo
juga
mengadukan Kertia
telah
melakukan sejumlah
penyimpangan
serta
korupsi.
Melalui
juru
bicara IB Manuaba,
pendemo
minta Bupati
memberhentikan
Direktur
Kertia.
Selama
Kertia
masih menduduki
kursi
direktur, pendemo
mengancam
tak mau
menjalankan
perintahnya.
Namun,
saat Bupati
Geredeg
menerjunkan
tim
pemeriksa,
ternyata
tak
ditemukan penyimpangan
atau pun
korupsi
seperti yang dituduhkan
para
pendemo.
Terkait
rencana
pencopotan dua
Kabag
itu, Mahadewa
mengatakan
hal itu
tak
akan
menyelesaikan
masalah.
Seharusnya
dalam
rangka pembinaan
dan
memperbaiki manajemen
PDAM dilakukan
dengan
cara
lebih
bijaksana dan
duduk
bersama.
Selama
ini yang
menjadi
masalah sampai
dua
kabag di PDAM
itu
merasa tak
tunduk
kepada direktur,
karena
ada SK Bupati
Karangasem No. 76
tahun 1999 yang
memasukkan
dua
kabag itu
ke
jajaran direksi.
Kini
setelah terbit SK
Bupati
Karangasem No. 36 tahun
2006 yang mencabut SK
Bupati No. 76,
bukan
berarti harus
mencopot
atau
memecat dua
kabag
itu dari
jajaran
manajemen PDAM.
Seharusnya,
Direktur
Kertia
juga introspeksi.
''Jangan
balas dendam.
Kalau
sistemnya balas dendam
dan
tebang pilih
terus
kapan manajemen
akan
baik?''
ujar Mahadewa.
Dia
membantah
membela
salah satu
kabag yang
bakal
dicopot itu,
karena
masih ada
hubungan
keluarga.
''Pernyataan
saya
murni dari
dalam
hati dan
tak
membela siapa-siapa,''
kilahnya.
Sedang
Kertia
menyatakan prihatin
karena
selama ini PDAM
di bumi
lahar
itu terus
merugi,
sehingga mesti
dibantu
Pemkab Karangasem.
Setelah
dia
memimpin PDAM berbagai
upaya
dilakukan seperti
efisiensi
dan
merapikan manajemen.
Pembacaan
meteran air
pelanggan
dilakukan
secara
disiplin, kebocoran
air dan
pendapatan juga
terus
ditekan.
Biaya
pengamprah
sambungan
baru
juga dimasukkan
dalam
neraca.
Sebelumnya
hal itu
tidak
dimasukkan neraca.
Sehingga,
belakangan
terus
terjadi surplus pendapatan.
Perbaikan
manajemen
lewat
efisiensi agar diperoleh
keuntungan
selalu
dituntut termasuk
oleh
Dewan. ''Karena
itu,
perbaikan manejemen
serta
pelayanan kepada
pelanggan
dan
efisiensi mutlak
kami
lakukan,'' ujar
Kertia.
(013)