kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 5 Oktober 2006 tarukan valas
 

POTRET


Budi Putra

"Blog" Mendorong Semua Orang agar Bisa Menulis

Tamu kita kali adalah Budi Putra, salah seorang pakar dunia internet, khususnya blogging, di Indonesia. Budi Putra adalah redaktur informasi teknologi (IT) di sebuah penerbitan terkemuka di Indonesia dan aktif sebagai penulis kolom di blog CNET Asia. Menurut Budi Putra, mulailah dari sekarang kita nge-blog. Blog adalah satu tempat yang sangat luar biasa untuk kita mengekspresikan diri. Blog mendorong semua orang agar bisa menulis. Kemampuan menulis tidak hanya dimiliki oleh wartawan atau penulis buku. Melalui blog, seorang ibu rumah tangga juga bisa membuat diary seperti mengenai resep masakan saja. Seorang atlet bisa menulis tentang tips kesehatan. Jadi, kemampuan menulis adalah suatu sarana yang membuat kita makin lebih menguasai sesuatu yang sudah kita baca dan amati. Nah, blog merupakan muara dari semua itu. Berikut petikan wawancara dengan Budi Putra.

-------------------

 

APA saja pekerjaan yang Anda anggap paling mendefinisikan keberadaan Anda di dunia "blog"?

Saya sehari-hari bekerja sebagai Redaktur Rubrik Teknologi di Koran Tempo dan Content Manager di Tempo Interaktif. Jadi, pekerjaan saya sehari-hari lebih banyak berurusan dengan media online. Yang paling utama kegiatan saya sebetulnya adalah menulis. Setiap minggu saya menulis kolom digital di Koran Tempo. Nama rubriknya E-Culture. Lalu saya juga menulis kolom di blog-nya CNET Asia. CNET Asia adalah portal informasi teknologi (IT) yang cukup berpengaruh di Asia. Saya menulis artikel teknologi juga di Jakarta Post dan ada beberapa kontribusi saya lainnya di sejumlah media online. Tetapi saya sendiri ingin memprioritaskan atau mendefinisikan diri sebagai wartawan, penulis, dan blogger.

 

Sebetulnya di mana kegunaan "blog" sekarang. Anda pernah menyatakan "blog" itu akan membantu jurnalisme masyarakat, apakah Anda bisa elaborasi mengenai hal itu?

Ada suatu hal yang selama ini menjadi persoalan dalam jurnalistik secara umum. Selama ini kita mengenal ada istilah mainstream media seperti media cetak dan media elektronik yang sudah ada. Namun pada tingkat tertentu mainstream media ini tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat karena ada alasan tertentu seperti keterbatasan space, kepentingan industri, bisnis, dan sebagainya. Jadi banyak persoalan masyarakat, persoalan publik, tidak terakomodasi dengan baik di media utama. Lalu muncullah media blog, internet dijadikan salah satu tempat untuk menginformasikan hal-hal yang sedang terjadi di kalangan masyarakat.

 

Lalu, peran wartawan sebuah media seperti apa?

Nah, menariknya, yang melaporkan hal itu tidak lagi wartawan sebuah media tetapi masyarakat itu sendiri. Dia bisa menulis, melakukan laporan pengamatan, dan tak jarang tulisan-tulisan itu atau laporan-laporan itu juga mempunyai rujukan yang sangat kuat. Pada titik ini, blog sudah menjadi garda depan dari citizen journalism. Blog sudah mulai berhadapan dengan media-media utama. Contoh yang paling bagus adalah ketika kantor berita Associated Press (AP) bekerja sama dengan Technorati (mesin pencari dan direktori blog terbesar saat ini, beralamat di www.technocrati.com) untuk menyerap atau melakukan feed (Feed atau RSS Feed untuk tujuan sindikasi kandungan situs, berita yang ada di situs/blog, dll. Sindikasi di sini maksudnya, sebuah situs yang memiliki RSS Feed dapat kita baca isinya tanpa harus datang ke website itu) terhadap blog-blog terbaru yang terkait dengan berita-berita utama. Jadi, seluruh koran di dunia yang berlangganan AP ketika menayangkan berita terbaru, misalnya soal Irak di edisi online, ada satu box bahwa ini dari Blogosphere. Jadi, itu luar biasa dan ini juga menunjukkan betapa blog sudah mulai didengar.

 

Jadi "blog" sudah menjadi sumber untuk "mainstream" media?

Sudah menjadi sumber. Pada tingkat tertentu juga menjadi pendukung utama karena orang mulai mengacu pada blog. Ini dianggap sebuah laporan-laporan spontan yang relatif, dan bisa saja subjektif berdasarkan laporannya. Tapi orang melihat ada warna-warna yang ternyata tidak terlihat di media utama.

***

 

TUNGGU dulu, kita mundur sedikit, apa itu "blog" dan apa bedanya dari "website" atau situs pada umumnya?

Blog sebenarnya sebuah website juga. Website adalah satu lembaran informasi yang ada di internet. Jadi, ketika kita masuk ke internet, misalnya membaca berita Tempo atau salah satu informasi departemen pemerintah atau perusahaan, itu yang kita sebut dengan website. Nah, weblog atau blog adalah versi mutakhir dari web. Disebut mutakhir karena di weblog kita bisa berkomunikasi, berdialog dengan orang yang memiliki blog. Kalau dulu, web itu hanya sebagai sebuah -- katakanlah -- pustaka, sekumpulan arsip. Tapi blog jauh lebih maju, ada dialog di situ. Jadi ketika masuk ke blog seseorang, kita bisa bertanya, berkomentar, dan pemilik blog akan menjawab sendiri. Jadi ini katakanlah catatan harian, diary online yang kita pajang agar dibaca oleh semua orang.

 

Kalau dulu koran kita baca dan kita bisa sangat intensif membaca, tapi tidak pernah kita mimpi untuk berhubungan dengan redaktur koran, kira-kira begitu?

Iya, karena itu jaraknya jauh sekali.

 

Sekarang di Amerika sudah bisa. Mungkin bukan dengan redakturnya, tapi lebih penting dengan wartawannya, korespondennya, kolumnisnya. Apakah itu juga mulai terjadi di Indonesia?

Di beberapa media utama di Indonesia, blog sudah mulai diakomodasi, tetapi belum seperti yang terjadi di luar negeri. Blog baru pada tingkat, misalnya, memberi tempat pada pemberitaan mengenai blog, memberi tempat pada para blogger juga untuk menulis di situ, namun saya yakin Indonesia cepat atau lambat harus mulai melihat blog ini sebagai salah satu sumber atau pendukung dalam berita atau headlines di surat kabar atau media cetak lainnya.

 

Agaknya, "blog" membuat setiap orang bisa menjadi wartawan. Betulkah begitu?

Iya, dan setiap orang bisa menjadi redaktur juga.

 

Bisa diberi gambaran mengenai susah-mudahnya membuat "blog"?

Saya punya semboyan atau slogan yaitu nge-blog itu gampang, berhentinya yang susah. Karena itu, ketika orang sudah mulai nge-blog, dia sudah mulai tahu bahwa ini ada sesuatu yang bisa kita kerjakan dan bisa bermanfaat bagi banyak orang. Nah, pada tingkat itu kita merasa ternyata kita bisa berkontribusi dengan cara kita sendiri. Blog adalah satu tempat yang sangat luar biasa untuk kita mengekspresikan diri untuk membantu, berkontribusi sesuai keahlian, atau minat kita. Jadi, nge-blog di luar soal-soal teknis itu sangat mudah karena yang paling utama dari blog adalah bagaimana kita mengekspresikan diri dan itu dengan cara menulis.

 

"Blog" itu benar-benar bikin orang pintar menulis?

Blog itu memang media yang mendorong semua orang agar bisa menulis. Kemampuan menulis tidak hanya dimiliki oleh wartawan atau penulis buku. Melalui blog, seorang ibu rumah tangga juga bisa membuat diary seperti mengenai resep masakan saja. Seorang atlet bisa menulis tentang tips kesehatan. Jadi, kemampuan menulis adalah suatu alat yang membuat kita makin lebih menguasai sesuatu yang sudah kita baca dan amati. Nah, blog merupakan muara dari semua itu. Di blog kita juga menemukan human interest yang luar biasa. Kalau di media seperti koran atau majalah, kita sering tertarik membaca feature. Tapi karena space-nya terbatas, kadang-kadang cuma sedikit. Tapi di blog luar biasa, kita bisa menemukan banyak sekali hal yang menarik.

 

Bisa Anda beri sedikit contoh soal itu?

Dalam ilmu atau praktik jurnalistik, misalnya, ketika sebuah kecelakaan terjadi dan ada 50 orang yang meninggal, sering dikatakan itu statistik. Tapi ada seorang bapak yang sedang mencari uang untuk anaknya yang sakit juga meninggal dalam peristiwa itu disebut dengan tragis. Nah, yang tragisnya seperti ini biasanya jarang diceritakan karena media-media utama tidak terlalu tertarik sama orang-orang biasa. Saya sering menemukan kisah-kisah seperti ini di-blog. Itu yang membuat kita merasa blog itu adalah suatu jurnalistik yang dikerjakan oleh publik, tapi juga untuk publik itu sendiri. Nah, ini merupakan sebuah tantangan besar juga bagi media utama yaitu bagaimana menyajikan berita, tulisan yang tidak hanya sesuai dengan selera redakturnya tapi juga dengan selera pembacanya. Kalau tidak sesuai dengan selera pembaca tentu saja tidak dibaca.

***

 

ANDA sudah lama di dunia "blog" atau internet dan juga sudah lama di dunia media utama yaitu media cetak. Menurut Anda, apakah media "blog" di masa mendatang akan mengancam keberadaa dunia media cetak?

Bicara mengenai media cetak, mainstream, ada perkembangan yang sangat menarik untuk kita simak. Pada gilirannya, media cetak itu tidak akan lagi menjadi suatu yang menguntungkan karena ada persoalan kertas, jangkauan sirkulasi, distribusi yang luar biasa mahal. Setiap koran atau majalah yang dicetak sampai sekarang masih disubsidi oleh pemiliknya. Kalau tidak, harganya mahal sekali. Nah, ketika masalah ini terjadi dan juga dikaitkan dengan masalah lingkungan karena pohonnya banyak ditebang, tiba-tiba internet muncul pada pertengahan 1990-an dan orang mulai melihat ini sebuah media yang suatu saat akan menggantikan surat kabar atau majalah. Mungkin dalam 10-20 tahun yang akan datang, majalah atau koran masih akan tetap ada, belum akan tergantikan. Tapi penggunaan kertas akan makin berkurang karena orang sudah mulai melihat ada media lain yang sangat efisien tapi jangkauannya sangat luas yaitu internet. Salah satu model yang digunakan di internet adalah website. Banyak sekali portal berita, situs yang kualitasnya tak kalah bagus dibanding media-media utama.

 

Jadi, misalnya koran tidak akan bisa menyaingi "blog" atau sebaliknya?

Koran tidak akan bisa menyaingi media online karena sifatnya yang sangat luas, aksesnya gampang. Yang paling inti dari jurnalistik adalah menyampaikan pesan. Kalau pesan itu bisa sampai secara luas di sebuah media disebut media online, mengapa tidak. Di saat perkembangan media online sudah sangat bagus, di luar dugaan muncul blog. Ini sesuatu yang sangat di luar dugaan.

 

Apakah sangat beda antara "blog" dengan "media online" yang generasi pertama?

Beda sekali. Misalnya, dalam sisi kita sebagai wartawan. Kalau Anda ingin menjadi wartawan di New York Times, maka luar biasa perjalanannya dan akan susah sekali. Anda harus tamat di sekolah tertentu, harus mempunyai suatu pengalaman, dan kemudian melamar -- syukur-syukur bisa diterima. Artinya, untuk menjadi wartawan yang kaliber internasional, hanya sedikit sekali orang bisa tampil di situ. Tapi dengan blog, Anda bisa menjadi laris. Kalau Anda membuat blog sendiri, bisa menulis dengan bagus yang dalam konteks ini menulis bahasa Inggris, mempunyai rujukan, dan ada juga hasil investigasi, maka blog Anda layak dikutip atau layak berhadapan dengan New York Times sekalipun. (*)

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com