Budi Putra
"Blog" Mendorong Semua Orang agar Bisa Menulis
Tamu kita kali adalah Budi Putra, salah seorang
pakar dunia internet, khususnya blogging, di Indonesia. Budi
Putra adalah redaktur informasi teknologi (IT) di sebuah
penerbitan terkemuka di Indonesia dan aktif sebagai penulis
kolom di blog CNET Asia. Menurut Budi Putra, mulailah dari
sekarang kita nge-blog. Blog adalah satu tempat yang sangat
luar biasa untuk kita mengekspresikan diri. Blog mendorong
semua orang agar bisa menulis. Kemampuan menulis tidak hanya
dimiliki oleh wartawan atau penulis buku. Melalui blog,
seorang ibu rumah tangga juga bisa membuat diary seperti
mengenai resep masakan saja. Seorang atlet bisa menulis
tentang tips kesehatan. Jadi, kemampuan menulis adalah suatu
sarana yang membuat kita makin lebih menguasai sesuatu yang
sudah kita baca dan amati. Nah, blog merupakan muara dari
semua itu. Berikut petikan wawancara dengan Budi Putra.
-------------------
APA
saja pekerjaan yang Anda anggap paling
mendefinisikan keberadaan Anda di dunia "blog"?
Saya sehari-hari bekerja sebagai Redaktur
Rubrik Teknologi di Koran Tempo dan Content Manager di Tempo
Interaktif. Jadi, pekerjaan saya sehari-hari lebih banyak
berurusan dengan media online. Yang paling utama kegiatan saya
sebetulnya adalah menulis. Setiap minggu saya menulis kolom
digital di Koran Tempo. Nama rubriknya E-Culture. Lalu saya
juga menulis kolom di blog-nya CNET Asia. CNET Asia adalah
portal informasi teknologi (IT) yang cukup berpengaruh di
Asia. Saya menulis artikel teknologi juga di Jakarta Post dan
ada beberapa kontribusi saya lainnya di sejumlah media online.
Tetapi saya sendiri ingin memprioritaskan atau mendefinisikan
diri sebagai wartawan, penulis, dan blogger.
Sebetulnya di mana kegunaan "blog" sekarang.
Anda pernah menyatakan "blog" itu akan membantu jurnalisme
masyarakat, apakah Anda bisa elaborasi mengenai hal itu?
Ada suatu hal yang selama ini menjadi persoalan
dalam jurnalistik secara umum. Selama ini kita mengenal ada
istilah mainstream media seperti media cetak dan media
elektronik yang sudah ada. Namun pada tingkat tertentu
mainstream media ini tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat
karena ada alasan tertentu seperti keterbatasan space,
kepentingan industri, bisnis, dan sebagainya. Jadi banyak
persoalan masyarakat, persoalan publik, tidak terakomodasi
dengan baik di media utama. Lalu muncullah media blog,
internet dijadikan salah satu tempat untuk menginformasikan
hal-hal yang sedang terjadi di kalangan masyarakat.
Lalu, peran wartawan sebuah media seperti apa?
Nah, menariknya, yang melaporkan hal itu tidak
lagi wartawan sebuah media tetapi masyarakat itu sendiri. Dia
bisa menulis, melakukan laporan pengamatan, dan tak jarang
tulisan-tulisan itu atau laporan-laporan itu juga mempunyai
rujukan yang sangat kuat. Pada titik ini, blog sudah menjadi
garda depan dari citizen journalism. Blog sudah mulai
berhadapan dengan media-media utama. Contoh yang paling bagus
adalah ketika kantor berita Associated Press (AP) bekerja sama
dengan Technorati (mesin pencari dan direktori blog terbesar
saat ini, beralamat di www.technocrati.com) untuk menyerap
atau melakukan feed (Feed atau RSS Feed untuk tujuan sindikasi
kandungan situs, berita yang ada di situs/blog, dll. Sindikasi
di sini maksudnya, sebuah situs yang memiliki RSS Feed dapat
kita baca isinya tanpa harus datang ke website itu) terhadap
blog-blog terbaru yang terkait dengan berita-berita utama.
Jadi, seluruh koran di dunia yang berlangganan AP ketika
menayangkan berita terbaru, misalnya soal Irak di edisi
online, ada satu box bahwa ini dari Blogosphere. Jadi, itu
luar biasa dan ini juga menunjukkan betapa blog sudah mulai
didengar.
Jadi "blog" sudah menjadi sumber untuk
"mainstream" media?
Sudah menjadi sumber. Pada tingkat tertentu
juga menjadi pendukung utama karena orang mulai mengacu pada
blog. Ini dianggap sebuah laporan-laporan spontan yang
relatif, dan bisa saja subjektif berdasarkan laporannya. Tapi
orang melihat ada warna-warna yang ternyata tidak terlihat di
media utama.
***
TUNGGU dulu, kita mundur sedikit, apa itu
"blog" dan apa bedanya dari "website" atau situs pada umumnya?
Blog sebenarnya sebuah website juga. Website
adalah satu lembaran informasi yang ada di internet. Jadi,
ketika kita masuk ke internet, misalnya membaca berita Tempo
atau salah satu informasi departemen pemerintah atau
perusahaan, itu yang kita sebut dengan website. Nah, weblog
atau blog adalah versi mutakhir dari web. Disebut mutakhir
karena di weblog kita bisa berkomunikasi, berdialog dengan
orang yang memiliki blog. Kalau dulu, web itu hanya sebagai
sebuah -- katakanlah -- pustaka, sekumpulan arsip. Tapi blog
jauh lebih maju, ada dialog di situ. Jadi ketika masuk ke blog
seseorang, kita bisa bertanya, berkomentar, dan pemilik blog
akan menjawab sendiri. Jadi ini katakanlah catatan harian,
diary online yang kita pajang agar dibaca oleh semua orang.
Kalau dulu koran kita baca dan kita bisa sangat
intensif membaca, tapi tidak pernah kita mimpi untuk
berhubungan dengan redaktur koran, kira-kira begitu?
Iya, karena itu jaraknya jauh sekali.
Sekarang di Amerika sudah bisa. Mungkin bukan
dengan redakturnya, tapi lebih penting dengan wartawannya,
korespondennya, kolumnisnya. Apakah itu juga mulai terjadi di
Indonesia?
Di beberapa media utama di Indonesia, blog
sudah mulai diakomodasi, tetapi belum seperti yang terjadi di
luar negeri. Blog baru pada tingkat, misalnya, memberi tempat
pada pemberitaan mengenai blog, memberi tempat pada para
blogger juga untuk menulis di situ, namun saya yakin Indonesia
cepat atau lambat harus mulai melihat blog ini sebagai salah
satu sumber atau pendukung dalam berita atau headlines di
surat kabar atau media cetak lainnya.
Agaknya, "blog" membuat setiap orang bisa
menjadi wartawan. Betulkah begitu?
Iya, dan setiap orang bisa menjadi redaktur
juga.
Bisa diberi gambaran mengenai susah-mudahnya
membuat "blog"?
Saya punya semboyan atau slogan yaitu nge-blog
itu gampang, berhentinya yang susah. Karena itu, ketika orang
sudah mulai nge-blog, dia sudah mulai tahu bahwa ini ada
sesuatu yang bisa kita kerjakan dan bisa bermanfaat bagi
banyak orang. Nah, pada tingkat itu kita merasa ternyata kita
bisa berkontribusi dengan cara kita sendiri. Blog adalah satu
tempat yang sangat luar biasa untuk kita mengekspresikan diri
untuk membantu, berkontribusi sesuai keahlian, atau minat
kita. Jadi, nge-blog di luar soal-soal teknis itu sangat mudah
karena yang paling utama dari blog adalah bagaimana kita
mengekspresikan diri dan itu dengan cara menulis.
"Blog" itu benar-benar bikin orang pintar
menulis?
Blog itu memang media yang mendorong semua
orang agar bisa menulis. Kemampuan menulis tidak hanya
dimiliki oleh wartawan atau penulis buku. Melalui blog,
seorang ibu rumah tangga juga bisa membuat diary seperti
mengenai resep masakan saja. Seorang atlet bisa menulis
tentang tips kesehatan. Jadi, kemampuan menulis adalah suatu
alat yang membuat kita makin lebih menguasai sesuatu yang
sudah kita baca dan amati. Nah, blog merupakan muara dari
semua itu. Di blog kita juga menemukan human interest yang
luar biasa. Kalau di media seperti koran atau majalah, kita
sering tertarik membaca feature. Tapi karena space-nya
terbatas, kadang-kadang cuma sedikit. Tapi di blog luar biasa,
kita bisa menemukan banyak sekali hal yang menarik.
Bisa Anda beri sedikit contoh soal itu?
Dalam ilmu atau praktik jurnalistik, misalnya,
ketika sebuah kecelakaan terjadi dan ada 50 orang yang
meninggal, sering dikatakan itu statistik. Tapi ada seorang
bapak yang sedang mencari uang untuk anaknya yang sakit juga
meninggal dalam peristiwa itu disebut dengan tragis. Nah, yang
tragisnya seperti ini biasanya jarang diceritakan karena
media-media utama tidak terlalu tertarik sama orang-orang
biasa. Saya sering menemukan kisah-kisah seperti ini di-blog.
Itu yang membuat kita merasa blog itu adalah suatu jurnalistik
yang dikerjakan oleh publik, tapi juga untuk publik itu
sendiri. Nah, ini merupakan sebuah tantangan besar juga bagi
media utama yaitu bagaimana menyajikan berita, tulisan yang
tidak hanya sesuai dengan selera redakturnya tapi juga dengan
selera pembacanya. Kalau tidak sesuai dengan selera pembaca
tentu saja tidak dibaca.
***
ANDA sudah lama di dunia "blog" atau internet
dan juga sudah lama di dunia media utama yaitu media cetak.
Menurut Anda, apakah media "blog" di masa mendatang akan
mengancam keberadaa dunia media cetak?
Bicara mengenai media cetak, mainstream, ada
perkembangan yang sangat menarik untuk kita simak. Pada
gilirannya, media cetak itu tidak akan lagi menjadi suatu yang
menguntungkan karena ada persoalan kertas, jangkauan
sirkulasi, distribusi yang luar biasa mahal. Setiap koran atau
majalah yang dicetak sampai sekarang masih disubsidi oleh
pemiliknya. Kalau tidak, harganya mahal sekali. Nah, ketika
masalah ini terjadi dan juga dikaitkan dengan masalah
lingkungan karena pohonnya banyak ditebang, tiba-tiba internet
muncul pada pertengahan 1990-an dan orang mulai melihat ini
sebuah media yang suatu saat akan menggantikan surat kabar
atau majalah. Mungkin dalam 10-20 tahun yang akan datang,
majalah atau koran masih akan tetap ada, belum akan
tergantikan. Tapi penggunaan kertas akan makin berkurang
karena orang sudah mulai melihat ada media lain yang sangat
efisien tapi jangkauannya sangat luas yaitu internet. Salah
satu model yang digunakan di internet adalah website. Banyak
sekali portal berita, situs yang kualitasnya tak kalah bagus
dibanding media-media utama.
Jadi, misalnya koran tidak akan bisa menyaingi
"blog" atau sebaliknya?
Koran tidak akan bisa menyaingi media online
karena sifatnya yang sangat luas, aksesnya gampang. Yang
paling inti dari jurnalistik adalah menyampaikan pesan. Kalau
pesan itu bisa sampai secara luas di sebuah media disebut
media online, mengapa tidak. Di saat perkembangan media online
sudah sangat bagus, di luar dugaan muncul blog. Ini sesuatu
yang sangat di luar dugaan.
Apakah sangat beda antara "blog" dengan "media
online" yang generasi pertama?
Beda sekali. Misalnya, dalam sisi kita sebagai
wartawan. Kalau Anda ingin menjadi wartawan di New York Times,
maka luar biasa perjalanannya dan akan susah sekali. Anda
harus tamat di sekolah tertentu, harus mempunyai suatu
pengalaman, dan kemudian melamar -- syukur-syukur bisa
diterima. Artinya, untuk menjadi wartawan yang kaliber
internasional, hanya sedikit sekali orang bisa tampil di situ.
Tapi dengan blog, Anda bisa menjadi laris. Kalau Anda membuat
blog sendiri, bisa menulis dengan bagus yang dalam konteks ini
menulis bahasa Inggris, mempunyai rujukan, dan ada juga hasil
investigasi, maka blog Anda layak dikutip atau layak
berhadapan dengan New York Times sekalipun.
(*)