kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 5 Oktober 2006 tarukan valas
 

OPINI


Jangan Coba Serang Kafilah!

BEGITU lamanya Bali sebagai tujuan pariwisata, tapi masyarakatnya tetap miskin. Ke mana larinya pungutan Visa on Arrival (VoA)? Apakah pemerintahan Bali akan selama-lamanya begini? Pengusaha luar makin bebas menanamkan modal tanpa memperhatikan ciri khas budaya Bali. Penduduk asli kian terjepit, tak lama lagi akan tersingkirkan.

(I Made Yadnya, Karangasem)

--------------

 

"Keluhan Yadnya dari Karangasem yang tertulis di rubrik 'Nurani' Denpost itu boleh dikatakan mewakili aspirasi sebagian masyarakat Bali. Memang keluhan serupa sebelumnya sudah sering dilontarkan banyak orang, namun keluhan Yadnya sedikit berbeda karena diselipkan pertanyaan, apakah pemerintahan Bali akan selama-lamanya begini? Biasanya suasana 'saling gigit' terjadi antara komponen masyarakat, kini gigi diarahkan ke pemerintah Bali. Eh, tanya kenapa?" pancing Rubag ketika kawan-kawannya berbincang tentang dana recovery yang diributkan.

"Sebelum kujawab 'kenapa'-nya, sebaiknya aku komentari soal 'gigi' itu. Jangan kata cuma barisan gigi seseorang, gigi ratusan bahkan ribuan orang yang disertai pukulan dan tendangan pun tak akan menggoyahkan sang kafilah. Sebab, onta yang ditungganginya terlalu perkasa untuk diserang, karena cukup terlatih sebelum dijadikan kendaraan gurun. Jangan-jangan gigi penyerangnya akan rontok di-kajet kaki-kaki onta itu," sahut Kudil sembari nyengir.

"Oke, itu metafora, tapi apa hubungannya dengan pemerintahan Bali yang dikritik Yadnya? Mengapa dia mengaitkan pemerintahan dengan kemiskinan, VoA, investor dan rakyat Bali yang kian terjepit dan tersingkir? Nggak usah pakai kias-kiasan, to the point saja!"

"Wah, yang disebut pemerintah juga abstrak, yakni satu kesatuan terdiri dari bagian-bagian yang dipimpin seorang kepala pemerintahan. Mirip seperti kafilah dengan ontanya yang aku analogikan tadi. Apa Yadnya mau mengkritisi pemerintah Bali secara keseluruhan atau hanya bagian yang bertanggung jawab atas pariwisata? Tapi, aparat ini akan mudah berkelit kalau dibebani tanggung jawab atas tetap miskinnya rakyat Bali meski puluhan tahun jadi tujuan pariwisata. Sebab dia hanya ngurus masalah pariwisata, bukan soal kemiskinan. Dia juga akan gampang mengelak bila dituntut soal VoA, karena pungutan dilakukan instansi lain di bandara. Apalagi ditanya tentang kian terjepit dan tersingkirnya penduduk asli, mungkin serta merta dia akan menjawab, emangnya gue pikirin!" kilah Kudil.

"Ya, kalau urusan tanggung jawab, biasanya terjadi saling tuding. Tapi kalau bagi rezeki, baru serempak bernyani, one for me, one for you. Bagiku, semua permasalahan timbul akibat kebijakan publik yang diimplementasikan secara kurang beres. Setiap kebijakan publik, baik yang berlaku nasional maupun lokal, ditandatangani kepala pemerintahan secara hirarkhial. Di pusat presiden, di daerah gubernur, bupati atau walikota. Semua kebijakan publik bila dibaca sekilas, tampak sesuai dengan idealismenya yakni mengatur ruang dan aktivitas publik demi kemaslahatan bersama. Tapi ingat, yang membuat dan mengimplementasikan kebijakan yang disebut peraturan dan perundang-undangan itu adalah manusia. Maka, praktiknya seperti syair lagu dangdut, 'kau yang memulai, kau yang mengakhiri', sehingga yang diatur lebih sering dirugikan oleh yang mengatur," komentar Suja.

"Setahuku, Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur pariwisata secara umum di Bali, belum pernah ada. Komponen-komponen pariwisata kian banyak, seiring makin kompletnya fasilitas kepariwisataan. Hotel berbagai kelas dan bintang, restoran, transportasi, rekreasi dan permainan, pramuwisata, biro perjalanan, spa dan panti pijat, artshop, tumbuh menjamur melebihi jumlah wisatawan yang datang ke Bali," ujar Gus Eka.

"Akibat supply melampaui demand sejak dua dekade lalu, terjadi persaingan tidak sehat yang melahirkan istilah-istilah 'pay for a week, stay for two weeks' juga 'time share' di bidang akomodasi dan 'jual beli kepala' di kancah biro perjalanan dan guide. Persaingan yang cendrung merusak citra pariwisata itu kian menjadi-jadi karena menurunnya jumlah kedatangan wisatawan akibat bom teroris meledak dua kali di Bali. Birokrat dan otoritas pariwisata seakan-akan menutup mata, telinga dan mulut untuk hal-hal yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya. Bahkan ketika terjadi ribut-ribut mengenai dana recovery pariwisata Bali, perang tuding kambuh kembali," tambah Sumadi.

"Tapi untuk urusan dana pemulihan yang seakan-akan menguap itu, beberapa anggota DPRD Bali sempat mencak-mencak. Terkait sinyalemen tentang belum adanya Perda untuk pariwisata Bali, memang fanomena aneh. Sudah 38 tahun pariwisata Bali menggeliat dan banyak problem muncul akibat persaingan yang nyaris tak terselesaikan, namun penguasa pariwisata Bali tenang-tenang saja. Soal time share, jual beli kepala, banting-bantingan harga sudah sering masuk koran, malah disertai debat dan demo ke DPRD dan Gubernur  Bali. Sayang, itu tidak dianggap problem, sehingga dirasa tidak dibutuhkan produk hukum untuk mengaturnya," keluh Kasna.

"Tunggu dulu! Beberapa tahun lalu, aku sempat baca di koran ada ribut-ribut tentang Perda Nomor 10 Tahun 1989. Apa itu bukan Perda Pariwisata?" sela Minggik.

"Bukan! Itu Perda yang khusus mengatur pramuwisata atau guide! Pahami, pramuwisata hanya salah satu dari banyak komponen pariwisata. Tapi, mengapa guide saja yang diatur, sedangkan yang lain seakan-akan bebas melakukan apa saja, sehingga semua problem yang ditimbulkan hanya dianggap angin lalu? Aku khawatir, kalau pramuwisata dianggap satu-satunya trouble maker dalam pariwisata. Sebab motivasi penyusunan Perda, menurut teori kebijakan publik, senantiasa dikaitkan dengan keadaan sosial yang tidak menyenangkan yang disebut problem, sehingga dibutuhkan tindakan sosial untuk mengaturnya," papar Sumadi.

"Bukan karena dianggap trouble maker, tapi karena komponen ini paling mudah diatur, apalagi dalam keadaan tidak bersatu. Inilah risiko sebagai organisasi individu-individu yang jumlahnya ribuan orang, merupakan makanan empuk bagi manajer konflik. Beda dengan komponen lainnya yang merupakan asosiasi perusahaan, yang sulit diintervensi karena bermodal besar. Apalagi pabrik guide terus berproduksi, atas nama lapangan kerja, tanpa mempertimbangkan supply dan demand. Faktanya, yang terjadi tambahan jumlah pengangguran, mengingat pariwisata belum pulih dan mengalami stagnasi," kilah Lonjong.

"Sebentar lagi, konon, akan lahir Perda baru untuk mengganti Perda pramuwisata yang lama. Karena desakan global, aku khawatir pendekatan elitis dan parameter internasional akan digunakan menyusun Perda baru itu. Bila demikian, maka pendapat Yadnya bahwa penduduk asli Bali kian terjepit dan tak lama lagi akan tersingkir, tidak meleset. Tapi jangan coba-coba menyerang kafilah selagi dia berada di punggung onta, kalau tidak mau gigi rontok," imbau Kudil.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com