Melacak Ihwal Pura Dalem Balingkang
REDITE Umanis Warigadian atau Minggu (5/11)
hari ini upacara piodalan di Pura Dalem Balingkang, Desa Pinggan,
Kintamani, Bangli. Lokasinya, dari Denpasar mengikuti jalur
Denpasar-Singaraja lewat Kintamani, dan di Pura Pucak Panulisan
menuju arah timur laut kira-kira 15-20 km. Tempatnya sangat unik
dikelilingi Sungai Melilit, yang dianggap sebagai benteng utama
menuju ke Kerajaan Balingkang. Bagaimana sesungguhnya ihwal Pura
Dalem Balingkang ini?
----------
Dalam Prasasti Sukawana (Goris, 1954) disebut, Desa
Sukawana diserang hujan badai dan Keraton Jaya Pangus hancur,
sehingga jong les pindah ke Balingkang. Keberadaan Pura Dalem
Balingkang (PDB) sebagai pura maupun sebagai Keraton Raja Bali
Kuna tercatat pula dalam "Pengeling-eling Desa Les-Penuktukan,
Tejakula, Buleleng" yang dikeluarkan oleh Raja Jaya Kasunu sekitar
abad ke-11. Ia tercatat sebagai leluhur Raja Jaya Pangus
Harkajalancana.
Masyarakat Bali dewasa ini terbagi menjadi dua
kelompok utama -- Bali Mula (Aga) dan Bali Majapahit. Prof. Dr. I
Gusti Bagus (alm.) dalam tulisannya "Kebudayaan Bali" (1979)
menyebut, masyarakat Bali Mula mendiami daerah pegunungan di Bali,
sedangkan Bali Majapahit mendiami daerah dataran. Bahasanya pun
berbeda, disebut "omong negari" dan "omong pojol" oleh masyarakat
Bali Mula.
Dua Permaisuri
Dalam konteks PDB, nama balingkang berasal dari
kata "bali + ing kang". Secara tuturan dan bukti tertulis, ini
dikaitkan dengan pernikahan Raja Jaya Pangus Harkajalancana yang
memerintah pada tahun saka 1103-1191 atau 1181-1269 Masehi. Raja
Jaya Pangus punya dua permaisuri, Paduka Bhatari Sri Parameswari
Indujaketana dan Paduka Sri Mahadewi Cacangkaja Cihna -- (Cihna-Cina).
Dalam cerita rakyat yang berkembang disebut, istri Cinanya bernama
Kang Ci Wi, putri Tuan Subandar pedagang dari Cina. Maka
digabunglah Bali-Ing-Kang jadi Balingkang.
Masyarakat Bali Kuna di sekitar Danau dan Gunung
Batur tercatat amat sulit ditundukkan oleh Raja Sri Kresna
Kepakisan yang ditempatkan oleh Maha Patih Gajah Mada. Sampai
dewasa ini, mereka amat sulit terpengaruh oleh budaya Hindu
Majapahit. Sampai tahun 2006 ini, Pura Pucak Panarajon belum mau
menggunakan Ida Pedanda sebagai Sang Trini-nya, tetap menggunakan
Jro Mangku dan Jro Kebayan dengan upacara podgala atau mewinten
pang solas.
Masyarakat Bali Mula di sekitar Danau Batur
menyebut dirinya dengan Gebog Domas (Kelompok Delapan Ratus).
Kelompok ini dibagi jadi empat bagian Gebog Satak (Dua Ratus)
Sukawana, Kintamani, Selulung dan Bantang. Kelompok ini memiliki
Tri Kahyangan yakni (1) Pura Pucak Panarajon sebagai pusatnya
terletak di Sukawana, Kintamani, dengan tiga tingkatan pura yang
disebut Gunung Kahuripan. Tingkatannya, Pura Panarajon (Ida
Bhatara Siwa Sakti), Pucak Panulisan (sejajar dengan pusat
pemerintahan -- dulu sebagai keraton Raja Jaya Pangus), dan Pucak
Wangun Hurip (simbol membangun kehidupan.
(2) Pura Bale Agung di Sukawana dengan Ida Bhatara
Ratu Sakti Kentel Gumi, setara dengan Bhatara Brahma, (3) Pura
Pusering Jagat -- Pura Puseh Panjingan di Desa Les-Penuktukan,
Tejakula, Buleleng, berstana Ida Ratu Sakti Pusering Jagat setara
dengan Bhatara Wisnu, dan (4) Pura Dalem Balingkang berstana Ida
Dalem Kepogan (Dalem Balingkang) setara dengan Dewa Siwa.
Kelompok Satak Sukawana terdiri atas beberapa desa
di Kecamatan Kintamani dan Tejakula, Buleleng. Sebagai ikatan yang
padu, Desa Pinggan ditugaskan oleh Sukawana sebagai kesinoman
membawa surat ke kelompok Tejakula. Di Sukawana banyak ada
peninggalan tanah pelaba pura, serta di Balingkang ada 175 ha.
Rupanya secara diam-diam keduanya saling menguasai tanah itu.
Pada 1960, Sukawana menugaskan Pinggan mengirim
surat ke kelompok Buleleng Timur. Surat itu "disembunyikan"
sehingga semua warga Buleleng tak tahu ada upacara di Panarajon.
Ini berlangsung sampai 1963, sehingga pada 1964 Sukawana malu
menugaskan Pinggan. Akhirnya, kelompok pemuja PDB pada 1964 yakni
Pinggan, Siakin, Tembok, Gretek Sambirenteng, Les-Penuktukan
menyatakan keluar dari kelompok Sukawana dan membuat kelompok baru
bernama Gebog Satak Balingkang.
Lalu, sejak 1964 kelompok pemuja Pura Pucak Bukit
Indra Kila, Desa Dausa, Kintamani juga melepaskan diri dari Pura
Panarajon.
PDB yang dipuja kelompok Gebog Satak Balingkang,
juga dipuja oleh warga masyarakat di sekitar Desa Petak, Gianyar.
Ini terjadi karena ada hubungan historis dengan keluarga Puri
Petak Gianyar. Secara faktual, di utama mandala bagian sisi
selatan ada kompleks bangunan pura lengkap dengan sanggar agung,
meru 11 (tingkat 11), sebagai pemujaan Ida Dalem Klungkung (Raja
Klungkung) dan meru 9 (tingkat 9) sebagai pemujaan pada Ida Dalem
Bangli (Raja Bangli).
Menurut Ida Cokorda Dalem Balingkang dalam
disertasinya di Surabaya pada 1989, menyebut tentang keberadaan
leluhurnya di PDB serta fungsi meru 11 dan meru 9 di utama mandala.
Dituturkan, semua itu ada kaitan dengan saat sesudah penyerbuan
Panji Sakti ke Bintang Danu pada 1772. Waktu itu, Dewa Agung Mayun
Sudha adalah Raja Pejeng, Gianyar. Ia diserang oleh penguasa dari
Puri Blahbatuh, Puri Peliatan, Puri Gianyar, dan Puri Ubud.
Karena lawannya banyak, pasukan Puri Pejeng
terdesak. Dewa Agung Mayun Sudha yang merasa terdesak, bersama
piluhan anak buahnya lari menyelamatkan diri ke arah pegunungan.
Rombongan ini bersembunyi di sekitar PDB yang saat itu bangunannya
telah terbakar, tinggal dasarnya saja. Bersama rombongannya, Dewa
Agung Mayun Sudha memimpin merabas hutan seluas 175 ha. Ia
mengajak warga membangun kembali PDB sehingga pelan-pelan menjadi
lengkap.
Setelah puranya dibangun, diadakanlah upacara
dengan dukungan Raja Bangli serta Raja Klungkung. Akhirnya,
hubungan Dewa Agung Mayun Sudha dengan Raja Bangli dan Raja
Klungkung makin baik. Suatu hari, Dewa Agung Mayun Sudha memohon
bantuan pada Raja Bangli dan Klungkung akan merebut kembali
kerajaannya. Disarankan, agar diserang Desa Petak dulu, sebagai
tempat berpijak. Dengan bantuan pasukan Raja Klungkung dan Bangli,
Desa Petak yang terdiri atas sepuluh dusun dapat dikuasai,
sehingga Dewa Agung Mayun Sudha berkuasa di sana.
Untuk mengenang dan memuliakan Ida Bathara Dalem
Balingkang, maka Dewa Agung Mayun Sudha bergelar Ida Cokorda Putra
Dalem Balingkang. Sampai saat ini, keluarga Puri Petak menjadi
pemuja utama di PDB, selain Gebok Satak Balingkang.
Struktur Pura
Struktur PDB termasuk unik, karena dulu konon
dijadikan istana raja yang menghindari serangan raja lainnya.
Dalam beberapa pustaka ada disebut, PDB sebagai istana Raja Maya
Danawa. Raja ini dikalahkan oleh Bathara Indra dari Tampaksiring.
Namun dalam naskah lontar "Linaning Maya Danawa" dikisahkan Maya
Danawa mati terbunuh oleh Ki Kebo Parud -- utusan Raja Kerta
Negara yang menyerang dari utara.
Dalam struktur PDB, di awal adalah kompleks Pura
Tanggun Titi -- ujung jembatan dan ada sumber air. Di sumber air
ini kerbau disucikan sebelum mepepada. Di kompleks Pura Tangun
Titi ada pemujaan Ratu Ngurah Sakti Tanggun Titi, Ratu Mas
Melanting, Ratu Sakti Gede Penyarikan, dan Sang Hyang Haji
Saraswati. Kompleks kedua setelah melewati tanah lapang yang dulu
difungsikan membangun tempat penginapan, ada bangunan cangapit,
yakni pintu masuk yang dilengkapi tempat duduk raja saat
menyaksikan jro gede mepada mengelilingi pura.
Di jaba tengah, tak banyak bangunan, hanya ada
paruman agung, stana Ida Bhatara Sami, serta palinggih Ratu Ayu
Subandar. Palinggih ini sebagai pemujaan pada Kang Ci Wi dan ini
amat diyakini oleh masyarakat Cina membawa berkah. Di kompleks
utama atau jeroan, dibangun pemujaan Puri Agung Petak dengan meru
11 dan meru 9. Juga dibangun pemujaan Dalem Balingkang dengan
gedong bata dan meru 7 -- ini mengingatkan pada Sapta Dewata. Ada
pula bangunan balai panjang bertiang 24, bertiang 20, dan balai
mundar-mundar bertiang 16 (dibagi empat sisi, masing-masing
bertiang 4).
* jro
mangku
i ketut riana