Tradisi Melatih Pikiran Membayangkan
Sesuatu.... (2)
Apa yang tidak Diucapkan, Apa yang
tidak Ditulis
''KEBENCIAN
itu apa, Bu?'' Begitu pertanyaan anak.
''Tanyakan pada ayah''. Begitu seorang ibu
dilatih menyahut. Bukan karena ibu tidak tahu apa itu
kebencian. Semua orang waras tahu. Tapi karena pelembagaan
tugas, seorang ibu mengantarkan anak pada ayah. Seandainya
anak bertanya, ''Bu apa harmonis itu?'', adalah juga
tugas seorang ibu mengantarkan pertanyaan anak pada ayah. Tiap
anak yang lahir, menurut dongeng, adalah manusia serta separo.
Ia belum manusia serba. Ia belum manusia utuh. Ia akan menjadi
utuh kalau sudah bertemu ''ayah''. Maksudnya, mendapat
penyucian dari Sang Bapa.
Bukan pula karena ayah tahu jawabannya, tapi
karena kewajiban institusional. Seorang ayah menerima
kewajiban itu semenjak ia resmi menjadi ayah. Tentu masih ada
kewajiban lain. Kewajiban menjelaskan kebencian dari ''a-
sampai ''-z'' adalah tugasnya. Kewajiban menggambarkan
''abcd''-nya keharmonisan adalah mutlak. Sebab tanpa itu, desa
kami tidak akan harmonis.
Desa adalah segala-galanya. Jangankan rumah,
sawah, dan air, nyawa kami pun milik desa. Dulu semuanya milik
raja. Kini giliran desa menjadi raja. Kami berbahagia dengan
semua itu. Jadi tidak ada yang perlu dibicarakan. Semua sudah
happy ending, semua sudah happy ever after. Kalau tiba-tiba
meletus amuk massal, itu adalah babak baru, cerita baru, dan
tokoh baru. Dan itu pun akan berakhir dengan happy ending,
karena di sini ada ''lembaga happy''. Panas setahun dihapus
hujan sehari. Dendam bertahun-tahun diharmoniskan ritual
sehari. Bagaimana mungkin kami tidak berbahagia dengan semua
itu?
Yang kalah harus memohon maaf atas kehancuran
dan kehilangan harga dirinya sendiri. Dengan sebuah ritual
konflik kemudian ''diselesaikan''. Awalan di- dan akhiran -kan
pada kata selesai bisa diartikan ''dianggap selesai''. Karena
pohon konflik itu ditebang pada batang. Keterpisahan akar
dengan batang kemudian disucikan dengan ritual. Tak berapa
lama batang menjadi hancur dan busuk. Namun akar dendam yang
terpendam di tanah terus bergerak mencari udara demi
pertumbuhannya. Bila nantinya udara dihirup bersama oleh dua
wakil kebencian, maka kami akan membaca kembali kisah dewa dan
raksasa berebutan ''air kehidupan'' (amerta) secara
hancur-hancuran.
TIDAK PENTING mengetahui siapa dewa siapa
raksasa. Yang ada adalah perebutan. Keduanya punya andil yang
sama. Raksasa disahkan oleh dewa. Sebaliknya dewa disahkan
keberadaannya oleh raksasa. Perebutan yang mereka lakukan
adalah proklamasi bahwa mereka hanyalah wakil dari dualisme.
Bila dalam mitolgi para dewa memenangkan perang, siapa tahu
kini giliran raksasa. Kami tidak tahu, karena kami belum
diberitahu oleh tradisi. Dan kami malas bertanya.
Yang kami tahu, dewa dan raksasa itu adalah dua
pencitraan berbeda penghuni konflik. Raksasa dengan
keraksasaannya berperang menghadapi dewa apa adanya. Ketika
mereka kalah, mereka mati, dan selesai. Tapi ketika dewa
kalah, ada saja akalnya. Misalnya, dewa mengirim utusan
bidadari cantik turun ke bumi mencari manusia sakti untuk
membunuh raksasa. Manusia sakti itu diberi berbagai senjata
pemusnah yang ampuh. Setelah menang, ia diberi bonus kekayaan
dan bahkan dihadiahi bidadari apa adanya. Dewa lebih banyak
akalnya daripada raksasa. Karena lebih tinggi inteleknya.
Hampir dalam semua cerita, raksasa selalu dan pasti kalah.
Membaca kisah seperti itu kami tahu sedang disuguhkan dua
realitas kontras: realitas cerita dan kenyataan. Tapi kami
tidak memusingkan keduanya. Karena kami sudah tahu, yang mati
dalam kenyataan akan dihidupkan oleh cerita.
Dalam cerita terjadi seperti berikut ini.
Bidadari atau manusia yang dikutuk oleh dewa sama sekali
tidak berkutik. Mereka memelas mohon ampun dengan cara
mengibakan hati. Tidak ada dendam. Apalagi pembalasan. Yang
ada hanya ratapan mohon ampun agar kutukan itu dibatalkan. Dan
bila kutukan itu dicabut, mereka akan bersumpah menjadi abdi
setia seumur-umur.
Sebaliknya, tidak demikian dalam realitas
sehari-hari. Dendam akar pohon yang dipotong batangnya mencari
kehidupan baru di bawah tanah. Pada masanya akar itu
menyatakan diri lewat tunas yang muncul ke atas tanah menuding
langit. Dendam udara yang terpenjara dalam lubang bambu
merindukan pertemuan dengan udara di luar. Ia sabar menanti
dan menanti. Sampai pada saatnya, bambu itu tua, retak, dan
terbelah sendiri. Dendam kelompok yang kalah dalam sejarah
mengabarkan nasibnya kepada generasi baru dengan berbagai
cara. Seperti itu benih dendam dan benci memelihara dirinya
sendiri. Dewa Waktu (Dewa Kala) dengan sabar dan tekun
menyuburkan benih itu. Akhirnya Kala pulalah yang memetik
bunga dan buahnya. Makanya banyak orang di antara kami disebut
''dimakan Kala'' (amah kala).
Tradisi yang tidak jujur akhirnya
kontraproduktif. Kami menjadi terlatih mendengar apa yang
tidak diucapkan. Terlatih membaca apa yang tidak ditulis.
Ingin mengungkapkan apa yang ditutup-tutupi. Mencari apa yang
disembunyikan. Kami sadar, dengan bahasa fakta diungkapkan,
dengan bahasa pula fakta lain disembunyikan. Ketika kebuntuan
mencapai puncaknya, kami akan meninggalkan bahasa. Yang kami
pakai alat komunikasi adalah massa dengan segala rekayasanya.
Bendera dan bait-bait pembenar hanyalah atribut yang siap kami
buang. Amuk massa.
Belum tahu ya, siapa kami?
IBM Dharma Palguna