kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 5 Oktober 2006 tarukan valas
 

APRESIASI


Tradisi Melatih Pikiran Membayangkan Sesuatu.... (2)

Apa yang tidak Diucapkan, Apa yang
tidak Ditulis

''KEBENCIAN itu apa, Bu?'' Begitu pertanyaan anak.

''Tanyakan pada ayah''. Begitu seorang ibu dilatih menyahut. Bukan karena ibu tidak tahu apa itu kebencian. Semua orang waras tahu. Tapi karena pelembagaan tugas, seorang ibu mengantarkan anak pada ayah. Seandainya anak bertanya, ''Bu apa harmonis itu?'',  adalah juga tugas seorang ibu mengantarkan pertanyaan anak pada ayah. Tiap anak yang lahir, menurut dongeng, adalah manusia serta separo. Ia belum manusia serba. Ia belum manusia utuh. Ia akan menjadi utuh kalau sudah bertemu ''ayah''. Maksudnya, mendapat penyucian dari Sang Bapa.

Bukan pula karena ayah tahu jawabannya, tapi karena kewajiban institusional. Seorang ayah menerima kewajiban itu semenjak ia resmi menjadi ayah. Tentu masih ada kewajiban lain. Kewajiban menjelaskan kebencian dari ''a- sampai ''-z'' adalah tugasnya. Kewajiban menggambarkan ''abcd''-nya keharmonisan adalah mutlak. Sebab tanpa itu, desa kami tidak akan harmonis.

Desa adalah segala-galanya. Jangankan rumah, sawah, dan air, nyawa kami pun milik desa. Dulu semuanya milik raja. Kini giliran desa menjadi raja. Kami berbahagia dengan semua itu. Jadi tidak ada yang perlu dibicarakan. Semua sudah happy ending, semua sudah happy ever after. Kalau tiba-tiba meletus amuk massal, itu adalah babak baru, cerita baru, dan tokoh baru. Dan itu pun akan berakhir dengan happy ending, karena di sini ada ''lembaga happy''. Panas setahun dihapus hujan sehari. Dendam bertahun-tahun diharmoniskan ritual sehari. Bagaimana mungkin kami tidak berbahagia dengan semua itu?

Yang kalah harus memohon maaf atas kehancuran dan kehilangan harga dirinya sendiri. Dengan sebuah ritual konflik kemudian ''diselesaikan''. Awalan di- dan akhiran -kan pada kata selesai bisa diartikan ''dianggap selesai''. Karena pohon konflik itu ditebang pada batang. Keterpisahan akar dengan batang kemudian disucikan dengan ritual. Tak berapa lama batang menjadi hancur dan busuk. Namun akar dendam yang terpendam di tanah terus bergerak mencari udara demi pertumbuhannya. Bila nantinya udara dihirup bersama oleh dua wakil kebencian, maka kami akan membaca kembali kisah dewa dan raksasa berebutan ''air kehidupan'' (amerta) secara hancur-hancuran.

TIDAK PENTING mengetahui siapa dewa siapa raksasa. Yang ada adalah perebutan. Keduanya punya andil yang sama. Raksasa disahkan oleh dewa. Sebaliknya dewa disahkan keberadaannya oleh raksasa. Perebutan yang mereka lakukan adalah proklamasi bahwa mereka hanyalah wakil dari dualisme. Bila dalam mitolgi para dewa memenangkan perang, siapa tahu kini giliran raksasa. Kami tidak tahu, karena kami belum diberitahu oleh tradisi. Dan kami malas bertanya.

Yang kami tahu, dewa dan raksasa itu adalah dua pencitraan berbeda penghuni konflik. Raksasa dengan keraksasaannya berperang menghadapi dewa apa adanya. Ketika mereka kalah, mereka mati, dan selesai. Tapi ketika dewa kalah, ada saja akalnya. Misalnya, dewa mengirim utusan bidadari cantik turun ke bumi mencari manusia sakti untuk membunuh raksasa. Manusia sakti itu diberi berbagai senjata pemusnah yang ampuh. Setelah menang, ia diberi bonus kekayaan dan bahkan dihadiahi bidadari apa adanya. Dewa lebih banyak akalnya daripada raksasa. Karena lebih tinggi inteleknya. Hampir dalam semua cerita, raksasa selalu dan pasti kalah. Membaca kisah seperti itu kami tahu sedang disuguhkan dua realitas kontras: realitas cerita dan kenyataan. Tapi kami tidak memusingkan keduanya. Karena kami sudah tahu, yang mati dalam kenyataan akan dihidupkan oleh cerita.

Dalam cerita terjadi seperti berikut ini. Bidadari atau  manusia yang dikutuk oleh dewa sama sekali tidak berkutik. Mereka memelas mohon ampun dengan cara mengibakan hati. Tidak ada dendam. Apalagi pembalasan. Yang ada hanya ratapan mohon ampun agar kutukan itu dibatalkan. Dan bila kutukan itu dicabut, mereka akan bersumpah menjadi abdi setia seumur-umur.

Sebaliknya, tidak demikian dalam realitas sehari-hari. Dendam akar pohon yang dipotong batangnya mencari kehidupan baru di bawah tanah. Pada masanya akar itu menyatakan diri lewat tunas yang muncul ke atas tanah menuding langit. Dendam udara yang terpenjara dalam lubang bambu merindukan pertemuan dengan udara di luar. Ia sabar menanti dan menanti. Sampai pada saatnya, bambu itu tua, retak, dan terbelah sendiri. Dendam kelompok yang kalah dalam sejarah mengabarkan nasibnya kepada generasi baru dengan berbagai cara. Seperti itu benih dendam dan benci memelihara dirinya sendiri. Dewa Waktu (Dewa Kala) dengan sabar dan tekun menyuburkan benih itu. Akhirnya Kala pulalah yang memetik bunga dan buahnya. Makanya banyak orang di antara kami disebut ''dimakan Kala'' (amah kala).

Tradisi yang tidak jujur akhirnya kontraproduktif. Kami menjadi terlatih mendengar apa yang tidak diucapkan. Terlatih membaca apa yang tidak ditulis. Ingin mengungkapkan apa yang ditutup-tutupi. Mencari apa yang disembunyikan. Kami sadar, dengan bahasa fakta diungkapkan, dengan bahasa pula fakta lain disembunyikan. Ketika kebuntuan mencapai puncaknya, kami akan meninggalkan bahasa. Yang kami pakai alat komunikasi adalah massa dengan segala rekayasanya. Bendera dan bait-bait pembenar hanyalah atribut yang siap kami buang. Amuk massa.

Belum tahu ya, siapa kami?

 

IBM Dharma Palguna

 

 
 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com