kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Paing, 22 Oktober 2006 tarukan valas
 

OPINI


Sumpah Palupi

SEJARAH Bali penuh dengan tragedi juga ironi. Masyarakat di pulau kecil mungil ini, bukan saja dirajam konflik ke dalam yang tiada putus, saat menghadapi serangan dari luar pun Bali dikalahkan dengan cara-cara yang terkadang tragis sekaligus juga ironis. Malah sejarah mencatat, Bali kerap dijerat dengan berlipat muslihat musuh yang datang dari luar.

("Berlipat Muslihat Menjerat Bali", Sujaya)

---------

 "Sebenarnya, muslihat bukan hanya menerpa Bali, bahkan Indonesia. Coba simak sejarah masuknya kolonialis Belanda ke Nusantara. Itu diawali kedatangan Cornelis de Houtman di Jayakarta tahun 1595. Dengan sikap seakan-akan bersahabat dengan Raja Mataram, Amangkurat I, utusan Belanda itu mendapat izin mendirikan loji di pantai Sunda Kelapa, yang kemudian menjadi kantor Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) tahun 1602. Sejak itulah sejarah penjajahan dimulai di negeri ini selama tiga setengah abad," tutur Rubag.

"Padahal pendiri Majapahit, Raden Wijaya, tiga abad sebelumnya berhasil mengusir invasi pasukan Kubilai Khan yang terkenal barbar, juga dengan muslihat kan? Raden Wijaya dengan pengikutnya membabat habis serdadu Mongol saat mereka merayakan kemenangannya dengan pesta pora. Pada tahun 1294-1478 Dinasti Majapahit berkuasa di Nusantara yang wilayahnya konon lebih luas dari Republik Indonesia sekarang," komentar Gading.

"Wah, bukankah itu berarti Raden Wijaya jauh lebih hebat dan lebih berotak dibanding Amangkurat I? Untuk menyatukan Nusantara, konon Majapahit menggunakan taktik dan strategi bujukan dan perang, termasuk muslihat seperti yang dilakukan terhadap Bali. Bahkan kalau tidak berhasil mempersatukan Nusantara, katanya, Patih Gajah Mada bersumpah tidak akan makan rempah-rempah selama hidupnya. Itu kemudian disebut Sumpah Palapa! Tidakkah ini berarti para pemimpin Majapahit, di samping lebih berotak dan hebat, juga lebih berprinsip, berintergritas dan nasionalis dibanding generasi sekarang?" tanya Lonjong.

"Sulit berkomentar. Dulu ada Sumpah Palapa dengan semboyan 'persatukan Nusantara'. Sekarang yang ada Sumpah Palupi, dengan semboyan 'apa yang kau cari?'. Makanya, sekarang banyak orang bingung. Malah sesanti 'Bhineka Tunggal Ika' yang sering dilontarkan para pemimpin saat berpidato, justru dimaknai 'Binasakan Tinggal Aku'," kilah Wijaya.

"Agaknya, kebanyakan dari kita enggan menggunakan waktu luang untuk merenung sejenak, berkontemplasi atau berefleksi. Padahal, dari sejarah masa lampau maupun sekarang yang kita ikut merasakannya, banyak peristiwa yang bisa dipakai referensi. Namun semua itu seperti berlalu tanpa makna, mungkin akibat dari 'Sumpah Palupi' itu.  Di tengah minimnya pemimpin yang bisa disuriteladani, justru suasana rebutan pangkat dan rezeki dipentaskan secara telanjang. Ini menyebabkan masa transisi dari otoriter menuju demokrasi seperti jalan tanpa ujung. Akhirnya, kita terperosok berkali-kali di lubang yang sama, padahal keledai saja konon menghindari kejadian seperti itu," papar Gustra.

"Benar! Masa represif selama 32 tahun tiba-tiba diganti liberalisme. Sebagai konsekuensinya, partai politik lahir bagai laron di musim hujan yang rebutan mengitari neon. Namun sayang, sebagian besar seperti tidak berideologi dan tidak memiliki garis-garis besar haluan partai. Pendidikan politik bagi para kadernya, cukup nguping pada acara dialog politik di belasan saluran TV. Tujuan pendirian parpol seakan-akan cuma menunggu pemilu atau pilkada yang diberi label pesta demokrasi. Layaknya pesta, baju kaos, uang, nasi bungkus dan hiburan dari para selebritis merupakan menu utama para konstituen yang buta politik," kata Kasna.

"Khusus dalam Pilkada, ada elit parpol gurem yang memfungsikan parpolnya seperti mobil sewaan yang boleh disopiri siapa saja asal siap bayar sewa. Karena konstituennya tak seberapa, maka dilakukan aliansi strategis dengan beberapa parpol serupa, meski aliran politiknya tak sama. Sebab, untuk tampil sendiri-sendiri sebagai kandidat, mereka mahfum dirinya tak layak jual. Karena tahu sistem recall tidak berfungsi untuk kepala daerah, maka ongkos kendaraan politik dipatok setinggi mungkin. Nah, dalam kondisi perpolitikan seperti ini, lubang muslihat sesederhana apa pun mampu memerosokkan bangsa ini berkali-kali di jebakan yang sama. Sebab, untuk segala macam jabatan dibutuhkan uang, sedangkan kedudukan dianggap sebagai mesin pencetak uang untuk mencapai break even point sekaligus profit. Sumpah jabatan dianggap idem dito Sumpah Palupi tadi, hahaha...," tambah Suwana terkekeh.

"Itulah risiko ketika uang dijadikan ideologi! Tanah warisan leluhur dijual habis untuk dapatkan uang, lalu dipakai membeli kedudukan, juga untuk mendapatkan uang. Para leluhur pemilik asli tanah-tanah itu mungkin  kini menangis sedih di alam sana. Bila warisan yang ditinggalkan habis, mereka khawatir para keturunan generasi berikutnya akan jadi gelandangan dan pengemis di tanah leluhur mereka," imbuh Sumadi.

"Persis! Coba tengok, masih tersisa berapa persenkah tanah Bali yang jadi milik para pendukung budaya yang konon bernafaskan Hindu ini? Belakangan ini hampir setiap hari Bali Post mewartakan dan memperlihatkan foto hektaran tanah yang dikuasai para investor asing maupun domestik. Bukit, lereng gunung, sawah, ladang, pantai, sempadan sungai dan kota yang dulunya milik pribadi warisan leluhur bahkan ada laba pura, kini berubah status kepemilikan. Di sebagian besar tanah itu tidak terlihat lagi pelinggih penunggun karang. Itu artinya apa?" tanya  Kisid.

"Itu artinya, tak ada lagi orang ambil pusing memikirkan hakikat Perang Jagaraga, Puputan Badung, Puputan Klungkung dan Puputan Margarana. Ribuan orang gugur mempertahankan tanah warisan leluhur mereka dengan bersenjatakan tombak dan keris. Kalau saja I Gusti Ngurah Rai mau berkompromi dengan Belanda, di samping jabatan dan mungkin juga hadiah, barangkali beliau tidak akan gugur dalam usia 29 tahun.  Tawaran kompromi ditolak, karena soal kompromi baginya urusan pemerintah pusat di Jakarta, malah menantang bila Belanda masih bercokol di Bali, Ngurah Rai dengan pasukannya Ciung Wanara siap menjadikan Bali sebagai belanga pertumpahan darah," urai Kudil.

"Penjajah dulu datang membawa bedil dan meriam, penjajah sekarang datang membawa uang dan surat sakti. Dulu dilawan dengan keris, tombak dan senapan rampasan. Sekarang bukannya dilawan, malah disambut mesra dengan kebijakan-kebijakan publik yang dikeluarkan nyaris tanpa sepengatahuan publik. Mereka tidak disebut penjajah, tapi investor yang dicitrakan sebagai pembawa kemakmuran. Inilah ekses dari Sumpah Palupi, membuat kita tidak tahu apa yang kita cari. Coba renungkan, masihkah kita bisa bicara soal Ajeg Bali bila suatu saat hanya tinggal 10 persen tanah Bali ini milik pemeluk keyakinan Panca Sarada?" ujar Rubag seperti mengigau.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com