* Catatan Budaya Minggu Ini
Pendidikan Korupsi untuk Anak-anak
SIAPA bilang menjadi orangtua itu mudah?
Saya teringat pada nasehat mendiang Soemitro Joyohadikusumo
(begawan ekonomi di era Soeharto, ayah Prabowo Subianto yang
kini sedang berseteru dengan BJ Habibie). Ketika itu kami
sedang ngobrol di sela-sela sebuah acara seminar di Hotel Bali
Beach Sanur. ''Jangan pernah memilihkan teman untuk
anak-anakmu. Kamulah yang harus memilih teman. Kalau
teman-temanmu datang ke rumah untuk mendiskusikan perjudian
dan mabok, maka anak-anakmu pun akan mencari teman serupa.
Tapi kalau teman-teman yang berkunjung ke rumahmu suka
mendiskusikan ilmu pengetahuan, maka anakmu pun akan mencari
teman yang gemar berdiskusi tentang pelajaran sekolahnya.''
Itu nasehat pertama. Yang kedua, ''Carilah rumah yang
sederhana tetapi cukup jembar untuk pertumbuhan fisik dan
psikis anak-anakmu. Jangan sesekali mencari lingkungan yang
tidak berpendidikan. Tetapi jangan juga mencari tempat tinggal
di daerah elit, sebab anak-anakmu akan cenderung hanya fasih
bicara tentang mobil, uang, dan kemewahan.'' Nasehat ketiga,
''Ajarkan matematika dan Bahasa Inggris untuk anak-anakmu,
maka dunia akan terbuka untuknya.''
Saya tidak bisa membantah nasehat itu. Sampai
kapan pun saya tidak akan pernah habis berterima kasih kepada
sang begawan. Nasehat itu pulalah yang membuat saya banyak
merenung tentang pola pendidikan dalam rumah tangga.
Entah sadar, entah tidak, acap kali kita
membuat kuburan bagi kepribadian anak-anak melalui pola
pendidikan yang tak terarah. Sebutlah, misalnya, kebiasaan
kita berdusta. Ketika seorang ayah dan ibu hendak bepergian
berdua, lalu seorang anak bersikukuh hendak ikut, acap kali si
orangtua akan mencari kebohongan agar si anak mengurungkan
niatnya. ''Nggak usah ikut, ya. Mama mau ke dokter.''
Begitulah biasanya kita berkata. Padahal si mama dan papa
bermaksud hang out makan malam berdua saja. Kebohongan seperti
ini biasanya tak terjadi sekali-dua kali. Anak-anak yang
tumbuh di bawah kebohongan-kebohongan kecil seperti itu akan
terbiasa melakukan kebohongan. Kelak, ketika ia punya
''nasib'' memimpin negeri, maka ia pun akan terbiasa melakukan
kebohongan-kebohongan publik tanpa ada rasa bersalah.
Orangtua dalam masyarakat kita juga memiliki
kebiasaan aneh menyuap anak-anaknya. Ketika hendak berangkat
ke pasar swalayan, misalnya. Agar anaknya tak terus merengek
minta turut serta, si orangtua akan bilang, ''Udah, deh, di
rumah aja, ya. Ntar ibu beliin...'' Atau ketika sang
anak menangis, si ibu akan berkata, 'Husy, husy, diam, ya.
Ntar ibu kasi...''
Itu hanya sebagian kecil dari kebiasaan kita
''melatih'' anak-anak menerima sogokan atau suap untuk
melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sialnya lagi, tak
jarang orangtua dengan bangga mengajak anaknya pergi ke
seorang guru sekolah, menyerahkan ''persembahan khusus''
kepada guru itu agar si anak diterima di sekolah yang
diinginkan.
Entah dengan cara apa kita menanggapi
kebiasaan-kebiasaan turun-temurun yang pantas kita sebut
sebagai budaya mendidik anak-anak dalam keluarga ini. Entah
kenapa masyarakat kita sangat sulit bersikap ''tega'' ketika
anak-anaknya merengek dengan, misalnya, membiarkan saja anak
yang menangis akibat pernyataan jujur kedua orangtuanya.
Kenapa kita tidak berterus terang saja bilang, ''Ibu dan Bapak
hendak makan malam. Kalian tidak boleh ikut,'' lalu membiarkan
si anak merenungkan sendiri baik-buruk kelakuannya.
Mendidik anak memang bukan perkara mudah. Di
dalam keluarga, terlalu banyak perasaan yang memegang kendali.
Rasa sayang, rasa mencintai, rasa tak tega, dan rasa kasihan
yang berlebihan acap menjerumuskan anak-anak kita ke dalam
kepribadian kacau. Pendidikan yang mengarahkan anak ke prilaku
permisif terhadap suap, dusta, dan korupsi, dipupuk oleh
lingkungan yang terlanjur sangat menghargai uang tanpa peduli
pada proses kedatangan uang itu, disiram pula oleh penegakan
hukum yang amburadul, tanpa kita sadari telah menjadi
pendidikan sangat efektif untuk mencetak kader-kader koruptor.
Marilah kita mulai tidak menghargai para
koruptor (atau yang terindikasi sebagai koruptor) kendatipun
pengadilan bersikap ''tidak adil''. Nurani kita punya bahasa
sendiri. Nurani kita jarang berdusta. Nurani kita punya
''bahasa hukum'' sendiri yang acap tidak terakomodasi di ruang
sidang pengadilan. Mari pulalah kita mulai mendidik anak-anak
dengan percontohan-percontohan sederhana tentang kejujuran dan
tanggung jawab. Jangan pernah berdusta pada anak-anak. Jangan
pernah memberi suap dan mengajarkan suap pada anak-anak.
Sangat penting: biarlah penghasilan yang ''tidak jelas''
dihabiskan oleh para orangtua, janganlah ia menjadi daging dan
darah untuk anak-anak kita. Biarlah anak-anak kita hanya makan
dari penghasilan halal, penghasilan yang jelas perolehannya.
Mendidik anak-anak di dalam keluarga adalah
langkah yang sangat penting untuk membangun kebudayaan yang
lebih baik di masa depan.
* Ketut Syahruwardi Abbas