Mohon Kemakmuran di Pura Pulaki
Yadnyadanatapah
karmana
Tyajyam karyam eva tat.
Yadnyodanam tapas vaiva
Pavanani maniinam.
Maksudnya:
Hendaknya melakukan dana, yadnya dan tapa tidak pernah
dihentikan. Sebab, dana, yadnya dan tapa itulah yang
akan menyucikan orang-orang yang bijaksana.
DANA
artinya memberikan baik berupa materi maupun nonmateri.
Dengan dana itulah manusia hendaknya hidup saling
beryadnya. Maksudnya, dana itulah yang dikembangkan agar
bisa hidup saling memelihara berdasarkan yadnya dalam
kehidupan bersama. Cuma dalam kehidupan bersama untuk
saling berdana dan beryadnya itulah banyak godaan. Dalam
proses dana dan yadnya itulah kita bertapa.
Tapa artinya kuat menghadapi godaan. Dinamika dana dan
yadnya itu sangat tajam dalam kehidupan bisnis di pasar.
Pedagang berinvestasi (dana) dalam wujud barang dan jasa
agar dapat memberikan pelayanan pada pembeli. Atas
pelayanan dagang itu pembeli mendapatkan kemudahan
memperoleh barang maupun jasa di pasar. Oleh karena itu,
pembeli wajib memberikan nilai tambah pada barang dan
jasa yang ia dapatkan. Demikianlah pedagang dan pembeli
saling beryadnya di pasar. Kalau tanpa tapa pedagang
bisa mengambil keuntungan yang tidak layak. Karena itu
semua pihak jangan tidak jujur dalam proses jual-beli di
pasar. Agar pedagang dan pembeli bertapa menahan diri
dan berbuat jujur maka di setiap pasar di kalangan umat
Hindu di Bali ada Pura Melanting. Di Pura Melanting
itulah Tuhan dipuja untuk membangun sikap religius
sebagai landasan moral dan mental dalam melakukan
transaksi yang adil dan jujur. Di pasar inilah dinamika
dana, yadnya dan tapa dilakukan dengan terus-menerus.
Dengan demikian semua yang ikut terlibat dengan
kehidupan pasar akan terbebaskan dari berbagai dosa.
Tidak menipu masyarakat seperti meracuni bahan makanan
yang dijual dengan zat kimia berbahaya.
Pusat Pura Melanting di Bali adalah di Pura Pulaki.
Lebih tepat disebut di kompleks Pura Pulaki. Karena Pura
Pulaki sebagai pusatnya dengan enam Pura Pesanakannya
yaitu Pura Melanting, Pura Pegaluhan, Pura Pabean, Pura
Kerta Kawat, Pura Taman dan Pura Pemuteran. Semua pura
tersebut berhubungan dengan Pura Pulaki dan berada di
sekitar pura tersebut.
Keberadaan Pura Pulaki diceritakan dalam beberapa lontar.
Seperti Lontar Babad Bali Radjiya, Babad Bhatara Sakti
Bahu Rawuh dan Sejarah Pura Gede Pulaki. Semua sumber
tertulis itu menceritakan keberadaan Pura Pulaki
tersebut berhubungan dengan kedatangan Mpu Dang Hyang
Nirartha dari Majapahit ke Bali. Dalam Babad Bhatara
Sakti Bahu Rawuh diceritakan Dang Hyang Nirartha datang
dari Jawa Timur ke Bali. Sesampai di Bali beliau
menjumpai seekor naga besar yang mulutnya menganga lebar.
Beliau masuk ke dalam mulut naga tersebut. Di dalam
tubuh naga itu Mpu Dang Hyang Nirartha menemui sebuah
taman indah dengan bunga tunjung berwarna putih, hitam
dan merah. Bunga padma hitam dan merah disumpangkan di
kedua telinganya. Sedangkan yang putih dipegang dengan
kedua tangannya di depan dada. Setelah itu Mpu Danghyang
Nirartha keluar dari mulut naga raja itu. Setelah di
luar semua putra-putri beliau tidak mengenalinya.
Kemudian istri dan anak-anak beliau lari terpencar.
Istri Danghyang Nirartha berusaha mengumpulkan
putra-putranya itu. Tetapi hanya satu yang tidak bisa
ditemukan bernama Ida Ayu Swabhawa. Tetapi menjadi Dewa
Pasar yang disebut Dewa Melanting dan bebas dari tua dan
pati.
Dalam
sejarah Pura Gede Pulaki dinyatakan bahwa Danghyang
Nirartha ke Bali untuk melantik Dalem Watu Renggong yang
memerintah di Bali tahun 1460-1550 M. Perjalanan beliau
ke Klungkung dilakukan dari Desa Gading Wani.
Anak-anaknya ditinggalkan di Desa Gading Wani. Beliau
berjanji tidak beberapa lama akan kembali setelah
selesai acara di Klungkung. Tetapi nyatanya Danghyang
Nirartha dalam waktu yang cukup lama tidak datang. Putri
beliau Ida Ayu Swabhawa akhirnya sangat gusar. Desa-desa
di sekitarnya dengan 8.000 penduduk dikutuk menjadi wong
samar termasuk dirinya. Ida Ayu Swabhawa dengan
pengiringnya tinggal di bawah pohon-pohon besar.
Pohon-pohon itu memiliki sulur-sulur tempat bergelayut (ngelanting
dalam bahasa Bali). Di areal pohon itulah Ida Ayu
Swabhawa dibuatkan pelinggih disebut Pura Melanting.
Beliau dengan wong samar itulah yang menjadi penguasa
pasar. Barang siapa berdagang maupun berbelanja tidak
sesuai dengan etika moral dharma akan diganggu hidupnya
oleh Dewa Melanting dengan anak buahnya. Kalau di pasar
mengikuti dharma maka Dewa Melanting itulah yang akan
melidunginya. Di samping distanakan di Pura Melanting
ada juga stana beliau yang disebut Pura Tedung Jagat.
Pura inilah yang kemudian disebut Pura Pulaki dan juga
distanakan roh suci Dang Hyang Nirartha. Karena itu,
Pura Melanting dan Pura Pulaki sebagai predana-purusa
sebagai tempat pemujaan untuk memohon kemakmuran ekonomi.
Pura Pulaki disungsung oleh 14 subak di sekitar Pulaki.
Di Pura Pabean tempat pemujaan para nelayan dan para
pedagang antarpulau. Mungkin identik dengan Pura Ratu
Subandar di Pura Batur dan Besakih. Pura Kertha Kawat
juga tergolong kompleks Pura Pulaki sebagai stana Tuhan
untuk memohon tegaknya moral etika dan hukum dalam
berbisnis. Di pura ini disebut stana Batara Kertaning
Jagat. Pura Gunung Gondol terletak 3 km dari pusat Pura
Pulaki sebagai stana untuk memuja Dewa Mentang Yudha
yaitu Tuhan dalam fungsinya sebagai pelindung dari
segala bahaya seperti Dewa Ganesa. Upacara piodalan di
Pura Pulaki setiap dua tahun sekali pada Purnamaning
Kalima.
*
I Ketut Gobyah