Pengalaman
tak
Menyenangkan Beli HP
Melalui
media ini
saya
ingin sedikit
berbagi
pengalaman pahit
dengan
rekan pembaca
sekalian, agar
jangan
ada yang ikut
terjebak.
Saya
membeli HP
baru di
sebuah outlet HP
di
Jalan Jenderal
Sudirman
Amlapura
pada 20
Juli 2005, nitip
lewat
seseorang teman yang
kebetulan
sudah
cukup berpengalaman
dengan HP.
HP itu
memang modis
dan
unik, terlebih
lagi
bergaransi dua
tahun.
Rasanya
tidak
rugi mengeruk
kocek
Rp 1.400.000 untuk
membeli HP
tersebut.
Pada
25 Juli 2005
saya
mulai menggunakan HP
itu,
awalnya memang
baik-baik
saja,
tidak ada
masalah,
dan
terus terang
saya
jarang menggunakan HP
itu
karena di
tempat
kos saya
tidak
ada sinyal.
Saya
hanya
menggunakan HP tersebut
selama
berada di
kampus.
Minggu
pertama
bulan Agustus 2005,
mulai
ada masalah,
setiap
saya melakukan
panggilan
di
tengah pembicaraan
selalu
mati bukan
putus,
tetapi mati.
Demikian
halnya
ketika saya
menerima
panggilan yang
seharusnya
pulsa
saya tidak
termakan,
di
tengah pembicaraan
pesawatnya
mati
bukan putus,
sehingga
saya
harus bel
balik
dan pulsa
saya
termakan.
Semula
saya
berpikir mungkin
baterainya
belum full,
saya
cek di signal
baterai
ternyata full.
Kedua,
dalam
pemakaian yang amat
terbatas
ternyata
konsumsi
baterainya
boros.
Saya
berniat
menjual kembali HP
tersebut
di outlet
tempat
membeli, karena
baru.
Lalu
pada 9
Agustus 2005 saya
sampaikan
permasalahan
ini
kepada SPG outlet, dia
bilang
tidak tahu.
Pada
10 Agustus 2005
saya
berikan HP tersebut
kepada
teman yang membelikan
untuk
dijualkan kembali
di outlet
tersebut.
Saya
disuruh datang
tanggal 11
Agustus 2005
ke outlet
itu,
tetapi karena
ada
sesuatu dan lain
hal,
saya mempercayakan
kepada yang
membelikan
untuk
mengambil uangnya,
karena
pada tanggal 10
Agustus 2005
sudah
ada kesepakatan
akan
dipotong 35% dari
harga
beli. Berarti
akan
dipotong
maksimal
Rp 400.000 (kebetulan
juga
sudah saya SMS
pemilik outlet
tersebut).
Pada
11 Agustus 2005,
orang yang
saya
percayai datang
ke outlet,
katanya
hampir tiga kali,
tetapi
di outlet selalu
mendapat
jawaban ''menunggu
ibu''
dan akhirnya
lebih
kurang pukul 18.00
petang, ''Ibu''
pemilik outlet
katanya
datang dan
memberikan
sinyal acc.
Lalu (menurut
pengakuannya)
beliau
menghubungi distributornya
di Jl.
Pulau Komodo.
Setelah
berbicara
cukup lama (teman
saya
tidak mendengar
pembicaraannya)
lalu
dia disuruh
berbicara
langsung.
Dari
pengakuannya HP yang saya
beli Rp
1.400.000 dibayar
hanya
Rp 600.000.
Padahal
pada
pembicaraan awal
pemotongannya 35%
atau
sekitar Rp 400.000 (itu
tidak
masalah), tetapi
kalau
dibayar hanya
Rp 600.000
saya
merasa keberatan.
Saya
ingin
mendapat kejelasan,
apakah outlet yang
menjual
kepada saya
terlalu
mahal (Rp 1.400.000)
sehingga
nilai
jual kembalinya
rugi 70%,
ataukah
orang yang dari
distributornya
mau
merusak citra
bisnis HP
di Bali?
Saya
mohon
kepada YLKI untuk
ikut
turun mengamati
bisnis
telekomunikasi seluler
di Bali
karena bisnis
ini
mulai kurang
sehat.
Ada
beberapa outlet
terutama
di Kota
Amlapura hanya
mau
menjual HP tetapi
tidak
mau membeli HP
konsumennya
pada
saat membutuhkan
uang.
Ir. Komang
Ceni,
M.Si.
Jalan
Ngurah
Rai 41X Singaraja (Kos)
Ds. Juwuk
Legi,
Duda Timur,
Kec.
Selat,
Karangasem