kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 13 Agustus 2005

 Surat Pembaca


Pengalaman
tak Menyenangkan Beli HP 

Melalui media ini saya ingin sedikit berbagi pengalaman pahit dengan rekan pembaca sekalian, agar jangan ada yang ikut terjebak.

Saya membeli HP baru di sebuah outlet HP di Jalan Jenderal Sudirman Amlapura pada 20 Juli 2005, nitip lewat seseorang teman yang kebetulan sudah cukup berpengalaman dengan HP.

HP itu memang modis dan unik, terlebih lagi bergaransi dua tahun. Rasanya tidak rugi mengeruk kocek Rp 1.400.000 untuk membeli HP tersebut.

Pada 25 Juli 2005 saya mulai menggunakan HP itu, awalnya memang baik-baik saja, tidak ada masalah, dan terus terang saya jarang menggunakan HP itu karena di tempat kos saya tidak ada sinyal. Saya hanya menggunakan HP tersebut selama berada di kampus.

Minggu pertama bulan Agustus 2005, mulai ada masalah, setiap saya melakukan panggilan di tengah pembicaraan selalu mati bukan putus, tetapi mati. Demikian halnya ketika saya menerima panggilan yang seharusnya pulsa saya tidak termakan, di tengah pembicaraan pesawatnya mati bukan putus, sehingga saya harus bel balik dan pulsa saya termakan. Semula saya berpikir mungkin baterainya belum full, saya cek di signal baterai ternyata full. Kedua, dalam pemakaian yang amat terbatas ternyata konsumsi baterainya boros.

Saya berniat menjual kembali HP tersebut di outlet tempat membeli, karena baru. Lalu pada 9 Agustus 2005 saya sampaikan permasalahan ini kepada SPG outlet, dia bilang tidak tahu. Pada 10 Agustus 2005 saya berikan HP tersebut kepada teman yang membelikan untuk dijualkan kembali di outlet tersebut. Saya disuruh datang tanggal 11 Agustus 2005 ke outlet itu, tetapi karena ada sesuatu dan lain hal, saya mempercayakan kepada yang membelikan untuk mengambil uangnya, karena pada tanggal 10 Agustus 2005 sudah ada kesepakatan akan dipotong 35% dari harga beli. Berarti akan dipotong maksimal Rp 400.000 (kebetulan juga sudah saya SMS pemilik outlet tersebut).

Pada 11 Agustus 2005, orang yang saya percayai datang ke outlet, katanya hampir tiga kali, tetapi di outlet selalu mendapat jawaban ''menunggu ibu'' dan akhirnya lebih kurang pukul 18.00 petang, ''Ibu'' pemilik  outlet katanya datang dan memberikan sinyal acc. Lalu (menurut pengakuannya) beliau menghubungi distributornya  di Jl. Pulau Komodo. Setelah berbicara cukup lama (teman saya tidak mendengar pembicaraannya) lalu dia disuruh berbicara langsung. Dari pengakuannya HP yang saya beli Rp 1.400.000 dibayar hanya Rp 600.000. Padahal pada pembicaraan awal pemotongannya 35% atau sekitar Rp 400.000 (itu tidak masalah), tetapi kalau dibayar hanya Rp 600.000 saya merasa keberatan.

Saya ingin mendapat kejelasan, apakah outlet yang menjual kepada saya terlalu mahal (Rp 1.400.000) sehingga nilai jual kembalinya rugi 70%, ataukah orang yang dari distributornya mau merusak citra bisnis HP di Bali?

Saya mohon kepada YLKI untuk ikut turun mengamati bisnis telekomunikasi seluler di Bali karena bisnis ini mulai kurang sehat. Ada beberapa outlet terutama di Kota Amlapura hanya mau menjual HP tetapi tidak mau membeli HP konsumennya pada saat membutuhkan uang.

Ir. Komang Ceni, M.Si.
Jalan
Ngurah Rai 41X Singaraja (Kos
)
Ds. Juwuk Legi, Duda Timur, Kec. Selat,
Karangasem

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)