kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 13 Agustus 2005

 Pariwisata


Catatan
Pariwisata Sepekan-------
Dipadukan
, Promosi Dagang dan Pariwisata

PEMERINTAH kini menyadari kesalahan dalam berpromosi ke luar negeri. Tidak terintegrasinya prmosi itu, biaya yang dikeluarkan cukup besar. Padahakl promosi pariwisata, dagang maupun promosi investasi tunjuannya sama ''Bagaiama mengajak pihak luar datang ke Indonesia untuk berinvestasi, belanja maupun berwisata.''

Masalah integrasi itu kemarin dibicarakan kalangan dunia usaha yang tergabung dalam Kadin juga diikutsertakan dalam Indonesia Solo Exhibition 2005 (ISEI) Beijing, Tiongkok. Sektor UKM pun diberi insentif untuk berperan serta.

Hasil nota kesepatakan bersama antara Departemen Perdagangan (Deperdag) dengan Kadin disampaikan Jakarta.

Upaya integrasi dilakukan seperti diuratakan Menteri Perdagangan Mari Pangestu, agar fokus kegiatan dilakukan terpadu, terukur dan fokus yang melibatkan semua stakeholders. Sesuai komitmen yang disepakati Sidang Kabinet, bagaimana melibatkan seluruh komponen Indonesia Incooperated. Salah satu momentum yang akan dimanfaatkan adalah ISEI Beijing, pada 3 September 2005, Beijing, Cina.

Rencananya, Wapres Jusuf Kalla akan membuka ajang promosi tersebut. Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Deperdag bertindak sebagai koordinator utama kegiatan, dengan instansi pemerintah seperti BKPM dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Keikutsertaan Indonesia dalam ISEI Beijing 2005 dilatarbelakangi komitmen bilateral Indonesia-Tiongkok sebagaimana Deklarasi Kemitraan Strategis oleh  Kepala Pemerintah kedua negara pada 25 April 2005 lalu.

Dalam lawatan Presiden pada Juli lalu menyepakati dua perjanjian bidang perekonomian guna mendorong perdagangan, investasi dan pariwisata. Dalam hal investasi, melalui BKPM pemerintah berupaya memperkenalkan potensi investasi sesuai karakteristik masing-masing daerah. Indonesia menawarkan investasi kepada Cina disektor energi, pertambangan, telekomunikasi, manufaktur serta infrastruktur. Cina sangat membutuhkan energi terutama gas guna memenuhi kebutuhan domestiknya.

Sedangkan sisi perdagangan, pemerintah akan memfasilitasi percepatan akses penetrasi ekspor ke Cina. Produk yang ditawarkan adalah sektor pertanian dan perkebunan. Tiongkok menempati posisi keempat sebagai negara tujuan ekspor Indonesia. Total perdagangan Indonesia-Tiongkok pada 2004 mencapai 8,7 milyar dolar AS.Sementara, periode Januari-Maret 2005, ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai 1,2 milyar dolar AS, naik 35,1 persen dari 946 juta dolar AS dari periode yang sama tahun lalu.Mari menjelaskan, pada ajang tersebut tidak melulu bermuara pada transaksi bisnis. Seiring hal tersebut, penyelenggaraan akan menyajikan nuansa Indonesia yang khas.

Keberagaman budaya Indonesia diperkenalkan. Disinilah promosi pariwisata dikedepankan. Pemerintah berupaya agar fasilitas visa on arrival wisatawan dari Tiongkok diberlakukan. Dengan begitu, semakin banyak menarik wisatawan dari negara Tiongkok ke Indonesia. Kedua pemerintah pun menyepakati peningkatan frekuensi penerbangan, pelatihan bahasa mandarin bagi pemandu wisata Indonesia.

 

Insentif UKM

Staf Khusus Menperdag Rhenald Kasali menerangkan, dalam ajang tersebut, pemerintah juga berupaya memberikan isentif kepada sektor UKM berperan serta mempromosikan hasil produk dan jasanya. Stage dengan ukuran 3 X 3 M, dikenakan harga khusus Rp 5 juta. Hal yang sama tidak mungkin didapatkan di ajang pemasaran berkelas internasional. Sudah ada 10 Pemda yang sanggup membiayai seluruh kegiatan promosi usaha para UKM. Sayangnya ketika dikonfirmasikan, Pemda Bali belum menyatakan diri ikut bergabung. Pemerintah mensyaratkan hanya para pelaku UKM yang memiliki kompetensi dan standar mutu produk yang tinggi, dapat diikutsertakan. Partisipasi pengusaha UKM diputuskan rekomendasi dan koordinasi bersama yang dilakukan BPEN, Kadin dan Pemda.

(ind)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)