Catatan
Pariwisata
Sepekan-------
Dipadukan,
Promosi
Dagang dan
Pariwisata
PEMERINTAH kini
menyadari kesalahan
dalam
berpromosi ke
luar
negeri.
Tidak
terintegrasinya
prmosi
itu, biaya yang
dikeluarkan
cukup
besar. Padahakl
promosi
pariwisata, dagang
maupun
promosi investasi
tunjuannya
sama
''Bagaiama
mengajak
pihak
luar datang
ke Indonesia
untuk
berinvestasi, belanja
maupun
berwisata.''
Masalah
integrasi
itu
kemarin dibicarakan
kalangan
dunia
usaha yang tergabung
dalam
Kadin juga
diikutsertakan
dalam Indonesia Solo
Exhibition 2005 (ISEI) Beijing,
Tiongkok.
Sektor
UKM pun diberi
insentif
untuk
berperan serta.
Hasil
nota
kesepatakan bersama
antara
Departemen Perdagangan
(Deperdag)
dengan
Kadin disampaikan
Jakarta.
Upaya
integrasi
dilakukan
seperti
diuratakan Menteri
Perdagangan Mari
Pangestu, agar
fokus
kegiatan dilakukan
terpadu,
terukur
dan fokus yang
melibatkan
semua stakeholders.
Sesuai
komitmen yang
disepakati
Sidang
Kabinet, bagaimana
melibatkan
seluruh
komponen Indonesia
Incooperated. Salah
satu momentum yang
akan
dimanfaatkan
adalah ISEI Beijing,
pada 3 September 2005,
Beijing, Cina.
Rencananya,
Wapres
Jusuf Kalla
akan
membuka
ajang promosi
tersebut.
Badan
Pengembangan
Ekspor
Nasional (BPEN) Deperdag
bertindak
sebagai
koordinator utama
kegiatan,
dengan
instansi pemerintah
seperti BKPM
dan
Departemen Kebudayaan
dan
Pariwisata.
Keikutsertaan Indonesia
dalam ISEI Beijing 2005
dilatarbelakangi komitmen
bilateral Indonesia-Tiongkok
sebagaimana
Deklarasi
Kemitraan
Strategis
oleh
Kepala
Pemerintah
kedua
negara pada 25 April
2005 lalu.
Dalam
lawatan
Presiden pada
Juli
lalu menyepakati
dua
perjanjian bidang
perekonomian
guna
mendorong perdagangan,
investasi
dan
pariwisata.
Dalam
hal
investasi, melalui
BKPM pemerintah
berupaya
memperkenalkan
potensi
investasi sesuai
karakteristik
masing-masing
daerah.
Indonesia menawarkan
investasi
kepada
Cina disektor
energi,
pertambangan, telekomunikasi,
manufaktur
serta
infrastruktur.
Cina
sangat
membutuhkan energi
terutama gas
guna
memenuhi kebutuhan
domestiknya.
Sedangkan
sisi
perdagangan, pemerintah
akan
memfasilitasi
percepatan
akses
penetrasi ekspor
ke Cina.
Produk
yang ditawarkan
adalah
sektor pertanian
dan
perkebunan.
Tiongkok
menempati
posisi
keempat sebagai
negara
tujuan ekspor
Indonesia.
Total perdagangan Indonesia-Tiongkok
pada 2004
mencapai 8,7
milyar
dolar AS.Sementara,
periode
Januari-Maret 2005, ekspor
Indonesia ke
Tiongkok
mencapai 1,2
milyar
dolar AS, naik 35,1
persen
dari 946 juta
dolar AS
dari
periode yang sama
tahun
lalu.Mari menjelaskan,
pada
ajang tersebut
tidak
melulu bermuara
pada
transaksi bisnis.
Seiring
hal tersebut,
penyelenggaraan
akan
menyajikan
nuansa Indonesia yang
khas.
Keberagaman
budaya Indonesia
diperkenalkan.
Disinilah
promosi
pariwisata dikedepankan.
Pemerintah
berupaya agar
fasilitas visa on arrival
wisatawan
dari
Tiongkok diberlakukan.
Dengan
begitu,
semakin banyak
menarik
wisatawan dari
negara
Tiongkok ke
Indonesia.
Kedua
pemerintah pun
menyepakati
peningkatan
frekuensi
penerbangan,
pelatihan
bahasa mandarin
bagi
pemandu wisata
Indonesia.
Insentif
UKM
Staf
Khusus
Menperdag Rhenald
Kasali
menerangkan, dalam
ajang
tersebut, pemerintah
juga
berupaya memberikan
isentif
kepada sektor UKM
berperan
serta
mempromosikan hasil
produk
dan jasanya.
Stage dengan
ukuran 3 X 3 M,
dikenakan
harga
khusus Rp 5
juta. Hal yang
sama
tidak
mungkin didapatkan
di
ajang pemasaran
berkelas
internasional.
Sudah
ada 10
Pemda yang sanggup
membiayai
seluruh
kegiatan promosi
usaha
para UKM.
Sayangnya
ketika
dikonfirmasikan, Pemda
Bali belum
menyatakan
diri
ikut bergabung.
Pemerintah
mensyaratkan
hanya
para pelaku UKM yang
memiliki
kompetensi
dan
standar mutu
produk yang
tinggi,
dapat diikutsertakan.
Partisipasi
pengusaha UKM
diputuskan
rekomendasi
dan
koordinasi bersama
yang dilakukan BPEN,
Kadin
dan Pemda.
(ind)