Kasus
Pemalsuan
Gelar--
Polisi
Tahan
Delapan Tersangka
Jakarta (Bali Post) -
Penyidikan
kasus
pemberian gelar
kesarjanaan
palsu
terus berlanjut.
Setelah
Kamis (11/8)
lalu
menahan Mardiana,
Direktur
Utama
Yayasan Institut
Manajemen Global Indonesia (IMGI),
Jumat (12/8)
kemarin
polisi kembali
menahan
tujuh tersangka
lainnya.
Dua
di
antara tersangka yang
ditahan
merupakan warga
negara
asing (WNA). ''LC (tersangka
warga
negara Australia yang
mengaku sebagai
Presiden Northern California
Global University -- NCGU-red)
sudah ditangkap
di Kalimantan
Tengah
dan sekarang
tengah
diperiksa di
sana
dan akan
segera
dibawa ke
Mabes
Polri,'' kata
Kepala
Divisi Humas
Polri
Irjen Pol.
Aryanto
Boedihardjo kepada
wartawan
di
Mabes Polri Jakarta,
kemarin.
Enam
tersangka
lainnya yang
sudah
ditahan di
Rumah
Tahanan Badan
Reserse
dan Kriminal
Mabes
Polri, menurut
Aryanto,
adalah Harris Roberts (WN
Amerika
Serikat yang mengaku
sebagai
Direktur Program IMGI),
Lilik Purwanti,
Agus
Triyanto, Ipik
Ambarpurnomo,
Udin
Arsyad dan
Bahrun (seluruhnya
staf IMGI).
Sementara
itu,
kondisi
kantor IMGI
di Century Tower
tampak
sepi. Kantor
itu
diberi
garis
polisi.
Tampak
di
dalam masih
terdapat
sejumlah
perangkat
kerja
seperti komputer,
meja,
arsip-arsip, dan
televisi 14
inci.
Kantor
juga
masih
tampak tertata
rapi.
Hanya
pintunya
ditutup
dan disegel
polisi.
Menurut
Taufik,
staf sebuah
penerbangan yang
bertetangga
dengan IMGI
mengaku
terkejut dengan
penggerebekan
kantor
tersebut.
Sebab,
ia
sering
melihat kantor
itu
memajang ratusan
foto
wisudawan di
depan
kantornya. ''Biasanya
dipajang
di sini.
Enggak
nyangka
kalau itu
palsu,''
katanya.
Kata
Taufik,
staf
kantor tersebut
dikenal
ramah.
Tetapi,
mereka
lebih banyak
tertutup. Para
staf
juga tidak
bergaul
dengan staf
kantor
di
sebelahnya. ''Saya
kenal
Ibu Lilik
di sini.
Dia
ramah.
Saya
juga terkejut
mendengar
kantor
ini
memperjualbelikan ijazah
palsu,''
tandas
Teguh, staf
lainnya.
Fenomena
ijazah
palsu ini
memang
menarik.
Sebab,
beberapa waktu
lalu,
banyak publik
figur yang
mendapatkan
gelar
doktor
dalam disiplin ''ilmu''
tertentu.
Oleh
publik,
gelar itu
dipertanyakan.
Sebab,
dilihat dari
sepak
terjangnya selama
ini,
tak
mungkin
dia mendapatkan
gelar
doktor.
Salah
satu
orang yang dipertanyakan
adalah
seorang penyanyi
dangdut.
Ketika
marak
pencalonan anggota
legislatif
dan
calon kepala
daerah,
ijazah palsu
juga
marak diperjualbelikan.
Banyak
dari
mereka mencantelkan
gelar
kesarjanaannya di
belakang
namanya,
seperti MBA
dan
sebagainya.
Harga
gelar S-1
ditaksir
belasan
juta rupiah.
Sementara
gelar S-2
bisa
puluhan juta
rupiah.
Namun,
praktik yang
digelar IMGI
belum
diketahui berapa ''harganya''.
Modusnya
pun ditaksir
tak
sulit. Tinggal
mendaftar,
lalu
ditetapkan tanggal
wisudanya
di
gedung atau
di hotel,
dan
jeprat-jepret pakai
toga, dan
selembar
ijazah
sudah berada
di
tangan.
Patgulipat
ada
uang semua
bisa
dilipat. (kmb5/kmb7)