Minyak
Dunia
Naik,Rupiah
9.800 per
Dolar
AS
Jakarta (Bali Post) -
Berbagai
sentimen
negatif yang
menyebar
dikalangan investor,
membuat
nilai tukar
rupiah
terhadap dolar AS
pada
perdagangan Jumat
(12/8) kemarin
kembali
rontok 25 poin
ke level 9.800
dibandingkan
penutupan
Kamis (11/8)
di
posisi 9.775 per dolar
AS.
Sejak
sesi
pagi, rupiah
langsung
dibuka
melemah ke
kisaran 9.815/9.820 per
dolar AS,
atau
menjauh 40 poin
dari
penutupan sebelumnya,
akibat
berbagai faktor
negatif
baik eksternal
maupun internal.
Banyak
yang menduga
pelemahan
rupiah
di atas level 9.800
terutama
akibat
kenaikan harga
minyak
mentah yang mencapai
66 dolar AS per
barel,
rencana kenaikan
harga BBM
dan
peningkatan suku
bunga SBI
ke level 8,71
persen
menyusul kenaikan
suku
bunga The Fed. Menteri
Keuangan
Jusuf
Anwar mengkhawatirkan,
rupiah yang
terus
melemah ini
bisa
membuat pembayaran
utang-utang
luar
negeri Indonesia
akan
menjadi
lebih mahal.
''Makin
membebani anggaran
di
tengah isu
kenaikan
harga
minyak, suku
bunga yang
terus
meningkat dan
juga
inflasi,'' katanya.
Sementara
itu,
dari lantai bursa,
harga
saham-saham pada
perdagangan
sesi
kedua, ditutup
melemah
akibat aksi
jual
lanjutan terhadap
sejumlah
saham
terutama saham TLKM,
ASII, GGRM, BBCA, BBRI dan
BDMN seiring
kenaikan
harga
minyak ke level 66
dolar AS per
barel.
Akibatnya,
indeks BEJ
tertekan
ke level 1.153,969,
atau
anjlok 14,003 poin
(1,199 persen).
Indeks LQ45
juga
turun 3,532 poin
(1,375 persen)
ke level 253,352.
Jakarta Islamic Index (JII)
terpangkas 2,355
poin (1,198
persen)
ke posisi 194,257.
(kmb2)