kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 13 Agustus 2005

 Ekonomi


Minyak
Dunia Naik,Rupiah 9.800 per Dolar AS 

Jakarta (Bali Post) -
Berbagai
sentimen negatif yang menyebar dikalangan investor, membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (12/8) kemarin kembali rontok 25 poin ke level 9.800 dibandingkan penutupan Kamis (11/8) di posisi 9.775 per dolar AS.

Sejak sesi pagi, rupiah langsung dibuka melemah ke kisaran 9.815/9.820 per dolar AS, atau menjauh 40 poin dari penutupan sebelumnya, akibat berbagai faktor negatif baik eksternal maupun internal.

Banyak yang menduga pelemahan rupiah di atas level 9.800 terutama akibat kenaikan harga minyak mentah yang mencapai 66 dolar AS per barel, rencana kenaikan harga BBM dan peningkatan suku bunga SBI ke level 8,71 persen menyusul kenaikan suku bunga The Fed. Menteri Keuangan Jusuf Anwar mengkhawatirkan, rupiah yang terus melemah ini bisa membuat pembayaran utang-utang luar negeri Indonesia akan menjadi lebih mahal.

''Makin membebani anggaran di tengah isu kenaikan harga minyak, suku bunga yang terus meningkat dan juga inflasi,'' katanya.

Sementara itu, dari lantai bursa, harga saham-saham pada perdagangan sesi kedua, ditutup melemah akibat aksi jual lanjutan terhadap sejumlah saham terutama saham TLKM, ASII, GGRM, BBCA, BBRI dan BDMN seiring kenaikan harga minyak ke level 66 dolar AS per barel.

Akibatnya, indeks BEJ tertekan ke level 1.153,969, atau anjlok 14,003 poin (1,199 persen). Indeks LQ45 juga turun 3,532 poin (1,375 persen) ke level 253,352. Jakarta Islamic Index (JII) terpangkas 2,355 poin (1,198 persen) ke posisi 194,257. (kmb2)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)