''Pelebon'' Pandji Tisna ---
Ratusan Warga Iringi Prosesi
RATUSAN
warga mengiringi prosesi upacara pelebon Raja Buleleng
XI, Anak Agung Pandji Tisna, dari Puri Gede Buleleng di
Jalan Mayor Metra, Singaraja, Jumat (12/8) kemarin. Dua
bade dan tiga patung lembu hitam diusung warga
mengelilingi catus pata sebelum dibakar dengan upacara
di Setra Buleleng, Jalan Gajah Mada Singaraja.
Upacara pelebon raja sekaligus sastrawan besar Indonesia
yang wafat 2 Juni 1978 itu di-puput Ida Peranda Gde Oka
dari Griya Sukasada Buleleng.
Menurut salah seorang keturunan Pandji Tisna, Anak Agung
Ngurah Ugrasena, pelebon itu sebagai suatu penghormatan
dan persembahan suci kepada leluhurnya agar atma Dewata
dapat disembah setelah berstana di pemerajan.
Siapakah Pandji Tisna? Pandji Tisna dilahirkan di
Singaraja 11 Februari 1908. Pendidikan formalnya di HLS
di Singaraja dan MULO di Batavia (kini Jakarta). Selain
sebagai Raja Buleleng XI, Pandji Tisna dikenal sebagai
salah seorang sastrawan besar Indonesia kelahiran Bali.
Berbagai novelnya diterbitkan Balai Pustaka dan hingga
kini masih tetap dibaca, seperti "Sukreni Gadis Bali",
"I Swasta Setahun di Bedahulu", "Ni Rawit, Ceti dan
Penjual Orang" dan sejumlah cerpen yang dimuat di
majalah Terang Bulan di Surabaya. Pandji Tisna juga
sempat menulis puisi di antaranya berjudul "Ni Poetri"
yang diterbitkan sahabatnya Sutan Takdir Alisjahbana
dalam majalah Poedjangga Baroe di Jakarta.
Sebagai Raja Buleleng XI, ia diketahui menerima tahta
untuk menggantikan sang ayahanda AA Putu Djelantik tahun
1944. Tahun 1946 Pandji Tisna diangkat sebagai Ketua
Dewan Raja-raja se-Bali. Namun tahun 1947, ia
mengundurkan diri dari tahta Raja Buleleng dan
memutuskan untuk kembali ke tempat peristirahatannya di
Lovina.
Lovina itu sendiri yang kini dikenal sebagai kawasan
wisata teramai di Bali Utara juga tak lepas dari tangan
intelektualnya. Dia dikenal sebagai pendiri Lovina tahun
1953. Diawali dengan membangun sebuah guesthouse dan
restoran serta taman rekreasi di tepi pantai Desa Tukad
Cebol (kini Desa Kaliasem), maka berkenbanglah Lovina
seperti yang dikenal saat ini. Konon kata Lovina berasal
dari kata "love" yang berarti cinta dan "ina" yang
berarti Indonesia. Dua kata itu digabung menjadi Lovina
sebagai cermin jiwa nasionalis dan kecintaan Pandji
Tisna terhadap Indonesia.
Sebagai raja, penglingsir Puri Agung Buleleng, AA Bagus
Sujatra menegaskan Pandji Tisna bukan hanya menjadi
milik satu golongan, tetapi seluruh masyarakat Buleleng.
Di sisi lain, sebagai sastrawan, dia juga bukan milik
Bali tetapi juga milik Indonesia. Sebagai tokoh
pariwisata, dia juga dikenal memiliki hubungan yang erat
dengan kerabat dari beragam negara.
(ole)