kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 13 Agustus 2005

 Bali


''Pelebon'' Pandji Tisna ---

Ratusan Warga Iringi Prosesi

RATUSAN warga mengiringi prosesi upacara pelebon Raja Buleleng XI, Anak Agung Pandji Tisna, dari Puri Gede Buleleng di Jalan Mayor Metra, Singaraja, Jumat (12/8) kemarin. Dua bade dan tiga patung lembu hitam diusung warga mengelilingi catus pata sebelum dibakar dengan upacara di Setra Buleleng, Jalan Gajah Mada Singaraja.

Upacara pelebon raja sekaligus sastrawan besar Indonesia yang wafat 2 Juni 1978 itu di-puput Ida Peranda Gde Oka dari Griya Sukasada Buleleng.

Menurut salah seorang keturunan Pandji Tisna, Anak Agung Ngurah Ugrasena, pelebon itu sebagai suatu penghormatan dan persembahan suci kepada leluhurnya agar atma Dewata dapat disembah setelah berstana di pemerajan.

Siapakah Pandji Tisna? Pandji Tisna dilahirkan di Singaraja 11 Februari 1908. Pendidikan formalnya di HLS di Singaraja dan MULO di Batavia (kini Jakarta). Selain sebagai Raja Buleleng XI, Pandji Tisna dikenal sebagai salah seorang sastrawan besar Indonesia kelahiran Bali. Berbagai novelnya diterbitkan Balai Pustaka dan hingga kini masih tetap dibaca, seperti "Sukreni Gadis Bali", "I Swasta Setahun di Bedahulu", "Ni Rawit, Ceti dan Penjual Orang" dan sejumlah cerpen yang dimuat di majalah Terang Bulan di Surabaya. Pandji Tisna juga sempat menulis puisi di antaranya berjudul "Ni Poetri" yang diterbitkan sahabatnya Sutan Takdir Alisjahbana dalam majalah Poedjangga Baroe di Jakarta.

Sebagai Raja Buleleng XI, ia diketahui menerima tahta untuk menggantikan sang ayahanda AA Putu Djelantik tahun 1944. Tahun 1946 Pandji Tisna diangkat sebagai Ketua Dewan Raja-raja se-Bali. Namun tahun 1947, ia mengundurkan diri dari tahta Raja Buleleng dan memutuskan untuk kembali ke tempat peristirahatannya di Lovina.

Lovina itu sendiri yang kini dikenal sebagai kawasan wisata teramai di Bali Utara juga tak lepas dari tangan intelektualnya. Dia dikenal sebagai pendiri Lovina tahun 1953. Diawali dengan membangun sebuah guesthouse dan restoran serta taman rekreasi di tepi pantai Desa Tukad Cebol (kini Desa Kaliasem), maka berkenbanglah Lovina seperti yang dikenal saat ini. Konon kata Lovina berasal dari kata "love" yang berarti cinta dan "ina" yang berarti Indonesia. Dua kata itu digabung menjadi Lovina sebagai cermin jiwa nasionalis dan kecintaan Pandji Tisna terhadap Indonesia.

Sebagai raja, penglingsir Puri Agung Buleleng, AA Bagus Sujatra menegaskan Pandji Tisna bukan hanya menjadi milik satu golongan, tetapi seluruh masyarakat Buleleng. Di sisi lain, sebagai sastrawan, dia juga bukan milik Bali tetapi juga milik Indonesia. Sebagai tokoh pariwisata, dia juga dikenal memiliki hubungan yang erat dengan kerabat dari beragam negara. (ole)

 

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)