''Khayalan Tingkat Tinggi''
Begitu banyak sistem moral dan politik telah ditemukan, lalu
dilupakan, ditemukan kembali, dilupakan lagi, muncul lagi sebentar
kemudian, selalu menarik dan mengejutkan dunia, seolah-olah mereka
merupakan sesuatu yang baru dan menjadi saksi bagi ketidaktahuan
atau kedunguan manusia dan bukannya saksi bagi keaktifan semangat
manusia.
(Alexis de Tocqueville)
-----------------------------------
RUBAG menyimak pendapat mentor bangsa
Amerika dalam berdemokrasi, Alexis de Tocqueville itu, sebagai hal
yang tidak mengada-ada. Di paruh kedua abad XVIII saja, "Bapak
Demokrasi" tersebut sudah merasa bahwa sistem moral dan politik
bukan barang baru, apalagi kalau dia masih hidup hingga sekarang,
mungkin politik dan moralitas dianggapnya sudah cocok dijadikan
artefak museum.
Memang tidak bisa dipungkiri kalau ajaran politik dan moral
membuat spesies homo erectus ini bisa
mempertahankan eksistensinya di planet biru, yang dipenuhi suasana
persaingan kejam dan insting saling meniadakan, baik antara maupun
antarspesies. Berkat ajaran moral dan politik yang diulang-ulang
lewat proses penemuan kembali apa yang
dilupakan, peradaban manusia lahir meski sekali-sekali diselingi
kebiadaban yang mengerikan. Karena dengan
dalih keteraturan dan ketertiban, ajaran moral direkayasa untuk
memuluskan ambisi politik, sehingga sepanjang masa ada segelintir
orang yang berstatus "Tuan" di atas orang banyak yang berstatus
"budak". Kedua
polaritas status tersebut kemudian dipulas eufemisme bahasa
menjadi pemimpin dan rakyat.
Paradigma moral dan politik Ken Arok, anak janda Ni Ndok
dari Desa Pangkur, Malang Selatan, yang menjadi raja Tumapel
dari tahun 1222-1227, bisa dijadikan contoh sistem rediscovery
yang dimaksud Tocqueville. Bila saja Ken Arok tidak memiliki
ambisi, egoisme dan kelicikan luar biasa untuk berkuasa, mungkin
saja dia akan meninggal seperti rakyat
biasa, baik karena dibunuh maupun digerogoti usia atau sakit.
Pengarang kitab Pararaton dan Negarakretagama pun tidak
akan memberikannya gelar "Sri Rajasa
Bhatara Sang Amurwabhumi", bahkan menganggapnya sebagai anak
Bhatara Brahma, padahal asal-usulnya tidak jelas. Atau, bisa jadi
karena takut setelah mengetahui sepak terjang Ken Arok yang
menghalalkan segala cara dalam merebut
kekuasaan Tunggul Ametung, termasuk mengorbankan dan
mengambinghitamkan sobat karibnya Kebo Ijo, sehingga pujian dan
sanjungan bernuansa "ABS" diberikan setinggi langit.
Rubag terbayang wajah "Bapak Pembangunan" rezim Orde Baru yang
selalu bersungging senyum sehingga disebut "The Smiling General",
serta beberapa buku yang dikarang para penulis untuk memujinya, di
antaranya "Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya".
Juga kisah "Serangan Umum 1 Maret 1949 di
Yogyakarta" yang kemudian diluruskan jalan ceritanya oleh mantan
narapidana politik Kol.
Latief.
Simulakrum atas
gaya
dan paradigma politik Ken Arok sudah dipentaskan selama Orde Baru
dengan hasil kehancuran tatanan politik, ekonomi dan budaya di
akhir kisahnya. Padahal, politik modern sudah
dimulai sejak Revolusi Industri di Inggris tahun 1750-1850 dan
Revolusi Prancis tahun 1789. Tidak mengherankan kalau
generasi Bung Karno yang sebagian besar tidak pernah melihat dan
merasakan dinginnya salju Eropa, sudah bisa berbicara soal
Machiavellisme, Bonapartisme, Marxisme, Bolshevikisme dan laissez
faire-nya Adam Smith, jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia
diproklamasikan. Lewat penjajahan dan
penderitaan berabad-abadlah yang mendorong Generasi
Pra-Kemerdekaan belajar teori politik sekaligus mempraktekkannya.
Mereka sudah paham bahwa kapitalisme
menyebarkan modernisme dan globalisasi yang monokultural,
menyebabkan terjadinya penghisapan oleh manusia terhadap manusia
lainnya.
Heterogenitas politik, ekonomi dan budaya distandarisasi dan
digiring ke kapitalisme konsumtif.
"L'exploitation de l'homme par l'homme!" ungkapan untuk mengejek
kolonialisme yang digandrungi Bung Karno, justru dilupakan
generasi penerus yang lebih dari tiga dekade
dibesarkan hedonisme dan konsumerisme dengan biaya utang
luar negeri dari tahun ke tahun terus bertambah. Lucunya, setelah
terjadi multikrisis dengan berbagai masalah saling berkelindan,
justru muncul ide-ide pembaruan, perubahan dan modernisasi,
padahal dunia "seberang" sudah menginjak tahap pascaindustri dan
postkorporasi di bidang ekonomi politik dan postmodernisme serta
poststrukturalisme di bidang budaya. Thema yang diobral para
pembaru tersebut adalah "anti status quo" padahal mereka sendiri
merupakan bagian dari kemapanan, seperti tidak malu pada sindiran
iklan Joshua, "jeruk kok makan jeruk?".
***
BAGI Rubag, apa
yang disebut pembaruan dan perubahan, sebenarnya pengulangan dari
teori dan praktik politik serta ajaran moral yang berasal dari
ribuan tahun silam. Tidak ada lagi penemuan
baru, sebab yang disebut baru hanyalah assembling akibat
standarisasi atau monokulturalisme.
Kebaruan cuma pada manusia dan aktor-aktor
politiknya, baik karena kepongahan maupun intelektualitas yang di
atas rata-rata manusia lain, lalu dicatat sebagai aktor-aktor
sejarah.
Malah ketika dunia semakin gencar dihujani serbuan informasi dari
berbagai arah, khususnya dari media elektronik, kesempatan untuk
memilah yang asli dan yang palsu, bagi para konsumen pasif, kian
tidak tersedia.
Nalar dan rasio mereka yang dibungkus ketat lemak konsumerisme dan
hedonisme, menyuburkan perkembangan budaya pop sehingga budaya
tinggi dan budaya rakyat tersingkir.
Kedalaman dan isi dikalahkan bentuk dan
penampilan permukaan atau virtualitas.
Hukum ekonomi klasik tentang penawaran dari produsen dan
permintaan dari konsumen, tidak berlaku.
Lewat iklan dan promosi, produksi mempengaruhi
konsumsi, sehingga orang membeli bukan karena butuh, tapi karena
ingin. Motto Nietzsche, "Karena berpikir, saya ada!"
dimodifikasi "Karena shopping, saya ada!".
Budaya pop ini pula melahirkan politisi dan moralis pop, yang
fasih melontarkan konsep perubahan dan pembaruan yang fantatis dan
ilusif. Sayangnya, kata-kata dan wacana sering
dilontarkan seperti membuang ingus atau bersin.
Tanpa makna, cenderung menunjukkan gejala
sakit. Jarang sekali janji dan komitmen
dipenuhi sebagai tanggung jawab moral.
Ini merupakan ciri dari hadirnya zaman pascaindustri, yang
mengganti transaksi barang dengan jasa atau mengubah industri
metalurgi dengan semiurgi.
Dengan menjual kata-kata, tanda, citra dan ikon,
banyak yang menjadi politisi terkenal atau selebriti.
Namun setelah rezim yang dituduh status quo digusur, penggantinya
yang mengaku agen-agen pembaruan dan perubahan dalam setiap
penyelesaian masalah, cuma bisa melagukan "Khayalan Tingkat
Tinggi" dari Peterpan.
Akibatnya, sebagian orang yang dulu sangat fanatik jadi
pendukungnya, karena malu menelan ludah yang keburu disemburkan,
cuma bisa menggumam, "Ada apa denganmu?".
Sebagian lainnya, yang
cuma ikut-ikutan memilih, baik karena terpengaruh citra yang
ditampilkan iklan, maupun karena uang atau tiada pilihan lain,
mulai kehilangan kepercayaan pada siapa pun dan cenderung menjadi
nihilis.
***
RUBAG menangkap fenomena golongan putih
akan semakin menggejala di masa-masa
yang akan datang. Sebab, dalam Pemilu Legislatif Tahun 2004 lalu,
pemenangnya adalah Golput yakni sebanyak 34.537.955 suara atau
23,34 persen dari pemilih terdaftar.
Tajuk sebuah koran terbitan Denpasar,
Kamis 28 April lalu, cukup menarik dibaca Rubag.
Sebuah parodi tentang tindak-tanduk calon
bupati dan wakil bupati beberapa kabupaten di
Bali, yang
kendati belum masa kampanye, sudah menebar janji dalam kunjungan
minta dukungan yang diistilahkan dengan medharma suaka.
Kepada setiap kelompok profesi dan golongan
yang didatangi, dijanjikan perbaikan nasib serta privelese, bila
masing-masing pasangan cabup dan cawabup tersebut kelak terpilih.
Sulit dibayangkan, apakah dengan kedudukan
hanya sebagai kepala daerah mereka bisa memenuhi semua janji-janji
di segala sektor kehidupan yang kini terpuruk?
Padahal di tingkat nasional
dengan kekuasaan lebih tinggi, pemimpin puncak negara republik ini
belum bisa memenuhi janji-janji yang pernah dilontarkannya saat
kampanye, meskipun kekuasaan telah enam bulan dipegang.
Makanya, ketika sebuah pernyataan terlontar, bahwa kemiskinan di
Indonesia bisa diatasi dalam tempo tiga tahun, banyak orang
tergerak menghafal lagu "Khayalan Tingkat Tinggi", yang kini sudah
menjadi judul sebuah sinetron. Pertimbangannya, lebih baik
mengkhayal daripada bunuh diri!
* aridus