kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 10 April 2005 tarukan valas
 

SISIPAN


Jika Diyakini, ''Les'' Punya Kekuatan Gaib

Banyak orang berkeyakinan bahwa sejumlah tumbuhan atau benda-benda tertentu di alam ini memiliki tuah. Maka jangan heran kalau sampai saat ini masih banyak orang yang memburu tumbuhan atau benda semacam itu dengan tujuan mendapatkan kekuatan gaib atau tuah. Kegunaannya bermacam-macam, di antaranya sebagai penangkal ilmu hitam, penetral cetik, alat pengasih-asih, alat agar ditakuti, sampai beroleh kewibawaan. Umumnya, tumbuhan atau benda-benda tersebut diolah lagi, misalnya dicampur dengan bahan tertentu, direndam dengan air bersih, digoreng dengan minyak kelapa, atau diolah menjadi mata cincin. Benarkah semua ini?

------------

DARI sekian banyak tumbuhan di alam ini yang diyakini memiliki kekuatan gaib di antaranya batang pohon yang sudah menjadi fosil yang lebih dikenal dengan sebutan les, serta tumbuhan benalu.

 Les atau kayu yang sudah membatu itu lebih banyak diolah menjadi mata cincin, leontin, atau mata giwang. Konon, les kayu tertentu memiliki kekuatan gaib yang mampu melindungi orang dari berbagai serangan ilmu hitam dan yang sejenisnya.

Khusus bagi penekun spiritual, les juga menjadi barang yang sangat berharga dan dicari. Mengapa? Karena, les bisa dijadikan sebagai salah satu sarana pengobatan untuk orang  yang sakit karena black magic. Di samping itu, les juga sering dimanfaatkan sebagai salah satu alat kekebalan tubuh, sebagai penjaga diri dari serangan ilmu gaib.

Pande I Gede Putu Setia Gunawan, seorang penganut spiritual dan penyungsung Ida Ratu Gede Alit Sakti dan Ratu Ayu Sapuh Jagat, kelahiran Desa Yeh Embang, Negara, mengatakan, les ada banyak jenisnya. Beberapa les memang menjadi koleksi kebanggaannya dan tersimpan rapi di rumahnya di Jalan Ijo Gading No.8C, Panjer, Denpasar. Di samping les, dia juga memiliki sejumlah benalu dari berbagai tumbuhan yang diperolehnya dari berbagai tempat.

Menurut Gunawan, les dapat dibagi atas dua yaitu les yang berasal dari dalam tanah serta les yang lengket langsung pada kayu tumbuhan di permukaan tanah. Les yang berada di dalam tanah umumnya berisi badar berupa emas, perak atau besi dan warnanya hitam pekat, sementara yang berasal dari permukaan tanah pada umumnya berwarna lebih muda dan tidak mengandung badar. Diperkirakan, umur les yang sudah mengandung badar berkisar sekitar 500 tahun dan yang tidak mengandung badar usianya kurang dari itu.

Les yang diperoleh dari dalam tanah umumnya memiliki kelebihan dalam hal kegaibannya. Ini tentunya dikarenakan adanya proses alam yang sedemikian lama, sehingga les yang awalnya adalah sebatang kayu pada akhirnya berubah menjadi batu. Proses alam dengan tekanan panas atau dingin yang variatif dan memakan waktu sampai ratusan tahun itu, pada akhirnya menjadikan les tersebut memiliki kekuatan alam bermacam-macam yang lumayan dasyat.

 

Dasar Keyakinan

Menurut beberapa penekun spiritual, kekuatan dari les barulah akan terasa jika si pembawa les tersebut yakin akan hal itu. Landasan keyakinan akan tuah yang dimiliki oleh les itu menjadi sangat penting agar les itu bisa memerankan fungsinya. Beberapa orang yang menjadikan les sebagai batu cincin dan memakainya, merasakan adanya suatu kekuatan yang mampu membuat pemakainya merasa ada dalam ketenangan.

Lebih jauh Gunawan menjelaskan, beberapa les memang memiliki kekuatan atau tuah. Les kelor misalnya, air rendamannya bisa dijadikan sebagai air pangelukatan karena di sana sudah malinggih Ida Hyang Ciwa Pasupati. Malukat dengan air rendaman les kelor dikatakan dapat membersihkan 40 jenis cuntaka yang ada di tubuh manusia. Jenis cuntaka yang dimaksud di antaranya salah makan atau melanggar pantangan makan, melintas di bawah tempat jemuran pakaian, berkunjung ke rumah orang mati, berkata-kata yang menyakiti hati orang lain, dan sebagainya.

Kegunaan lain dari les kelor adalah sebagai salah satu alat kekebalan, hal ini bisa terjadi karena adanya badar pada les tersebut. Di samping itu, juga bisa berfungsi untuk menetralisir kekebalan seseorang, sebagai penjaga diri saat ke luar malam dari gangguan roh-roh jahat. Bukan hanya sebatas itu saja, les kelor juga bisa digoreng dengan minyak kelapa, kemudian minyaknya dapat dipakai sebagai salah satu pengobatan. Pada orang yang kena cetik (racun tradisional), minyak les kelor juga mampu menjadi obat penyembuh.

Biasanya, jika les kelor dijadikan mata cincin, selanjutnya  cincin tersebut akan di-pasupati (diberi isi) pada seorang ahli spiritual. Maksudnya, agar cincin les kelor itu menjadi lebih hidup dan mampu menjalankan fungsinya. Namun, tanpa di-pasupati pun konon les kelor sudah memiliki kekuatan gaib akibat dari adanya proses alam yang begitu lama di dalam perut bumi. Warna les kelor ada yang hitam legam dan ada juga yang hitam kecoklatan.

Ada pengalaman seorang pencinta les, Wayan dari Negara yang bekerja di Denpasar. Suatu hari ia diberikan mata cincin dari bahan les. Mata cincin tersebut kemudian dibelikan cangkok perak di Pasar Burung Satria, Denpasar, dan di-pasupati ke saudaranya yang kebetulan menjadi pemangku di desanya. Setelah di-pasupati, cincin tersebut tidak segera dikembalikan kepemiliknya, tetapi dipinjam. Malamnya, pemangku tersebut bermimpi dicari oleh seseorang dan memintanya agar cincin tersebut segera dikembalikan ke pemiliknya.

Di samping les kelor, juga ada les dapdap. Les yang satu ini fungsinya untuk bisa merasa lebih dekat dengan-Nya saat melakukan persembahyangan di rumah maupun di pura. Les dapdap setelah dijadikan mata cincin warnanya akan terlihat putih kecoklatan agak lembut. Beberapa penekun spiritual menjadikan air rendaman dari les dapdap tersebut sebagai air pengelukatan dan pembersihan.

Les gedebong pisang merupakan les yang banyak dicari oleh penekun spiritual. Les ini ada dua jenis, yaitu les yang berasal dari bungkil pisang berwarna agak kecoklatan dan yang berasal dari unteng (jantung) pisang warnanya hitam. Konon les ini memiliki kekuatan gaib untuk pengenteg raga atau penenang diri. Bagi mereka yang menjadikan les gedebong sebagai mata cincin, maka cincin tersebut akan berfungsi sebagai penyeseh -- mampu mendeteksi serangan gaib yang ditujukan padanya. Dijelaskan Gunawan, makna "mampu mendeteksi" adalah mengetahui lebih awal akan adanya serangan black magic dari seseorang, namun tidak diketahui siapa yang melakukan serangan tersebut. Dengan begitu, orang akan menjadi lebih waspada dan siap melakukan pertahanan.

Dipercaya juga kalau les gedebong yang berwarna agak putih jika disatukan dengan les kelor menjadi sebuah mata cincin, maka ia akan dapat berfungsi sebagai alat kekebalan.

 

Sulit Dicari

Les lainnya yang juga memiliki kekuatan gaib dan sulit dicari adalah les jarak yang warnanya hitam kemerahan. Les jarak ini berfungsi sebagai penyengker rumah atau untuk memagari rumah dari serangan ilmu hitam. Yang dipergunakan adalah air wangsuhan-nya yang dipercikkan ke sekeliling rumah. Konon, kekuatan dari wangsuhan les jarak ini mencapai radius 100 meter.

Les ketapang juga merupakan les yang sulit ditemukan, namun banyak yang meminatinya. Les ini biasanya diperoleh di kuburan di sekitar tempat pembakaran mayat. Les ini, jika diolah menjadi mata cincin, akan memancarkan aneka warna seperti warna coklat, putih, dan warna biru. Kegunaannya sebagai penenang diri dari rasa takut saat berjalan di tempat angker. Bagi mereka yang memakai cincin dari les ketapang ini saat berada di kuburan pada tengah malam akan merasa biasa-biasa saja.

 

* gung man

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com