Barong Landung bukan sekadar Sejarah
Jro Gde:
Delod Tunduh Abian Semal
Mula kunyit di sempidi
Mapunduh paturu lengar
Mara ngajengit tusing magigi
Jro Luh:
Ngempug kuud caratan diwang
Ngempug kuud caratan diwang
Meli bulih tuah ji talen
Beli suud nyaratang tiang
Beli suud nyaratang tiang
Kemu alih suba elenan
--------------
PENGGALAN
gending bebarongan tersebut biasa dinyanyikan oleh dua pemundut
Barong Landung saat ngelawang berkeliling desa.
Umat menurunkan sasuhunan -- berupa Barong Landung tersebut --
dari pura untuk menari di sepanjang jalan desa dengan harapan
tarian itu akan menimbulkan energi gaib, semacam tenaga baru,
seperti yang dilakukan Dewa Siwa dengan tarian dandawa-nya untuk
mengembalikan roh kehidupan yang diambil oleh para bebutan.
Barong
Landung adalah pralingga, sekaligus perisai bagi desa-desa yang
terancam kegeringan.
Bahkan di banyak tempat, Barong Landung dipuja
sebagai simbol sejarah yang sangat kelam di masa lalu.
Kisah yang bersumber ketika Sri Jaya Pangus,
raja
Bali dari dinasti
Warmadewa, kerajaannya berpusat di Panarojan -- tiga kilometer di
sebelah utara Kintamani.
Sri Jaya Pangus dituduh telah melanggar adat
yang sangat ditabukan saat itu, yakni telah dengan berani
mengawini putri Cina yang elok bernama Kang Cing Wei. Meski
tidak mendapatkan berkat dari pendeta kerajaan, Mpu Siwa Gama,
sang raja tetap ngotot tidak mau mundur.
Akibatnya, sang pendeta marah, lalu menciptakan hujan terus
menerus, hingga seluruh kerajaan tenggelam.
Dengan berat hati sang raja memindahkan kerajaannya
ke tempat lain, kini dikenal dengan nama
Balingkang (Bali
+ Kang), dan raja kemudian dijuluki oleh rakyatnya sebagai Dalem
Balingkang. Sayang, karena lama mereka tidak mempunyai keturunan,
raja pun pergi ke Gunung Batur, memohon kepada dewa di
sana
agar dianugerahi anak. Namun celakanya, dalam perjalanannya
ia bertemu dengan Dewi Danu yang jelita.
Ia pun terpikat, kawin, dan melahirkan
seorang anak lelaki yang sangat kesohor hingga kini, Maya Danawa.
Sementara itu, Kang Cing Wei yang lama menunggu
suaminya pulang, mulai gelisah, Ia
bertekad menyusul ke Gunung Batur. Namun di
sana,
di tengah hutan belantara yang menawan, iapun terkejut manakala
menemukan suaminya telah menjadi milik Dewi Danu.
Ketiganya lalu terlibat
pertengkaran sengit.
Dewi Danu dengan marah berapi-api menuduh sang raja
telah membohongi dirinya dengan mengaku sebelumnya sebagai perjaka.
Dengan kekuatan gaibnya, Dalem Balingkang dan
Kang Cing Wei dilenyapkan dari muka bumi ini. Oleh rakyat
yang mencintainya, kedua suami istri -- Dalem Balingkang dan Kang
Cing Wei -- itu lalu dibuatkan patung yang dikenal dengan
nama Stasura dan Bhati Mandul.
Patung inilah kemudian
berkembang menjadi Barong Landung.
Perkawinan Budaya
Tapi Barong
Landung ternyata lebih dari sekadar kisah sejarah.
Ia bukan saja perkawinan lahiriah,
tetapi juga budaya. Pernik-pernik budaya Cina seperti pis bolong,
patra cina, barong sae, telah lama dikawinkan dengan budaya Bali,
bahkan dalam bidang filsafat telah pula melahirkan paham Siwa
Budha yang terus memperkaya tradisi agama Hindu sampai sekarang di
Bali.
Juga, Barong Landung bukanlah sekadar penghias pura,
ia adalah duwe dengan segala
perwujudannya yang sangat keramat. Ia dibuat pada dewasa ayu
kilang-kilung, dari kayu bertuah seperti pule, jaran, waruh teluh,
kepah, kapas, dan "dihidupkan" dengan ritual prayascita serta
di-plaspas untuk menghapuskan papa klesa secara sekala niskala. Di
sini, ia pun diberi pedagingan berupa
perak, emas, dan tembaga, juga pudi mirah (sejenis permata) yang
dipasangkan di ubun-ubun lengkap dengan rerajahan-nya -- ang, ung,
dan mang.
Setelah seluruh bagian tubuhnya disatukan dalam
upakara masupati yang dipermaklumkan oleh sulinggih, pemangku,
maupun sangging ke hadapan Dewa Surya, Siwa, dan Sapu Jagat,
Barong Landung lalu dibawa ke tengah kuburan.
Di situ, di tengah kegelapan
malam kajeng kliwon, pemundut harus duduk di atas tiga tengkorak
manusia sambil meneguhkan hatinya untuk menerima ritual yang
paling mengguncangkan, yaitu masuci dan ngerehin.
Biasanya, jika Barong Landung ini sudah kalinggihin,
akan ada pertanda jatuhnya kilatan
cahaya gaib ke tubuh pemundut hingga ia kesurupan, dan Barong
Landung pun menjadi terguncang-guncang tanpa kendali. Jika hal ini
terjadi, maka Barong Landung telah dianggap "hidup" dan pantas
diberi gelar Jro Gde untuk barong laki-lakinya dan Jro Luh untuk
wanitanya.
Jro Gde memiliki tubuh hitam, rambut lurus lebat,
mata sipit, gigi jongos, dan memakai keris.
Sedangkan Jro Luh bertubuh ramping, putih
seperti layaknya wanita Cina, dan memakai kebaya Cina.
Kedua tangan kiri barong ini ditekuk ke pinggang, yang oleh
pengamat kebatinan diyakini sebagai sikap pengendalian diri,
mengingat kiri sama artinya dengan
pengiwa. Lawan pengiwa
adalah penengen -- tangan kanan, yang sengaja dibuat lurus
sebagaimana jalan kebenaran.
Sejarah Munculnya
Namun,
kapan sesungguhnya Barong Landung tersebut muncul?
Ini yang masih banyak dipertanyakan.
Pada pemerintahan Dalem Waturenggong, abad
ke-16, seni dan budaya
Bali telah mencapai
puncaknya.
Kala itu telah diciptakannya relief Boma, yang
kemudian menjadi tapel Barong Ket. Di
samping itu pula terdapat tulisan Banaspati dan Calonarang,
keduanya menunjuk pada pengertian Barong.
Mungkinkah Barong Landung juga
diciptakan pada masa ini?
Yang pasti, kemampuan manusia Bali dalam membuat
simbol-simbol sudah ada sejak zaman dulu, seperti simbol bade,
meru, pratima, rerajahan, warna-warna sakral, banten, sikap tubuh
dalam gambar wayang, dan sebagainya. Dalam proses berkarya,
biasanya untuk mengagumkan sesuatu, mereka -- terutama para undagi,
kreator, atau senimannya -- sering mewujudkan pujaannya itu jauh
lebih besar dari dirinya. Ini semata-mata
untuk menunjukkan betapa besar kekuasaan Tuhan, dan betapa kecil
dirinya. Dalam
Barong Landung ini misalnya, undagi sengaja membuat wujud yang
sangat menyeramkan dengan harapan dapat mengimbangi kedahsyatan
roh-roh jahat yang sering mengganggu kehidupan di desa-desa.
Menurut Pan Putu Budhiartini dalam bukunya "Rangda
dan Barong, Unsur Dualistik, Mengungkap Asal-asal Umat Manusia",
Barong berasal dari Tatwa Kanda Pat Bhuta, tepatnya ada adalah
duwe dari Sang Catur Sanak yang mengambil wujud rwa bineda -- dua
sifat yang berbeda dari laki-perempuan, siang-malam, panas-dingin,
dan sebagainya. Yang cair misalnya, kalau dipanaskan oleh
api akan menguap ke langit (I Bapa),
sedangkan api akan mengendap ke bumi (I Meme). Langit sendiri
akan menurunkan hujan untuk menyuburkan
bumi dan melahirkan kehidupan.
Jadi,
dengan begitu, kemungkinan Barong Landung adalah perwujudan I Bapa
dan I Meme.
I Bapa sebagai langit diwujudkan dengan warna hitam (Jro Gde),
simbol dari Dewa Wisnu yang memelihara dunia, sekaligus Dewa Air
yang menghanyutkan segala noda dunia, dan menjadi tirta
penglukatan bagi umat manusia. Sedangkan I
Meme atau Ibu Bumi (Jro Luh) berwarna putih sebagai Iswara yang
sering juga disebut Siwa, maha pelebur segala noda sekaligus
sebagai tempat penciptaan. Jadi, Jro Luh adalah Ibu Bumi
yang mengandung, memelihara, dan akan
mengembalikan lagi isi dunia ke dalam perutNya ketika waktunya
telah tiba.
Barong Landung, jika disimpulkan, adalah perwujudan
dari sang Maha Pencipta itu sendiri, Ida Sang Hyang Widhi Wasa,
yang oleh undagi di masa lalu tentu diwujudkan sesuai dengan
keadaan zamannya ketika itu, yakni ketika sedang hangat-hangatnya
perkawinan antarbudaya Cina dan
Bali,
termasuk di dalamnya "perkawinan celaka" sang raja dengan putri
Cina itu.
Namun,
apapun latar belakangnya, Barong Landung adalah mahakarya yang
pernah diciptakan oleh para leluhur di Bali.
Ia adalah lambang penciptaan (lingga
dan yoni) yang oleh ilmuwan Thomas Alfa Edison disebut sebagai
unsur positif dan negatif. Diyakini, jika kedua unsur ini bertemu,
maka akan menimbulkan energi listrik.
Hebatnya, konsep lingga-yoni
tercipta jauh sebelum Thomas Alfa Edison lahir.
*
pande ketut wena
***
Catatan:
Pemundut
= pemikul
Ngelawang
= pentas berkeliling desa
Sasuhunan
= barong yang disakralkan
Bebutan
= roh (jahat) yang sering mengganggu kehidupan manusia
Kegeringan
= kena penyakit
Pis bolong
= uang kepeng
Duwe
= Kepunyaan/milik sesuatu yang disakralkan
Dewasa ayu kilang-kilung = hari baik untuk membuat
barong/anyaman
Plaspas
= upacara penyucian
Papa klesa
= sengsara malang-melintang
Pedagingan
= benda-benda yang ditempelkan pada barong
Rerajahan
= yang ditulis/digambar pada benda yang disakralkan
Kelinggihin
= dimasuki roh agung/suci
Pengiwa
= ilmu hitam
Penengen
= ilmu putih
Tapel
= topeng
Tirta penglukatan
= air suci pembersih batin
I Bapa dan I Meme
= bapak dan ibu