kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Umanis, 20 Maret 2005 tarukan valas
 

OPINI


Republik Komedi

''MANUSIA tak hanya perlu roti, juga komedi!" Rubag setuju dengan filsafat Romawi itu, meski dia tahu kebanyakan rakyat Indonesia tidak makan roti. Sebab, di mana-mana dia menyaksikan kelucuan, kekonyolan dan dagelan digelar orang-orang, tanpa peduli apakah mereka benar-benar pelawak, pejabat, politisi atau kuli.

Celakanya, tragedi, teror, penindasan dan kemalangan pun dikemas jadi komedi dan dipentaskan di sembarang tempat. Pengadilan, parlemen, kantor-kantor pemerintah dan ruang publik disulap jadi panggung-panggung komedi. Roh-roh Mr.Bean yang konyol dan Charlie Chaplin yang suka menyakiti diri untuk memancing tawa penonton, bersinergi dan menyelusup ke sukma aktor-aktor komedi tersebut. Akibatnya, batas yang lucu dan yang sadis hilang, yang benar dan yang bohong kabur, malah yang baik bersekutu dengan yang jahat dalam komedi sosial.

 

George Barna dalam studinya membagi dua jenis generasi yang lahir paska Perang Dunia II. Generasi yang lahir antara tahun 1946-1964 disebutnya generasi Baby Boomers dan yang lahir setelah 1964 disebutnya generasi Baby Busters. Kedua generasi tersebut sama-sama menyerap budaya populer, yang lahir seiring dengan cita-cita kapitalisme menguasai dunia. Runtuhnya tembok Berlin tahun 1989, sehingga liberalisme yang menjadi nafas kapitalisme berhasil merobohkan dua musuh sekaligus -- komunisme dan nasionalisme. Bersamaan dengan itu, generasi Baby Boomers dan Baby Busters mengisi umur mereka dengan kekacauan, kebingungan, dan ketidakpastian.

Revolusi informasi dan komunikasi lewat media elektronika  menambah kemelut jadi tidak berujung pangkal. Sebab, di tengah-tengah infotaintment yang dimeriahkan "dugem" selebritis serta gemuruh musiknya, terselip juga panorama  berdarah dari kriminalitas, pemberontakan, separatisme dan terorisme. Yang memprihatinkan, semua yang tertayang di layar kaca dan dinikmati seluruh keluarga dalam mengisi waktu luang, dianggap masyarakat sebagai budaya. Darah dan parfum dimaknai sama, seperti kesadisan tidak dibedakan dengan kelucuan.

 

Barna menyebut budaya yang diserap masyarakat dunia dalam setengah abad ini merupakan budaya yang menghilangkan kepekaan atas nilai-nilai. Kebudayaan yang tidak mengajarkan perbedaan antara yang benar dan salah, keindahan dan kejelekan, bahkan kemanusiaan dan kebinatangan. Jamur yang tumbuh di seluruh permukaan lensa hati, yang disebarkan budaya itu, menyebabkan tumpulnya moral manusia. Pembunuhan dan penganiayaan kejam berlatar politik, ekonomi, agama, sosial dan bahkan budaya terjadi di mana-mana. Terpidana mati, seorang wanita penjagal bernama Astini, yang memutilasi tiga korbannya yang sesama wanita adalah salah satu di antara banyak contoh.

Ikatan Keluarga Orang Hilang (Ikohi) masih punya catatan 13 orang yang hilang akibat kasus politik di era Orde Baru, menandakan bahwa rezim Soeharto berkemampuan melebihi David Copperfield dalam urusan "menghilangkan" orang. Patung Liberty di New York hilang disulap David selama beberapa menit, Widji Thukul bersama 12 aktivis lain hilang selamanya.

 

***

HILANGNYA nasionalisme menyebabkan dunia dilanda demam disintegrasi dan separatisme terutama di kawasan Balkan, Afrika khususnya Rwanda serta bekas Uni Soviet. Rubag tidak mengelak kalau di negaranya sendiri, masalah separatisme dan disintegrasi bukan lagi barang baru, namun telah diperkenalkan NICA lewat Republik Indonesia Serikatnya (RIS) di awal kemerdekaan. Aceh, Republik Maluku Selatan dan Papua  masih tetap bergolak, sementara Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) sudah terkubur.

Sayang, lenyapnya nasionalisme seperti yang didefinisikan Ernest Renan dan Otto Bauer serta merta diganti, yang oleh Jack Snyder disebut "Nasionalisme SARA". Nasionalisme ini didefinisikan sebagai doktrin dimana penganutnya memandang diri mereka sendiri berbeda karena budaya, sejarah, lembaga atau prinsip-prinsip yang berdasarkan suku, ras, agama dan antargolongan. Karena menganggap diri sebagai suatu nation atau bangsa dan merasa khas dalam berbagai bidang itu, mereka merasa berhak memiliki pemerintahan sendiri.

Para nasionalis SARA tersebut tidak cukup puas hanya memiliki negara sendiri, malah dengan mengangkat nilai-nilai budaya miliknya berupaya memperluas pengaruhnya ke masyarakat negara lain yang memiliki kekhasan yang sama, sebaliknya mendiskriminasi dan memusuhi masyarakat yang dianggap "lain". Sayang, budaya kolektif di Indonesia  yang ditujukan untuk meningkatkan solidaritas dan gotong royong, ternyata digunakan untuk berebut kekuasaan oleh para elite. Itu berlangsung sejak zaman kerajaan dan sempat mereda dihantam modernisme, namun sisa-sisanya tumbuh membesar lagi dirabuk nasionalisme SARA di zaman postmodernisme.

Freek Colombijn dalam artikel "Explaining the  violent solution in Indonesia" menulis bahwa budaya kolektif di negeri ini memungkinkan untuk menjadikan suatu kelompok yang tidak sejalan sebagai "yang lain". Konstruksi "yang lain" inilah menyebabkan mereka bisa diberi label "jahat" dan kemanusiaannya dihilangkan. Peristiwa kelam dalam perayaan Nyepi, 11 Maret malam lalu yang terjadi di salah satu sudut kota Denpasar, bisa dianggap sebuah contoh di samping  contoh-contoh lain.

Kata "ganyang" yang berasal dari bahasa Jawa, sebenarnya bernuansa seram. Kamus Umum Bahasa Indonesia memberi arti "memakan mentah-mentah, menghancurkan, mengalahkan, mengikis habis" untuk kata "ganyang". Kata itu mulai populer ketika PKI memprovokasi masyarakat Indonesia untuk menyerbu Malaysia tahun 1962. Negara federasi antara Malaya, Brunei, Sabah dan Singapura yang bekas jajahan Inggris tersebut dianggap proyek Neokolonialisme yang akan merongrong Indonesia.

Ketua umum PKI, Aidit yang mengklaim punya anggota militan sebanyak dua setengah juta orang mengaku siap diterjunkan sebagai sukarelawan ke Kalimantan Utara, bergabung dengan gerakan bawah tanah yang dipimpin  A.M. Azahari di Brunei. Untuk itu, Aidit bersikeras agar para anggotanya dipersenjatai dan minta pemerintah meresmikan Angkatan Kelima yang dipimpinnya. Tuntutan yang mustahil dan lebih cocok disebut lelucon itu tidak menghasilkan apa-apa. Malah ketika federasi Malaysia diresmikan berdirinya 16 September 1963, kata "ganyang" terus berkumandang sehingga Deklarasi Ekonomi 23 Maret 1963 yang bertujuan untuk memulihkan ekonomi Indonesia, justru terganyang lebih dulu.  Tragisnya, seperti senjata makan tuan, PKI dan ratusan ribu anggota dan simpatisannya menyusul diganyang sebagai akibat terlibatnya  para elite parpol tersebut dalam Gerakan 30 September 1965.

 

Kata "ganyang" yang selama puluhan tahun nyaris terlupakan, tiba-tiba muncul gara-gara Malaysia mengakui Blok Ambalat sebagai wilayahnya. Nyaris semua media massa di Indonesia memuat berita tentang sengketa itu. Unjuk rasa ke Kedutaan Besar Malaysia yang bahkan dipimpin beberapa anggota DPR serta kesiapan untuk dikirim sebagai sukarelawan untuk mengganyang Malaysia terjadi di beberapa wilayah Tanah Air.   Lucunya, Menlu Malaysia yang sempat berkunjung ke Indonesia mengatakan bahwa sengketa Ambalat bukan masalah yang luar biasa, sehingga koran-koran di Malaysia pun tidak menganggapnya sebagai berita istimewa...

***

RUBAG yang tidak tahu persis letak Ambalat, hanya terpana membaca berita tentang nasionalisme dan patriotisme yang tiba-tiba mencuat. Keprihatinannya pada Bali yang tidak masih seutuhnya milik orang Bali, lebih menonjol dibanding ikut-ikutan mengganyang hal-hal yang dia belum pahami ujung pangkalnya. Lagi pula, perutnya akhir-akhir ini lebih sering kempes gara-gara kenaikan harga BBM, yang membuatnya mengurangi porsi makannya. Gara-gara lapar terus, otaknya tidak lagi mampu berpikir tentang nasionalisme dan patriotisme.

 

Meski lapar, Rubag tanpa sadar tergelak ketika menyaksikan "ketoprak humor" di layar kaca baru-baru ini, dengan adegan saling dorong dan saling tuding. Pemainnya bukan Timbul, Basuki atau Gogon, tapi orang-orang berpenampilan necis dengan dasi dan jas lengkap. Lewat narasi komentator, Rubag  tahu lokasi panggung komedi tersebut ada di gedung terhormat Senayan, Jakarta. Kisahnya tentang pro dan kontra kenaikan BBM. Seperti halnya opera sabun, dia percaya kalau adegan kekerasan di panggung hanya untuk memancing tawa penonton, sesuai skenario sutradara. Cerita pasti akan berakhir dengan happy end dan masing-masing pemain dapat ongkos. Kalau saja Rubag jadi penulis skenario, kisah itu akan diberinya judul "Republik Komedi".

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com