Republik Komedi
''MANUSIA tak hanya perlu roti, juga komedi!" Rubag setuju
dengan filsafat Romawi itu, meski dia tahu kebanyakan rakyat
Indonesia tidak makan roti. Sebab, di mana-mana dia
menyaksikan kelucuan, kekonyolan dan dagelan digelar orang-orang,
tanpa peduli apakah mereka benar-benar pelawak, pejabat, politisi
atau kuli.
Celakanya, tragedi, teror, penindasan dan kemalangan pun dikemas
jadi komedi dan dipentaskan di sembarang tempat. Pengadilan,
parlemen, kantor-kantor pemerintah dan ruang publik disulap jadi
panggung-panggung komedi. Roh-roh Mr.Bean yang konyol dan Charlie
Chaplin yang suka menyakiti diri untuk memancing tawa penonton,
bersinergi dan menyelusup ke sukma aktor-aktor komedi tersebut.
Akibatnya, batas yang lucu dan yang sadis hilang, yang benar dan
yang bohong kabur, malah yang baik bersekutu dengan yang jahat
dalam komedi sosial.
George Barna dalam studinya membagi dua jenis generasi yang lahir
paska Perang Dunia II. Generasi yang lahir antara tahun 1946-1964
disebutnya generasi Baby Boomers dan yang lahir setelah 1964
disebutnya generasi Baby Busters. Kedua generasi tersebut
sama-sama menyerap budaya populer, yang lahir seiring dengan
cita-cita kapitalisme menguasai dunia. Runtuhnya tembok Berlin
tahun 1989, sehingga liberalisme yang menjadi nafas kapitalisme
berhasil merobohkan dua musuh sekaligus -- komunisme dan
nasionalisme. Bersamaan dengan itu, generasi Baby Boomers dan Baby
Busters mengisi umur mereka dengan kekacauan, kebingungan, dan
ketidakpastian.
Revolusi informasi dan komunikasi lewat media elektronika
menambah kemelut jadi tidak berujung pangkal. Sebab, di
tengah-tengah infotaintment yang dimeriahkan "dugem" selebritis
serta gemuruh musiknya, terselip juga panorama berdarah dari
kriminalitas, pemberontakan, separatisme dan terorisme. Yang
memprihatinkan, semua yang tertayang di layar kaca dan dinikmati
seluruh keluarga dalam mengisi waktu luang, dianggap masyarakat
sebagai budaya. Darah dan parfum dimaknai sama, seperti kesadisan
tidak dibedakan dengan kelucuan.
Barna menyebut budaya yang diserap masyarakat dunia dalam setengah
abad ini merupakan budaya yang menghilangkan kepekaan atas
nilai-nilai. Kebudayaan yang tidak mengajarkan perbedaan antara
yang benar dan salah, keindahan dan kejelekan, bahkan kemanusiaan
dan kebinatangan. Jamur yang tumbuh di seluruh permukaan lensa
hati, yang disebarkan budaya itu, menyebabkan tumpulnya moral
manusia. Pembunuhan dan penganiayaan kejam berlatar politik,
ekonomi, agama, sosial dan bahkan budaya terjadi di mana-mana.
Terpidana mati, seorang wanita penjagal bernama Astini, yang
memutilasi tiga korbannya yang sesama wanita adalah salah satu di
antara banyak contoh.
Ikatan Keluarga Orang Hilang (Ikohi) masih punya catatan 13 orang
yang hilang akibat kasus politik di era Orde Baru, menandakan
bahwa rezim Soeharto berkemampuan melebihi David Copperfield dalam
urusan "menghilangkan" orang. Patung Liberty di New York hilang
disulap David selama beberapa menit, Widji Thukul bersama 12
aktivis lain hilang selamanya.
***
HILANGNYA nasionalisme menyebabkan dunia dilanda
demam disintegrasi dan separatisme terutama di kawasan Balkan,
Afrika khususnya Rwanda serta bekas Uni Soviet. Rubag tidak
mengelak kalau di negaranya sendiri, masalah separatisme dan
disintegrasi bukan lagi barang baru, namun telah diperkenalkan
NICA lewat Republik Indonesia Serikatnya (RIS) di awal kemerdekaan.
Aceh, Republik Maluku Selatan dan Papua masih tetap bergolak,
sementara Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) sudah
terkubur.
Sayang, lenyapnya nasionalisme seperti yang didefinisikan Ernest
Renan dan Otto Bauer serta merta diganti, yang oleh Jack Snyder
disebut "Nasionalisme SARA". Nasionalisme ini didefinisikan
sebagai doktrin dimana penganutnya memandang diri mereka sendiri
berbeda karena budaya, sejarah, lembaga atau prinsip-prinsip yang
berdasarkan suku, ras, agama dan antargolongan. Karena menganggap
diri sebagai suatu nation atau bangsa dan merasa khas dalam
berbagai bidang itu, mereka merasa berhak memiliki pemerintahan
sendiri.
Para nasionalis SARA tersebut tidak cukup puas hanya memiliki
negara sendiri, malah dengan mengangkat nilai-nilai budaya
miliknya berupaya memperluas pengaruhnya ke masyarakat negara lain
yang memiliki kekhasan yang sama, sebaliknya mendiskriminasi dan
memusuhi masyarakat yang dianggap "lain". Sayang, budaya kolektif
di Indonesia yang ditujukan untuk meningkatkan solidaritas
dan gotong royong, ternyata digunakan untuk berebut kekuasaan oleh
para elite. Itu berlangsung sejak zaman kerajaan dan sempat mereda
dihantam modernisme, namun sisa-sisanya tumbuh membesar lagi
dirabuk nasionalisme SARA di zaman postmodernisme.
Freek Colombijn dalam artikel "Explaining the violent
solution in Indonesia" menulis bahwa budaya kolektif di negeri ini
memungkinkan untuk menjadikan suatu kelompok yang tidak sejalan
sebagai "yang lain". Konstruksi "yang lain" inilah menyebabkan
mereka bisa diberi label "jahat" dan kemanusiaannya dihilangkan.
Peristiwa kelam dalam perayaan Nyepi, 11 Maret malam lalu yang
terjadi di salah satu sudut kota Denpasar, bisa dianggap sebuah
contoh di samping contoh-contoh lain.
Kata "ganyang" yang berasal dari bahasa Jawa, sebenarnya bernuansa
seram. Kamus Umum Bahasa Indonesia memberi arti "memakan
mentah-mentah, menghancurkan, mengalahkan, mengikis habis" untuk
kata "ganyang". Kata itu mulai populer ketika PKI memprovokasi
masyarakat Indonesia untuk menyerbu Malaysia tahun 1962. Negara
federasi antara Malaya, Brunei, Sabah dan Singapura yang bekas
jajahan Inggris tersebut dianggap proyek Neokolonialisme yang akan
merongrong Indonesia.
Ketua umum PKI, Aidit yang mengklaim punya anggota militan
sebanyak dua setengah juta orang mengaku siap diterjunkan sebagai
sukarelawan ke Kalimantan Utara, bergabung dengan gerakan bawah
tanah yang dipimpin A.M. Azahari di Brunei. Untuk itu, Aidit
bersikeras agar para anggotanya dipersenjatai dan minta pemerintah
meresmikan Angkatan Kelima yang dipimpinnya. Tuntutan yang
mustahil dan lebih cocok disebut lelucon itu tidak menghasilkan
apa-apa. Malah ketika federasi Malaysia diresmikan berdirinya 16
September 1963, kata "ganyang" terus berkumandang sehingga
Deklarasi Ekonomi 23 Maret 1963 yang bertujuan untuk memulihkan
ekonomi Indonesia, justru terganyang lebih dulu. Tragisnya,
seperti senjata makan tuan, PKI dan ratusan ribu anggota dan
simpatisannya menyusul diganyang sebagai akibat terlibatnya
para elite parpol tersebut dalam Gerakan 30 September 1965.
Kata "ganyang" yang selama puluhan tahun nyaris terlupakan,
tiba-tiba muncul gara-gara Malaysia mengakui Blok Ambalat sebagai
wilayahnya. Nyaris semua media massa di Indonesia memuat berita
tentang sengketa itu. Unjuk rasa ke Kedutaan Besar Malaysia yang
bahkan dipimpin beberapa anggota DPR serta kesiapan untuk dikirim
sebagai sukarelawan untuk mengganyang Malaysia terjadi di beberapa
wilayah Tanah Air. Lucunya, Menlu Malaysia yang sempat
berkunjung ke Indonesia mengatakan bahwa sengketa Ambalat bukan
masalah yang luar biasa, sehingga koran-koran di Malaysia pun
tidak menganggapnya sebagai berita istimewa...
***
RUBAG yang tidak tahu persis letak Ambalat,
hanya terpana membaca berita tentang nasionalisme dan patriotisme
yang tiba-tiba mencuat. Keprihatinannya pada Bali yang tidak masih
seutuhnya milik orang Bali, lebih menonjol dibanding ikut-ikutan
mengganyang hal-hal yang dia belum pahami ujung pangkalnya. Lagi
pula, perutnya akhir-akhir ini lebih sering kempes gara-gara
kenaikan harga BBM, yang membuatnya mengurangi porsi makannya.
Gara-gara lapar terus, otaknya tidak lagi mampu berpikir tentang
nasionalisme dan patriotisme.
Meski lapar, Rubag tanpa sadar tergelak ketika menyaksikan "ketoprak
humor" di layar kaca baru-baru ini, dengan adegan saling dorong
dan saling tuding. Pemainnya bukan Timbul, Basuki atau Gogon, tapi
orang-orang berpenampilan necis dengan dasi dan jas lengkap. Lewat
narasi komentator, Rubag tahu lokasi panggung komedi
tersebut ada di gedung terhormat Senayan, Jakarta. Kisahnya
tentang pro dan kontra kenaikan BBM. Seperti halnya opera sabun,
dia percaya kalau adegan kekerasan di panggung hanya untuk
memancing tawa penonton, sesuai skenario sutradara. Cerita pasti
akan berakhir dengan happy end dan masing-masing pemain dapat
ongkos. Kalau saja Rubag jadi penulis skenario, kisah itu akan
diberinya judul "Republik Komedi".
* aridus