''Yadnya''
untuk Kita
Segala
sesuatu yang
dilakukan dengan
ketulusan,
keikhlasan adalah
yadnya.
Kerja
yang tulus adalah
yadnya, belajar
yang tulus adalah
yadnya,
memberikan yang tulus
adalah yadnya,
mempersembahkan
secara tulus
adalah yadnya,
menjaga hidup
dan lingkungan
dengan tulus
adalah yadnya.
Pendeknya
berpikir, berkata
dan berbuat
yang parisudha (yang
suci, yang bebas
dari noda-noda
ketidaktulusan)
adalah yadnya.
Apabila
diwarnai dengan
kecongkakan,
keangkuhan dan
keegoisan,
tentulah tidak
pada tempatnya
lagi upacara
itu kita
tujukan kepada
Tuhan.
Untuk
memperoleh
berbagai macam
keperluan hidup,
kita tidak
perlu "tukar-menukar"
dengan Tuhan,
dengan
cara
mempersembahkan sesuatu
kepada Dia
dan kemudian
Dia memberikan
sesuatu kepada
kita.
Dia
telah menyediakan
segala yang kita
perlukan untuk
hidup dengan
tulus.
Bukankah
bumi (semesta)
milik-Nya beserta
isinya ini
tak pernah
berkeluh kesah
atau melarang
kita saat
kita mengambil
atau menikmati
sesuatu yang ada
padanya?
Ia memberi
tanpa pernah
meminta, tulus
dan ikhlas.
Kita ber-yadnya,
sesungguhnya
hanyalah untuk
keperluan diri
kita sendiri,
sama
sekali bukan
untuk Tuhan.
Karena
Dia punya
segalanya, bahkan
diri kita,
napas kita
adalah milik-Nya.
Kita ber-yadnya,
sebenarnya sebagai
ungkapan lain
atau cara
lain untuk
memberitahukan kepada
Tuhan bahwa
milik-Nya yang
kita perlukan
untuk
melangsungkan kehidupan
ini akan
kita ambil,
kita nikmati.
Ini penting
agar kita tidak
disebut pencuri,
sebagaimana
dinyatakan oleh
Gita, bahwa
makan sebelum
melakukan
persembahan, sebelum
memberitahukan
kepada Dia yang
punya, sama
artinya dengan
memakan hasil
curian atau
memakan dosa.
Memakan setelah
melakukan
persembahan (pemberitahuan)
adalah memakan
prasadam (sisa
hasil persembahan),
yaitu makanan
yang akan
mendatangkan
kesehatan
jasmani dan
rohani.
Kalau
kita menuduh
Tuhan telah
marah dan
menghadirkan
hukuman dan
bencana untuk
kita, apalagi
hanya gara-gara
kita kurang
mempersembahkan
sesuatu kepada-Nya,
tentu ini
adalah tindakan
yang mengkambinghitamkan
Tuhan.
Atau
kita yang tidak
sempurna ini
mencoba untuk
mengukur
keberadaan Tuhan yang
sempurna itu
dengan
ukuran-ukuran kita.
Jadi,
kalau dalam
hidup ini
ada pasang-surut,
suka-duka, ada
kesedihan dan
kegembiraan yang
mewarnai hidup
kita, janganlah
kita terjebak
dalam pemikiran
bahwa ini
adalah Tuhan
yang bersenang
hati atau
ini adalah
Tuhan yang marah
karena kita
mempersembahkan
atau tidak
mempersembahkan sesuatu
kepada-Nya.
Tetapi
sadarilah dan
terimalah keadaan
itu, bahwa
hidup memang
bukan hanya
untuk menuruni
lembah, melainkan
juga mendaki
bukit.
Di
sinilah hidup
itu sebenarnya
menghadirkan
makna, hingga
menarik untuk
dijalani.
Drs.
Gst. Ngurah
Sujaya
Jl.
Antasura,
Gg.
Dewi Madri
No.9
Denpasar