kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 13 Maret 2005 tarukan valas
 

SURAT PEMBACA


''Yadnya'' untuk Kita

Segala sesuatu yang dilakukan dengan ketulusan, keikhlasan adalah yadnya. Kerja yang tulus adalah yadnya, belajar yang tulus adalah yadnya, memberikan yang tulus adalah yadnya, mempersembahkan secara tulus adalah yadnya, menjaga hidup dan lingkungan dengan tulus adalah yadnya. Pendeknya berpikir, berkata dan berbuat yang parisudha (yang suci, yang bebas dari noda-noda ketidaktulusan) adalah yadnya. Apabila diwarnai dengan kecongkakan, keangkuhan dan keegoisan, tentulah tidak pada tempatnya lagi upacara itu kita tujukan kepada Tuhan.

Untuk memperoleh berbagai macam keperluan hidup, kita tidak perlu "tukar-menukar" dengan Tuhan, dengan cara mempersembahkan sesuatu kepada Dia dan kemudian Dia memberikan sesuatu kepada kita. Dia telah menyediakan segala yang kita perlukan untuk hidup dengan tulus. Bukankah bumi (semesta) milik-Nya beserta isinya ini tak pernah berkeluh kesah atau melarang kita saat kita mengambil atau menikmati sesuatu yang ada padanya? Ia memberi tanpa pernah meminta, tulus dan ikhlas.

Kita ber-yadnya, sesungguhnya hanyalah untuk keperluan diri kita sendiri, sama sekali bukan untuk Tuhan. Karena Dia punya segalanya, bahkan diri kita, napas kita adalah milik-Nya. Kita ber-yadnya, sebenarnya sebagai ungkapan lain atau cara lain untuk memberitahukan kepada Tuhan bahwa milik-Nya yang kita perlukan untuk melangsungkan kehidupan ini akan kita ambil, kita nikmati. Ini penting agar kita tidak disebut pencuri, sebagaimana dinyatakan oleh Gita, bahwa makan sebelum melakukan persembahan, sebelum memberitahukan kepada Dia yang punya, sama artinya dengan memakan hasil curian atau memakan dosa. Memakan setelah melakukan persembahan (pemberitahuan) adalah memakan prasadam (sisa hasil persembahan), yaitu makanan yang akan mendatangkan  kesehatan jasmani dan rohani.

Kalau kita menuduh Tuhan telah marah dan menghadirkan hukuman dan bencana untuk kita, apalagi hanya gara-gara kita kurang mempersembahkan sesuatu kepada-Nya, tentu ini adalah tindakan yang mengkambinghitamkan Tuhan. Atau kita yang tidak sempurna ini mencoba untuk mengukur keberadaan Tuhan yang sempurna itu dengan ukuran-ukuran kita.

Jadi, kalau dalam hidup ini ada pasang-surut, suka-duka, ada kesedihan dan kegembiraan yang mewarnai hidup kita, janganlah kita terjebak dalam pemikiran bahwa ini adalah Tuhan yang bersenang hati atau ini adalah Tuhan yang marah karena kita mempersembahkan atau tidak mempersembahkan  sesuatu kepada-Nya. Tetapi sadarilah dan terimalah keadaan itu, bahwa hidup memang bukan hanya untuk menuruni lembah, melainkan juga mendaki bukit. Di sinilah hidup itu sebenarnya menghadirkan makna, hingga menarik untuk dijalani.

 

Drs. Gst. Ngurah Sujaya
Jl
. Antasura,
Gg
. Dewi Madri No.9

Denpasar

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com