kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 13 Maret 2005 tarukan valas
 

POTRET


I Nyoman Musna
Mengajak Berwawasan Global, Berbasis Tradisional

Bali Post telah menggelar pemilihan Guru Ajeg Bali (GAB) 2005. Penghargaan ini diberikan kepada lima guru SD, lima guru SMP, dan lima guru SMA. Salah seorang di antaranya adalah Drs. I Nyoman Musna, guru SMP. Pria kelahiran Kuta, 20 Februari 1962 ini kini mengabdi sebagai guru SMP Sunariloka, Kuta. Berikut petikan wawancara Bali Post dengan suami dari Ni Wayan Netriani, ayah satu putri, yang kini juga menjabat sebagai Penyarikan Desa Adat Kuta, pelatih/pembina Pramuka Kabupaten Badung, pembina OSIS dan KSPA (Kelompok Siswa Peduli AIDS), serta pengawas LPD Kuta ini.

---------------------------

BAGAIMANA ceritanya Anda memilih profesi sebagai guru?

Niat menjadi guru itu muncul ketika saya duduk di bangku SMP. Awalnya, guru agama saya yang bernama Pak Nengah Putrawan mengajari saya tentang wariga. Oleh Pak Putrawan, kelahiran saya dicek dengan astawara, yang ujung-ujungnya menurutnya saya cocok jadi guru. Kemudian tamat SMP pada 1975, saya ingin melanjutkan ke SPG. Testing pun saya ikuti dengan persiapan lumayan mantap. Namun sayang, saya dinyatakan tidak lulus. Untuk mengobati kekecewaan itu, saya melanjutkan ke STM Nasional dan memilih jurusan listrik. Setahun kemudian, saya kembali testing ke SPGN Denpasar. Lagi-lagi saya tidak lulus. Akhirnya saya kembali ke STM.

 

Apa Anda diterima kembali?

Ya. Sebagai murid saya selalu terpilih sebagai juara kelas. Atas prestasi itu akhirnya saya dipilih jadi ketua OSIS dan ketua ekstra Pramuka. Tamat STM saya melanjutkan ke IKIP Mahasaraswati Denpasar, mengambil jurusan matematika. Saya pilih jurusan matematika karena ada ilmu pasti. Saya senang ilmu pasti. Tetapi, tanpa diduga pada tahun 1984 aturan berubah, tak lagi ada BA dan harus sampai S1. Saya ikuti aturan itu. Mungkin dilihat kreatif, maka saya dipilih sebagai ketua korti. Di tengah-tengah berlangsungnya kuliah, pada semester tujuh, ternyata adik saya sakit keras. Saya mengurusnya sehingga dengan berat hati saya memutuskan harus berhenti kuliah.

 

Lalu?

Saya menanggung biaya adik di rumah sakit, saya harus bekerja. Kebetulan saat itu saya sudah mengabdi di SMP Sunariloka, Kuta. Pagi hari saya bertugas jadi guru, siangnya jadi kolektor sebuah bank swasta yang bertugas memungut uang di daerah Pantai Kuta. Setelah adik saya sembuh, saya berhenti jadi pegawai bank, namun mengabdi di SMP Sunariloka tetap. Awalnya, saya mengajar tiga kelas, lama kelamaan dipercaya kepala sekolah mengajar enam kelas.

 

Adakah pengalaman yang mendukung Anda menjadi guru?

Sebenarnya, pengalaman saya tidak maksimal di bidang keguruan. Mungkin karena karma saya harus jadi guru, makanya saya jadi guru. Padahal, saya secara pendidikan belum tamatan guru. Tetapi saya sudah jadi guru sejak 1982 sampai sekarang.

* * *

 

Kuta dikenal sebagai kawasan wisata internasional. Bagaimana cara Anda membina anak-anak di sana agar tetap ingat dengan budaya Bali?

Memang, anak-anak yang tinggal di Kuta sering dikonotasikan ke hal-hal negatif. Sebagai guru, saya tidak hanya membina di kelas, tetapi juga membina pola pemahaman hidup, seperti etika dan moralitas. Saya selalu menjaga, bahkan juga berperan sebagai orang yang memberikan ceramah-ceramah kilat dalam pembinaan OSIS dan Pramuka. Saya selalu memberikan masukan-masukan untuk mengantisipasi arus globalisasi dan modernisasi yang masuk ke daerah Kuta. Pada kesempatan itu, saya masukkan tatanan kehidupan beragama, adat, maupun budaya. Juga melakukan kegiatan lomba-lomba yang berbau tradisional. Misalnya, menggelar lomba penjor, membuat klakat, berpidato bahasa Bali dan lomba makekawin rutin tiap tahun. Untuk mengantisipasi kelakuan yang berbau narkoba, saya juga memberikan ceramah HIV/AIDS.

 

Dalam memberikan pelajaran tentu tidak semua anak bisa mengerti. Kalau ada siswa yang kurang mengerti, bagaimana cara Anda mengatasinya?

Khusus bagi anak yang kurang mengerti, saya berikan pelajaran tambahan di luar jam sekolah. Pelajaran tambahan ini biasa dilakukan di rumah. Saya siap mengajar siswa-siswa yang kurang, asal niat untuk belajar itu ada.

 

Siswa sekarang agak sulit memahami pelajaran ilmu pasti, bagaimana cara Anda mengajar agar anak didik tertarik pelajaran matematika misalnya?

Saya selalu berusaha mengarahkan anak-anak senang dengan pelajaran matematika. Sekarang saya sedang mengadakan program work shop matematika. Jadi siswa diajak ke dalam sebuah ruangan khusus untuk belajar matematika, supaya lebih menarik dan menyenangkan, sehingga apa yang dianggap sulit oleh siswa tidak ada lagi.

 

Apakah Anda memiliki cara khusus untuk mengajar?

Setiap guru punya seni mengajar masing-masing. Dalam mengajar, saya memiliki cara bagaimana menjadi sahabat mereka, tidak lagi sebagai guru yang terkesan otoriter, seolah-olah dari atas ke bawah. Di sana, saya sebagai teman belajar berusaha menjaga keakraban antara guru dan siswa secara wajar. Dengan begitu, tidak akan ada jarak, siswa dengan mudah menyampaikan kesulitan-kesulitan belajarnya. Saya punya strategi, anak-anak yang kurang diberikan pemahaman lebih banyak, sedangkan anak yang pintar diberikan tambahan pengetahuan. Anak yang pintar matematika akan diberikan kesempatan untuk terus berkembang, sedangkan anak yang kurang diberikan pemahaman atau diisi lebih banyak. Dengan begitu, akan terjadi pengangkatan derajat anak-anak yang kurang mampu itu.

 

Ada teknik lain?

Dalam mengajar, saya sering melakukan selingan lucu-lucuan. Dalam melucu itu saya memasukkan filsafat agama dan filsafat hidup. Jadi, siswa tidak mutlak belajar matematika saja, tetapi juga belajar budaya. Keseimbangan dalam belajar juga diterapkan dengan melakukan meditasi. Setiap akan mengajar, saya selalu awali dengan meditasi. Meditasi dilakukan untuk menenangkan pikiran dan untuk menghilangkan stres anak. Setelah tenang, baru memulai pelajaran matematika. Dalam mengajar saya juga menyelingi dengan cerita-cerita menarik dan mengandung unsur pendidikan, agama, dan budaya, untuk menghindarkan diri dari ancaman arus globalisasi di Kuta. Dengan begitu, anak-anak yang stres belajar matematika tak akan terasa, sehingga dengan waktu dua jam pelajaran setiap pertemuan akan tidak terasa.
 

Apa sukanya mengajar di SMP?

Anak-anak di SMP Sunariloka penuh keakraban dan kebersamaan antarsiswa maupun dengan gurunya. Sikap saling menghargai dan menghormati sangat tinggi, sehingga saya betul-betul merasa bangga menjadi guru swasta. Saya ingin membina anak itu sampai mendapatkan nilai sembilan bahkan sampai sepuluh. Kalau sudah tercapai, saya akan merasa senang. Anak-anak yang mendapat nilai sembilan saya berikan hadiah. Dana untuk hadiah ini dari kocek saya sendiri. Hal ini rutin saya lakukan setiap tahun. Tahun kemarin ini saya harus memberikan 15 cincin emas kepada 15 anak yang tamat dengan nilai memuaskan. Kebanggaan saya yang lain, siswa polos, saya dengan siswa seperti teman. Saya yakin, dengan keakraban itu akan terasa enak dalam mengungkapkan masalah. Jika ada keterbukaan, anak-anak akan mendapatkan pengetahuan lebih banyak. Dengan begitu, saya gampang mengajar dan anak akan senang belajar. Dan yang menjadi kebanggaan selama mengajar, ada rasa kasih anak itu terhadap gurunya.

 

Lalu dukanya?

Oleh karena saya mengajar banyak dalam satu kelas -- ada sekitar 48 siswa, jelas ada anak yang tak mampu mengikuti pelajaran. Di sinilah terkadang saya merasa sedih. Tetapi saya tetap memperhatikan hal ini. Sebagai guru swasta, saya juga terbentur dengan hal-hal yang berbau ekonomi. Apalagi mengajar di Kuta yang kebutuhan ekonominya sangat tinggi. Tetapi, karena sudah komitmen menjadi guru, saya harus bertanggung jawab dan menanggung risiko, walaupun gaji kecil.

 

Apakah Anda pernah mengajukan lamaran menjadi PNS?

Sejak kecil saya memang orang swasta. Sekolah SD, SMP, SMA dan mahasiswa, swasta semua. Bahkan sekarang mengajar di swasta. Mungkin saya ini sudah jodoh atau karma saya jadi orang swasta. Dulu, ketika saya mengikuti tes sebagai guru matematika untuk ke luar negeri, hasilnya gagal. Kegagalan itu karena saya bukan PNS. Jujur saja, ada kesan guru swasta dinomorduakan pemerintah karena swasta itu dianggap belum maksimal berjuang. Padahal kalau tidak ada swasta, tidak semua usia sekolah bisa mendapat pendidikan yang layak. Tetapi, syukur belakangan ini pemerintah mulai menoleh ke swasta.

 * * *

 

Anda bangga menjadi guru di daerah pariwisata?

Sebagai guru di Kuta, saya selalu berusaha dan tetap berjuang untuk mengantisipasi generasi muda. Walaupun berada dalam dunia pariwisata, saya menginginkan generasi muda di Kuta itu memahami jati dirinya sebagai orang Bali. mereka harus tahu taksu Bali dan karakteristik orang Bali yang sesungguhnya. Inilah yang sering saya sebut berwawasan global yang berbasis tradisional. Walaupun kita berada dalam dunia globalisasi, tetapi tradisional kita tidak hilang. Kita lahir, hidup, dan mati di Bali, wawasan tradisional Bali harus dijaga. Walaupun saya bukan guru agama, tetapi saya juga memberikan pemahaman tentang konsep Hindu Bali yang kental.

 

Selain jadi guru, profesi apa lagi yang Anda geluti?

Saya hanya jadi guru, tidak memiliki usaha apa-apa lagi. Kalau di masyarakat saya pernah menjadi wakil klian, yang baru tahun kemarin diganti. Sekarang saya jadi sekretaris Desa Adat Kuta, juga merangkap sebagai pengawas LPD. Dalam organisasi Pramuka, saya sebagai pelatih pembina Pramuka Kabupaten Badung.

* pewawancara:
  
budarsana
   astra prayoga


BIODATA

Nama                            :  Drs. I Nyoman Musna
TTL                              :  Kuta, 20 Februari 1962
Pekerjaan                     :  Guru SMP Sunariloka, Kuta
Istri                              :  Ni Wayan Netriani
Anak                             :  Abelia Putri
Alamat                          :  Br. Teba Sari, Jalan Bakung Sari 
                                       Gg
. Teratai No. 1 Kuta

Organisasi:

-  Penyarikan Desa Adat Kuta periode 2003-2008
-  Pelatih Pembina Pramuka Kabupaten Badung
-  Pembina OSIS dan KSPA (Kelompok Siswa Peduli AIDS
-  Pengawas LPD Kuta

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com