I Nyoman Musna
Mengajak Berwawasan Global, Berbasis
Tradisional
Bali Post
telah menggelar pemilihan Guru Ajeg Bali (GAB) 2005.
Penghargaan ini diberikan kepada
lima
guru SD, lima guru SMP,
dan lima guru SMA.
Salah seorang di antaranya adalah Drs. I Nyoman Musna, guru SMP.
Pria kelahiran Kuta, 20 Februari 1962 ini kini mengabdi sebagai
guru SMP Sunariloka, Kuta. Berikut
petikan wawancara Bali Post dengan suami dari Ni Wayan Netriani,
ayah satu putri, yang kini juga menjabat sebagai Penyarikan Desa
Adat Kuta, pelatih/pembina Pramuka Kabupaten Badung, pembina OSIS
dan KSPA (Kelompok Siswa Peduli AIDS), serta pengawas LPD Kuta
ini.
---------------------------
BAGAIMANA
ceritanya Anda memilih profesi sebagai guru?
Niat
menjadi guru itu muncul ketika saya duduk di bangku SMP.
Awalnya, guru agama saya yang bernama Pak
Nengah Putrawan mengajari saya tentang wariga. Oleh Pak
Putrawan, kelahiran saya dicek dengan astawara, yang
ujung-ujungnya menurutnya saya cocok jadi guru.
Kemudian tamat SMP pada 1975, saya ingin
melanjutkan ke SPG. Testing pun saya
ikuti dengan persiapan lumayan mantap.
Namun sayang, saya dinyatakan tidak lulus.
Untuk mengobati kekecewaan itu, saya
melanjutkan ke STM Nasional dan memilih jurusan listrik.
Setahun kemudian, saya kembali testing ke SPGN
Denpasar. Lagi-lagi saya tidak lulus.
Akhirnya saya kembali ke
STM.
Apa Anda
diterima kembali?
Ya.
Sebagai murid saya selalu terpilih sebagai
juara kelas. Atas prestasi itu akhirnya
saya dipilih jadi ketua OSIS dan ketua ekstra Pramuka.
Tamat STM saya melanjutkan ke IKIP
Mahasaraswati Denpasar, mengambil jurusan matematika.
Saya pilih jurusan matematika karena ada ilmu
pasti. Saya senang ilmu pasti.
Tetapi, tanpa diduga pada tahun 1984 aturan
berubah, tak lagi ada BA dan harus sampai S1.
Saya ikuti aturan itu.
Mungkin dilihat kreatif, maka saya dipilih
sebagai ketua korti. Di tengah-tengah
berlangsungnya kuliah, pada semester tujuh, ternyata adik saya
sakit keras. Saya
mengurusnya sehingga dengan berat hati saya memutuskan harus
berhenti kuliah.
Lalu?
Saya
menanggung biaya adik di rumah sakit, saya harus bekerja.
Kebetulan saat itu saya sudah mengabdi di SMP
Sunariloka, Kuta. Pagi hari saya
bertugas jadi guru, siangnya jadi kolektor sebuah bank swasta yang
bertugas memungut uang di daerah Pantai Kuta.
Setelah adik saya sembuh, saya berhenti jadi
pegawai bank, namun mengabdi di SMP Sunariloka tetap.
Awalnya, saya mengajar tiga kelas, lama
kelamaan dipercaya kepala sekolah mengajar enam kelas.
Adakah
pengalaman yang mendukung Anda menjadi guru?
Sebenarnya,
pengalaman saya tidak maksimal di bidang keguruan.
Mungkin karena karma saya harus jadi guru,
makanya saya jadi guru. Padahal, saya
secara pendidikan belum tamatan guru.
Tetapi saya sudah jadi guru
sejak 1982 sampai sekarang.
* * *
Kuta
dikenal sebagai kawasan wisata internasional.
Bagaimana cara Anda membina anak-anak
di sana agar tetap ingat dengan budaya Bali?
Memang,
anak-anak yang tinggal di Kuta sering dikonotasikan ke hal-hal
negatif.
Sebagai guru, saya tidak hanya membina di
kelas, tetapi juga membina pola pemahaman hidup, seperti etika dan
moralitas. Saya selalu menjaga, bahkan
juga berperan sebagai orang yang memberikan ceramah-ceramah kilat
dalam pembinaan OSIS dan Pramuka. Saya
selalu memberikan masukan-masukan untuk mengantisipasi arus
globalisasi dan modernisasi yang masuk ke daerah Kuta.
Pada kesempatan itu, saya masukkan tatanan
kehidupan beragama, adat, maupun budaya.
Juga melakukan kegiatan lomba-lomba yang
berbau tradisional. Misalnya, menggelar
lomba penjor, membuat klakat, berpidato bahasa
Bali
dan lomba makekawin rutin tiap tahun.
Untuk mengantisipasi
kelakuan yang berbau narkoba, saya juga memberikan ceramah
HIV/AIDS.
Dalam
memberikan pelajaran tentu tidak semua anak bisa mengerti.
Kalau ada siswa yang kurang mengerti, bagaimana
cara Anda mengatasinya?
Khusus bagi
anak yang kurang mengerti, saya berikan pelajaran tambahan di luar
jam sekolah.
Pelajaran tambahan ini biasa dilakukan di
rumah. Saya siap
mengajar siswa-siswa yang kurang, asal niat untuk belajar itu ada.
Siswa
sekarang agak sulit memahami pelajaran ilmu pasti, bagaimana
cara Anda mengajar agar anak didik
tertarik pelajaran matematika misalnya?
Saya selalu
berusaha mengarahkan anak-anak senang dengan pelajaran matematika.
Sekarang saya sedang mengadakan program work shop matematika. Jadi
siswa diajak ke dalam sebuah ruangan khusus untuk belajar
matematika, supaya lebih menarik dan menyenangkan, sehingga
apa yang dianggap sulit oleh siswa
tidak ada lagi.
Apakah Anda
memiliki cara khusus untuk mengajar?
Setiap guru
punya seni mengajar masing-masing.
Dalam mengajar, saya memiliki cara
bagaimana menjadi sahabat mereka, tidak lagi sebagai guru yang
terkesan otoriter, seolah-olah dari atas ke bawah. Di
sana,
saya sebagai teman belajar berusaha menjaga keakraban antara guru
dan siswa secara wajar. Dengan begitu, tidak
akan ada jarak, siswa dengan mudah menyampaikan
kesulitan-kesulitan belajarnya. Saya punya
strategi, anak-anak yang kurang diberikan pemahaman lebih banyak,
sedangkan anak yang pintar diberikan tambahan pengetahuan.
Anak yang pintar matematika akan
diberikan kesempatan untuk terus berkembang, sedangkan anak yang
kurang diberikan pemahaman atau diisi lebih banyak. Dengan begitu,
akan terjadi pengangkatan derajat
anak-anak yang kurang mampu itu.
Ada teknik
lain?
Dalam
mengajar, saya sering melakukan selingan lucu-lucuan.
Dalam melucu itu saya memasukkan filsafat
agama dan filsafat hidup. Jadi, siswa
tidak mutlak belajar matematika saja, tetapi juga belajar budaya.
Keseimbangan dalam belajar juga diterapkan
dengan melakukan meditasi. Setiap akan
mengajar, saya selalu awali dengan meditasi.
Meditasi dilakukan untuk menenangkan pikiran dan untuk
menghilangkan stres anak. Setelah
tenang, baru memulai pelajaran matematika.
Dalam mengajar saya juga menyelingi dengan
cerita-cerita menarik dan mengandung unsur pendidikan, agama, dan
budaya, untuk menghindarkan diri dari ancaman arus globalisasi di
Kuta. Dengan begitu, anak-anak yang stres belajar
matematika tak akan terasa, sehingga
dengan waktu dua jam pelajaran setiap pertemuan akan tidak terasa.
Apa
sukanya mengajar di SMP?
Anak-anak
di SMP Sunariloka penuh keakraban dan kebersamaan antarsiswa
maupun dengan gurunya.
Sikap saling menghargai dan menghormati sangat
tinggi, sehingga saya betul-betul merasa bangga menjadi guru
swasta. Saya ingin membina anak itu
sampai mendapatkan nilai sembilan bahkan sampai sepuluh.
Kalau sudah tercapai, saya akan merasa
senang. Anak-anak yang mendapat nilai sembilan
saya berikan hadiah. Dana untuk hadiah
ini dari kocek saya sendiri. Hal ini
rutin saya lakukan setiap tahun. Tahun
kemarin ini saya harus memberikan 15 cincin emas kepada 15 anak
yang tamat dengan nilai memuaskan. Kebanggaan saya yang
lain, siswa polos, saya dengan siswa
seperti teman. Saya yakin, dengan keakraban itu
akan terasa enak dalam mengungkapkan
masalah. Jika ada keterbukaan, anak-anak akan
mendapatkan pengetahuan lebih banyak. Dengan begitu, saya gampang
mengajar dan anak akan senang belajar.
Dan yang menjadi
kebanggaan selama mengajar, ada rasa kasih anak itu terhadap
gurunya.
Lalu
dukanya?
Oleh karena
saya mengajar banyak dalam satu kelas -- ada sekitar 48 siswa,
jelas ada anak yang tak mampu mengikuti pelajaran.
Di sinilah terkadang saya merasa sedih.
Tetapi saya tetap memperhatikan hal ini.
Sebagai guru swasta, saya juga terbentur
dengan hal-hal yang berbau ekonomi.
Apalagi mengajar di Kuta yang kebutuhan ekonominya sangat tinggi.
Tetapi, karena sudah
komitmen menjadi guru, saya harus bertanggung jawab dan menanggung
risiko, walaupun gaji kecil.
Apakah Anda
pernah mengajukan lamaran menjadi PNS?
Sejak kecil
saya memang orang swasta.
Sekolah SD,
SMP, SMA dan mahasiswa, swasta semua.
Bahkan sekarang mengajar di swasta.
Mungkin saya ini sudah jodoh atau karma saya
jadi orang swasta. Dulu, ketika saya
mengikuti tes sebagai guru matematika untuk ke luar negeri,
hasilnya gagal. Kegagalan itu karena
saya bukan PNS. Jujur saja, ada kesan
guru swasta dinomorduakan pemerintah karena swasta itu dianggap
belum maksimal berjuang. Padahal kalau tidak ada swasta,
tidak semua usia sekolah bisa mendapat
pendidikan yang layak.
Tetapi, syukur belakangan ini pemerintah mulai menoleh ke swasta.
* * *
Anda bangga
menjadi guru di daerah pariwisata?
Sebagai guru di Kuta, saya selalu berusaha dan
tetap berjuang untuk mengantisipasi generasi muda.
Walaupun berada dalam dunia pariwisata, saya
menginginkan generasi muda di Kuta itu memahami jati dirinya
sebagai orang
Bali.
mereka harus tahu taksu Bali dan
karakteristik orang Bali yang sesungguhnya.
Inilah yang sering saya sebut berwawasan global yang berbasis
tradisional. Walaupun kita berada dalam
dunia globalisasi, tetapi tradisional kita tidak hilang.
Kita lahir, hidup, dan mati di
Bali,
wawasan tradisional Bali harus dijaga.
Walaupun saya bukan guru
agama, tetapi saya juga memberikan pemahaman tentang konsep Hindu
Bali yang kental.
Selain jadi
guru, profesi apa lagi yang Anda
geluti?
Saya hanya
jadi guru, tidak memiliki usaha apa-apa lagi.
Kalau di masyarakat saya pernah menjadi wakil
klian, yang baru tahun kemarin diganti.
Sekarang saya jadi sekretaris Desa Adat Kuta, juga merangkap
sebagai pengawas LPD.
Dalam organisasi Pramuka, saya sebagai pelatih
pembina Pramuka Kabupaten Badung.
*
pewawancara:
budarsana
astra prayoga
BIODATA
Nama
: Drs. I Nyoman Musna
TTL
: Kuta, 20 Februari 1962
Pekerjaan
: Guru SMP Sunariloka, Kuta
Istri
: Ni Wayan Netriani
Anak
: Abelia Putri
Alamat
: Br. Teba Sari, Jalan Bakung Sari
Gg. Teratai No. 1 Kuta
Organisasi:
- Penyarikan Desa Adat Kuta periode 2003-2008
- Pelatih Pembina Pramuka Kabupaten Badung
- Pembina OSIS dan KSPA (Kelompok Siswa Peduli AIDS
- Pengawas LPD Kuta