kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 13 Maret 2005 tarukan valas
 

OPINI


''Casting''
 

PEMILIHAN pemeran untuk membintangi suatu film atau sinetron dalam satu acara audisi disebut casting. Caster adalah orang yang bertugas untuk seleksi itu -- mereka adalah kelompok ahli yang memiliki proyeksi, jenis macam apa fisik mental karakter kepribadian tokoh yang dikehendaki oleh script atau skenario. Fisiknya, karakter kepribadiannya, dan hal-hal lain yang bersifat spesifik, selalu jadi bahan pertimbangan. Tiga hal tersebut sangat berkaitan dengan kebutuhan kamera, agar film atau sinetron yang lebih menekankan berekspresi dengan bahasa gambar, tak menjadi terlalu cerewet dengan dominasi kata.

Casting hidup di dunia modern. Dia lazimnya ditandai dengan semangat gebyar dan kemeriahan, saat ratusan remaja putra-putri berkumpul mengadu nasib, kiranya dirinya bisa terpakai. Berdasarkan penafsiran masing-masing, segala upaya mereka lakukan untuk meyakinkan bapak caster, bahwa, dialah yang cocok untuk membintangi film atau sinetron dimaksud. Hal-hal unik, tingkah lucu, vulgaritas, realisme, teaterikal dan sebagainya berdasarkan persepsi masing-masing, biasanya muncul di arena casting.

Dalam kehidupan teater tradisional semisal Arja, Gambuh, Topeng, Drama Gong, Ludruk, Ketoprak, Barong dan lain-lain, terminologi casting tidak dikenal. Mungkin secara tidak tepat, pemahaman pemasangan pemain itu sudah diganti dengan   "bon". Di kelompok Arja Bon Bali misalnya, beberapa pemeran dari grup lain dipinjam untuk memperkuat penampilan. Bedanya, yang tradisional sunyi, sedang yang bernama audisi-casting selalu ditandai dengan acara gebyar gemerlap padat sponsor, teristimewa dengan hadir berkumpulnya ratusan wanita cantik dan pemuda ganteng dari mana-mana. Mereka mengadu keberuntungan, siapa tahu bisa kepakai untuk menjadi selebritis.

Citra miring terjadi bahwa dunia selebritis adalah dunia "rusak" sering terdengar. Kawin cerai, selingkuh, gonta-panti pasangan, sampai cinlok atau cinta lokasi, adalah bagian-bagian yang dikecam, namun ulah mereka di layar film atau di televisi selalu ditonton dan menghibur. Ibu-ibu yang termakan citra ini dengan bersembunyi di balik moralitas, mati-matian melarang anak gadisnya untuk ambil bagian di audisi casting, sedang ibu-ibu yang lain mendorong anak-anak gadisnya untuk meraih kesempatan untuk menjadi selebritis yang kaya, populer, terkenal, rumah bagus, dan naik turun mobil. "Kayak di sinetron-sinetron itu lho," ujar mereka.

***

 

Di era globalisasi ini, media massa khususnya audio visual memang secara dahsyat menguasai diri kita. Pada saat kitab-kitab suci menjadi bulukan tak terbaca di rak-rak buku, pada saat itulah seluruh bangsa ini sedang "menganga" di depan televisi disuapi mimpi dongeng dari negeri antah berantah yang begitu kaya. Kemelaratan untuk sementara terlupakan, demo BBM untuk sementara dihentikan, polisi tak jadi galak lagi, tentara bengong di barak-barak, kecantikan para bintang membuat turun stres bapak-bapak berduit seraya bertanya, "Berapa tarifnya?"

Komando bangsa ini seperti berada di tangan sinetron.

 Dari semua itu, kitalah produsernya, pembuatnya. Yang membuat kita, yang sutradarai kita, yang menyensor kita, yang nonton kita, yang terhibur kita, dan yang main adalah anak-anak kita. Kemudian setelah diputar, yang marah-marah kita, yang memaki kita, yang menyuruh bredel kita, dan yang korban adalah anak-anak kita. Sudah lama ceritanya kayak begitu dan sampai kapan akan kayak begitu, tidak tahu.

***

 

Hari itu ada 300-an pria-wanita yang mengikuti acara audisi-casting untuk rencana pembuatan film "Langit Biru Laut Biru". Sinopsisnya berbunyi sbb.;

"Karena hamil di luar pernikahan, Vera yang cantik, mahasiswi teologi, berniat mengadukan Dunde yang playboy anak seorang pengusaha kaya raya ke pengadilan. Chaos-nya terjadi, Vera yang dari segi hukum benar, harus dikalahkan di pengadilan, karena uang sogokannya terhadap hakim lebih sedikit dibanding lawannya. Tetapi sosok tampan yang berperan sebagai pengacara Vera, dapat imbalan istimewa dari Vera, seks. Bahkan kemudian ketahuan, bahwa bayi yang dikandung Vera sebenarnyalah bukan bayi Dunde, tetapi bayi sang pengacara dan oknum hakimnya juga ikut bermain di dalamnya."

Untuk film "Langit Biru Laut Biru" ini, yang dicari dalam audisi hanya dua orang, yaitu yang akan diserahi peran sebagai Vera dan sebagai playboy Dunde. Sedangkan yang mendaftar 300-an orang.

"Ini sungguh lapangan kerja baru," bisik seseorang yang mengantar anak gadisnya.

"Sudah waktunya sekolah seni membuka jurusan  sinematografi," jawab yang lain.

"Industri mimpi yang beginilah yang paling laku di negara kita."

"India bisa jual mimpi, kenapa kita tidak?"

"Tapi dunia selebritis itu haram hukumnya, bung!"

"Nah itu dia, kumat lagi. Urusan kita ini perut, bung. Lalu ngapain bung ke mari?"

Perselisihan semacam itu hanyalah angin lalu. Yang sok moral jumlahnya segudang di sini, yang munafik jumlahnya juga tak kurang.

"Selanjutnya kami panggil peserta dengan nomor undi 291," terdengar panggilan dari pengeras suara.

 Peserta dengan nomor undi 291 maju ke depan juri atau caster. Peserta ini mengenakan rok mini ketat yang dipakai agak melorot ke bawah hingga pusar perutnya yang digantungi anting-anting  terlihat. Pahanya cantik mulus, buah dada besar yang ditonjok ke posisi lebih tinggi, bibir merah darah, mata dipertajam eyes shadow, rambut dua warna merah dan hijau, dan percaya diri.

"Selamat siang, Om," sapanya pada juri.

"Sudah pernah main film?" tanya juri.

"Sudah sering."

"Film apa?"

"Ah, masa Om lupa. Film saya pastilah sudah ada di koleksi 'BF'-nya Om, kan?"

Juri terhenyak. "Tapi yang kamu main, justru saya belum punya? Okeylah kalau begitu," lanjut juri, "malam nanti datang ke hotel saya ya, ini nomor kamar saya. Om casting kamu di sana.

"Beres, Om."

Selanjutnya, berapa banyak wanita yang akan di-casting Om itu di kamar hotelnya, tak begitu perlu diterangkan, juga tak perlu dipertanyakan, sebab demi popularitas, demi kekayaan, demi naik turun mobil, demi hidup yang diimpikan, di tengah langkanya lapangan kerja, apapun bisa dikerjakan.

 

* abu baker

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com