''Casting''
PEMILIHAN
pemeran untuk membintangi suatu film atau sinetron dalam satu
acara audisi disebut casting. Caster adalah orang yang bertugas
untuk seleksi itu -- mereka adalah kelompok ahli yang memiliki
proyeksi, jenis macam apa fisik mental karakter kepribadian tokoh
yang dikehendaki oleh script atau skenario. Fisiknya, karakter
kepribadiannya, dan hal-hal lain yang bersifat spesifik, selalu
jadi bahan pertimbangan. Tiga hal tersebut sangat berkaitan dengan
kebutuhan kamera, agar film atau sinetron yang lebih menekankan
berekspresi dengan bahasa gambar, tak menjadi terlalu cerewet
dengan dominasi kata.
Casting hidup di dunia modern. Dia lazimnya
ditandai dengan semangat gebyar dan kemeriahan, saat ratusan
remaja putra-putri berkumpul mengadu nasib, kiranya dirinya bisa
terpakai.
Berdasarkan
penafsiran masing-masing, segala upaya mereka lakukan untuk
meyakinkan bapak caster, bahwa, dialah yang cocok untuk
membintangi film atau sinetron dimaksud. Hal-hal unik, tingkah
lucu, vulgaritas, realisme, teaterikal dan sebagainya berdasarkan
persepsi masing-masing, biasanya muncul di arena casting.
Dalam kehidupan teater tradisional semisal Arja,
Gambuh, Topeng, Drama Gong, Ludruk, Ketoprak, Barong dan
lain-lain, terminologi casting tidak dikenal. Mungkin secara tidak
tepat, pemahaman pemasangan pemain itu sudah diganti dengan
"bon". Di kelompok Arja Bon Bali misalnya, beberapa pemeran dari
grup lain dipinjam untuk memperkuat penampilan. Bedanya, yang
tradisional sunyi, sedang yang bernama audisi-casting selalu
ditandai dengan acara gebyar gemerlap padat sponsor, teristimewa
dengan hadir berkumpulnya ratusan wanita cantik dan pemuda ganteng
dari mana-mana. Mereka mengadu keberuntungan, siapa tahu bisa
kepakai untuk menjadi selebritis.
Citra miring terjadi bahwa dunia selebritis adalah
dunia "rusak" sering terdengar. Kawin cerai, selingkuh,
gonta-panti pasangan, sampai cinlok atau cinta lokasi, adalah
bagian-bagian yang dikecam, namun ulah mereka di layar film atau
di televisi selalu ditonton dan menghibur. Ibu-ibu yang termakan
citra ini dengan bersembunyi di balik moralitas, mati-matian
melarang anak gadisnya untuk ambil bagian di audisi casting,
sedang ibu-ibu yang lain mendorong anak-anak gadisnya untuk meraih
kesempatan untuk menjadi selebritis yang kaya, populer, terkenal,
rumah bagus, dan naik turun mobil. "Kayak di sinetron-sinetron itu
lho," ujar mereka.
***
Di era globalisasi ini, media massa khususnya audio
visual memang secara dahsyat menguasai diri kita. Pada saat
kitab-kitab suci menjadi bulukan tak terbaca di rak-rak buku, pada
saat itulah seluruh bangsa ini sedang "menganga" di depan televisi
disuapi mimpi dongeng dari negeri antah berantah yang begitu kaya.
Kemelaratan untuk sementara terlupakan, demo BBM untuk sementara
dihentikan, polisi tak jadi galak lagi, tentara bengong di
barak-barak, kecantikan para bintang membuat turun stres
bapak-bapak berduit seraya bertanya, "Berapa tarifnya?"
Komando bangsa ini seperti berada di tangan
sinetron.
Dari semua itu, kitalah produsernya, pembuatnya.
Yang membuat kita, yang sutradarai kita, yang menyensor kita, yang
nonton kita, yang terhibur kita, dan yang main adalah anak-anak
kita. Kemudian setelah diputar, yang marah-marah kita, yang memaki
kita, yang menyuruh bredel kita, dan yang korban adalah anak-anak
kita. Sudah lama ceritanya kayak begitu dan sampai kapan akan
kayak begitu, tidak tahu.
***
Hari itu ada 300-an pria-wanita yang mengikuti
acara audisi-casting untuk rencana pembuatan film "Langit Biru
Laut Biru". Sinopsisnya berbunyi sbb.;
"Karena hamil di luar pernikahan, Vera yang cantik,
mahasiswi teologi, berniat mengadukan Dunde yang playboy anak
seorang pengusaha kaya raya ke pengadilan. Chaos-nya terjadi, Vera
yang dari segi hukum benar, harus dikalahkan di pengadilan, karena
uang sogokannya terhadap hakim lebih sedikit dibanding lawannya.
Tetapi sosok tampan yang berperan sebagai pengacara Vera, dapat
imbalan istimewa dari Vera, seks. Bahkan kemudian ketahuan, bahwa
bayi yang dikandung Vera sebenarnyalah bukan bayi Dunde, tetapi
bayi sang pengacara dan oknum hakimnya juga ikut bermain di
dalamnya."
Untuk film "Langit Biru Laut Biru" ini, yang dicari
dalam audisi hanya dua orang, yaitu yang akan diserahi peran
sebagai Vera dan sebagai playboy Dunde. Sedangkan yang mendaftar
300-an orang.
"Ini sungguh lapangan kerja baru," bisik seseorang
yang mengantar anak gadisnya.
"Sudah waktunya sekolah seni membuka jurusan
sinematografi," jawab yang lain.
"Industri mimpi yang beginilah yang paling laku di
negara kita."
"India bisa jual mimpi, kenapa kita tidak?"
"Tapi dunia selebritis itu haram hukumnya, bung!"
"Nah itu dia, kumat lagi. Urusan kita ini perut,
bung. Lalu ngapain bung ke mari?"
Perselisihan semacam itu hanyalah angin lalu. Yang
sok moral jumlahnya segudang di sini, yang munafik jumlahnya juga
tak kurang.
"Selanjutnya kami panggil peserta dengan nomor undi
291," terdengar panggilan dari pengeras suara.
Peserta dengan nomor undi 291 maju ke depan juri
atau caster. Peserta ini mengenakan rok mini ketat yang dipakai
agak melorot ke bawah hingga pusar perutnya yang digantungi
anting-anting terlihat. Pahanya cantik mulus, buah dada
besar yang ditonjok ke posisi lebih tinggi, bibir merah darah,
mata dipertajam eyes shadow, rambut dua warna merah dan hijau, dan
percaya diri.
"Selamat siang, Om," sapanya pada juri.
"Sudah pernah main film?" tanya juri.
"Sudah sering."
"Film apa?"
"Ah, masa Om lupa. Film saya pastilah sudah ada di
koleksi 'BF'-nya Om, kan?"
Juri terhenyak. "Tapi yang kamu main, justru saya
belum punya? Okeylah kalau begitu," lanjut juri, "malam nanti
datang ke hotel saya ya, ini nomor kamar saya. Om casting kamu di
sana.・
"Beres, Om."
Selanjutnya, berapa banyak wanita yang akan
di-casting Om itu di kamar hotelnya, tak begitu perlu diterangkan,
juga tak perlu dipertanyakan, sebab demi popularitas, demi
kekayaan, demi naik turun mobil, demi hidup yang diimpikan, di
tengah langkanya lapangan kerja, apapun bisa dikerjakan.
* abu baker