kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 13 Maret 2005 tarukan valas
 

KELUARGA


Hipertensi
Turunkan Fungsi Kognitif Manula

Hipertensi adalah istilah kesehatan yang acapkali terdengar sehari-hari. Banyak media, cetak maupun elektronik, yang telah mengulasnya. Kadang-kadang disertai dengan berbagai cara pengobatan, modern maupun tradisional. Hipertensi dapat diibaratkan sebagai titik pangkal dari berbagai patologi penyakit ikutannya. Karena tidak menimbulkan gejala yang dapat dirasakan oleh penderita, maka kelainan itu biasanya ditemukan secara tak sengaja saat pasien memeriksakan diri ke dokter karena penyakit lain. Selain itu, hipertensi dapat pula terdeteksi setelah timbul penyakit lain sebagai komplikasinya.

---------------------------

 

PENYAKIT yang sering dikaitkan dengan hipertensi di antaranya meliputi stroke, penyakit jantung, dan penyakit-penyakit pada pembuluh darah jantung atau di luar jantung.

Penelitian Mac Mahon yang dimuat dalam "Lancet" (1990) berhasil membuktikan bahwa hipertensi merupakan faktor risiko dari stroke. Sementara itu masih ada kaitannya dengan penelitian Mac Mahon tersebut, Erkinjuti T dan Van Sieten JC juga menyimpulka dari hasil studi yang mereka laksanakan, bahwa hipertensi berperan besar dalam proses penyakit pembuluh darah kecil dan penyebab gambaran hiperintensitas otak pada pemeriksaan scanning, yakni gambaran dari proses pelisutan atau atrofi otak.

Dari sejumlah penelitian tersebut, maka jelaslah bahwa hipertensi ini berpengaruh secara langsung terhadap proses fisiologi peredaran darah dalam otak. Akibatnya, timbul gangguan aliran darah menuju otak yang pada gilirannya akan mempermudah terjadinya stroke dan atofi otak.

Selama ini, para ahli kurang memperhatikan kaitan hipertensi dan kemampuan kognitif penderitanya. Penurunan fungsi kognitif sendiri diartikan sebagai gangguan defisit fungsi memori, pemecahan masalah, orientasi dan abstraksi. Dari definisi tersebut maka jelas bahwa individu yang menurun fungsi kognitifnya akan tidak memiliki kapasitas untuk berfungsi secara independen sehingga akan sangat tergantung pada orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Lenore J, Launner PhD, diperoleh bukti bahwa hipertensi, khususnya peninggian tekanan darah sistolik, berhubungan langsung dengan penurunan fungsi kognitif pada usia masa usia lanjut (manula). Penelitian yang dimuat dalam "Journal of American Medical Association" ini melibatkan subjek penelitian dalam jumlah yang besar (4.678 pasien) dan jangka waktu follow up yang cukup lama (25 tahun).

 

Periksa Rutin

Hipertensi atau tekanan darah tinggi diartikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik yang lebih besar atau sama dengan 140 mmHg, dan tekanan diastolik yang lebih besar atau sama dengan 90 mmHg.

Sedangkan pengukuran terhadap fungsi kognitif dalam studi tersebut dilakukan dengan menggunakan tes 100 point Cognitivi Abilities Screening Instrument (CASI). Yang diperiksa dalam tes CASI ini meliputi atensi, konsentrasi, orientasi, memori jangka panjang dan pendek, bicara konstruksi visual, kefasihan pembacaan, abstraksi dan penilaian.

Setelah dilakukan kontrol untuk usia dan tingkat pendidikan responden maka diperoleh hasil akhir yang cukup signifikan. Diketahui bahwa kemungkinan terjadinya penurunan fungsi kognitif sedang atau berat makin meningkat sesuai dengan meningkatnya tekanan darah sistolik penderita. Untuk tiap peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 100 mmHg, maka akan terjadi peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif sedang besar 7% dan 9% untuk penurunan fungsi kognitif berat.

Lain dengan kaitan antara fungsi kognitif dan tekanan darah sitolik tersebut, kejadian peningkatan tekanan darah diastolik tidak membawa pengaruh yang merugikan terhadap fungsi kognitif manula.

Dari hasil kesimpulan penelitian tersebut maka makin jelas bahwa hipertensi adalah kelainan yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Karena, di samping membawa peningkatan mortalitas dan morbilitas penyakit lain, hipertensi akan makin memperbanyak jumlah manula yang bukan saja secara fisiologis tidak normal tetapi juga akan sangat tergantung pada orang lain, khususnya anggota keluarga.

Membaiknya tingkat dan pelayanan kesehatan serta kesejahteraan penduduk, akan memperbaiki angka harapan hidup serta meningkatkan jumlah manula. Salah satu tindakan deteksi dini mencegah hipertensi adalah dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin, terutama bagi mereka yang telah menginjak usia di atas 40 tahun. Dengan deteksi dini ini diharapkan penyakit dapat cepat teridentifikasi sehigga dokter dapat melakukan terapi secara segera dan akurat.

 

dr. b. lutfi

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com