Hipertensi
Turunkan Fungsi
Kognitif
Manula
Hipertensi
adalah istilah
kesehatan yang
acapkali terdengar
sehari-hari.
Banyak media, cetak
maupun elektronik,
yang telah
mengulasnya. Kadang-kadang
disertai dengan
berbagai cara
pengobatan, modern
maupun
tradisional. Hipertensi
dapat diibaratkan
sebagai titik
pangkal dari
berbagai patologi
penyakit
ikutannya. Karena
tidak menimbulkan
gejala yang dapat
dirasakan oleh
penderita, maka
kelainan itu
biasanya
ditemukan secara
tak sengaja
saat pasien
memeriksakan diri
ke dokter
karena penyakit
lain. Selain itu,
hipertensi dapat
pula terdeteksi
setelah timbul
penyakit lain
sebagai komplikasinya.
---------------------------
PENYAKIT
yang sering
dikaitkan dengan
hipertensi di
antaranya
meliputi stroke, penyakit
jantung, dan
penyakit-penyakit
pada pembuluh
darah jantung
atau di
luar jantung.
Penelitian
Mac Mahon yang dimuat
dalam "Lancet" (1990)
berhasil
membuktikan bahwa
hipertensi
merupakan faktor
risiko dari
stroke. Sementara
itu masih
ada kaitannya
dengan penelitian
Mac Mahon tersebut,
Erkinjuti T dan
Van Sieten JC
juga menyimpulka
dari hasil
studi yang mereka
laksanakan, bahwa
hipertensi
berperan besar
dalam proses
penyakit pembuluh
darah kecil
dan penyebab
gambaran
hiperintensitas otak
pada pemeriksaan
scanning, yakni
gambaran dari
proses pelisutan
atau atrofi
otak.
Dari sejumlah
penelitian
tersebut, maka
jelaslah bahwa
hipertensi ini
berpengaruh
secara langsung
terhadap proses
fisiologi
peredaran darah
dalam otak.
Akibatnya, timbul
gangguan aliran
darah menuju
otak yang pada
gilirannya akan
mempermudah
terjadinya stroke dan
atofi otak.
Selama
ini, para
ahli kurang
memperhatikan
kaitan hipertensi
dan kemampuan
kognitif
penderitanya. Penurunan
fungsi kognitif
sendiri diartikan
sebagai gangguan
defisit fungsi
memori, pemecahan
masalah,
orientasi dan
abstraksi. Dari
definisi tersebut
maka jelas
bahwa individu
yang menurun
fungsi kognitifnya
akan tidak
memiliki
kapasitas untuk
berfungsi secara
independen
sehingga akan
sangat tergantung
pada orang
lain dalam
melakukan aktivitas
sehari-hari.
Dalam
penelitian yang
dilakukan oleh Lenore J,
Launner PhD,
diperoleh bukti
bahwa hipertensi,
khususnya
peninggian tekanan
darah sistolik,
berhubungan
langsung dengan
penurunan fungsi
kognitif pada
usia masa
usia lanjut
(manula).
Penelitian yang dimuat
dalam "Journal of American Medical
Association" ini
melibatkan subjek
penelitian dalam
jumlah yang besar
(4.678 pasien)
dan jangka
waktu follow up yang cukup lama
(25 tahun).
Periksa
Rutin
Hipertensi
atau tekanan
darah tinggi
diartikan sebagai
peningkatan
tekanan darah
sistolik yang
lebih besar
atau sama
dengan 140 mmHg,
dan tekanan
diastolik yang
lebih besar
atau sama
dengan 90 mmHg.
Sedangkan
pengukuran
terhadap fungsi
kognitif dalam
studi tersebut
dilakukan dengan
menggunakan tes
100 point Cognitivi Abilities
Screening Instrument (CASI). Yang diperiksa
dalam tes
CASI ini meliputi
atensi,
konsentrasi, orientasi,
memori jangka
panjang dan
pendek, bicara
konstruksi visual,
kefasihan
pembacaan, abstraksi
dan penilaian.
Setelah
dilakukan kontrol
untuk usia
dan tingkat
pendidikan
responden maka
diperoleh hasil
akhir yang cukup
signifikan.
Diketahui bahwa
kemungkinan
terjadinya penurunan
fungsi kognitif
sedang atau
berat makin
meningkat sesuai
dengan
meningkatnya tekanan
darah sistolik
penderita. Untuk
tiap peningkatan
tekanan darah
sistolik sebesar
100 mmHg, maka
akan terjadi
peningkatan
risiko penurunan
fungsi kognitif
sedang besar
7% dan 9% untuk
penurunan fungsi
kognitif berat.
Lain dengan
kaitan antara
fungsi kognitif
dan tekanan
darah sitolik
tersebut,
kejadian peningkatan
tekanan darah
diastolik tidak
membawa pengaruh
yang merugikan
terhadap fungsi
kognitif manula.
Dari hasil
kesimpulan
penelitian tersebut
maka makin
jelas bahwa
hipertensi adalah
kelainan yang
tidak dapat
dipandang sebelah
mata. Karena,
di samping
membawa
peningkatan mortalitas
dan morbilitas
penyakit lain,
hipertensi akan
makin
memperbanyak jumlah
manula yang bukan
saja secara
fisiologis tidak
normal tetapi
juga akan
sangat tergantung
pada orang
lain, khususnya
anggota keluarga.
Membaiknya
tingkat dan
pelayanan
kesehatan serta
kesejahteraan
penduduk, akan
memperbaiki angka
harapan hidup
serta
meningkatkan jumlah
manula. Salah
satu tindakan
deteksi dini
mencegah
hipertensi adalah
dengan melakukan
pemeriksaan
tekanan darah
secara rutin,
terutama bagi
mereka yang telah
menginjak usia
di atas 40
tahun. Dengan
deteksi dini
ini diharapkan
penyakit dapat
cepat
teridentifikasi sehigga
dokter dapat
melakukan terapi
secara segera
dan akurat.
dr. b.
lutfi