Serangkaian
Galungan, Nyepi,
dan
Kuningan
''Ngelawang''
Gagap, Ogoh-ogoh
pun Gugup
Ngelawang
dan ogoh-ogoh
adalah sebuah
ungkapan
berkesenian masyarakat Bali
yang hadir
berkaitan dengan
perayaan mementum
penting keagamaan.
Ngelawang
biasanya meriah
pada saat
Galungan-Kuningan
dan ogoh-ogoh
marak menjelang
Nyepi. Lalu,
kini?
-----------------------
KINI
kedua ekspresi
seni dan
budaya itu
terjebak dalam
dilema. Tengok
misalnya Galungan,
Nyepi, dan
Kuningan pada
awal Maret
ini. Ngelawang
yang dirindukan
penampilannya dirundung
duka, terjengkang.
Sebaliknya,
ogoh-ogoh yang ingin
menerjang garang
pada malam
pengerupukan,
terkekang.
Peristiwa
ritual keagamaan
di Bali adalah
sekaligus sebuah
perayaan seni.
Di Bali, hampir
setiap upacara
agama Hindu senantiasa
disertai
penampilan atau
nuansa ekspresi
estetik. Bahkan
bisa dikatakan
hidup matinya
nilai-nilai seni
disangga oleh
semangat
keagamaan atau
psiko-religi
masyarakatnya. Seni
adalah sebuah
persembahan.
Kesenian Bali tumbuh
dan berkembang
seirama dengan
dinamika
pertumbuhan dan
perkembangan ritual
keagamaan.
Nuansa-nuansa
estetik itu,
mengemuka menjadi
bagian tak
terpisahkan dari
hari-hari raya
keagamaan Hindu
itu sendiri,
baik kehadirannya
sebagai seni
hiburan semata
maupun sebagai
seni ritual yang
dianggap berkekuatan
magis. Ngelawang
pada hari
raya Galungan
dan Kuningan,
berlangsung
sporadis atau
serentak, bisa
pagi, sore dan
malam menjelajah
tempat, ruang
dan waktu.
Seni pertunjukan
nomaden ini
umumnya dilakukan
sekelompok
seniman dan
ada juga
secara individu.
Pementasan
seni dalam
tradisi ngelawang
oleh grup-grup
seni pertunjukan
Bali pada masa
lalu sungguh
menjadi ciri
khas Galungan
dan Kuningan.
Kedatangan sebuah
grup Topeng,
Joged, Barong,
Arja atau
Wayang Wong misalnya
selalu disongsong
dengan antusias
oleh penduduk
desa yang
dikunjungi. Tanpa
ada yang memberi
komando, dengan
spontan para
penonton membuat
lingkaran arena
pentas.
Ada
yang duduk,
jongkok, atau
berdiri saja.
Bahkan ada
yang naik di
atas pagar
rumah atau
bergelayutan pada
pohon.
Sebuah
pertunjukan tari
Barong bisa
tampil di
dataran tepi
sungai. Sementara
itu di
tengah jalan
umum mungkin
digelar tari
Joged, tari
pergaulan yang
sangat populer
di Bali.
Sedangkan pertunjukan
Topeng bisa
jadi berlangsung
di bawah
kerindangan
sebuah pohon
besar. Lalu
di tengah
pasar, sore-sore
menjelang bubaran
misalnya, bisa
menguak opera ala Bali,
tari Arja.
Pergelaran
beragam seni
pertunjukan itu
berlangsung
dengan begitu
tulusnya.
Penonton bisa
dengan gratis
menikmatinya atau
boleh juga
dengan suka
rela membayar
sekadarnya.
Sayang, pentas
seni komunal
ini kini
hanya jadi
nostalgia bagi
generasi yang pernah
mencumbunya.
Berbeda
dengan ngelawang
yang sudah
dikenal sejak
zaman dulu,
ekspresi seni
yang dikenal
dengan sebutan
ogoh-ogoh baru
menguak sekitar
tahun 1980-an.
Berawal dari
kreativitas
anak-anak muda
di Denpasar
yang kemudian
mewabah ke
seluruh Bali, menyeberang
pada kalangan
masyarakat Hindu
di Lombok,
seterusnya pada
komunitas-komunitas Hindu
di seluruh
Nusantara.
Sejak
20 tahun yang
lalu itu,
ketika tilem
atau bulan
mati yang pekat
gulita menyergap
Pulau Dewata,
kegaduhan akan
meruyak di
mana-mana.
Ogoh-ogoh ditarikan
dan diarak
keliling desa
atau
kota
ketika hari
mulai gelap.
Suasana jadi
marak dan
riuh. Dengan
penerangan
ratusan lampu
obor,
patung-patung raksasa
itu akan
tampak magis
dan hidup.
Diberi semangat
oleh
gegap-gempita gamelan bleganjur
-- musik Bali yang
bernuansa keras
dan memekik
-- membuat
anak-anak muda Bali
kian histeris
menggoyang-goyangkan
ogoh-ogoh
kelompoknya masing-masing.
Ini biasanya
berlangsung
hingga larut
malam.
Antusiasisme menarikan
dan menonton
ogoh-ogoh bukan
hanya di
kalangan anak
muda saja
namun juga
melibatkan orang
tua dan
anak-anak, pria
atau wanita.
Sebagai
karya seni
kolektif,
penciptaan sebuah
ogoh-ogoh, secara
teknis,
melibatkan keterampilan
seni rupa,
seni tari,
dan seni
musik. Namun
dalam praktiknya,
terutama pada
saat penggarapan
aspek fisiknya,
tidak begitu
ketat. Asal
mau, setiap
anggota
masyarakat terbuka
untuk
berpartisipasi.
Ada
yang aktif saat
mengecat,
memasang bulu-bulu,
atau ada
yang sangat
bersemangat pada
tahap pengerjaan
bagian-bagian
rumit seperti
ukir-mengukir.
Semuanya dengan
asas suka
rela.
Aspek
kreativitas
bahkan inovasi
adalah menjadi
pertimbangan
penting dalam
mewujudkan
ogoh-ogoh. Karena
itu pemaknaan
dan simbolik
bhutakala dalam
visualisasi
estetik kesenirupaan,
dari tahun
ke tahun
sangat variatif.
Ada
yang mengadopsi
figur-figur raksasa
dalam wayang
kulit.
Ada
yang memodivikasi
mahluk-mahluk purba
semacam
dinosaurus. Bahkan
ada yang membuat
ogoh-ogoh dengan
mengkarikaturkan
figur-figur populer
masa kini.
***
Jadi,
jika aura ritual-magis
seni pertunjukan
yang hadir dalam
ngelawang saat
Galungan-Kuningan
dipercaya memberikan
keselamatan dan
perlindungan,
peristiwa seni
dan budaya
kreativitas dan
pengarakan
ogoh-ogoh adalah
sebuah
reinterpretasi pengamalan
beragama dalam
konteks Nyepi.
Lalu, bila
ngelawang dalam
konteks
berkesenian adalah
wahana
pelestarian dan
pengembangan
nilai-nilai estetis
nan alamiah,
ogoh-ogoh adalah
wadah kreasi,
imajinasi,
fantasi dan
rekreasi kalangan
anak-anak muda
Bali dan
masyarakat Hindu di
luar Bali.
Namun
keduanya, tradisi
ngelawang saat
Galungan-Kuningan
maupun presentasi
ogoh-ogoh
menjelang Nyepi,
selain merupakan
wahana
pengungkapan nuansa-nuansa
estetis dan
refleksi artistik
individual atau
kolektif, juga
menjadi wadah
sosial dan
keagamaan yang
sejatinya berfungsi
merajut
ketenteraman hidup
bersama
masyarakatnya, dari
generasi ke
generasi. Hanya
kini, begitulah,
ngelawang gagap
dan ogoh-ogoh
pun gugup.
Pergeseran
nilai rupanya
harus mencabik
sebuah mosaik
dan energi
budaya yang
memiliki aspek spiritual,
seni dan
hiburan seperti
ngelawang ini.
Peristiwa seni
dan budaya
ini kini
kian menepi,
kian sulit
dijumpai saat
perayaan Galungan
dan Kuningan.
Transformasi
budaya memang
membawa
konsekuensi multidimensional dalam
berbagai aspek
kehidupan.
Atmosfir masyarakat
agraris
tradisional dengan
kekentalan
psiko-religiusnya mungkin
memang
kontekstual dengan
persemaian yang
kondusif bagi
eksisnya tradisi
ngelawang pada
masa lalu.
Sementara kini
rasionalitas dan
pragmatisme
agaknya membumbung
naik daun.
Sementara
itu, bisa
jadi karena
rasionalitas "politis"
dan pragmatisme
jangka pendek
pula justru
memasung ekspresi
seni ogoh-ogoh
dalam konteks
Nyepi. Eksistensi
seni ini
mengambang
kontroversial. Masing-masing
wilayah
membolehkan atau
melarang, muncul
dengan alasan
desa-kala-patra-nya
masing-masing.
Pihak-pihak yang kontra
dan tak
berkenan oleh
adanya atraksi
yang menarik ini,
selain dengan
argumentasi tak
adanya sumber
sastra agama yang
kuat, umumnya
dengan alasan
keamanan --
euforia yang meluap
saat menyusung
ogoh-ogoh itu
-- memang acap
kali menyulut
ulah konyol
bahkan anarkis.
Di sisi
lain, pihak yang
kompromistis, ada yang "menjinakkan"
ogoh-ogoh sebagai
kreativitas seni
murni dalam
"kerangkeng"
lomba yang tak
ada kaitannya
dengan ritual
pengerupukan Nyepi.
*
kadek
suartaya