kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 13 Maret 2005 tarukan valas
 

GEBYAR


Serangkaian
Galungan, Nyepi, dan Kuningan
''Ngelawang'' Gagap, Ogoh-ogoh pun Gugup

Ngelawang dan ogoh-ogoh adalah sebuah ungkapan berkesenian masyarakat Bali yang hadir berkaitan dengan perayaan mementum penting keagamaan. Ngelawang biasanya meriah pada saat Galungan-Kuningan dan ogoh-ogoh marak menjelang Nyepi. Lalu, kini?

-----------------------

KINI kedua ekspresi seni dan budaya itu terjebak dalam dilema. Tengok misalnya Galungan, Nyepi, dan Kuningan pada awal Maret ini. Ngelawang yang dirindukan penampilannya dirundung duka, terjengkang. Sebaliknya, ogoh-ogoh yang  ingin menerjang garang pada malam pengerupukan, terkekang.

Peristiwa ritual keagamaan di Bali adalah sekaligus sebuah perayaan seni. Di Bali, hampir setiap upacara agama Hindu senantiasa disertai penampilan atau nuansa ekspresi estetik. Bahkan bisa dikatakan hidup matinya nilai-nilai seni disangga oleh semangat keagamaan atau psiko-religi masyarakatnya. Seni adalah sebuah persembahan. Kesenian Bali tumbuh dan berkembang seirama dengan dinamika pertumbuhan dan perkembangan ritual keagamaan.

Nuansa-nuansa estetik itu, mengemuka menjadi bagian tak terpisahkan dari hari-hari raya keagamaan Hindu itu sendiri, baik kehadirannya sebagai seni hiburan semata maupun sebagai seni ritual yang dianggap berkekuatan magis. Ngelawang pada hari raya Galungan dan Kuningan, berlangsung sporadis atau serentak, bisa pagi, sore dan malam menjelajah tempat, ruang dan waktu. Seni pertunjukan nomaden ini umumnya dilakukan sekelompok seniman dan ada juga secara individu.

Pementasan seni dalam tradisi ngelawang oleh grup-grup seni pertunjukan Bali pada masa lalu sungguh menjadi ciri khas Galungan dan Kuningan. Kedatangan sebuah grup Topeng, Joged, Barong, Arja atau Wayang Wong misalnya selalu disongsong dengan antusias oleh penduduk desa yang dikunjungi. Tanpa ada yang memberi komando, dengan spontan para penonton membuat lingkaran arena pentas. Ada yang duduk, jongkok, atau berdiri saja. Bahkan ada yang naik di atas pagar rumah atau bergelayutan pada pohon.

Sebuah pertunjukan tari Barong bisa tampil di dataran tepi sungai. Sementara itu di tengah jalan umum mungkin digelar tari Joged, tari pergaulan yang sangat populer di Bali. Sedangkan pertunjukan Topeng bisa jadi berlangsung di bawah kerindangan sebuah pohon besar. Lalu di tengah pasar, sore-sore menjelang bubaran misalnya, bisa menguak opera ala Bali, tari Arja.

Pergelaran beragam seni pertunjukan itu berlangsung dengan begitu tulusnya. Penonton bisa dengan gratis menikmatinya atau boleh juga dengan suka rela membayar sekadarnya. Sayang, pentas seni komunal ini kini hanya jadi nostalgia bagi generasi yang pernah mencumbunya.

 Berbeda dengan ngelawang yang sudah dikenal sejak zaman dulu, ekspresi seni yang dikenal dengan sebutan ogoh-ogoh baru menguak sekitar tahun 1980-an. Berawal dari kreativitas anak-anak muda di Denpasar yang kemudian mewabah ke seluruh Bali, menyeberang pada kalangan masyarakat Hindu di Lombok, seterusnya pada komunitas-komunitas Hindu di seluruh Nusantara.

Sejak 20 tahun yang lalu itu, ketika tilem atau bulan mati yang pekat gulita menyergap Pulau Dewata, kegaduhan akan meruyak di mana-mana. Ogoh-ogoh ditarikan dan diarak keliling desa atau kota ketika hari mulai gelap. Suasana jadi marak dan riuh. Dengan penerangan ratusan lampu obor, patung-patung raksasa itu akan tampak magis dan hidup. Diberi semangat oleh gegap-gempita gamelan bleganjur -- musik Bali yang bernuansa keras dan memekik -- membuat anak-anak muda Bali kian histeris menggoyang-goyangkan ogoh-ogoh kelompoknya masing-masing. Ini biasanya berlangsung hingga larut malam. Antusiasisme menarikan dan menonton ogoh-ogoh bukan hanya di kalangan anak muda saja namun juga melibatkan orang tua dan anak-anak, pria atau wanita.

Sebagai karya seni kolektif, penciptaan sebuah ogoh-ogoh, secara teknis, melibatkan keterampilan seni rupa, seni tari, dan seni musik. Namun dalam praktiknya, terutama pada saat penggarapan aspek fisiknya, tidak begitu ketat. Asal mau, setiap anggota masyarakat terbuka untuk berpartisipasi. Ada yang aktif saat mengecat, memasang bulu-bulu, atau ada yang sangat bersemangat pada tahap pengerjaan bagian-bagian rumit seperti ukir-mengukir. Semuanya dengan asas suka rela.

Aspek kreativitas bahkan inovasi adalah  menjadi pertimbangan penting dalam mewujudkan ogoh-ogoh. Karena itu pemaknaan dan simbolik bhutakala dalam visualisasi estetik kesenirupaan, dari tahun ke tahun sangat variatif. Ada yang mengadopsi figur-figur raksasa dalam wayang kulit. Ada yang memodivikasi mahluk-mahluk purba semacam dinosaurus. Bahkan ada yang membuat ogoh-ogoh dengan mengkarikaturkan figur-figur populer masa kini.

***

 

Jadi, jika aura ritual-magis seni pertunjukan yang hadir dalam ngelawang saat Galungan-Kuningan dipercaya memberikan keselamatan dan perlindungan, peristiwa seni dan budaya kreativitas dan pengarakan ogoh-ogoh adalah sebuah reinterpretasi pengamalan beragama dalam konteks Nyepi. Lalu, bila ngelawang dalam konteks berkesenian adalah wahana pelestarian  dan pengembangan nilai-nilai estetis nan alamiah, ogoh-ogoh adalah wadah kreasi, imajinasi, fantasi dan rekreasi kalangan anak-anak muda Bali dan masyarakat Hindu di luar Bali.

Namun keduanya, tradisi ngelawang saat Galungan-Kuningan maupun presentasi ogoh-ogoh menjelang Nyepi, selain merupakan wahana pengungkapan nuansa-nuansa estetis dan refleksi artistik individual atau kolektif, juga menjadi wadah sosial dan keagamaan yang sejatinya berfungsi merajut ketenteraman hidup bersama masyarakatnya, dari generasi ke generasi. Hanya kini, begitulah, ngelawang gagap dan ogoh-ogoh pun gugup.

Pergeseran nilai rupanya harus mencabik sebuah mosaik dan energi budaya yang memiliki aspek spiritual, seni dan hiburan seperti ngelawang ini. Peristiwa seni dan budaya ini kini kian menepi, kian sulit dijumpai saat perayaan Galungan dan Kuningan. Transformasi budaya memang membawa konsekuensi multidimensional dalam berbagai aspek kehidupan. Atmosfir masyarakat agraris tradisional dengan kekentalan psiko-religiusnya mungkin memang kontekstual dengan persemaian yang kondusif bagi eksisnya tradisi ngelawang pada masa lalu. Sementara kini rasionalitas dan pragmatisme agaknya membumbung naik daun.

Sementara itu, bisa jadi karena rasionalitas "politis" dan pragmatisme jangka pendek pula justru memasung ekspresi seni ogoh-ogoh dalam konteks Nyepi. Eksistensi seni ini mengambang kontroversial. Masing-masing wilayah membolehkan atau melarang, muncul dengan alasan desa-kala-patra-nya masing-masing. Pihak-pihak yang kontra dan tak berkenan oleh adanya atraksi yang menarik ini, selain dengan argumentasi tak adanya sumber sastra agama yang kuat, umumnya dengan alasan keamanan -- euforia yang meluap saat menyusung ogoh-ogoh itu -- memang acap kali menyulut ulah konyol bahkan anarkis. Di sisi lain, pihak yang kompromistis, ada yang "menjinakkan" ogoh-ogoh sebagai kreativitas seni murni dalam "kerangkeng" lomba yang tak ada kaitannya dengan ritual pengerupukan Nyepi.

* kadek suartaya

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com