kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 13 Maret 2005 tarukan valas
 

GEBYAR


Abu Bakar:
Aktor Monolog Dituntut Berkemampuan Komplet

Bali Eksperimental Teater (BET) Negara akan menggelar "Lomba Monolog Se-Bali" pada 29-31 Maret 2005 di aula kantor Depag Negara, Jembrana. Peserta dibebaskan memilih naskah sendiri dengan durasi pementasan 20 menit. Akan dipilih juara I, II, III, dan Harapan masing-masing mendapat hadiah uang. Juara I akan difasilitasi oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk pentas di TIM Jakarta pada Mei 2005. Sebelumnya, pada Desember 2004 SMAN 3 Denpasar telah pula menggelar festival monolog. Terkait seni monolog ini, Abu Bakar -- dramawan yang selama ini amat intens ikut ''memprovokasi'' sejumlah seniman muda di Bali untuk menekuni monolog -- memberikan sejumlah gambaran dan pemikirannya seputar seni monolog.

----------------------------------------

SEBAGAI penekun seni monolog, bagaimana perasaan Anda ketika kini semakin sering digelar pentas atau lomba monolog di Bali?

Saya senang sajalah. Karena, tiba-tiba kita menjadi begitu realistis dalam membaca perkembangan dunia teater yang secara merata begitu lesu di tanah air. Boleh dikata, bukan hanya kelompok kecil, tetapi kelompok-kelompok beken pun ikut bangkrut. Rendra dengan Bengkel Teater-nya sedang ngapain? Teater Kecil dengan Ikra dan Amak Baljun-nya sedang di mana? Teater Populer Teguh Karya dan Slamet Raharjo sudah lama tak produksi, Teater Mandiri Putu Wijaya telah pula hijrah ke sinetron.

Kan masih ada Teater Koma yang bisa pentas terus?

Jika pun ada yang tersisa, maka peran dan fungsinya pun sudah berubah. Teater Koma total menjadi teater penglipur lara, atau, tampil dalam bentuknya yang sudah "serba ditolong" oleh kecanggihan elektronik multimedia, mencari sensasi dari efek visual, secara dramatik memanfaatkan bom  audio dan lighting, dan seterusnya. Mengapa realistik, karena memang sangkut-pautnya masih berkait dengan   kelangkaan aktor, kelangkaan duit, dan budaya global kini yang menyediakan pilihan tontonan yang tak terkira banyaknya.

Namun, untuk kasus Teater Koma misalnya, bukankah di situ masih ada aspek kreativitas? Bukankah itu juga punya arti baik?

Memang. Tetapi dengan begitu, makin jauh saja kita dari makna seni peran itu sendiri, di mana badan jiwa tubuh rohani dan pikiran merupakan sarana utama. Maka saat munculnya satu gerakan dari anak-anak muda seperti di SMAN 3 Denpasar atau kelompok BET di Negara, yang intinya ingin  kembali ke "undang-undang dasar" seni peran, saya merasa energi semacam itu haruslah kita sambut. Apalagi dalam bentuk teater monolog yang memang secara spesifik mengarah pada pembentukan kemampuan aktor yang paripurna.

Menurut Anda, pengertian mendasar tentang monolog itu apa?

Saya sendiri tidak memiliki terminologi memadai yang secara pasti bisa berkata bahwa monolog itu adalah ini atau itu, begini atau begitu. Tetapi bila dalam satu pementasan teater, di atas stage hanya tampil seorang aktor yang memainkan berbagai peran-karakter, sendiri, sepanjang durasi pementasan juga ia tetap jungkir-balik sendiri, sampai telanjang bulat menyuguhkan segenap kemampuannya dirinya pada audiens, itulah monolog.

Mirip dengan Topeng Pajegan pada teater tradisional Bali?

Tepat sekali. Apa yang dilakukan oleh jagoan Topeng Pajegan seperti Pugra yang mampu memerankan empat karakter berbeda pada saat yang sama pada zamannya, itulah monolog. Baik buruknya satu pementasan, total berada di dalam genggamannya. Ritme dan tempo dibangunnya sendiri, ruang dan movement dirancangnya sendiri, alur dan struktur cerita  dibangunnya sendiri. Maka segera terlihat, betapa satu kemampuan komplet paripurna menuntut seorang aktor monolog. Dia mampu memainkan empat kepribadian secara konsisten pada saat yang sama, dengan segala kompleksitas energi dan emosinya, memperagakan empat bentuk postur, gestur dan mimik, matang dalam empat warna vokal yang juga memiliki karakter warna vokal yang berbeda. Itulah sejumlah soal-soal mendasar yang dituntut bagi seorang aktor monolog. Maka  sebagai fokus, nasib pementasan itu 100% memang berada pada daya pikat dan potensi aktor itu sendiri. Cukup repot dan sangat berat. Tanpa memiliki stok kekayaan batin rohani yang memadai, maka yang muncul di stage hanyalah kemiskinan.

Pengamatan Anda terhadap pentas monolog di Bali khususnya selama ini?

Dalam pengamatan saya, pentas-pentas monolog yang lewat begitulah situasinya. Artinya, mereka, adik-adik kita, dengan segala hormat, baru sampai pada tahap memiliki niat dan keberanian mencoba dan ukur-ukur diri. Ikut berperang, tapi medan pertempuran yang sebenarnya tak mereka kenali. Hancur berkeringat dibantai kekecewaan penonton. Tetapi, tentu lagi-lagi tak ada salahnya untuk mencoba.

Saran Anda untuk para calon aktor monolog kita di Bali?

Maju terus pantang mundurlah. Pakai otak, pakai perhitungan, kenali medan. Setidaknya begini. Pertama, harus kita sepakati bahwa muncul sendiri di atas pentas sebagai aktor monolog sangat sangatlah berat. Setidaknya, semua pelajaran  yang menyangkut basic dramaturgi teater sudah lewat, jadi bagian masa lampau. Tak ada kesempatan lagi untuk bertanya: bagaimana saya harus berdiri di panggung, bagaimana saya harus mempergunakan badan dan tangan saya, mimik saya, gerak dan bloking saya, kekuatan vokal saya, dan sebagainya. Semua itu urusannya sudah selesai.

Anda punya contoh kongkret?

Kaseno (salah seorang aktor monolog Bali, red), saat memainkan "Bos"-nya Putu Wijaya, atau berperan sebagai suami dalam "Bahaya Racun Tembakau"-nya Chekov, atau saat muncul sebagai Misbach Jazuli dalam "Kasir Kita", tak lagi punya urusan dengan yang basic itu. Tugasnya sudah menanjak pada peran yang lebih berat, dia harus mengelola dua atau tiga karakter tokoh yang dalam saat yang sama sedang hidup dalam dirinya. Confuse, kacau, tercampur-aduk adalah bahaya yang mengancam. Dua-tiga karakter tokoh yang saat itu sedang mengeram dalam dirinya harus dia kenali dan akrabi dan dikelola sebaik mungkin. Melewati transisi-transisi yang singkat, tokoh-tokoh itu muncul dan pergi. Maka, sungguh suatu kemampuan ekstra dituntut untuk dimiliki adalah kesadaran cepat bahwa kini dia tak lagi, atau, telah berpindah pada persona lain, lengkap dengan segenap ciri fisik-psikis kepribadiannya.

Menurut Anda, dengan tantangan begitu, adakah aktor-aktor muda di Bali akan sanggup melakukannya?

Ada dan sanggup. Buktinya Cok Sawitri dalam lakon "Aku Bukan Perempuan Lagi" sanggup melakukannya. Putu Satria dalam acara "Ubud Writers Festival" berani tampil, Indrawati Maryoto dalam "Wanita Batu" dan Senja Pratiwi dalam "Pelajaran Pertama Bagi Calon Aktor" juga bisa. Sampai batas tertentu, mereka sanggup melakukannya. Namun, tentu itu semua baru mereka capai setelah kerja keras habis-habisan.

Dalam lomba nanti, waktu tampil yang disediakan panitia untuk masing-masing peserta hanya 20 menit. Adakah aktor-aktor muda Bali sanggup memikul beban yang begitu berat itu?

Waktu 20 menit cukup, setidaknya untuk menangkap kesan adakah si aktor itu bermain total atau tidak, pesannya sampai atau tidak, kesadaran keaktorannya memadai atau tidak, mengerti makna atau tidak. Alhasil, 20 menit bagi saya adalah waktu yang cukup untuk berani berkesimpulan, bahwa penampilan anda baik atau tidak baik, gagal atau memadai. Di samping itu, singkatnya persoalan waktu ini, memang perlu disiasati

Kesannya, seni monolog adalah seni yang "berat" dan "seram". Bagaimana mengurangi kesan seperti itu?

Sebelum memasuki dunia monolog, agaknya diperlukan bekal yang cukup dari pementasan-pementasan biasa dalam grup. Dengan begitu, setidaknya, segala elemen-elemen yang bersifat basic teater, tak jadi hambatan ketika kita harus bergerak cepat ke depan. Tanpa modal semacam itu, lalu potong kompas ke monolog, umumnya, melahirkan banyak problem. Jangankan menghayati dua atau tiga karakter yang kita bawa, kadang-kadang, untuk memainkan karakter sendiri pun belum cukup. Tetapi, tentu tidak ada larangan untuk ambil jalan singkat semacam itu. Sebab, seorang anak ajaib pun bisa lahir, yang ternyata menyimpan potensi melimpah yang cukup memadai untuk memasuki dunia monolog.

* pasek suyasa

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com