Abu Bakar:
Aktor Monolog Dituntut Berkemampuan
Komplet
Bali Eksperimental Teater (BET) Negara akan
menggelar "Lomba Monolog Se-Bali" pada 29-31 Maret 2005 di aula
kantor Depag Negara, Jembrana. Peserta dibebaskan memilih naskah
sendiri dengan durasi pementasan 20 menit. Akan dipilih juara I,
II, III, dan Harapan masing-masing mendapat hadiah uang. Juara I
akan difasilitasi oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk pentas di TIM
Jakarta pada Mei 2005. Sebelumnya, pada Desember 2004 SMAN 3
Denpasar telah pula menggelar festival monolog. Terkait seni
monolog ini, Abu Bakar -- dramawan yang selama ini amat intens
ikut ''memprovokasi'' sejumlah seniman muda di Bali untuk menekuni
monolog -- memberikan sejumlah gambaran dan pemikirannya seputar
seni monolog.
----------------------------------------
SEBAGAI
penekun seni monolog, bagaimana perasaan Anda ketika kini semakin
sering digelar pentas atau lomba monolog di Bali?
Saya senang sajalah. Karena, tiba-tiba kita menjadi
begitu realistis dalam membaca perkembangan dunia teater yang
secara merata begitu lesu di tanah air. Boleh dikata, bukan hanya
kelompok kecil, tetapi kelompok-kelompok beken pun ikut bangkrut.
Rendra dengan Bengkel Teater-nya sedang ngapain? Teater Kecil
dengan Ikra dan Amak Baljun-nya sedang di mana? Teater Populer
Teguh Karya dan Slamet Raharjo sudah lama tak produksi, Teater
Mandiri Putu Wijaya telah pula hijrah ke sinetron.
Kan masih ada Teater Koma yang bisa pentas terus?
Jika pun ada yang tersisa, maka peran dan fungsinya
pun sudah berubah. Teater Koma total menjadi teater penglipur
lara, atau, tampil dalam bentuknya yang sudah "serba ditolong"
oleh kecanggihan elektronik multimedia, mencari sensasi dari efek
visual, secara dramatik memanfaatkan bom audio dan lighting,
dan seterusnya. Mengapa realistik, karena memang sangkut-pautnya
masih berkait dengan kelangkaan aktor, kelangkaan
duit, dan budaya global kini yang menyediakan pilihan tontonan
yang tak terkira banyaknya.
Namun, untuk kasus Teater Koma misalnya, bukankah
di situ masih ada aspek kreativitas? Bukankah itu juga punya arti
baik?
Memang. Tetapi dengan begitu, makin jauh saja kita
dari makna seni peran itu sendiri, di mana badan jiwa tubuh rohani
dan pikiran merupakan sarana utama. Maka saat munculnya satu
gerakan dari anak-anak muda seperti di SMAN 3 Denpasar atau
kelompok BET di Negara, yang intinya ingin kembali ke
"undang-undang dasar" seni peran, saya merasa energi semacam itu
haruslah kita sambut. Apalagi dalam bentuk teater monolog yang
memang secara spesifik mengarah pada pembentukan kemampuan aktor
yang paripurna.
Menurut Anda, pengertian mendasar tentang monolog
itu apa?
Saya sendiri tidak memiliki terminologi memadai
yang secara pasti bisa berkata bahwa monolog itu adalah ini atau
itu, begini atau begitu. Tetapi bila dalam satu pementasan teater,
di atas stage hanya tampil seorang aktor yang memainkan berbagai
peran-karakter, sendiri, sepanjang durasi pementasan juga ia tetap
jungkir-balik sendiri, sampai telanjang bulat menyuguhkan segenap
kemampuannya dirinya pada audiens, itulah monolog.
Mirip dengan Topeng Pajegan pada teater tradisional
Bali?
Tepat sekali. Apa yang dilakukan oleh jagoan Topeng
Pajegan seperti Pugra yang mampu memerankan empat karakter berbeda
pada saat yang sama pada zamannya, itulah monolog. Baik buruknya
satu pementasan, total berada di dalam genggamannya. Ritme dan
tempo dibangunnya sendiri, ruang dan movement dirancangnya
sendiri, alur dan struktur cerita dibangunnya sendiri. Maka
segera terlihat, betapa satu kemampuan komplet paripurna menuntut
seorang aktor monolog. Dia mampu memainkan empat kepribadian
secara konsisten pada saat yang sama, dengan segala kompleksitas
energi dan emosinya, memperagakan empat bentuk postur, gestur dan
mimik, matang dalam empat warna vokal yang juga memiliki karakter
warna vokal yang berbeda. Itulah sejumlah soal-soal mendasar yang
dituntut bagi seorang aktor monolog. Maka sebagai fokus,
nasib pementasan itu 100% memang berada pada daya pikat dan
potensi aktor itu sendiri. Cukup repot dan sangat berat. Tanpa
memiliki stok kekayaan batin rohani yang memadai, maka yang muncul
di stage hanyalah kemiskinan.
Pengamatan Anda terhadap pentas monolog di Bali
khususnya selama ini?
Dalam pengamatan saya, pentas-pentas monolog yang
lewat begitulah situasinya. Artinya, mereka, adik-adik kita,
dengan segala hormat, baru sampai pada tahap memiliki niat dan
keberanian mencoba dan ukur-ukur diri. Ikut berperang, tapi medan
pertempuran yang sebenarnya tak mereka kenali. Hancur berkeringat
dibantai kekecewaan penonton. Tetapi, tentu lagi-lagi tak ada
salahnya untuk mencoba.
Saran Anda untuk para calon aktor monolog kita di
Bali?
Maju terus pantang mundurlah. Pakai otak, pakai
perhitungan, kenali medan. Setidaknya begini. Pertama, harus kita
sepakati bahwa muncul sendiri di atas pentas sebagai aktor monolog
sangat sangatlah berat. Setidaknya, semua pelajaran yang
menyangkut basic dramaturgi teater sudah lewat, jadi bagian masa
lampau. Tak ada kesempatan lagi untuk bertanya: bagaimana saya
harus berdiri di panggung, bagaimana saya harus mempergunakan
badan dan tangan saya, mimik saya, gerak dan bloking saya,
kekuatan vokal saya, dan sebagainya. Semua itu urusannya sudah
selesai.
Anda punya contoh kongkret?
Kaseno (salah seorang aktor monolog Bali, red),
saat memainkan "Bos"-nya Putu Wijaya, atau berperan sebagai suami
dalam "Bahaya Racun Tembakau"-nya Chekov, atau saat muncul sebagai
Misbach Jazuli dalam "Kasir Kita", tak lagi punya urusan dengan
yang basic itu. Tugasnya sudah menanjak pada peran yang lebih
berat, dia harus mengelola dua atau tiga karakter tokoh yang dalam
saat yang sama sedang hidup dalam dirinya. Confuse, kacau,
tercampur-aduk adalah bahaya yang mengancam. Dua-tiga karakter
tokoh yang saat itu sedang mengeram dalam dirinya harus dia kenali
dan akrabi dan dikelola sebaik mungkin. Melewati transisi-transisi
yang singkat, tokoh-tokoh itu muncul dan pergi. Maka, sungguh
suatu kemampuan ekstra dituntut untuk dimiliki adalah kesadaran
cepat bahwa kini dia tak lagi, atau, telah berpindah pada persona
lain, lengkap dengan segenap ciri fisik-psikis kepribadiannya.
Menurut Anda, dengan tantangan begitu, adakah
aktor-aktor muda di Bali akan sanggup melakukannya?
Ada dan sanggup. Buktinya Cok Sawitri dalam lakon
"Aku Bukan Perempuan Lagi" sanggup melakukannya. Putu Satria dalam
acara "Ubud Writers Festival" berani tampil, Indrawati Maryoto
dalam "Wanita Batu" dan Senja Pratiwi dalam "Pelajaran Pertama
Bagi Calon Aktor" juga bisa. Sampai batas tertentu, mereka sanggup
melakukannya. Namun, tentu itu semua baru mereka capai setelah
kerja keras habis-habisan.
Dalam lomba nanti, waktu tampil yang disediakan
panitia untuk masing-masing peserta hanya 20 menit. Adakah
aktor-aktor muda Bali sanggup memikul beban yang begitu berat itu?
Waktu 20 menit cukup, setidaknya untuk menangkap
kesan adakah si aktor itu bermain total atau tidak, pesannya
sampai atau tidak, kesadaran keaktorannya memadai atau tidak,
mengerti makna atau tidak. Alhasil, 20 menit bagi saya adalah
waktu yang cukup untuk berani berkesimpulan, bahwa penampilan anda
baik atau tidak baik, gagal atau memadai. Di samping itu,
singkatnya persoalan waktu ini, memang perlu disiasati
Kesannya, seni monolog adalah seni yang "berat" dan
"seram". Bagaimana mengurangi kesan seperti itu?
Sebelum memasuki dunia monolog, agaknya diperlukan
bekal yang cukup dari pementasan-pementasan biasa dalam grup.
Dengan begitu, setidaknya, segala elemen-elemen yang bersifat
basic teater, tak jadi hambatan ketika kita harus bergerak cepat
ke depan. Tanpa modal semacam itu, lalu potong kompas ke monolog,
umumnya, melahirkan banyak problem. Jangankan menghayati dua atau
tiga karakter yang kita bawa, kadang-kadang, untuk memainkan
karakter sendiri pun belum cukup. Tetapi, tentu tidak ada larangan
untuk ambil jalan singkat semacam itu. Sebab, seorang anak ajaib
pun bisa lahir, yang ternyata menyimpan potensi melimpah yang
cukup memadai untuk memasuki dunia monolog.
* pasek suyasa