kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 13 Maret 2005 tarukan valas
 

POTRET


Tradisi
''Med-medan'' yang Tetap Bertahan

Omed-omedan yang lebih dikenal dengan med-medan merupakan tradisi unik yang hingga kini masih bertahan di Banjar Kaja Kelurahan Sesetan, Denpasar. Med-medan digelar setahun sekali, tepatnya pada ngembak geni -- sehari setelah hari raya Nyepi. Sabtu (12/3) sore kemarin, tradisi yang sudah diperkirakan ada sejak zaman lampau itu kembali digelar di depan Bale Banjar Kaja, Sesetan tersebut.

-----------------

 

MED-MEDAN yang berarti saling tarik, dulunya hanya dipandang sebagai acara kebiasaan tetapi sekarang dijadikan kegiatan sakral yang mesti terus dilaksanakan.

Sekitar pukul 15.00, Sabtu kemarin, sekitar 250 orang anggota Sekaa Teruna Satya Dharma Kerthi, Banjar Kaja Sesetan, berkumpul di halaman bale banjar. Mengawali tradisi omed-omedan ini, anggota sekaa teruna melakukan persembahyangan bersama mohon keselamatan atau kerahayuan kepada Ida Batara, sasuhunan yang berstana di Pura Banjar Kaja Sesetan.

Selanjutnya, puluhan orang membagi diri menjadi dua kelompok -- barisan laki-laki dan barisan perempuan. Barisan laki-laki menuju arah utara dan perempuan arah selatan jalan. Ketika barisan sudah saling berhadapan, masing-masing kelompok menunjuk salah seorang anggota yang akan dipertemukan dengan lawan jenisnya. Setelah semuanya sepakat, kedua barisan memutar sekali, lanjut mempertemukan kedua pasangan tersebut.

Di situlah letak keunikannya. Sebelum berangkulan, mereka omed-omedan atau saling tarik beberapa saat. Ketika sudah saling berpegangan atau berangkulan, pasangan itu kemudian diguyur air hingga basah kuyup. Demikian seterusnya, hingga semua anggota mendapat bagian. Suasana gembira pun tercipta ketika peserta saling berhadap-hadapan untuk kemudian saling tarik. Apalagi jalannya acara itu dimeriahkan dengan riuhnya gamelan bleganjur, suasana pun tambah sumringah. Jalannya acara yang berlangsung sekitar dua jam itu mendapat apresiasi dari masyarakat.

Ketua Sekaa Teruna Satya Dharma Kerthi Banjar Kaja Sesetan, Made Putrawan, dan Wakil Ketua III, Made Dwi Novi Artawan, mengatakan kegiatan ini memiliki makna positif sebagai ajang mempererat rasa persaudaraan dan memperkuat rasa persatuan di antara anggota sekaa teruna. Selebihnya, sebagai ajang untuk mengaktualisasikan nilai-nilai kebersamaan, tenggang rasa dan sebagainya.

Dikatakannya, para peserta yang ikut dalam acara ini umumnya yang tergabung dalam organisasi sekaa teruna. Tetapi, keikutsertaan mereka atas panggilan hati nurani, bukan karena paksaan. Kendati demikian, semua anggota umumnya datang ikut menyaksikan jalannya acara med-medan. ''Memang ada satu-dua yang tidak ikut menjadi pemain, alasannya karena malu,'' kata Made Putrawan.

Klian Banjar Kaja, Pasek Nyoman Adnyana, mengatakan tradisi ini dulunya merupakan kebiasaan, tetapi sekarang disakralkan. Pada zaman penjajahan Belanda, med-medan ini juga pernah dilarang. Akan tetapi krama Banjar Kaja tetap melaksanakan secara sembunyi-sembunyi. Dulunya, med-medan selalu dilaksanakan pada saat Nyepi. Namun, sejak tahun 1979 ada pengumuman dari pemerintah bahwa pada hari raya Nyepi tidak diperkenankan mengadakan keramaian. Maka, tradisi itu akhirnya digelar sehari setelah Nyepi yakni pada ngembak geni-nya.

Med-medan juga sempat ditiadakan, tetapi peristiwa aneh pun terjadi. Dua ekor babi yang tidak diketahui asal-usulnya berkelahi di halaman pura banjar. Perkelahian dua babi itu sangat lama hingga keduanya mengeluarkan darah. Anehnya, babi-babi itu pun menghilang tanpa jejak. Sejak adanya peristiwa aneh itu, maka hingga sekarang med-medan pun selalu digelar. Kata Made Putrawan dan Made Dwi Novi Artawan, setelah ditanyakan kepada orang pintar, peristiwa itu sebagai wangsit bahwa med-medan mesti terus dilaksanakan. (lun)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com