Tradisi
''Med-medan'' yang
Tetap
Bertahan
Omed-omedan
yang lebih
dikenal dengan med-medan
merupakan tradisi
unik yang hingga
kini masih
bertahan di
Banjar Kaja
Kelurahan Sesetan,
Denpasar.
Med-medan
digelar setahun
sekali, tepatnya
pada ngembak
geni -- sehari
setelah hari
raya Nyepi.
Sabtu (12/3) sore
kemarin, tradisi yang
sudah
diperkirakan ada
sejak zaman
lampau itu
kembali digelar
di
depan Bale
Banjar Kaja,
Sesetan tersebut.
-----------------
MED-MEDAN
yang berarti
saling tarik,
dulunya hanya
dipandang sebagai
acara kebiasaan
tetapi sekarang
dijadikan
kegiatan sakral yang
mesti terus
dilaksanakan.
Sekitar
pukul 15.00,
Sabtu kemarin,
sekitar 250 orang
anggota Sekaa
Teruna Satya
Dharma Kerthi,
Banjar Kaja
Sesetan,
berkumpul di
halaman bale
banjar. Mengawali
tradisi
omed-omedan ini,
anggota sekaa
teruna melakukan
persembahyangan
bersama mohon
keselamatan atau
kerahayuan kepada
Ida Batara,
sasuhunan yang berstana
di Pura
Banjar Kaja
Sesetan.
Selanjutnya,
puluhan orang
membagi diri
menjadi dua
kelompok --
barisan laki-laki
dan barisan
perempuan.
Barisan
laki-laki menuju
arah utara
dan perempuan
arah selatan
jalan.
Ketika barisan
sudah saling
berhadapan,
masing-masing kelompok
menunjuk salah
seorang anggota
yang akan
dipertemukan
dengan lawan
jenisnya.
Setelah
semuanya sepakat,
kedua barisan
memutar sekali,
lanjut
mempertemukan kedua
pasangan tersebut.
Di
situlah letak
keunikannya.
Sebelum
berangkulan,
mereka omed-omedan
atau saling
tarik beberapa
saat.
Ketika
sudah saling
berpegangan atau
berangkulan,
pasangan itu
kemudian diguyur
air hingga basah
kuyup.
Demikian
seterusnya,
hingga semua
anggota mendapat
bagian.
Suasana
gembira pun
tercipta ketika
peserta saling
berhadap-hadapan
untuk kemudian
saling tarik.
Apalagi
jalannya acara
itu dimeriahkan
dengan riuhnya
gamelan bleganjur,
suasana pun
tambah sumringah.
Jalannya acara
yang berlangsung
sekitar dua jam
itu mendapat
apresiasi dari
masyarakat.
Ketua
Sekaa Teruna
Satya Dharma
Kerthi Banjar
Kaja Sesetan,
Made Putrawan,
dan Wakil
Ketua III, Made Dwi Novi
Artawan,
mengatakan kegiatan
ini memiliki
makna positif
sebagai ajang
mempererat rasa
persaudaraan dan
memperkuat rasa
persatuan di
antara anggota
sekaa teruna.
Selebihnya,
sebagai ajang
untuk
mengaktualisasikan nilai-nilai
kebersamaan,
tenggang rasa
dan sebagainya.
Dikatakannya,
para peserta
yang ikut dalam
acara ini
umumnya yang
tergabung dalam
organisasi sekaa
teruna.
Tetapi,
keikutsertaan
mereka atas
panggilan hati
nurani, bukan
karena paksaan.
Kendati
demikian, semua
anggota umumnya
datang ikut
menyaksikan
jalannya acara med-medan.
''Memang
ada satu-dua
yang tidak ikut
menjadi pemain,
alasannya karena
malu,'' kata
Made Putrawan.
Klian
Banjar Kaja,
Pasek Nyoman
Adnyana,
mengatakan tradisi
ini dulunya
merupakan
kebiasaan, tetapi
sekarang
disakralkan. Pada
zaman penjajahan
Belanda, med-medan
ini juga
pernah dilarang.
Akan
tetapi krama
Banjar Kaja
tetap
melaksanakan secara
sembunyi-sembunyi.
Dulunya,
med-medan selalu
dilaksanakan pada
saat Nyepi.
Namun,
sejak tahun
1979 ada
pengumuman dari
pemerintah bahwa
pada hari
raya Nyepi
tidak
diperkenankan mengadakan
keramaian.
Maka,
tradisi itu
akhirnya digelar
sehari setelah
Nyepi yakni
pada ngembak
geni-nya.
Med-medan
juga sempat
ditiadakan,
tetapi peristiwa
aneh pun terjadi.
Dua
ekor babi
yang tidak
diketahui asal-usulnya
berkelahi di
halaman pura
banjar.
Perkelahian
dua babi
itu sangat
lama hingga
keduanya mengeluarkan
darah.
Anehnya,
babi-babi itu
pun menghilang
tanpa jejak.
Sejak
adanya peristiwa
aneh itu,
maka hingga
sekarang med-medan
pun selalu
digelar. Kata Made
Putrawan dan
Made Dwi
Novi Artawan,
setelah ditanyakan
kepada orang
pintar, peristiwa
itu sebagai
wangsit bahwa
med-medan mesti
terus
dilaksanakan. (lun)