kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 13 Maret 2005 tarukan valas
 

BERITA


Tujuh
Rumah Dirusak Saat Nyepi
* 31 KK Sempat Dievakuasi ke
Poltabes

Denpasar (Bali Post) -
Di
tengah masyarakat Hindu Bali khidmat merayakan Nyepi, Jumat (11/3) malam, terjadi amuk massa di Jalan Kebo Iwa, di wilayah Banjar Batuparas, Padangsambian, Denpasar Barat.

Akibat emosi massa yang tidak terkendali saat itu, tujuh rumah penduduk dilempari. Ketujuh rumah tersebut kini mengalami rusak berat, atapnya berlubang-lubang dan berserakan di tanah, pintu-pintunya rusak dan jebol. Di antara rumah yang rusak parah milik Made Suantara. Rumah lainnya milik Made Artapa, Wayan Kapan, Made Daweg, Made Parwata, Nyoman Merta, serta Made Badra. Rumah-rumah itu kini telah dipasangi police line dan dijaga ketat aparat Dalmas Poltabes Denpasar.

Massa yang melempari rumah-rumah tersebut, menurut sejumlah sumber, berawal lantaran dipicu suara kulkul bulus yang bertalu-talu pada pukul 19.30 wita. Mendengar kulkul bulus itu, massa menjadi naik pitam dan spontan keluar rumah  dengan membawa senjata tajam lengkap di tangan seperti  tombak, parang, dan sebagainya. Mereka kemudian mengarahkan amarahnya dengan melempari tujuh rumah warga milik 31 KK yang telah pindah ke Banjar Robokan sejak 1,5 bulan lalu. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Situasi dapat dikendalikan secara cepat. Ini berkat atensi Markas Poltabes Denpasar. Begitu menerima telepon dari warga, aparat langsung turun ke TKP saat itu. Aparat pengendali massa itu dipimpin Kapoltabes Kombes Drs. Dewa Made Parsana, Kabag Ops Kompol Agus Sugianto dan Kasat Reskrim Kompol Faizal Thayeb, pasukan Dalmas, serse dan intel dan Brimob Polda Bali. Mereka merapat dan mengamankan situasi ke TKP. Dengan pendekatan persuasif, Kapoltabes terus-menerus berkomunikasi kepada warga dengan nuansa hukum, penyadaran, dan kemanusiaan.

Pelan-pelan emosi warga yang tadinya tensinya sudah naik menjadi surut. Masyarakat kemudian menyadari bahwa apa yang dilakukan adalah melawan hukum. Situasi menjadi relatif lebih tenang, karena itu sebanyak 31 KK yang menjadi incaran amuk massa malam itu juga bisa dievakuasi, tanpa mendapat gangguan yang berarti dari masyarakat. Warga yang dievakuasi dengan pengawalan ketat itu akhirnya sempat bermalam di gedung serbaguna Poltabes Denpasar.

Pagi harinya, mereka sudah pulang mencari perlindungan ke rumah-rumah keluarganya. ''Perusakan rumah-rumah dari aksi amuk massa ini berlatar belakang adat. Kasus ini bukan tergolong baru. Kasus ini sudah berlangsung sejak lama. Kemudian memuncak pada Kamis sekitar pukul 21.00 wita dan intensitasnya lebih besar lagi pada saat Nyepi, Jumat (11/3), sekitar pukul 19.00 wita,'' ujar Kombes Dewa Parsana.

Ia mengatakan kasus ini relatif kompleks. Agar benang merah terkuak dan kasus bisa diatasi, ia mengatakan Mapoltabes siap sebagai fasilitator atau mediator mencarikan solusi atas kasus ini. Parsana menegaskan pertemuan rencananya akan digelar pada Senin besok dengan mengundang pihak-pihak yang terkait, sehingga harapannya kasus ini tidak meruncing dan melebar.

''Kami siap menjadi mediator. Senin kami akan menggelar pertemuan untuk mencari solusi efektif dan jika mungkin kasus ini bisa tuntas. Harapan kami tidak muncul lagi hal seperti ini,'' jelas Dewa Parsana.

Klian Banjar Adat Batuparas, I Made Loteng, menyatakan kasus ini memang dipicu masalah adat. Kasus bernuansa adat ini muncul sudah sejak lama. Pendapat yang sama juga disampaikan tokoh masyarakat dari Kerobokan I Gusti Ketut Adhiputra, S.H. (kmb11)  

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com