Tujuh
Rumah Dirusak
Saat
Nyepi
* 31 KK Sempat
Dievakuasi ke
Poltabes
Denpasar
(Bali Post) -
Di
tengah masyarakat
Hindu Bali khidmat
merayakan Nyepi,
Jumat (11/3)
malam, terjadi
amuk
massa
di Jalan
Kebo Iwa,
di wilayah
Banjar Batuparas,
Padangsambian,
Denpasar Barat.
Akibat
emosi
massa
yang tidak
terkendali saat
itu, tujuh
rumah penduduk
dilempari.
Ketujuh
rumah tersebut
kini mengalami
rusak berat,
atapnya
berlubang-lubang dan
berserakan di
tanah,
pintu-
pintunya rusak
dan jebol.
Di
antara rumah
yang rusak parah
milik Made
Suantara.
Rumah
lainnya milik Made
Artapa, Wayan
Kapan, Made Daweg,
Made Parwata,
Nyoman Merta,
serta Made Badra.
Rumah-rumah itu
kini telah
dipasangi police line
dan dijaga
ketat aparat
Dalmas Poltabes
Denpasar.
Massa
yang melempari
rumah-rumah tersebut,
menurut sejumlah
sumber, berawal
lantaran dipicu
suara kulkul
bulus yang
bertalu-talu pada
pukul 19.30 wita.
Mendengar kulkul
bulus itu,
massa
menjadi naik
pitam dan
spontan keluar
rumah
dengan
membawa senjata
tajam lengkap
di tangan
seperti
tombak, parang,
dan sebagainya.
Mereka kemudian
mengarahkan
amarahnya dengan
melempari tujuh
rumah warga
milik 31 KK yang
telah pindah
ke Banjar
Robokan sejak
1,5 bulan
lalu.
Tidak
ada korban
jiwa dalam
peristiwa ini.
Situasi
dapat
dikendalikan secara
cepat.
Ini
berkat atensi
Markas Poltabes
Denpasar.
Begitu
menerima telepon
dari warga,
aparat langsung
turun ke
TKP saat itu.
Aparat pengendali
massa itu
dipimpin
Kapoltabes Kombes Drs.
Dewa Made Parsana,
Kabag Ops Kompol
Agus Sugianto
dan Kasat
Reskrim Kompol
Faizal Thayeb,
pasukan Dalmas,
serse dan
intel dan
Brimob Polda
Bali. Mereka
merapat dan
mengamankan
situasi ke TKP.
Dengan
pendekatan
persuasif, Kapoltabes
terus-menerus
berkomunikasi kepada
warga dengan
nuansa hukum,
penyadaran, dan
kemanusiaan.
Pelan-pelan
emosi warga
yang tadinya
tensinya sudah
naik menjadi
surut.
Masyarakat
kemudian menyadari
bahwa
apa yang
dilakukan adalah
melawan hukum.
Situasi menjadi
relatif lebih
tenang, karena
itu sebanyak
31 KK yang menjadi
incaran amuk
massa
malam itu
juga bisa
dievakuasi, tanpa
mendapat gangguan
yang berarti dari
masyarakat.
Warga yang
dievakuasi dengan
pengawalan ketat
itu akhirnya
sempat bermalam
di gedung
serbaguna
Poltabes Denpasar.
Pagi
harinya, mereka
sudah pulang
mencari
perlindungan ke
rumah-rumah
keluarganya.
''Perusakan
rumah-rumah dari
aksi amuk
massa
ini berlatar
belakang adat.
Kasus
ini bukan
tergolong baru.
Kasus
ini sudah
berlangsung sejak
lama. Kemudian
memuncak pada
Kamis sekitar
pukul 21.00 wita
dan intensitasnya
lebih besar
lagi pada
saat Nyepi,
Jumat (11/3),
sekitar pukul 19.00
wita,'' ujar
Kombes Dewa
Parsana.
Ia
mengatakan kasus
ini relatif
kompleks. Agar
benang merah
terkuak dan
kasus bisa
diatasi,
ia
mengatakan Mapoltabes
siap sebagai
fasilitator atau
mediator mencarikan
solusi atas
kasus ini.
Parsana
menegaskan pertemuan
rencananya
akan
digelar pada
Senin besok
dengan mengundang
pihak-pihak yang
terkait, sehingga
harapannya kasus
ini tidak
meruncing dan
melebar.
''Kami
siap menjadi
mediator.
Senin kami
akan
menggelar
pertemuan untuk
mencari solusi
efektif dan
jika mungkin
kasus ini
bisa tuntas.
Harapan
kami tidak
muncul lagi
hal seperti
ini,'' jelas
Dewa Parsana.
Klian
Banjar Adat
Batuparas, I Made
Loteng, menyatakan
kasus ini
memang dipicu
masalah adat.
Kasus
bernuansa adat
ini muncul
sudah sejak
lama. Pendapat yang
sama
juga disampaikan
tokoh masyarakat
dari Kerobokan
I Gusti Ketut
Adhiputra, S.H. (kmb11)