kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 19 Pebruari 2005

 Surat Pembaca


Urun
Pendapat Soal Ogoh-ogoh 

Setelah membaca alasan pihak pro dan pihak kontra terhadap ogoh-ogoh yang disampaikan oleh I Gusti Agung Wiyat, B.A., S.Ag. melalui surat pembaca, saya ingin urun pendapat.

Saya lahir kira-kira 60 tahun silam, jadi sudah banyak sekali mengalami hari pengerupukan untuk menyambut hari raya Nyepi. Saat saya masih kecil mengerupukan dirayakan dengan saling lempar dengan sabut kelapa yang dibakar (bahasa Bali: baleman). Sehingga nyalanya mudah dilihat dari jauh dan tidak membahayakan teman yang dilempar dengan sabut tersebut. Tetapi kadang-kadang ada juga yang nakal melempar teman dengan sabut yang tidak dibakar terlebih dulu sehingga tak terlihat dan mengenai teman. Karena hal ini dianggap tindakan yang tidak kesatria, sering juga menimbulkan masalah besar bahkan antarbanjar, sering terjadi keributan.

Sekarang pengerupakan dirayakan dengan pawai ogoh-ogoh, dengan embel-embel akan diberi hadiah bagi ogoh-ogoh terbaik, menurut tim juri tentunya, maka banyak kelompok yang berpartisipasi ikut membuat ogoh-ogoh dengan bermacam gaya dan model (kreativitas tinggi?).

Dengan banyak kelompok yang berpartisipasi, mulai kelompok anak-anak yang masih duduk di SD, kelompok remaja, muda-mudi (?), dan kelomopk lainnya, sehingga dalam satu banjar akan terdapat banyak kelompok. Untuk membuat ogoh-ogoh yang diinginkan tentu perlu dana. Untuk mendapatkan dana inilah mereka kreatif(?). Tiap kelompok akan berkeliling membawa map untuk meminta sumbangan pada warga (ada yang dengan surat pengantar dari klian banjar dan ada yang hanya diketahui oleh ketua kelompoknya).

Sumbangan yang diminta tidak khusus untuk anggota banjar yang bersangkutan, tetapi juga dari kelompok banjar lain. Sehingga, di gang saya, misalnya, tiap musim pembuatan ogoh-ogoh akan didatangi oleh lima sampai tujuh kelompok orang kreatif (?) tersebut untuk meminta sumbangan ogoh-ogoh. Caranya ada yang sopan, ada yang tidak sopan (dengan ancaman, ''awas nanti rumahnya dilempari atau temboknya dirusak, dan lain-lain)''.

Pengalaman yang saya masih ingat, beberapa tahun yang lalu ada tetangga yang tidak memberi sumbangan pada kelompok tertentu, karena terlalu banyaknya kelompok yang minta sumbangan. Ada kelompok yang tidak diberi sumbangan dengan alasan telah banyak kelompok yang minta sumbangan. Apa lacur, sehabis pawai ogoh-ogoh di Jalan Gajah Mada, ogoh-ogoh yang diarak pulang kembali, dipakai untuk menabrak pintu pagar tetangga tersebut sehingga roboh.

Pengalaman lain yang terbaru, pada hari Minggu sore, 13 Februari 2005, ada kelompok muda-mudi datang, yang juga minta sumbangan untuk membuat ogoh-ogoh untuk menyambut HUT Kota Denpasar, kepada keluarga seorang dokter yang kebetulan sedang di rumah. Kelompok tersebut tidak diberi sumbangan dengan alasan sudah banyak kelompok yang telah minta sumbangan. Lagi-lagi lacur, besoknya pelang dokter yang dipasang di ujung gang, dicabut paksa dan pelang dilemparkan ke halaman rumah tetangga.

Karena itu, apakah pembuatan ogoh-ogoh seperti sekarang ini mempunyai nilai positif atau negatif, saya serahkan kepada pembaca yang budiman, terutama kepada beliau-beliau pengambil keputusan. 

Ir. I Made Sudibia, M.Si.
Banjar
Kukub, Desa Perean Tengah, Tabanan

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)