Urun
Pendapat
Soal
Ogoh-ogoh
Setelah
membaca
alasan pihak pro
dan
pihak kontra
terhadap
ogoh-ogoh yang
disampaikan
oleh I
Gusti Agung
Wiyat, B.A.,
S.Ag.
melalui
surat
pembaca,
saya
ingin urun
pendapat.
Saya
lahir
kira-kira 60 tahun
silam,
jadi sudah
banyak
sekali mengalami
hari
pengerupukan untuk
menyambut
hari
raya Nyepi.
Saat
saya masih
kecil
mengerupukan dirayakan
dengan
saling lempar
dengan
sabut kelapa yang
dibakar (bahasa
Bali: baleman).
Sehingga
nyalanya
mudah
dilihat dari
jauh
dan tidak
membahayakan
teman yang
dilempar
dengan
sabut tersebut.
Tetapi
kadang-kadang
ada
juga yang nakal
melempar
teman
dengan sabut yang
tidak
dibakar terlebih
dulu
sehingga tak
terlihat
dan
mengenai teman.
Karena
hal ini
dianggap
tindakan yang
tidak
kesatria, sering
juga
menimbulkan masalah
besar
bahkan antarbanjar,
sering
terjadi keributan.
Sekarang
pengerupakan
dirayakan
dengan
pawai ogoh-ogoh,
dengan
embel-embel
akan
diberi
hadiah bagi
ogoh-ogoh
terbaik,
menurut
tim juri
tentunya,
maka
banyak kelompok yang
berpartisipasi
ikut
membuat ogoh-ogoh
dengan
bermacam
gaya
dan model (kreativitas
tinggi?).
Dengan
banyak
kelompok yang berpartisipasi,
mulai
kelompok anak-anak
yang masih
duduk
di SD, kelompok
remaja,
muda-mudi (?), dan
kelomopk
lainnya,
sehingga
dalam
satu banjar
akan
terdapat
banyak
kelompok. Untuk
membuat
ogoh-ogoh yang diinginkan
tentu
perlu
dana. Untuk
mendapatkan
dana
inilah mereka
kreatif(?).
Tiap
kelompok
akan
berkeliling
membawa map
untuk
meminta sumbangan
pada
warga (ada yang
dengan
surat
pengantar
dari
klian banjar
dan ada
yang hanya
diketahui
oleh
ketua kelompoknya).
Sumbangan
yang diminta
tidak
khusus untuk
anggota
banjar yang bersangkutan,
tetapi
juga dari
kelompok
banjar lain.
Sehingga,
di gang
saya, misalnya,
tiap
musim pembuatan
ogoh-ogoh
akan
didatangi
oleh lima
sampai
tujuh kelompok
orang
kreatif (?) tersebut
untuk
meminta sumbangan
ogoh-ogoh.
Caranya
ada yang
sopan,
ada yang tidak
sopan (dengan
ancaman, ''awas
nanti
rumahnya dilempari
atau
temboknya dirusak,
dan lain-lain)''.
Pengalaman
yang saya
masih
ingat, beberapa
tahun yang
lalu
ada tetangga yang
tidak
memberi sumbangan
pada
kelompok tertentu,
karena
terlalu banyaknya
kelompok yang
minta
sumbangan.
Ada
kelompok yang
tidak
diberi sumbangan
dengan
alasan telah
banyak
kelompok yang minta
sumbangan.
Apa
lacur,
sehabis pawai
ogoh-ogoh
di
Jalan Gajah
Mada,
ogoh-ogoh yang diarak
pulang
kembali, dipakai
untuk
menabrak pintu
pagar
tetangga tersebut
sehingga
roboh.
Pengalaman
lain yang
terbaru,
pada
hari Minggu sore, 13
Februari 2005,
ada
kelompok muda-mudi
datang, yang
juga
minta sumbangan
untuk
membuat ogoh-ogoh
untuk
menyambut HUT Kota Denpasar,
kepada
keluarga seorang
dokter yang
kebetulan
sedang
di rumah.
Kelompok
tersebut
tidak
diberi sumbangan
dengan
alasan sudah
banyak
kelompok yang telah
minta
sumbangan.
Lagi-lagi
lacur,
besoknya pelang
dokter yang
dipasang
di
ujung gang, dicabut
paksa
dan pelang
dilemparkan
ke
halaman rumah
tetangga.
Karena
itu,
apakah pembuatan
ogoh-ogoh
seperti
sekarang ini
mempunyai
nilai
positif atau
negatif,
saya
serahkan kepada
pembaca yang
budiman,
terutama
kepada
beliau-beliau pengambil
keputusan.
Ir.
I Made Sudibia,
M.Si.
Banjar
Kukub,
Desa Perean
Tengah,
Tabanan