Catatan
Pariwisata
Sepekan.......
Perlu
Kajian
Komprehensif Terhadap
Masa
Depan Bali
BERBAGAI wacana
belakangan
ini
bermunculan berkaitan
dengan
masa depan
pembangunan Bali.
Termasuk
di
antaranya wacana
membangun
jalan
tol sampai
rencana
pengaturan zoning yang
memungkinkan ketinggian
bangunan
di atas
15 meter. Harus
diakui
kedua isu
ini
cukup strategis
karena
cukup luas
implikasinya
terhadap
wajah Bali
ke
depan, baik
dari
segi fisik,
sosial
budaya dan
ekonomi.
Bagaimana
kita
menyikapi wacana-wacana
tadi?
Sejauh
ini media
massa
terutama Bali Post
cukup
memberi ruang
bagi
publik khususnya
tokoh
masyarakat untuk
mengedapankan
pandangan-pandangannya.
Sebagaimana
sudah
dipaparkan di
harian
ini, ada
pandangan yang
terkesan
pendek,
namun ada pula yang
futuristik,
jauh ke
depan.
Ada
pendapat yang
sumir,
tetapi banyak pula
yang komprehensif.
Harus
diakui,
pandangan atau
pendapat yang
muncul
lebih banyak
mewakili
kepentingan
masing-masing
pihak.
Hal
ini
tidak salah,
hanya
dibutuhkan suatu
lembaga yang
bisa
mengakomodasinya.
Di
sinilah
dibutuhkan suatu
kajian yang
independen
di mana
mereka yang
dipilih
diketahui mempunyai
integritas
serta
kapabilitas yang teruji.
Pertimbangannya
bukan
saja ilmiah
murni,
melainkan juga
menenggang
kearifan-kearifan
lokal.
Pandangan
para
tokoh tradisional
harus
didengar karena
masukan
mereka terkadang
lebih
jernih dan
belum
dirasuki pamrih.
Sudah
saatnya
penelitian ini
dilakukan agar
masyarakat
tidak
terombang-ambing oleh
wacana yang
tidak
menentu bahkan
sesat.
Pertanyaan
kita,
siapakah yang memulai?
Sesuai
dengan
tugas dan
kewenangannya,
porsi
terbesar tanggung-jawab
ada di
pundak
pemerintah dan
jajaranya
serta DPRD.
(Mohon
maaf,
mereka memang
digaji
untuk memecahkan
masalah-masalah
publik).
Jangan
dibalik,
masyarakat yang
disuruh
memikirkan dan
mencari
solusi masalah-masalah
publik.
Masyarakat
boleh
saja berpartisipasi,
namun
pemegang kendali
tetap
di tangan
pemerintah. Kita
tidak
tahu, lembaga
apa
di
pemerintah yang bisa
diharapkan
untuk
melakukan kajian
seperti
ini.
Selagi
birokrasi
masih
mempertahankan tradisi
"minta
petunjuk" serta "asal
bapak
senang", memang
sulit
diharapkan muncul
inisiatif
dan
inovasi.
Padahal
sejatinya,
kedua
hal inilah yang
menandai
adanya
dinamika sosial yang
bisa
merangsang masyarakat
untuk
berpartisipasi.
Tanpa
itu,
birokrasi tak
pernah
berhasil mengikuti
irama
masyarakat yang dilayaninya.
Kegelisahan
masyarakat
dalam
merespons wacana
jalan
tol atau
revisi
ketinggian bangunan
mestinya
segera
dijawab dengan
lebih
pasti dan
tegas.
Tentu
saja
melalui penelitian
tadi.
Kehadiran
hasil
penelitian diharapkan
mereduksi
pendapat
atau
pandangan yang mewakili
kepentingan
individu
dan
kelompok.
Namun,
hasil
penelitian tak
bisa
muncul begitu
saja.
Riset
tentu saja
membutuhkan
dana.
Pertanyaannya,
berapa PAD
kita yang
disisihkan
untuk
biaya penelitian?
Pemikiran
bahwa
penelitian adalah
tugas
Perguruan Tinggi
termasuk
pembiayaannya
sudah
saatnya ditinggalkan.
Beberapa
waktu
lalu, sempat
ribut
soal PTS yang dibantu
Pemda Bali.
Tidak
pernah diributkan
untuk
apa
dana yang
diterima
dari
Pemda.
Daripada
dana
seperti
itu dibagi-bagikan
begitu
saja, apakah
tidak
lebih baik
pemerintah
membuat
semacam "tender penelitian".
Misalnya,
Bali
punya
persoalan dengan
lahan,
bagaimana jalan
keluarnya?
Demikian pula
masalah
transporasi,
apa yang
direkomendasikan
para
peneliti? Yang
sanggup
melakukan penelitian
ini,
secara lembaga
atau
orang perorangan,
dipersilahkan.
Tentu
saja
dengan biaya
pemerintah.
Hasilnya
lantas
diseminarkan untuk
menguji
hasil penelitian
oleh
para pembanding.
Persoalannya
tradisi
intelektual kita
belum
tumbuh dengan
baik.
Masyarakat
cenderung
lebih
percaya pada
argumentasi yang
membuai,
padahal
belum tentu
rasional.
Publik
mengekor
pendapat
si A,
karena dia
seorang
tokoh, padahal
belum
tentu benar.
Bali
yang telanjur
terbuka
pada dunia
internasional
tak
bisa lagi
berpaling.
Jangan
sampai
kita semua
menjadi
bahan tertawaan
para
turis karena
sibuk
membahas sesuatu
tanpa
pernah muncul
solusi yang
jitu.
Semoga
pikiran yang
jernih
datang dari
segala
penjuru.
Gregorius