Bom Mobil Tanda Peningkatan Kekerasan di Thailand
Selatan
Bangkok-
Sebuah ledakan besar yang menghantam Thailand selatan
pada Kamis (17/2) malam dan membunuh enam orang,
terlihat sebagai tanda-tanda peningkatan aksi teroris
untuk melawan kebijakan baru yang diterapkan Perdana
Menteri Thaksin Shinawatra.
Bom yang meledak Kamis malam di sebelah
Selatan perbatasan kota Sungai Kolok merupakan sebuah
serangan bom paling mematikan dari serangkaian bom
bunuh diri sebelumnya, yang belakangan ini terus
terjadi di wilayah pedalaman Selatan Thailand selama
tiga belas bulan.
Pihak analis memperingatkan serangan
itu merupakan pertanda di wilayah pemerintahan Thaksin,
yang baru-baru ini memenangkan pemilu di Thailand,
bahwa pihak separatis militan bertempur untuk
memperoleh otonomi yang lebih besar.
"Jika ada sebuah serangan bom mobil,
akan ada serangan kedua dan ketiga," kata Phuvadol
Songprasert seorang dosen di Universitas Kasetsart
Bangkok.
Sementara itu pengamat keamanan
sekaligus profesor di Universitas Chulalongkorn,
Panitan Wattanayagorn, menyatakan persetujuannya bahwa
pihak pemberontak semakin berani melakukan aksinya
dalam beberapa bulan terakhir, saat pihak kepolisian
menyatakan akan menghancurkan kekuatan militan di
propinsi Selatan Thailand.
"Pesan yang disampaikan para militan
sudah sangat jelas, mereka terus mencoba untuk
melakukan perlawanan dengan metode klasik dan
bertujuan untuk menambah jumlah korban," imbuhnya.
"Saat kekuatan militer melakukan
pengejaran, mereka seakan lenyap. Saat keadaan
terlihat terkendali mereka kemudian kembali dengan
kekuatan lebih besar. Mereka merekrut lebih banyak
pendukung dan serangan akan dilakukan dengan lebih
berani."
Sebelumnya bom meledak, pada Kamis pagi
Thaksin memberikan mandatnya untuk menghancurkan
gerakan separtis yang terus mengacaukan negaranya. Ia
juga memberikan rencana yang menuai banyak kritikan
dimana 358 desa yang mendukung pemberontak tidak akan
diberikan bantuan dari pemerintah.
Beberapa jam kemudian, sebuah bom
dengan kekuatan dahsyat meledak di Sungai Kolok dan
mengindikasikan rencana dari Thaksin ini akan menempuh
jalan terjal yang berbatu.
Menanggapi insiden tersebut, pada Jumat
kemarin Thaksin mengakui bahwa pihak pemberontak
kelihatannya semakin menunjukkan sikap yang kurang
bersahabat dan menuju ke arah yang lebih buruk. Namun
daripada menggunakan jalur diplomasi yang memakan
waktu dan kurang kelihatan efektif, tindakan yang
lebih tegas merupakan jalan yang harus dilakukan.
"Kita memperkirakan kejahatan semacam
ini akan terus berlangsung untuk beberapa waktu, ini
karena pihak keamanan Thailand belum menunjukkan
respon yang agresif," kata Thaksin kepada wartawan di
tengah pengejaran para militan.
"Tindak kejahatan semakin meningkat,
namun tidak menjurus ke arah perang sipil," imbuhnya.
Pada selasa lalu susunan kabinet yang
sepenuhnya dikuasai oleh Thaksin, mengeluarkan
perintah dengan mengirimkan lebih dari 10.000 tentara
untuk ditempatkan di wilayah Thailand Selatan. Gerakan
ini juga menimbulkan banyak kritikan karena lebih
banyak menggunakan kekuatan militer dalam berdiplomasi
dan negosiasi.
Pada April lalu, militer Thailand
melakukan pembantain besar-besaran dengan membunuh 108
militan. Banyak kritikan dari pihak internasional
akibat sistim yang dilakukan oleh Thaksin dalam
menghadapi pemberontak, utamanya dari negara tetangga
Thailand.
Pada Oktober lalu sebanyak 87
demonstran tewas dalam demo besar-besaran di distrik
Tak Bai, para demonstran itu tewas akibat dijejalkan
dalam truk militer. (ton/afp)