kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 19 Pebruari 2005

 Mancanegara


Bom Mobil Tanda Peningkatan Kekerasan di Thailand Selatan
  

Bangkok-
Sebuah ledakan besar yang menghantam Thailand selatan pada Kamis (17/2) malam dan membunuh enam orang, terlihat sebagai tanda-tanda peningkatan aksi teroris untuk melawan kebijakan baru yang diterapkan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra.

Bom yang meledak Kamis malam di sebelah Selatan perbatasan kota Sungai Kolok merupakan sebuah serangan bom paling mematikan dari serangkaian bom bunuh diri sebelumnya, yang belakangan ini terus terjadi di wilayah pedalaman Selatan Thailand selama tiga belas bulan.

Pihak analis memperingatkan serangan itu merupakan pertanda di wilayah pemerintahan Thaksin, yang baru-baru ini memenangkan pemilu di Thailand, bahwa pihak separatis militan bertempur untuk memperoleh otonomi yang lebih besar.

"Jika ada sebuah serangan bom mobil, akan ada serangan kedua dan ketiga," kata Phuvadol Songprasert seorang dosen di Universitas Kasetsart Bangkok.

Sementara itu pengamat keamanan sekaligus profesor di Universitas Chulalongkorn, Panitan Wattanayagorn, menyatakan persetujuannya bahwa pihak pemberontak semakin berani melakukan aksinya dalam beberapa bulan terakhir, saat pihak kepolisian menyatakan akan menghancurkan kekuatan militan di propinsi Selatan Thailand.

"Pesan yang disampaikan para militan sudah sangat jelas, mereka terus mencoba untuk melakukan perlawanan dengan metode klasik dan bertujuan untuk menambah jumlah korban," imbuhnya.

"Saat kekuatan militer melakukan pengejaran, mereka seakan lenyap. Saat keadaan terlihat terkendali mereka kemudian kembali dengan kekuatan lebih besar. Mereka merekrut lebih banyak pendukung dan serangan akan dilakukan dengan lebih berani."

Sebelumnya bom meledak, pada Kamis pagi Thaksin memberikan mandatnya untuk menghancurkan gerakan separtis yang terus mengacaukan negaranya. Ia juga memberikan rencana yang menuai banyak kritikan dimana 358 desa yang mendukung pemberontak tidak akan diberikan bantuan dari pemerintah. 

Beberapa jam kemudian, sebuah bom dengan kekuatan dahsyat meledak di Sungai Kolok dan mengindikasikan rencana dari Thaksin ini akan menempuh jalan terjal yang berbatu.

Menanggapi insiden tersebut, pada Jumat kemarin Thaksin mengakui bahwa pihak pemberontak kelihatannya semakin menunjukkan sikap yang kurang bersahabat dan menuju ke arah yang lebih buruk. Namun daripada menggunakan jalur diplomasi yang memakan waktu dan kurang kelihatan efektif, tindakan yang lebih tegas merupakan jalan yang harus dilakukan.

"Kita memperkirakan kejahatan semacam ini akan terus berlangsung untuk beberapa waktu, ini karena pihak keamanan Thailand belum menunjukkan respon yang agresif," kata Thaksin kepada wartawan di tengah pengejaran para militan.

"Tindak kejahatan semakin meningkat, namun tidak menjurus ke arah perang sipil," imbuhnya.

Pada selasa lalu susunan kabinet yang sepenuhnya dikuasai oleh Thaksin, mengeluarkan perintah dengan mengirimkan lebih dari 10.000 tentara untuk ditempatkan di wilayah Thailand Selatan. Gerakan ini juga menimbulkan banyak kritikan karena lebih banyak menggunakan kekuatan militer dalam berdiplomasi dan negosiasi.

Pada April lalu, militer Thailand melakukan pembantain besar-besaran dengan membunuh 108 militan. Banyak kritikan dari pihak internasional akibat sistim yang dilakukan oleh Thaksin dalam menghadapi pemberontak, utamanya dari negara tetangga Thailand.

Pada Oktober lalu sebanyak 87 demonstran tewas dalam demo besar-besaran di distrik Tak Bai, para demonstran itu tewas akibat dijejalkan dalam truk militer. (ton/afp)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)