Generasi
Pengukir yang
Terputus
BICARA
soal relief
dan
ukiran khas
Buleleng,
orang
tetap harus
melihat
kemegahan arsitektur
dan
ukiran di
Pura
Meduwe Karang,
Kubutambahan.
Di
luar relief
orang
naik sepeda yang
begitu
ekstrem, secara
keseluruhan
ukiran
di Pura-pura
besar
itu mencerminkan
kekhasan
seni
rupa Bali Utara yang
sebaiknya
dipertahankan
keasliannya.
Pura
ini
dibangun pada
zaman Bali Kuna,
sekitar
tahun 1260.
Namun,
menurut
keterangan Benesa
Adat
Kubutambahan Pasek
Warkadeya,
ukiran
dan relief yang tampak
sekarang
ini
sebetulnya dikerjakan
pada
awal abad ke-20.
Pengukirnya
adalah
undagi Kaki Jeneng
dan Kaki
Nuragia.
Dua
undagi
inilah yang dipercaya
sebagai
peletak dasar-dasar
seni
ukir khas
Buleleng
seperti yang
tampak
pada Pura-pura
tua dan
pura
besar di
wilayah
Kubutambahan.
Dua
undagi
besar asal
Dusun
Kubuanyar ini
juga
dipercaya merancang
ukiran
Pura Desa yang
tersebar
di
wilayah Kubutambahan
dan
Sangsit.
Selain
Pura
Meduwe Karang,
Pura
Beji Sangsit,
Pura
Merajan Satria
dan
Pura Jagaraga,
hasil
karya kedua
undagi
ini bisa
dilihat
hingga kini
di dua
wilayah
bersejarah di
Buleleng
Timur
itu.
Sayangnya,
setelah Kaki
Jeneng
dan Kaki Nuragia,
generasi
pengukir
dan
undagi di
Buleleng
seakan
terputus.
Keturunan
dua
undagi itu,
menurut
Warkadeya, memang
menggeluti
dunia
tukang bangunan.
Namun,
ia
menilai,
keturunannya
tak
bisa meneruskan
pola-pola
ukiran
khas Buleleng.
Kelompok
pengukir
lainnya
juga tak
berupaya
meneruskan
tipe
ukiran yang diterapkan
Kaki Jeneng
dan Kaki
Nuragia.
Tipe
ukiran
itu seolah
ditinggalkan
begitu
saja.
Arsitektur
Luar
Terputusnya
generasi
pengukir
ini,
diakui Ketua
Listibiya
Buleleng
Sudyatmaja
Sugriwa.
Setelah
tahun 1920-an,
masyarakat
Buleleng
mulai
menerima pengaruh
arsitektur
luar.
Pengaruh
itu
bukan hanya
datang
dari Bali Selatan,
tetapi
juga datang
dari
Belanda ketika
wilayah
Buleleng dikuasai
orang-orang
Belanda.
Bahkan,
ketika
Belanda membangun
rumah
di Singaraja
dengan
arsitektur Belanda,
orang-orang
Buleleng
juga
ikut membangun
rumah
semacam itu.
Sehingga yang
terjadi
kemudian, masyarakat
mulai "membuang"
bangunan-bangunan
khas Bali,
seperti bale sari, bale
gede
dan sejenisnya.
Nah,
ketika
zaman Belanda
sudah
lewat, masyarakat
Buleleng
dihadapkan
kembali
dengan pengaruh
arsitektur
dari Bali
Selatan.
''Orang
Buleleng mulai
ingat
kembali bahwa
dulu
mereka pernah
memiliki bale sari
dan
bangunan khas
lainnya,"
paparnya.
Lalu
ketika
hendak membangun
kembali
arsitektur khas Bali,
masyarakat
Buleleng
mau tak
mau
menggunakan ukiran
dan
tipe bangunan
khas Bali
Selatan.
Karena
saat
itu ukiran Bali
Selatan
memang sedang
mewabah.
Terjadinya
proses
pengaruh-mempengaruhi
berkali-kali seperti
itu,
kata Sudyatmaka,
otomatis
sangat
kesulitan melacak
kembali
pola-pola dasar
ukiran
khas Buleleng.
"Untungnya,
Pura-pura
tua di
Buleleng
Timur
masih menyisakan
petunjuk,"
ujarnya.
(ole)