kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 19 Pebruari 2005

 Kultur


Generasi
Pengukir yang Terputus 

BICARA soal relief dan ukiran khas Buleleng, orang tetap harus melihat kemegahan arsitektur dan ukiran di Pura Meduwe Karang, Kubutambahan. Di luar relief orang naik sepeda yang begitu ekstrem, secara keseluruhan ukiran di Pura-pura besar itu mencerminkan kekhasan seni rupa Bali Utara yang sebaiknya dipertahankan keasliannya.

Pura ini dibangun pada zaman Bali Kuna, sekitar tahun 1260. Namun, menurut keterangan Benesa Adat Kubutambahan Pasek Warkadeya, ukiran dan relief yang tampak sekarang ini sebetulnya dikerjakan pada awal abad ke-20. Pengukirnya adalah undagi Kaki Jeneng dan Kaki Nuragia. 

Dua undagi inilah yang dipercaya sebagai peletak dasar-dasar seni ukir khas Buleleng seperti yang tampak pada Pura-pura tua dan pura besar di wilayah Kubutambahan. Dua undagi besar asal Dusun Kubuanyar ini juga dipercaya merancang ukiran Pura Desa yang tersebar di wilayah Kubutambahan dan Sangsit.

Selain Pura Meduwe Karang, Pura Beji Sangsit, Pura Merajan Satria dan Pura Jagaraga, hasil karya kedua undagi ini bisa dilihat hingga kini di dua wilayah bersejarah di Buleleng Timur itu.

Sayangnya, setelah Kaki Jeneng dan Kaki Nuragia, generasi pengukir dan undagi di Buleleng seakan terputus. Keturunan dua undagi itu, menurut Warkadeya, memang menggeluti dunia tukang bangunan. Namun, ia menilai, keturunannya tak bisa meneruskan pola-pola ukiran khas Buleleng. Kelompok pengukir lainnya juga tak berupaya meneruskan tipe ukiran yang diterapkan Kaki Jeneng dan Kaki Nuragia. Tipe ukiran itu seolah ditinggalkan begitu saja.

 

Arsitektur Luar

 

Terputusnya generasi pengukir ini, diakui Ketua Listibiya Buleleng Sudyatmaja Sugriwa. Setelah tahun 1920-an, masyarakat Buleleng mulai menerima pengaruh arsitektur luar. Pengaruh itu bukan hanya datang dari Bali Selatan, tetapi juga datang dari Belanda ketika wilayah Buleleng dikuasai orang-orang Belanda.

Bahkan, ketika Belanda membangun rumah di Singaraja dengan arsitektur Belanda, orang-orang Buleleng juga ikut membangun rumah semacam itu. Sehingga yang terjadi kemudian, masyarakat mulai "membuang" bangunan-bangunan khas Bali, seperti bale sari, bale gede dan sejenisnya. Nah, ketika zaman Belanda sudah lewat, masyarakat Buleleng dihadapkan kembali dengan pengaruh arsitektur dari Bali Selatan.

''Orang Buleleng mulai ingat kembali bahwa dulu mereka pernah memiliki bale sari dan bangunan khas lainnya," paparnya.

Lalu ketika hendak membangun kembali arsitektur khas Bali, masyarakat Buleleng mau tak mau menggunakan ukiran dan tipe bangunan khas Bali Selatan. Karena saat itu ukiran Bali Selatan memang sedang mewabah. Terjadinya proses pengaruh-mempengaruhi berkali-kali seperti itu, kata Sudyatmaka, otomatis sangat kesulitan melacak kembali pola-pola dasar ukiran khas Buleleng. "Untungnya, Pura-pura tua di Buleleng Timur masih menyisakan petunjuk," ujarnya. (ole)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)