kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 19 Pebruari 2005

 Bali


Rekontruksi ''Sales'' Aborsi ----
Jaga Pasien di Depan Kantor BKIA

Denpasar (Bali Post) -
Rekontruksi teknik sales aborsi, Susiati mencari pasien yang digelar Polda Bali, di depan kantor Balai Kesehatan Ibu Anak (BKIA) Bali, Jalan Gatsu IV Denpasar, berjalan singkat dan cepat. Reka ulang adegan tersangka menjemput korban praktik aborsi yang melibatkan Ketut Arik Wiantara, SKG hanya berjalan 15 menit, mulai pukul 17.20 sampai 17.35. Kehadiran polisi di Poliklinik Catur Warga mendapat perhatian warga sekitarnya, bakan arus lalin menuju Hotel Nikki sempat terhambat.

Adegan pertama dimulai dari kedatangan Susiati di Jalan Gatsu IV. Menggunakan sepeda motor jenis Honda Prima dengan nopol DK 4762 KD, tersangka berhenti pas di depan kantor BKIA Bali yang juga Poliklinik Catur Warga. Seperti biasa, pedagang jamu dan parfum itu membawa satu tas barang untuk ditawarkan pada pelanggan. Tak ada yang curiga kalau Susiati lagi melakoni profesi sebagai sales aborsi. Ibu dua anak itu memarkir sepeda motor di bawah pohon kayu rindang, pas di samping warung bakso.

Entah sudah janjian atau kebetulan, sepasang muda mudi keluar dari Poliklinik Catur Warga. Adegan ini dimainkan seorang polwan dan polisi. Saksi yang berinisial M sedang hamil muda, sementara sang pacar belum siap kawin. Susiati dengan sigap menjemput pasien dan langsung diajak ke tempat praktik Arik Wiantara, di Jalan Tukad Petanu Gang Gelatik No.5 Panjer, Denpasar. Tersangka membawa sepeda motor sendiri, dan M dibonceng kekasihnya.

Rekontruksi kasus sales aborsi ini tak hanya memancing perhatian masyarakat di Jalan Gatsu IV. Sejumlah warga mengaku terkejut melihat Susiati mengenakan seragam tahanan Polda Bali dan digelandang petugas. ''Pantas, sudah dua minggu Ibu Susi tak nongol-nongol. Biasanya, tiap pukul 10.00 sudah berhenti di depan kantor BKIA,'' kata seorang.

Sumber di TKP menyatakan, Susiati sering melakukan pembicaraan rahasia dengan wanita hamil yang baru saja keluar dari Poliklinik Catur Warga. Terkadang pelanggan yang dicari langsung diajak pergi, dan ada juga yang menolak. Untuk calon pasien yang belum dikenal, tersangka pura-pura menawarkan jamu penahan rasa sakit saat menstruasi. ''Jadi selama ini Ibu Susi cari pasien aborsi toh..., ya gusti pedagang jamu itu ditangkap polisi,'' ucap seorang wanita dengan logat Jawa.

Susiati (37) ditangkap Polda Bali pada 3 Februari 2005. Imbalan Rp 100.000 per pasien yang diterima dari Arik Wiantara, telah mengantarkan dirinya ke ruang tahanan. Dia kenal Arik Wiantara pada September 2003. Sejak itu, jadilah Susiati sales aborsi dengan imbalan Rp 100.000 per pasien. ''Saya baru mengirim 20 ibu hamil ke Arik Wiantara,'' katanya lirih.

Susiati adalah bungsu dari 9 bersaudara. Wanita asal Muncar, Banyuwangi itu sudah tinggal di Denpasar sejak 1985. sang kakak, Apat mengakui adiknya bekerja di tempat praktik Arik Wiantara. Tapi ia tidak tahu sejauhmana keterlibatan adiknya. ''Saya belum pernah melihat hidung si dokter itu," ujarnya. (jep)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)