Rekontruksi ''Sales'' Aborsi ----
Jaga Pasien di Depan Kantor BKIA
Denpasar (Bali Post) -
Rekontruksi teknik sales aborsi, Susiati mencari
pasien yang digelar Polda Bali, di depan kantor Balai
Kesehatan Ibu Anak (BKIA) Bali, Jalan Gatsu IV
Denpasar, berjalan singkat dan cepat. Reka ulang
adegan tersangka menjemput korban praktik aborsi yang
melibatkan Ketut Arik Wiantara, SKG hanya berjalan 15
menit, mulai pukul 17.20 sampai 17.35. Kehadiran
polisi di Poliklinik Catur Warga mendapat perhatian
warga sekitarnya, bakan arus lalin menuju Hotel Nikki
sempat terhambat.
Adegan pertama dimulai dari kedatangan
Susiati di Jalan Gatsu IV. Menggunakan sepeda motor
jenis Honda Prima dengan nopol DK 4762 KD, tersangka
berhenti pas di depan kantor BKIA Bali yang juga
Poliklinik Catur Warga. Seperti biasa, pedagang jamu
dan parfum itu membawa satu tas barang untuk
ditawarkan pada pelanggan. Tak ada yang curiga kalau
Susiati lagi melakoni profesi sebagai sales aborsi.
Ibu dua anak itu memarkir sepeda motor di bawah pohon
kayu rindang, pas di samping warung bakso.
Entah sudah janjian atau kebetulan,
sepasang muda mudi keluar dari Poliklinik Catur Warga.
Adegan ini dimainkan seorang polwan dan polisi. Saksi
yang berinisial M sedang hamil muda, sementara sang
pacar belum siap kawin. Susiati dengan sigap menjemput
pasien dan langsung diajak ke tempat praktik Arik
Wiantara, di Jalan Tukad Petanu Gang Gelatik No.5
Panjer, Denpasar. Tersangka membawa sepeda motor
sendiri, dan M dibonceng kekasihnya.
Rekontruksi kasus sales aborsi ini tak
hanya memancing perhatian masyarakat di Jalan Gatsu
IV. Sejumlah warga mengaku terkejut melihat Susiati
mengenakan seragam tahanan Polda Bali dan digelandang
petugas. ''Pantas, sudah dua minggu Ibu Susi tak
nongol-nongol. Biasanya, tiap pukul 10.00 sudah
berhenti di depan kantor BKIA,'' kata seorang.
Sumber di TKP menyatakan, Susiati
sering melakukan pembicaraan rahasia dengan wanita
hamil yang baru saja keluar dari Poliklinik Catur
Warga. Terkadang pelanggan yang dicari langsung diajak
pergi, dan ada juga yang menolak. Untuk calon pasien
yang belum dikenal, tersangka pura-pura menawarkan
jamu penahan rasa sakit saat menstruasi. ''Jadi selama
ini Ibu Susi cari pasien aborsi toh..., ya gusti
pedagang jamu itu ditangkap polisi,'' ucap seorang
wanita dengan logat Jawa.
Susiati (37) ditangkap Polda Bali pada
3 Februari 2005. Imbalan Rp 100.000 per pasien yang
diterima dari Arik Wiantara, telah mengantarkan
dirinya ke ruang tahanan. Dia kenal Arik Wiantara pada
September 2003. Sejak itu, jadilah Susiati sales
aborsi dengan imbalan Rp 100.000 per pasien. ''Saya
baru mengirim 20 ibu hamil ke Arik Wiantara,'' katanya
lirih.
Susiati adalah bungsu dari 9 bersaudara.
Wanita asal Muncar, Banyuwangi itu sudah tinggal di
Denpasar sejak 1985. sang kakak, Apat mengakui adiknya
bekerja di tempat praktik Arik Wiantara. Tapi ia tidak
tahu sejauhmana keterlibatan adiknya. ''Saya belum
pernah melihat hidung si dokter itu," ujarnya.
(jep)