Dari Warung
Global Interaktif Bali Post
Laporan
BPS Soal
Pertumbuhan
Ekonomi 2004 ABS?
Komisi
XI DPR menuding
perhitungan
statistik yang
selama
ini disajikan
Badan
Pusat Statistik (BPS)
datanya
sering tidak
lengkap,
akurasi yang
dihasilkan
juga
sangat rendah.
Salah
satu yang dianggap
menyesatkan
adalah
mengenai pertumbuhan
ekonomi Indonesia 2004 yang
mencapai 5,13
persen,
melampaui target dalam
APBN 2004 sebesar 4,8
persen.
Pasalnya, target 4,8
persen
dan pertumbuhan
tahun-tahun
sebelumnya
dihitung
dengan
menggunakan tahun
dasar 1993,
sedangkan
pertumbuhan 2004
dihitung
dengan
tahun dasar 2000.
Tahun
dasar 2000
mencakup
aktivitas
usaha yang
lebih
banyak dari
tahun
dasar 1993. Sehingga,
nilai nominal
maupun real PDB
akan
lebih
besar jika
dibandingkan
dengan
nilai PDB nominal dan
real yang dihitung
berdasarkan
tahun
dasar 1993.
Tudingan
terhadap BPS
ini
jelas artinya
keakuratan
datanya
disangsikan. Demikian
antara
lain disampaikan
pengunjung
Warung Global
interaktif,
Jumat (18/2)
kemarin.
Acara
yang disiarkan
langsung Radio Global 96.5
FM Kinjani
ini
juga dipancarluaskan
Radio Genta
Swara
Sakti Bali dan
Singaraja FM.
Berikut
rangkumannya.
Gusti
di
Renon mengatakan
aneh
kalau kita
telusuri,
mengapa
untuk mendapatkan
hasil
tahun 2005 acuannya
tahun 1993.
Sederhananya,
menurut
dia, dalam
rentang
waktu itu
banyak
hal yang bisa
terjadi.
Untuk
mendapatkan
hasil yang
akurat
pemerintah tidak
bisa
menyalahkan saja,
namun
harus bersama-sama
mencari
jalan keluarnya.
Menurut
Nang
Tualen, harus
ada
standar yang jelas
waktu yang
dipakai
untuk mengukur
pertumbuhan
ekonomi
tersebut.
Tentunya
BPS juga
mungkin
memakai rasio.
De Karo
di Blahbatuh
menambahkan,
sepertinya
agak
susah
juga
untk mendapatkan data
yang valid. Kita
harus
memahami juga
bahwa BPS
itu
cukup banyak yang
dikerjakan.
Dalam
pikiran De Karo,
kalau
rentang waktunya
pendek
mengadakan survai,
berarti
itu juga
membutuhkan
banyak
dana.
Antonius
di
Tabanan mengajak
kita
melongok ke era
pemerintahan
Soeharto.
Ketika
itu BPS
juga mendapatkan
intervensi,
sehingga
kita
bisa lihat
bahwa
laporan BPS pun bisa
ABS (asal
bapak
senang). Bagi
Antonius,
tidak
bisa dikatakan
faktor SDM
bisa
memicu kurangnya
kinerja BPS,
karena
sepengetahuannya,
orang-orang BPS sudah
mendapatkan
pengarahan
dan
banyak mengenyam
pendidikan
tinggi,
sehingga hasilnya
juga
tidak diragukan
lagi.
Sekarang
ini yang
bisa
kita lakukan
adalah
mengembalikan mentalitas
mereka yang
terbiasa
mendapatkan
intervensi.
Kita juga
sadar
bahwa dalam
melakukan
pengolahan data
ada
banyak pihak yang
terkait
di dalamnya.
Kadek
Kariana
di Singaraja
mengaku
berpikir sederhana
saja
soal BPS yang disebut-sebut
menyesatkan.
Ia
mengatakan,
coba
kita lihat
siapa yang
menggaji BPS
itu,
bukankah pemerintah
juga?
Menurutnya,
susah
juga
kalau kita
meminta BPS
harus
independen.
Karena
yang terjadi
di
lapangan, siapa yang
membiayai
pasti
keberpihakannya pun kepada
mereka yang
membiayainya.
Prianus
mengajak, yang
pertama
kita harus
ketahui
adalah
apa yang dimaksud
pertumbuhan
ekonomi. Kita pun
harus
mengetahui indikator
apa
yang dipakai
untuk
melakukan survai.
Kalau
ingin
menguji hasil
survai,
jalannya mungkin
dengan
menghitung ulang
atau
mencari solusi
bagaimana
caranya agar
kesalahan
tidak
terulang kembali.
Sementara
itu,
Dewa Winaya
mengatakan
pemerintah
pastilah
berusaha
juga
mengatasi hasil yang
tak
sempurna itu.
Ditambahkan
oleh
Putu Suwena,
warga
asli Karangasem,
biasanya
memang
petumbuhan ekonomi
yang dikatakan
naik,
di lapangan
tidak
seperti itu.
Menurut
Ledang Asmara,
kebanyakan
pengumpulan data
di mana
pun, selalu
terjadi
penggelembungan.
Dia
sendiri
mengaku juga
pernah
terlibat di
dalamnya,
namun
memprotes hasil yang
sudah
dibuat sedemikian
rupa
untuk menyenangkan
atasan.
Bahkan,
tidak
sedikit juga
mereka
memiliki dua
pembukuan.
Bagi
De Jabrik
di
Gianyar, sebetulnya
ia
lebih
berharap pemerintah
tidak
langsung mengatakan
bahwa data
pertumbuhan
ekonomi Indonesia 2004
menyesatkan.
Karena
itu, dia
berharap
anggota DPR
mestinya
mengetahui
pencarian data
secara
ilmiah.
(dev)