kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Pon, 23 Oktober 2005 tarukan valas
 

POTRET


Ni Wayan Pusti

Banjar Perlu Dibangkitkan Perannya Bangun Kesenian

Tiap tahun Pemprop Bali selalu memberikan penghargaan terhadap seniman-seniman tradisional Bali yang sudah uzur. Penghargaan ini diserahkan berkaitan dengan Pesta Kesenian Bali. Salah satu seniman tua yang sudah mendapat anugerah tersebut adalah Ni Wayan Pusti, seniman tari arja dari Banjar Adeng, Marga, Tabanan. Sebelum 1970-an, ibu satu putri ini adalah penghibur pengunjung amal lewat kesenian drama tari arja. Selanjutnya, ia menjadi pelatih hingga mengunjungi desa-desa terpencil. Namun, belakangan ini kesenian arja itu tidak lagi dilakoninya. Ia menjadi seorang dasaran. Berikut petikan wawancara Bali Post dengan wanita kelahiran tahun 1930 ini.

-------------

 

BAGAIMANA awalnya Anda bisa jadi seniman arja?

Masyarakat Bali di desa, setiap menggelar odalan selalu menyertakan seni tabuh atau seni tari. Di situ, tidak hanya melibatkan penari dewasa, banyak juga penari anak-anak. Itu sudah jadi kebiasaan, sehingga anak-anak selalu gembira ketika odalan tiba. Sering menyaksikan kejadian seperti itu, akhirnya saya tertarik untuk bisa menari. Saya memberanikan diri ikut walau belum pernah latihan. Anehnya, saya cepat bisa, di situ saya jadi penari pendet. Memendet bukan hanya saya lakukan di tempat kelahiran, juga di pura yang ada di desa lain atau di mana saja saya nangkil.

 

Apakah hanya sebagai penari pendet saja?

Menjelang remaja, saya dipercaya sebagai penari condong mendukung Sekaa Barong Banjar Lebah, Desa Marga. Saat itu sesuwunan Ratu Gede yang melinggih di Pura Penataran Banjar Lebah akan mesolah belum memiliki penari. Saya sebagai penari paling kecil yang memerankan Condong. Meski belum pernah berlatih secara serius, saya mampu mengimbangi penari-penari senior.

 

Lantas Anda menjadi penari arja?

Ya, itu bermula dari saya menjadi penari arja bon. Pertama kali saya pentas di Pura Batur Kintamani memerankan tokoh Bagus Merengan. Selanjutnya, saya bergabung dengan Sekaa Arja milik (alm.) Sagung Joda dari Sangeh. Pada tahun 1943 akhirnya saya berlatih tari pada Pan Rusna asal Banjar Adeng selama tujuh hari, spesial berlatih bermain tokoh Mantri Manis. Dari situlah saya lantas selalu didapuk untuk memperkuat sekaa arja lain. Saya tak pernah sepi pesanan pentas, hampir tiap malam. Saya pentas hampir di seluruh daerah Bali.

 

Di masa perjuangan, bagaimana Anda berkesenian?

Pada masa itu saya sebagai penari penghibur para prajurit yang berjuang melawan penjajahan. Saya sering menari di markas-markas pejuang, tanpa bayaran, dari daerah Kesiut, Gadungan, Samsam, Perean, dan desa lainnya.

 

Apakah Anda sendiri tidak ingin membentuk sekaa sendiri?

Sekitar tahun 1950-an, setelah lama berprofesi sebagai penari bon, saya akhirnya mengumpulkan teman-teman dari Banjar Adeng untuk ikut berlatih tari arja. Mereka kebanyakan sudah berkeluarga yang tak sedikit memiliki kesibukan. Selain dari desa sendiri juga ada dari desa lain. Saya melatih mereka di halaman rumah. Judul yang pertama kali diangkat adalah Made Suarsa. Tanpa diduga, sekaa arja ini banyak dipesan, sehingga setiap pentas kami mengganti lakon yang dibawakan seperti Klimunilang, Made Sambutsegara, Made Suarsa, dan banyak lagi.

 

Selain arja, jenis kesenian apa lagi yang Anda ikuti?

Saya juga pernah jadi pemain drama gong. Saat itu mengambil cerita perjuangan Gusti Ngurah Rai. Saya sebagai istrinya pemangku Pura Dalem Basa yang terletak di Banjar Ole, tempat para pejuang mohon keselamatan sebelum mengambil senjata ke Tangsi Tabanan.

 

***

 

APAKAH saat ini Anda masih melatih tari arja?

Tidak. Sekitar tahun 1985, saya akhirnya berhenti melatih, karena saya sudah berprofesi sebagai dasaran. Namun, menari terkadang juga saya lakukan seperti pentas di Sidemen, Karangasem, pada upacara ngusaba desa dan pentas di Danau Tamblingan atas pesanan Bupati Tabanan saat itu. Terakhir, saya menari pada saat odalan di Pura Dalem Banjar Adeng. Banyak memang ajakan pentas, tetapi saya menolak. Saya tidak berani mengambil ayahan terlalu banyak.

 

Bagaimana Anda bisa berhenti menari kemudian menjadi "dasaran" itu?

Prosesnya sangat alami. Sama halnya ketika saya mengawali sebagai penari. Tidak ada yang melatih, hanya berdasarkan pengalaman saja. Untuk bisa menari, sampai-sampai saya tidak bisa tidur memikirkan bagaimana caranya agar bisa menari. Menjadi dasaran juga demikian. Hal itu tiba-tiba saja datang. Itu titah sesuhunan.

 

Pada awal-awalnya jadi "dasaran", apa pengalaman Anda?

Pertama kali datang seorang pemangku Pura Dalem dari Sembung Sobangan, Mengwi, Badung. Saat itu perasaan saya tidak menentu, buka penganine bangbang meken mati, karena saya merasa bodoh. Hal ini sangat beda karena seorang dasaran itu, pada saat ngeredana, banyak yang dipuja. Untung kemudian rasa percaya diri sebagai ketika saya menjadi penari di atas pentas itu muncul. Lama-lama akhirnya menjadi biasa. Setelah itu banyak yang datang dari berbagai daerah di Bali. Bahkan ada seorang wisatawan asal Jerman dan Belgia yang kehilangan jaket dengan barang berharga di kantongnya. Saat itu, katanya saya bisa mengatakan, jaket itu akhirnya bisa ditemukannya.

 

Biasanya orang yang memiliki masalah apa saja bisa menanyakan ke Anda?

Banyak, seperti orang yang nunasang perihal penyakit, kehilangan, sampai nunasang tentang kawitan. Dalam sehari, jumlah yang datang tidak menentu. Terkadang ramai sampai sepuluh orang per hari, terkadang pula hanya dua orang. Ini saya bisa lakukan setiap hari, kecuali pada pasah munggah setengah hari dan pada saat purnama tidak munggah.

 

***

 

KEMBALI ke kesenian arja. Menurut Anda, bagaimana perkembangan arja kini?

Sangat bagus, banyak munculan sekaa-sekaa arja, termasuk munculnya sekaa arja muani yang menjadi primadona masyarakat kini. Bahkan ada arja anak-anak, walau jumlahnya sedikit. Namun, arja sekarang tak sama dengan arja dulu. Arja sekarang lebih banyak mengedepankan banyolannya. Seorang penari condong, misalnya, sebetulnya tidak boleh melucu atau monyer. Kalau pada adegan sedih harus sedih dan serius, lain halnya dengan Penasar Mantri Buduh dan Desak Rai. Pementasan arja dulu lebih mengesankan. Kalau ngelampahang Jayaprana, Cupak Grantang atau Sampik Ingtai, banyak penonton ikut menangis tersedu-sedu. Sehingga, sehabis pentas, penonton tidak langsung pulang, mereka datang ke belakang panggung melihat penari yang hendak membuka pakaian pentas. Sebagai penari, saya sangat terkesan melihat antusias penonton pada masa lalu.

 

Dengan menampilkan banyak banyolan, apakah arja kini merupakan sebuah kemunduran?

Saya tak berani mengatakan itu sebuah kemunduran atau kemajuan. Mungkin saja karena itu merupakan perkembangan zaman, sehingga penampilannya disesuaikan dengan kebutuhan penonton. Penari kini banyak yang pintar. Namun, jarang ada penonton yang sampai menangis, malah hanya tertawa terpingkal-pingkal. Walaupun dalam adegan sedih atau serius tetap ada banyolannya. Saya rasa di sini sedikit ada pergeseran. Walau demikian, saya akui mereka mampu membawakannya sehingga setiap ada pertunjukan arja saya selalu menonton. Saya melihat, arja kini lebih banyak tantangannnya.

 

Menurut Anda, bagaimana minat anak-anak kini terhadap pertunjukan arja?

Anak-anak zaman dulu kebanyakan senang menari dan metembang. Kebiasaan ini dilakukan sambil bekerja. Misalnya, pada saat munuh, manyi atau mencari kayu bakar di tegalan. Anak-anak dulu selalu riang dan merasa terhibur dengan tembang. Hampir semua anak zaman itu bisa metembang, menari dan megambel. Namun kini, anak-anak lebih senang menonton film, mendengarkan lagu-lagu daerah lain atau lagu-lagu Bali yang populer. Jarang anak kini bisa metembang sehingga kesenian arja seakan menjadi abu. Semua itu karena pengaruh lingkungan.

 

Apa saran Anda sehingga kesenian Bali, khususnya arja, tetap diminati anak-anak kini?

Agak susah. Kecuali, itu ada di masyarakat yang mengikat mereka untuk berkesenian. Bagi saya, sebaiknya banjar kembali dibangkitkan peranannya untuk membangun kesenian dan membuat organisasi kesenian. Banjar bisa membentuk sekaa-sekaa kesenian, kemudian pilih anak-anak sebagai pelakunya, dalam kegiatan menari, menabuh atau nembang. Kalau tidak ada sekaa kesenian di banjar, rasanya tidak akan mungkin anak-anak mau melakoni keseninian tradisional. Kalau kesadaran mereka kurang, bisa dibuatkan pararem atau aturan, sehingga kalau ada yang tidak mau dikenakan sanksi. Intinya, jadikan banjar menjadi tempat untuk mereka berkesenian.

 

Bagaimana Anda membandingkan anak dulu dan sekarang?

Anak-anak sekarang lebih pintar. Mereka memiliki dasar ilmu dan dasar pengalaman, sehingga lebih gampang untuk menerima. Mungkin mereka merasa malu mengeluarkan suaranya untuk nembang ataupun budaya tradisional lainnya. Sedangkan dulu, sangat jarang anak bisa bersekolah karena tidak mendapat dukungan orangtua. Apalagi saya sebagai anak tunggal, sama sekali tidak dibolehkan bersekolah.

 

* pewawancara:
 
budarsana

-------------

BIODATA

Nama                :  Ni Wayan Pusti
Lahir                 :  1930
Suami               :  Alm. I Ketut Sentar
Anak                 :  Ni Wayan Pujawati
Cucu                 :  Luh Putu Sumantri
Cicit                 :  Ni Putu Harum Marsitadewi
Alamat              :  Banjar Adeng, Desa Tegaljadi,Marga,
                            Tabanan.

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com