kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Wage, 7 Januari 2005

 Surat Pembaca


Pilkada
Karangasem, Pembelajaran Politik yang Santun  

Beberapa bulan lagi, tepatnya Juni 2005, momen pemilihan kepala daerah secara langsung akan menjadi perhelatan politik ketiga dalam tatanan kehidupan berbangsa setelah pemilihan legislatif dan eksekutif. Saya berharap, proses ini akan melahirkan figur pemimpin yang mampu membawa Karangasem lima tahun ke depan yang jauh lebih baik.

Ada lima syarat mutlak yang harus dimiliki oleh pemimpin masa depan Karangasem, yakni:

1. Sehat. Kriteria ini adalah harga wajib sebab melihat tantangan yang demikian berat, pemimpin hendaknya memiliki standar kesehatan jasmani yang prima, aktif, kreatif, inovatif, tidak loyo, tidak berpenyakitan, tidak emosional. Juga memiliki kualitas kesehatan rohani yang memadai, jujur, tidak bermental korup, culas, kemaruk, malas meyadnya dan tidak dalam keadaan batin tertekan.

2. Science. Memiliki pendidikan dan ilmu pengetahuan yang memadai sebagai obat yang mujarab untuk menyembuhkan beban kronis ketertinggalan pembangunan di Karangasem, berwawasan global berbudaya tradisional. Dengan begitu proses pembangunan akan dilakukan penuh perhitungan agar tepat sasaran dan tetap guna, sehingga tidak berkesan mubazir dan jor-joran.

3. Sukses. Adalah suatu hal yang sangat mustahil apabila orang yang memimpin Karangasem adalah orang yang gagal dalam karier politik, gagal dalam bisnis, gagal dalam rumah tangga, gagal dalam bersosialisasi dan bermasyarakat, gagal dalam membangun jiwa dan mental dirinya sendiri. Saya takut trauma-trauma seperti itu akan menguat dalam tatanan gaya pemerintahannya lima tahun ke depan, sehingga pemimpin akan asyik dengan urusan pembenahan diri sendiri dan lupa akan kewajibannya yang utama. Dengan kesuksesan itu diharapkan menjadi contoh teladan yang positif mendorong masyarakat lebih giat membangun, bekerja dan berusaha.

4. Sederhana. Kesederhanaan, yang merupakan barang langka dalam pola kehidupan kosmopolitan seperti sekarang ini, adalah contoh yang masih berjalan nyata dalam kehidupan bermasyarakat di Karangasem. Tidak pamer, tidak berfoya-foya, tidak bergaya hidup mewah, sok berkuasa, adalah dambaan masyarakat. Dalam bahasa kesederhanaan itu pula akan muncul sifat dan sikap santun, menghormati perbedaan, tidak suka menjelek-jelekkan orang, tidak sarkasme, dan tidak arogan sehingga masyarakat akan memiliki peluang memiliki figur pemimpin yang bisa digugu dan ditiru.

Kalau memang bisa disederhanakan kenapa mesti diperumit?

5. Spiritual. Ini akan menjadi komplit apabila tongkat kepemimpinan Karangasem dipegang oleh orang yang memiliki semangat mayadnya, ngayah, suka mapunia dan bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi. Kalau tidak sang awarat memberi contoh yang baik lalu siapa lagi?

 

I Ketut Alit Suardana

Jl. Katrangan XI/2

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)