Pilkada Karangasem, Pembelajaran
Politik yang Santun
Beberapa
bulan lagi,
tepatnya Juni
2005, momen pemilihan
kepala daerah
secara langsung
akan menjadi
perhelatan politik
ketiga dalam
tatanan kehidupan
berbangsa setelah
pemilihan legislatif
dan eksekutif.
Saya berharap,
proses ini
akan melahirkan
figur pemimpin
yang mampu membawa
Karangasem
lima
tahun ke
depan yang jauh
lebih baik.
Ada
lima
syarat mutlak
yang harus dimiliki
oleh pemimpin
masa depan
Karangasem, yakni:
1. Sehat.
Kriteria ini
adalah harga
wajib sebab
melihat tantangan
yang demikian berat,
pemimpin hendaknya
memiliki standar
kesehatan jasmani
yang prima, aktif, kreatif,
inovatif, tidak
loyo, tidak
berpenyakitan, tidak
emosional. Juga
memiliki kualitas
kesehatan rohani
yang memadai, jujur,
tidak bermental
korup, culas,
kemaruk, malas
meyadnya dan
tidak dalam
keadaan batin
tertekan.
2. Science. Memiliki
pendidikan dan
ilmu pengetahuan
yang memadai sebagai
obat yang mujarab
untuk menyembuhkan
beban kronis
ketertinggalan pembangunan
di Karangasem,
berwawasan global berbudaya
tradisional. Dengan
begitu proses
pembangunan akan
dilakukan penuh
perhitungan agar tepat
sasaran dan
tetap guna,
sehingga tidak
berkesan mubazir
dan jor-joran.
3. Sukses.
Adalah suatu
hal yang sangat
mustahil apabila
orang yang memimpin
Karangasem adalah
orang yang gagal
dalam karier
politik, gagal
dalam bisnis,
gagal dalam
rumah tangga,
gagal dalam
bersosialisasi dan
bermasyarakat, gagal
dalam membangun
jiwa dan
mental dirinya sendiri.
Saya takut
trauma-trauma seperti itu
akan menguat
dalam tatanan
gaya
pemerintahannya
lima
tahun ke
depan, sehingga
pemimpin akan
asyik dengan
urusan pembenahan
diri sendiri
dan lupa
akan kewajibannya
yang utama. Dengan
kesuksesan itu
diharapkan menjadi
contoh teladan
yang positif mendorong
masyarakat lebih
giat membangun,
bekerja dan
berusaha.
4. Sederhana.
Kesederhanaan, yang merupakan
barang langka
dalam pola
kehidupan kosmopolitan
seperti sekarang
ini, adalah
contoh yang masih
berjalan nyata
dalam kehidupan
bermasyarakat di
Karangasem. Tidak
pamer, tidak
berfoya-foya, tidak
bergaya hidup
mewah, sok
berkuasa, adalah
dambaan masyarakat.
Dalam bahasa
kesederhanaan itu
pula akan muncul
sifat dan
sikap santun,
menghormati perbedaan,
tidak suka
menjelek-jelekkan orang,
tidak sarkasme,
dan tidak
arogan sehingga
masyarakat akan
memiliki peluang
memiliki figur
pemimpin yang bisa
digugu dan
ditiru.
Kalau memang
bisa disederhanakan
kenapa mesti
diperumit?
5. Spiritual. Ini
akan menjadi
komplit apabila
tongkat kepemimpinan
Karangasem dipegang
oleh orang
yang memiliki semangat
mayadnya, ngayah,
suka mapunia
dan bakti
kepada Ida Sang Hyang
Widhi. Kalau
tidak sang awarat
memberi contoh
yang baik lalu
siapa lagi?
I
Ketut Alit Suardana
Jl.
Katrangan XI/2