Terorisme masih Mengintai
PERHATIAN,
konsentrasi dan
kesibukan bangsa,
bahkan sebagian
negara di
dunia belakangan
ini tercurah
pada bencana
tsunami yang merenggut
ratusan ribu
korban jiwa
dan kehancuran
di beberapa
negara. Propinsi
Nanggroe Aceh
Darussalam dan Sumatera
Utara yang menderita
akibat terparah,
mendapat curahan
perhatian kemanusiaan,
moral dan material sangat
tinggi, bukan
saja dari
pemerintah dan
seluruh bangsa
Indonesia, tetapi juga
negara-negara internasional.
Upaya
penyelamatan dan
rehabilitasi korban
serta pemulihan
infrastruktur di
NAD dan Sumut
seakan menguras
seluruh konsentrasi
dan tenaga
pemerintah dan
komponen-komponen masyarakat
hari-hari ini.
Solidaritas berbangsa
yang terlihat hari-hari
ini seakan
tersihir oleh
rasa terhenyak
kita akan
besarnya bencana
gempa bumi
dan tsunami serta
korban yang diakibatkannya,
sehingga persoalan-persoalan
besar lainnya
seakan terpinggirkan
sementara. Persoalan-persoalan
besar tersebut,
di antaranya
ancaman terorisme
yang kemungkinan masih
selalu mengintai
kelengahan kita.
Oleh karena
itulah, sudah
seharusnya kita
tidak boleh
lengah terhadap
ancaman terorisme
ini, di
tengah konsentrasi
bencana bangsa
yang tengah melanda.
Salah satu
alasannya adalah
karena pentolan-pentolan
teroris yang paling dicari
di
Indonesia
dan di
negara-negara lain, yakni
Dr. Azahari dan
Noordin M.Top
sampai hari
ini belum
juga berhasil
dibekuk aparat.
Kedua orang
yang dipercaya sebagai
otak serangkaian
pengeboman di
sejumlah tempat
di Tanah
Air itu masih
berkeliaran.
Bukan
tidak mungkin
kelompok teroris
tersebut masih
merencanakan menyasar
tempat-tempat strategis,
seperti
Bali
. Sebagaimana diungkapkan
Kapolda Bali Irjen
Pol. I Made Mangku
Pastika, posisi
Bali
sebagai daerah
tujuan wisata
favorit masih
juga menjadi
incaran kaum
teroris. Teroris
masih menargetkan
Bali
sebagai sasaran
empuk karena
mudah diserang.
Karena itu,
ancaman terorisme
masih akan
menghantui
Bali
(BP, 6/1).
Oleh
karena pentolan
teroris belum
tertangkap, kewaspadaan
aparat keamanan
di
Bali
harus terus
ditingkatkan. Untuk
itu, Mangku
Pastika mengajak
agar jangan sampai
lengah. Polisi
dan masyarakat
harus bisa
menjalin hubungan
yang baik, salah
satunya adalah
dengan memberdayakan
potensi yang ada
di masyarakat.
Polisi harus
bisa menjadi
mitra masyarakat.
Dalam
konteks menggalang
kewaspadaan terhadap
ancaman terorisme
ini adalah
kemitraan polisi
dengan masyarakat
sudah seharusnya
terkondisikan dengan
baik. Misalnya
melalui arus
informasi yang intensif
dari masyarakat
kepada polisi,
dengan menginformasikan
hal-hal atau
orang-orang yang menunjukkan
gelagat mencurigakan
di sekitar
lingkungannya.
Secara
lembaga, hal
itu dapat
dilakukan dengan
membangun kewaspadaan
krama banjar
dan desa
adat terhadap
gejala dan
gelagat mencurigakan
itu. Banjar
dan desa
adat bisa
sangat efektif
apabila sudah
terbangun kepedulian
di kalangan
krama banjar/desa
adat untuk
ngeh terhadap
gelagat mencurigakan,
baik berupa
peristiwa maupun
perilaku orang/kelompok
orang. Arus
informasi yang intensif
dari krama
dan prajuru
banjar/desa pakraman
serta masyarakat
luas, aparat
keamanan tentunya
akan terbantu
untuk melakukan
langkah-langkah deteksi
lebih dini,
guna mencegah
kemungkinan-kemungkinan
terjadinya kejahatan
seperti terorisme
di
Bali
. Sekalipun Polsek-polsek
selaku ujung
tombak dan
berada terdepan
Polri secara
korps otomatis
harus mampu
melakukan langkah-langkah
deteksi dan
peringatan dini.
Di
sisi lain, dikatakan
dari jumlah
personel aparat
keamanan di
Bali
tidak kekurangan.
Soal rasio,
Polda Bali merupakan
satu-satunya Polda
yang mempunyai perbandingan
1:300. Dari 11 ribu personel
di wilayah
Polda
Bali
dianggap jumlah
yang cukup untuk
mengawal keamanan
daerah dan
3,5 juta penduduk
Bali
. Hal ini tentu
menimbulkan harapan
kita, bahwa
aparat keamanan
di
Bali
akan mampu
memberi rasa
aman kepada
masyarakat di
tengah semakin
canggih dan
kompleksnya kejahatan.
Peristiwa
tak terlupakan
Tragedi Bom
Bali 12 Oktober 2002 harus
menjadi monumen
di dalam
hati warga
Bali untuk menapaki
tahun 2005 ini
lebih waspada
dan ngeh
terhadap setiap
gejala dan
gelagat yang mungkin
dapat menjadi
benih bersarangnya
kejahatan di
Bali. Masyarakat Bali boleh
tetap menjaga
keramah-tamahannya kepada
siapa pun yang datang
dan berada
di
Bali
, tetapi menjadi
lebih waspada
karena pengalaman
di masa
lalu tampaknya
merupakan kewajiban
saat ini.
Salah satunya,
dengan lebih
peduli terhadap
terjaganya keamanan
Bali.