kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Wage, 7 Januari 2005

 Tajuk Rencana

 

 Terorisme masih Mengintai  

PERHATIAN, konsentrasi dan kesibukan bangsa, bahkan sebagian negara di dunia belakangan ini tercurah pada bencana tsunami yang merenggut ratusan ribu korban jiwa dan kehancuran di beberapa negara. Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara yang menderita akibat terparah, mendapat curahan perhatian kemanusiaan, moral dan material sangat tinggi, bukan saja dari pemerintah dan seluruh bangsa Indonesia, tetapi juga negara-negara internasional.

Upaya penyelamatan dan rehabilitasi korban serta pemulihan infrastruktur di NAD dan Sumut seakan menguras seluruh konsentrasi dan tenaga pemerintah dan komponen-komponen masyarakat hari-hari ini. Solidaritas berbangsa yang terlihat hari-hari ini seakan tersihir oleh rasa terhenyak kita akan besarnya bencana gempa bumi dan tsunami serta korban yang diakibatkannya, sehingga persoalan-persoalan besar lainnya seakan terpinggirkan sementara. Persoalan-persoalan besar tersebut, di antaranya ancaman terorisme yang kemungkinan masih selalu mengintai kelengahan kita. Oleh karena itulah, sudah seharusnya kita tidak boleh lengah terhadap ancaman terorisme ini, di tengah konsentrasi bencana bangsa yang tengah melanda. Salah satu alasannya adalah karena pentolan-pentolan teroris yang paling dicari di Indonesia dan di negara-negara lain, yakni Dr. Azahari dan Noordin M.Top sampai hari ini belum juga berhasil dibekuk aparat. Kedua orang yang dipercaya sebagai otak serangkaian pengeboman di sejumlah tempat di Tanah Air itu masih berkeliaran.

Bukan tidak mungkin kelompok teroris tersebut masih merencanakan menyasar tempat-tempat strategis, seperti Bali . Sebagaimana diungkapkan Kapolda Bali Irjen Pol. I Made Mangku Pastika, posisi Bali sebagai daerah tujuan wisata favorit masih juga menjadi incaran kaum teroris. Teroris masih menargetkan Bali sebagai sasaran empuk karena mudah diserang. Karena itu, ancaman terorisme masih akan menghantui Bali (BP, 6/1).

Oleh karena pentolan teroris belum tertangkap, kewaspadaan aparat keamanan di Bali harus terus ditingkatkan. Untuk itu, Mangku Pastika mengajak agar jangan sampai lengah. Polisi dan masyarakat harus bisa menjalin hubungan yang baik, salah satunya adalah dengan memberdayakan potensi yang ada di masyarakat. Polisi harus bisa menjadi mitra masyarakat.

Dalam konteks menggalang kewaspadaan terhadap ancaman terorisme ini adalah kemitraan polisi dengan masyarakat sudah seharusnya terkondisikan dengan baik. Misalnya melalui arus informasi yang intensif dari masyarakat kepada polisi, dengan menginformasikan hal-hal atau orang-orang yang menunjukkan gelagat mencurigakan di sekitar lingkungannya.

Secara lembaga, hal itu dapat dilakukan dengan membangun kewaspadaan krama banjar dan desa adat terhadap gejala dan gelagat mencurigakan itu. Banjar dan desa adat bisa sangat efektif apabila sudah terbangun kepedulian di kalangan krama banjar/desa adat untuk ngeh terhadap gelagat mencurigakan, baik berupa peristiwa maupun perilaku orang/kelompok orang. Arus informasi yang intensif dari krama dan prajuru banjar/desa pakraman serta masyarakat luas, aparat keamanan tentunya akan terbantu untuk melakukan langkah-langkah deteksi lebih dini, guna mencegah kemungkinan-kemungkinan terjadinya kejahatan seperti terorisme di Bali . Sekalipun Polsek-polsek selaku ujung tombak dan berada terdepan Polri secara korps otomatis harus mampu melakukan langkah-langkah deteksi dan peringatan dini.

Di sisi lain, dikatakan dari jumlah personel aparat keamanan di Bali tidak kekurangan. Soal rasio, Polda Bali merupakan satu-satunya Polda yang mempunyai perbandingan 1:300. Dari 11 ribu personel di wilayah Polda Bali dianggap jumlah yang cukup untuk mengawal keamanan daerah dan 3,5 juta penduduk Bali . Hal ini tentu menimbulkan harapan kita, bahwa aparat keamanan di Bali akan mampu memberi rasa aman kepada masyarakat di tengah semakin canggih dan kompleksnya kejahatan.

Peristiwa tak terlupakan Tragedi Bom Bali 12 Oktober 2002 harus menjadi monumen di dalam hati warga Bali untuk menapaki tahun 2005 ini lebih waspada dan ngeh terhadap setiap gejala dan gelagat yang mungkin dapat menjadi benih bersarangnya kejahatan di Bali. Masyarakat Bali boleh tetap menjaga keramah-tamahannya kepada siapa pun yang datang dan berada di Bali , tetapi menjadi lebih waspada karena pengalaman di masa lalu tampaknya merupakan kewajiban saat ini. Salah satunya, dengan lebih peduli terhadap terjaganya keamanan Bali.

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)