kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Wage, 7 Januari 2005

 Artikel

 

Wisata agro merupakan wujud mutualisme antara pertanian dengan pariwisata, di mana kondisi kesetaraan dan saling membutuhkan antara kedua sektor ini amat dibutuhkan terwujudnya di Bali . Bila mutualisme melalui kegiatan wisata agro ini dapat diwujudkan pada beberapa lokasi di Bali, tentulah akan sangat optimal hasilnya bagi Bali, baik keuntungan dari pariwisata maupun pertanian, dan ke depannya keuntungan bagi kelestarian alam Bali.
-------------------------------------------------------

Adakah Harapan Baru bagi Petani Bali?
Oleh
Tri Arya Dhyana K.  

PADA awal tahun baru 2005 ini, ada rencana dari Menteri Perdagangan Kabinet Indonesia Bersatu Mari E. Pangestu yang akan membuka pasar lelang komoditi pertanian. Apakah pembukaan pasar lelang ini akan memberi pengaruh terhadap kehidupan dan kesejahteraan para petani kita yang selama ini identik dengan kelompok masyarakat bawah?

 

 

Rencana pembukaan pasar lelang komoditi pertanian ini secara teori ekonomi memang akan menguntungkan untuk kegiatan perekonomian khususnya menguntungkan bagi pihak petani (produsen) ataupun untuk pihak konsumen. Sebab, pasar lelang ini akan memperlancar arus barang dari produsen ke konsumen tanpa harus melalui pihak ketiga yang selama ini justru merupakan pihak yang terbanyak memperoleh keuntungan. Selain itu, keuntungan lainnya bagi petani adalah adanya kepastian harga yang didapatkan oleh petani dibandingkan kalau melalui calo yang sudah pasti harganya akan lebih rendah.

Memang secara teori, keberadaan pasar lelang komoditi pertanian ini akan menguntungkan, dan merupakan bentuk perhatian dari pemerintah bagi pertanian dan petani kita. Sedangkan bagi Bali , kebijakan pembukaan pasar lelang komoditi pertanian ini merupakan kebijakan yang sejalan dengan kebijakan ekonomi Pemerintah Daerah Bali yang menitikberatkan pada bidang pertanian selain pariwisata dan industri kecil menengahnya. Walau harus diakui bahwa perekonomian Bali sampai saat ini masih sangat tergantung pada perkembangan industri pariwisatanya yang mengandalkan pesona alam, seni, budaya dan adat yang sudah terkenal di mancanegara. Hal ini menyebabkan pertumbuhan PDRB Bali atas dasar harga konstan 1993 menurut lapangan usaha sangat dipengaruhi perkembangan sektor-sektor yang terkait dengan pariwisata seperti sektor perdagangan, hotel dan restoran, angkutan dan komunikasi. Kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran pada tahun 2003 mencapai 30,26 persen dari total PDRB Bali, sementara sektor lain yang dikembangkan merupakan sektor pendukung dari kegiatan pariwisata.

Tetapi, bila dilihat dari kesempatan kerja dan kemampuan menyerap tenaga kerjanya maka sektor yang masuk pada kategori sektor primer lebih memberi peluang dan kesempatan kerja dibandingkan sektor sekunder dan tersiernya, di mana untuk Daerah Bali kesempatan kerja di sektor primer mengalami peningkatan dari 35,81 persen tahun 2000 menjadi 38,62 persen tahun 2003, kemudian pada periode yang sama sektor sekunder mengalami penurunan dari 23,05 persen menjadi 20,27 persen, dan sektor tersier juga mengalami penurunan tipis dari 41,13 persen menjadi 41,11 persen. (PDRB Propinsi Bali Tahun 2003).

Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian di Bali masih merupakan sektor yang sangat potensial dan dapat diandalkan untuk menyerap pengangguran yang semakin meningkat di Bali, apalagi leading sector kita selama ini yaitu pariwisata, sangat rentan dengan perubahan kondisi dalam dan luar negeri. Industri pariwisata Bali sangat tergantung pada kestabilan kondisi keamanan, politik, ekonomi ataupun sosial, bahkan kestabilan alam pun sangat mempengaruhi industri pariwisata ini. Terbukti dengan terjadinya bencana alam gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara, industri pariwisata Bali pun terkena sedikit dampaknya walau secara ilmiah belum ada kajian untuk itu. Namun secara logika, pariwisata Bali yang umumnya mengandalkan objek wisata pantai dan laut tentulah akan sedikit mengalami penurunan kunjungan wisatawan yang hendak berwisata di pantai dan laut untuk sementara waktu.

Karena itulah, sangat ideal apabila ketiga sektor andalan ekonomi Bali ini dapat berjalan beriring dan sejajar, di mana antara pertanian, pariwisata dan industri saling mengisi, mendukung dan saling menguntungkan.

 

Sejajarkan Pertanian-Pariwisata

 

Kita semua tentu mengetahui bahwa tumpuan utama pariwisata Bali selain budaya adalah terletak pada alam lingkungannya yang terkenal sangat indah. Oleh karena diperlukan adanya komitmen untuk tetap menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan alam Bali . Sebab, dampak industri pariwisata tersebut sedikit banyak akan mengganggu keberlangsungan pertanian dan pada akhirnya akan mengganggu keseimbangan dan kelestarian alam.

Sementara kegiatan pertanian merupakan kegiatan mengelola alam yang mempunyai risiko terkecil menyebabkan terganggunya keseimbangan alam, bahkan seringkali kegiatan pertanian ini membawa dampak positif mengembalikan keasrian, kelestarian dan keseimbangan alam.

Melihat begitu pentingnya kedua sektor ini maka antara pariwisata dan pertanian sangat diperlukan adanya kesejajaran perhatian dan komitmen dari semua pihak. Salah satu kegiatan untuk mensejajarkannya yaitu melalui kegiatan wisata agro yang merupakan wujud kesinambungan, keterkaitan dan mutualisme antara sektor pertanian dan sektor pariwisata, melalui pemanfaatan sumber daya pertanian dalam arti luas untuk kepariwisataan.

Wisata agro pada intinya mengandung pengertian suatu kegiatan pariwisata yang memanfaatkan usaha agro (pertanian dalam arti luas; pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan) sebagai objek wisata dengan tujuan memperluas pengetahuan dan pengalaman, ataupun untuk berekreasi serta untuk hubungan usaha di bidang agro. Sehingga, dapat dikatakan bahwa wisata agro merupakan wujud mutualisme antara pertanian dengan pariwisata, di mana kondisi kesetaraan dan saling membutuhkan antara kedua sektor ini amat dibutuhkan terwujudnya di Bali . Bila mutualisme melalui kegiatan wisata agro ini dapat diwujudkan pada beberapa lokasi di Bali, tentulah akan sangat optimal hasilnya bagi Bali, baik keuntungan dari pariwisata maupun pertanian, dan ke depannya keuntungan bagi kelestarian alam Bali.

Peluang untuk keberhasilan wisata agro di Bali amatlah besar, sebab Bali memiliki keunggulan dan keunikan di sektor pertanian dalam arti luas yang dapat dikembangkan sebagai objek dan dan daya tarik wisata agro. Keunikan yang dimiliki pertanian Bali , karena proses keseharian petani dan pertanian Bali merupakan akar budaya luhur Bali .

Pembukaan pasar lelang komoditi pertanian ini, tentulah akan dapat merupakan bagian yang mendukung kegiatan wisata agro ini, sebab wisata agro idealnya mencakup kegiatan pertanian secara menyeluruh, mulai dari penanaman, budi daya, pengolahan sampai ke pemasaran.

Diharapkan pasar lelang komoditi pertanian ini didukung  semua pihak, khususnya dari petani sendiri. Idealnya pasar lelang komoditi pertanian ini dilakukan dengan melibatkan lapisan masyarakat di daerah tersebut.

Kita berharap rencana pembukaan pasar lelang komoditi pertanian di tahun 2005 ini merupakan awal dari kebijakan-kebijakan pemerintah lainnya seperti pemberian subsidi, insentif pajak, pelarangan impor beras, dan lain-lain yang bertujuan mengangkat harkat kehidupan petani di negara kita yang terkenal sebagai negara agraris, namun nasib petaninya memprihatinkan.

 

Penulis, ekonom alumnus pascasarjana UGM, tinggal di Denpasar

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)