kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Wage, 7 Januari 2005

 Nusantara


Ny
. Agian setelah Diusulkan Disuntik Mati--
Ditinggal Suami, Agian ''Hidup'' Lagi  

Masih ingat pasien yang diusulkan suaminya disuntik mati. Dialah Ny. Agian Isna Nauli Sitorus (32). Ibu dua anak ini sejak lima bulan lalu koma, tak bisa bicara, dan tak sadarkan diri sejak persalinan caesar anak keduanya, Agustus 2004. Tak tahan melihat penderitaan istrinya, Panca Satya Hasan Kesuma -- suaminya -- meminta secara resmi ke DPRD Bogor dan Menteri Kesehatan untuk menyuntiknya mati (euthanasia). Namun, permohonan itu belum dikabulkan. Namun sejak sepekan ini, Ny. Agian kembali ''hidup''. Luar biasa.
 

DI ruang perawatan stroke Soepardjo RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, sesosok wanita masih tergolek lemah. Rambutnya diikat ke atas dengan karet warna merah. Di hidungnya masih tertempel selang oksigen. Kedua kakinya masih tertekuk kaku dan tak bia diluruskan. Juga  kedua tangannya yang membengkok dan sekali lagi tak juga belum bisa diluruskan. Selimut biru laut menutupi kaki dan tangannya. Wanita itu tersenyum.
 

Wanita itu begitu bersemangat. Dilahapnya bubur tim kasar yang disodorkan sendok demi sendok oleh saudaranya, Dina. Meski banyak bubur yang tumpah, wanita itu terus mengunyah dengan lahap. Sesekali suster mengganggunya dengan senda gurau. ''Nanti kalau sudah pulang joged ya,'' kata Mala, suster yang menjaga wanita tersebut. ''Ya, a...aku suka goyang domblet,'' ucapnya dengan ejaan seperti anak yang baru belajar bicara.  Lantas, dia tertawa ngakak tetapi datar dan panjang, seperti orang mengerang.
 

Dia adalah Ny. Agian Isna Nauli Sitorus (32).  Senyum wanita ini sempat menebarkan kebahagiaan kepada siapa saja dan di mana saja.  Keharuan membuncah di mana-mana ketika sebuah stasiun televisi menyiarkan kesembuhan Ny. Agian.
 

Ketika digoda Bali Post, apa harapannya setelah bisa pulang ke rumah. Sambil bercanda, Dina menyahut, ''Mau cari pacar lagi, ya.'' Secara spontan, Agian memotong, ''Kulang ajal lo'' (masih dalam ejaan cadel). Dalam suatu kesempatan, Agian memang pernah mengatakan akan mencari pacar baru kalau sudah dinyatakan sehat sempurna -- tetapi itu dalam konteks berseloroh.
 

Seterusnya, Agian bisa menjawab setiap pertanyaan dengan lancar. Misalnya, anaknya dua orang bernama Dika dan Regi. Tinggalnya di Bogor. Suka lagu dangdut. Saat sehat dulu hanya sebagai ibu rumah tangga. Komunikasi antara Agian dan suster berlangsung lancar dan tanpa hambatan berarti.
 

Perkembangan ini sangat menyentuh siapa saja yang menyimak perjalanan Ny. Agian.  Sejak Agustus 2004 lalu, ketika melahirkan anak keduanya, Ny. Agian langsung lumpuh. Suaminya, Hasan Kesuma, bersama LBH Kesehatan menuding dokter melakukan malpraktik. Hingga ditunggu berbulan-bulan, Ny. Agian tak juga sembuh. Lantas, Hasan Kesumah minta dokter menyuntik mati. Wacana euthanasia pun menyebar luas bahkan menjadi buah bibir di masyarakat. Ny. Agian dan Hasan Kesumah menjadi ikon isu kesehatan sepanjang tahun 2004.
 

Makanya, begitu tersiar Ny. Agian ''hidup kembali'', Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyempatkan diri menjenguk Ny. Agian. '' Sekarang Ny . Agian sangat maju. Ini tak lepas dari mukjizat Tuhan dan kesungguhan RSCM. Saya sangat menghargai para dokter, perawat yang telaten merawat Ny. Agian. Sekarang Ny . Agian sudah bisa bicara,'' kata Siti Fadilah usai menjenguk.
 

Dengan kesembuhan ini, Menkes mengkritik keras orang-orang yang mengatasnamakan kemanusiaan kemudian meminta istrinya segera disunik mati (euthanasia). ''Masak orang yang bisa hidup begini mau di-euthanasia. Apakah kaum perempuan akan diam saja. Menurut saya, itu (euthanasia) suatu hujatan,  sesuatu yang sangat menyakiti perempuan. Mana nih LSM yang peduli pada perempuan kok diam saja,'' demikian Siti Fadilah keras.
 

''Kalau kita peduli perempuan, kita harus tidak boleh diam. Ternyata dia bisa hidup dengan perawatan yang sangat baik di RSCM.  Masih hidup kok mau dibunuh,'' katanya. Di masa depan, kasus ini akan menjadi preseden bagi setiap kasus pengajuan euthanasia.

 

Secara medis,  dokter yang menangani perawatan Ny. Agian  memang mengaku terjadi keajaiban dari Tuhan. ''Saya perkirakan setahun baru Ny. Agian bisa sadar,'' kata Prof. Dr. Jusuf Misbach, dokter ahli saraf dan stroke RSCM Jakarta. Ternyata, baru lima bulan ditangani, Agian sudah sadar dan bisa diajak berkomunikasi dengan lancar. ''Ini keajaiban. Ini mukjizat,'' katanya.

 

Keajaiban ini juga diikuti usaha yaitu melakukan fisioterapi, pelatihan, dan pendekatan psikologis. ''Praktisnya, empat bulan dirawat, dia sudh bisa bicara,'' terang Jusuf.
 

Menurut Jusuf, penyakit  yang diderita Agian adalah stroke akut hingga terjadi komplikasi. Kesadarannya hilang, kaki dan tangannya lumpuh dan tertekuk kuat. Perawatan paling penting yang diberikan adalah  dengan mengajaknya berkomunikasi, mengingatkan memorinya, dan pendekatan psikologi agar semangat pasien timbul. ''Selain itu,  tetap dilakukan pemberian obat,'' katanya.
 

Sejak diketahui posisi punggungnya sudah bisa tegak,  kata Jusuf , Ny . Agian langsung diajak jalan-jalan pagi dan sore dengan kursi dorong. Menurutnya, hal ini penting agar memori Agian terangsang untuk berkomunikasi dengan sekitarnya. ''Kalau di luar pasti akan banyak orang bertanya ini-itu,  sehingga dia terpaksa harus menjawab. Itu merangsang pasien bicara,'' lanjutnya.
 

Jusuf Misbach menyesalkan keluarga pasien, terutama suaminya, yang tidak kooperatif dengan dokter. ''Padahal, prinsip penyembuhan pasien itu kepercayaan pasien dengan dokter,'' katanya. Hasan Kesumah, suaminya, memang sempat melaporkan para dokter ke polisi dan mengancam akan menuntutnya ke pengadilan.
 

Baginya, euthanasia bagi pasien Ny. Agian sebenarnya juga tidak tepat. Euthanasia baru bisa dilakukan jika diminta pasien sendiri dan umumnya dialami penderita determina atau kanker yang sangat lanjut. ''Agian itu kan tidak sampai koma,  tetapi stroke akut hingga stadium  sangat rendah,'' katanya.
 

Menariknya, suami Ny. Agian, Hasan Kesumah, saat ini justru ikut menjadi relawan ke Aceh dan tidak menunggui istrinya yang terbaring menunggu antara hidup dan mati.

* heru b. arifin

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)