Ny.
Agian setelah
Diusulkan Disuntik
Mati--
Ditinggal Suami,
Agian ''Hidup''
Lagi
Masih
ingat pasien
yang diusulkan suaminya
disuntik mati. Dialah
Ny. Agian
Isna Nauli
Sitorus (32). Ibu
dua anak
ini sejak
lima bulan
lalu koma,
tak bisa
bicara, dan
tak sadarkan
diri sejak
persalinan caesar
anak keduanya,
Agustus 2004. Tak
tahan melihat
penderitaan istrinya,
Panca Satya
Hasan Kesuma
-- suaminya -- meminta
secara resmi
ke DPRD Bogor
dan Menteri
Kesehatan untuk
menyuntiknya mati
(euthanasia). Namun, permohonan
itu belum
dikabulkan. Namun
sejak sepekan
ini, Ny.
Agian kembali
''hidup''. Luar
biasa.
DI ruang
perawatan stroke Soepardjo
RS Cipto Mangunkusumo
Jakarta, sesosok wanita
masih tergolek
lemah. Rambutnya
diikat ke
atas dengan
karet warna
merah. Di
hidungnya masih
tertempel selang
oksigen. Kedua
kakinya masih
tertekuk kaku
dan tak
bia diluruskan.
Juga
kedua tangannya
yang membengkok dan
sekali lagi
tak juga
belum bisa
diluruskan. Selimut
biru laut
menutupi kaki dan
tangannya. Wanita
itu tersenyum.
Wanita
itu begitu
bersemangat. Dilahapnya bubur tim
kasar yang disodorkan
sendok demi
sendok oleh
saudaranya, Dina. Meski
banyak bubur
yang tumpah, wanita
itu terus
mengunyah dengan
lahap. Sesekali
suster mengganggunya
dengan senda
gurau. ''Nanti
kalau sudah
pulang joged
ya,'' kata
Mala, suster
yang menjaga wanita
tersebut. ''Ya,
a...aku suka
goyang domblet,''
ucapnya dengan
ejaan seperti
anak yang baru
belajar bicara.
Lantas, dia
tertawa ngakak
tetapi datar
dan panjang,
seperti orang
mengerang.
Dia adalah Ny. Agian
Isna Nauli
Sitorus (32).
Senyum wanita
ini sempat
menebarkan kebahagiaan
kepada siapa
saja dan
di mana
saja.
Keharuan membuncah
di mana-mana
ketika sebuah
stasiun televisi
menyiarkan kesembuhan
Ny. Agian.
Ketika digoda Bali Post, apa
harapannya setelah
bisa pulang
ke rumah.
Sambil bercanda,
Dina menyahut, ''Mau cari
pacar lagi,
ya.'' Secara
spontan, Agian
memotong, ''Kulang
ajal lo'' (masih
dalam ejaan
cadel). Dalam
suatu kesempatan,
Agian memang
pernah mengatakan
akan mencari
pacar baru
kalau sudah
dinyatakan sehat
sempurna -- tetapi
itu dalam
konteks berseloroh.
Seterusnya,
Agian bisa
menjawab setiap
pertanyaan dengan
lancar. Misalnya, anaknya dua
orang bernama
Dika dan
Regi. Tinggalnya
di Bogor.
Suka lagu
dangdut. Saat
sehat dulu
hanya sebagai
ibu rumah
tangga. Komunikasi
antara Agian
dan suster
berlangsung lancar
dan tanpa
hambatan berarti.
Perkembangan ini sangat menyentuh
siapa saja
yang menyimak perjalanan
Ny. Agian.
Sejak Agustus
2004 lalu, ketika
melahirkan anak
keduanya, Ny.
Agian langsung
lumpuh. Suaminya,
Hasan Kesuma,
bersama LBH Kesehatan
menuding dokter
melakukan malpraktik.
Hingga ditunggu
berbulan-bulan, Ny.
Agian tak
juga sembuh.
Lantas, Hasan
Kesumah minta
dokter menyuntik
mati. Wacana
euthanasia pun menyebar luas
bahkan menjadi
buah bibir
di masyarakat.
Ny. Agian
dan Hasan
Kesumah menjadi
ikon isu
kesehatan sepanjang
tahun 2004.
Makanya, begitu tersiar Ny.
Agian ''hidup
kembali'', Menteri
Kesehatan Siti
Fadilah Supari
menyempatkan diri
menjenguk Ny.
Agian. ''
Sekarang
Ny
.
Agian sangat
maju. Ini
tak lepas
dari mukjizat
Tuhan dan
kesungguhan RSCM. Saya
sangat menghargai
para dokter,
perawat yang telaten
merawat Ny.
Agian.
Sekarang
Ny
.
Agian sudah
bisa bicara,''
kata Siti
Fadilah usai
menjenguk.
Dengan
kesembuhan ini,
Menkes mengkritik
keras orang-orang
yang mengatasnamakan kemanusiaan
kemudian meminta
istrinya segera
disunik mati
(euthanasia).
''Masak orang
yang bisa hidup
begini mau
di-euthanasia. Apakah
kaum perempuan
akan diam
saja. Menurut
saya, itu
(euthanasia) suatu hujatan,
sesuatu yang sangat
menyakiti perempuan.
Mana nih
LSM yang peduli pada
perempuan kok
diam saja,''
demikian Siti
Fadilah keras.
''Kalau
kita peduli
perempuan, kita
harus tidak
boleh diam.
Ternyata dia
bisa hidup
dengan perawatan
yang sangat baik
di RSCM.
Masih hidup
kok mau
dibunuh,'' katanya.
Di masa
depan, kasus
ini akan
menjadi preseden
bagi setiap
kasus pengajuan
euthanasia.
Secara medis,
dokter yang menangani
perawatan Ny.
Agian
memang mengaku
terjadi keajaiban
dari Tuhan.
''Saya perkirakan
setahun baru
Ny. Agian
bisa sadar,''
kata Prof. Dr. Jusuf
Misbach, dokter
ahli saraf
dan stroke RSCM Jakarta.
Ternyata, baru
lima
bulan
ditangani, Agian
sudah sadar
dan bisa
diajak berkomunikasi
dengan lancar.
''Ini keajaiban.
Ini mukjizat,''
katanya.
Keajaiban
ini juga
diikuti usaha
yaitu melakukan
fisioterapi, pelatihan,
dan pendekatan
psikologis. ''Praktisnya, empat
bulan dirawat,
dia sudh
bisa bicara,''
terang Jusuf.
Menurut Jusuf, penyakit
yang diderita Agian
adalah stroke akut
hingga terjadi
komplikasi. Kesadarannya
hilang, kaki dan
tangannya lumpuh
dan tertekuk
kuat. Perawatan
paling penting yang diberikan
adalah
dengan mengajaknya
berkomunikasi, mengingatkan
memorinya, dan
pendekatan psikologi
agar semangat pasien
timbul. ''Selain
itu,
tetap dilakukan
pemberian obat,''
katanya.
Sejak diketahui posisi punggungnya
sudah bisa
tegak,
kata
Jusuf
,
Ny
. Agian langsung diajak
jalan-jalan pagi
dan sore dengan
kursi dorong.
Menurutnya, hal
ini penting
agar memori Agian
terangsang untuk
berkomunikasi dengan
sekitarnya. ''Kalau
di luar
pasti akan
banyak orang
bertanya ini-itu,
sehingga dia
terpaksa harus
menjawab. Itu
merangsang pasien
bicara,'' lanjutnya.
Jusuf
Misbach menyesalkan
keluarga pasien,
terutama suaminya,
yang tidak kooperatif
dengan dokter. ''Padahal,
prinsip penyembuhan
pasien itu
kepercayaan pasien
dengan dokter,''
katanya. Hasan
Kesumah, suaminya,
memang sempat
melaporkan para
dokter ke
polisi dan
mengancam akan
menuntutnya ke
pengadilan.
Baginya, euthanasia bagi pasien
Ny. Agian
sebenarnya juga
tidak tepat.
Euthanasia baru
bisa dilakukan
jika diminta
pasien sendiri
dan umumnya
dialami penderita
determina atau
kanker yang sangat
lanjut. ''Agian
itu
kan
tidak sampai koma,
tetapi stroke akut
hingga stadium
sangat rendah,''
katanya.
Menariknya, suami Ny. Agian,
Hasan Kesumah,
saat ini
justru ikut
menjadi relawan
ke Aceh
dan tidak
menunggui istrinya
yang terbaring menunggu
antara hidup
dan mati.
* heru b. arifin