KTT Tsunami Angkat Rupiah
dan IHSG
Jakarta
(
Bali
Post) -
Konferensi Tingkat Tinggi
(KTT) Tsunami berhasil memberikan
sinyal positif
terhadap rupiah
dan pasar
bursa. Nilai tukar
rupiah terhadap
dolar AS di
pasar spot antarbank
Kamis (6/1) kemarin
dilaporkan menguat
pada level Rp
9.265/9.295 per dolar AS, karena
didukung sentimen
positif sidang
KTT Tsunami. Sementara pada
perdagangan Rabu
(5/1) lalu, rupiah
ditutup di
kisaran 9.285/9.315 per dolar
AS.
Sejak pagi
kurs rupiah
terlihat menguat
di bawah
level 9.300 di kisaran
9.280/9.290 per dolar AS.
Hingga sesi
siang, rupiah
terus menguat
ke kisaran
9.275/9.285 per dolar AS.
Tampak pelaku
pasar optimis
bahwa negara-negara
terkaya di
dunia akan
mengurangi utang
luar negeri
Indonesia
guna membantu
proses pemulihan
pascabencana tsunami, sehingga
tekanan atas
permintaan dolar
AS berkurang.
Sementara itu,
indeks Bursa Efek
Jakarta (BEJ) pada perdagangan
sesi kedua,
Kamis kemarin
ditutup melesat
14,455 poin (1,424 persen)
ke level 1.029,886. Ini
akibat pembelian
kembali terhadap
sejumlah saham
terutama pada
beberapa saham
yang berkapitalisasi besar
seperti TLKM, ISAT, GGRM dan
HMSP. Penguatan IHSG juga
mampu mendongkrak
indeks LQ45, yang memuat
45 saham paling likuid
ke level 225,474 atau
menguat 3,955 poin
(1,785 persen).
Demikian juga
Jakarta Islamic Index naik
4,305 poin (2,559 persen)
menjadi 172,509. Penguatan
indeks ini
juga didukung
oleh sentimen
positif KTT tsunami. Aktivitas
transaksi para
pemodal, khususnya
pemodal asing
kembali ramai.
Investor asing
membeli saham
senilai Rp
859,191 milyar dan
menjual saham
senilai Rp
673,101 milyar, sehingga
terjadi net buying sebesar
Rp 186,090 milyar.
Secara
umum, volume saham
yang ditransaksikan mencapai
2,336 milyar lembar
saham senilai
Rp 2,305 trilyun
dengan frekuensi
sebanyak 25.712 kali transaksi.
Adapun total jenis
saham yang diperdagangkan
sebanyak 208 saham
dengan rincian
80 menguat, 86 stagnan
dan 42 melemah.
Di pihak
lain Bank Indonesia (BI) melaporkan,
posisi cadangan
devisa per 31 Desember
2004 naik 423,30 juta
dolar AS hingga
saat ini
mencapai 36,32 milyar
dolar AS jika
dibandingkan posisi
minggu sebelumnya.
Kenaikan tersebut
terutama disebabkan
oleh penerimaan
migas dan
penerimaan pinjaman
luar negeri.
Sementara posisi
uang primer meningkat
Rp 15,96
trilyun hingga
mencapai Rp
199,45 trilyun. Dilihat
dari komponennya,
peningkatan tersebut
terutama disebabkan
oleh meningkatnya
uang kertas
dan uang
logam yang diedarkan
serta naiknya
saldo giro
bank. Tagihan Bersih
kepada Pemerintah
Pusat naik
sebesar Rp
7,86 trilyun hingga
mencapai Rp
226,62 trilyun, terutama
disebabkan oleh
pembayaran dana
alokasi umum,
kupon obligasi
pemerintah, serta
pinjaman luar
negeri.
Kredit Likuiditas
Bank Indonesia (KLBI) realtif
tidak mengalami
perubahan. Adapun
Operasi Pasar
Terbuka (OPT) secara
netto memberikan
dampak ekspansi
sebesar Rp
6 trilyun. Dengan
perkembangan itu,
NDA (Net Domestic Asset) dalam
minggu ini
memberikan pengaruh
ekspansi sebesar
Rp 14,00 trilyun
sehingga menjadi
Rp 28,60 trilyun.
(kmb2)