kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Wage, 7 Januari 2005

 Ekonomi


KTT Tsunami Angkat Rupiah dan IHSG
 

Jakarta ( Bali Post) -
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Tsunami berhasil memberikan sinyal positif terhadap rupiah dan pasar bursa.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Kamis (6/1) kemarin dilaporkan menguat pada level Rp 9.265/9.295 per dolar AS, karena didukung sentimen positif sidang KTT Tsunami. Sementara pada perdagangan Rabu (5/1) lalu, rupiah ditutup di kisaran 9.285/9.315 per dolar AS.

Sejak pagi kurs rupiah terlihat menguat di bawah level 9.300 di kisaran 9.280/9.290 per dolar AS. Hingga sesi siang, rupiah terus menguat ke kisaran 9.275/9.285 per dolar AS. Tampak pelaku pasar optimis bahwa negara-negara terkaya di dunia akan mengurangi utang luar negeri Indonesia guna membantu proses pemulihan pascabencana tsunami, sehingga tekanan atas permintaan dolar AS berkurang.

Sementara itu, indeks Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada perdagangan sesi kedua, Kamis kemarin ditutup melesat 14,455 poin (1,424 persen) ke level 1.029,886. Ini akibat pembelian kembali terhadap sejumlah saham terutama pada beberapa saham yang berkapitalisasi besar seperti TLKM, ISAT, GGRM dan HMSP. Penguatan IHSG juga mampu mendongkrak indeks LQ45, yang memuat 45 saham paling likuid ke level 225,474 atau menguat 3,955 poin (1,785 persen).

Demikian juga Jakarta Islamic Index naik 4,305 poin (2,559 persen) menjadi 172,509. Penguatan indeks ini juga didukung oleh sentimen positif KTT tsunami. Aktivitas transaksi para pemodal, khususnya pemodal asing kembali ramai. Investor asing membeli saham senilai Rp 859,191 milyar dan menjual saham senilai Rp 673,101 milyar, sehingga terjadi net buying sebesar Rp 186,090 milyar.

Secara umum, volume saham yang ditransaksikan mencapai 2,336 milyar lembar saham senilai Rp 2,305 trilyun dengan frekuensi sebanyak 25.712 kali transaksi. Adapun total jenis saham yang diperdagangkan sebanyak 208 saham dengan rincian 80 menguat, 86 stagnan dan 42 melemah.

Di pihak lain Bank Indonesia (BI) melaporkan, posisi cadangan devisa per 31 Desember 2004 naik 423,30 juta dolar AS hingga saat ini mencapai 36,32 milyar dolar AS jika dibandingkan posisi minggu sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh penerimaan migas dan penerimaan pinjaman luar negeri. Sementara posisi uang primer meningkat Rp 15,96 trilyun hingga mencapai Rp 199,45 trilyun. Dilihat dari komponennya, peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya uang kertas dan uang logam yang diedarkan serta naiknya saldo giro bank. Tagihan Bersih kepada Pemerintah Pusat naik sebesar Rp 7,86 trilyun hingga mencapai Rp 226,62 trilyun, terutama disebabkan oleh pembayaran dana alokasi umum, kupon obligasi pemerintah, serta pinjaman luar negeri.

Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) realtif tidak mengalami perubahan. Adapun Operasi Pasar Terbuka (OPT) secara netto memberikan dampak ekspansi sebesar Rp 6 trilyun. Dengan perkembangan itu, NDA (Net Domestic Asset) dalam minggu ini memberikan pengaruh ekspansi sebesar Rp 14,00 trilyun sehingga menjadi Rp 28,60 trilyun. (kmb2)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)