Dialog dengan Anggota
DPD
--
Kesejahteraan Guru Dipertanyakan
JANJI
pemerintah untuk
menaikkan gaji
guru minimal Rp 2 juta,
dipertanyakan kalangan
pendidik. Demikian
pula komitmen pemerintah
untuk memajukan
dunia pendidikan
lewat peningkatan
anggaran 20 persen
dari APBN, juga
mengemuka dalam
dialog antara anggota
Dewan Perwakilan
Daerah (DPD) dan
kalangan pendidikan,
di aula PR Saraswati,
Kamis (6/1) kemarin.
Apa lagi?
Anggota DPD dari
Bali Drs. I.B. Agastia yang membidangi
pendidikan dan
agama, ''pulang kampung''
menyerap aspirasi
seputar dunia
pendidikan. Aspirasi
itu akan
dibawa ke
Jakarta
untuk diteruskan
kepada pihak
yang berwenang. Sejumlah
hal mengemuka
pada dialog yang dihadiri
Kadis Pendidikan
Propinsi Bali, Rektor
Unmas, pengurus
PR Saraswati dan
Dwijendra, guru-guru dan
para dosen
tersebut.
Beberapa
di antaranya
menyangkut anggaran
pendidikan, kesejahteraan
guru, diskriminasi kucuran
dana pendidikan
antara sekolah
negeri dan
swasta serta
perlunya dibentuk
dewan pendidikan.
Kegiatan itu
dipandu Kasubdin
Dikmenum dan
Dikmenjur Disdik
Bali Drs. Ketut Wija.
I.B. Agastia
mengatakan anggaran
pendidikan 20 persen
dari APBN belum
mampu direalisasikan
pemerintah. Tetapi
ada daerah
yang mampu menganggarkan
dana di
atas itu
yakni Propinsi
Kutai. Propinsi
di Kaltim
itu memang
kaya, karena
memiliki tambang
emas dan
batubara.
Bali
sesungguhnya
memiliki tambang
''emas'' berupa
pariwisata. Tetapi
Agastia tidak
tahu seberapa
besar tambang
pariwisata itu
memberikan kontribusi
untuk dunia
pendidikan.
Yang jelas,
Pemprop Bali mesti
memiliki komitmen
untuk selalu
meningkatkan anggaran
pendidikan. ''Jika
tidak menyulitkan,
anggaran 20 persen
dari APBD itu
ke depan
hendaknya bisa
diwujudkan,'' katanya.
Harapan
yang sama disampaikan
dosen Unmas
Pande Swastawa
bahwa pemerintah
hendaknya memiliki
komitmen yang tinggi
terhadap dunia
pendidikan. Kata
Pande,
Bali
ke depan
mestinya mampu
menganggarkan 20 persen
APBD-nya untuk
pendidikan. Bahkan,
harapan agar Bali bisa
menjadi pelopor
untuk menganggarkan
20 persen APBD-nya
untuk pendidikan,
sempat disampaikan
Agastia kepada
Gubernur beberapa
waktu silam.
Untuk memajukan
dunia pendidikan
di
Bali
, Agastia
berharap agar dewan
pendidikan segera
diwujudrealkan. Dewan
pendidikan itu
diharapkan menjadi
tink tank untuk
memikirkan konsep
pendidikan ke
depan. Kata
Agastia, rancangan
pendidikan yang dibuat
Pusat memang
mesti diperhatikan.
Tetapi,
Bali
sebagai
daerah yang memiliki
kekhasan mesti
ada rancangan
pendidikan yang memperhatikan
unsur logika,
estetika dan
etika. Dekan
FKIP Unmas Wayan
Maba juga
memandang perlu
adanya dewan
pendidikan.
Menanggapi harapan
Agastia agar
Bali
segera memiliki
dewan pendidikan,
Kadis Pendidikan
Gusti Ngurah
Oka mengatakan
Disdik telah
membidani berdirinya
lembaga tersebut,
namun belum
lahir. Lembaga
yang diharapkan ikut
memikirkan pendidikan
di
Bali
itu tampaknya
tidak lama lagi
akan hadir.
Tetapi, kata
Ngurah Oka,
dewan pendidikan
kota
dan kabupaten
di
Bali
sudah terbentuk
serta telah
menjalankan fungsinya.
Sementara
Rektor Unmas
Cok. Istri
Ramaswati mempertanyakan
realisasi janji
pemerintah untuk
meningkatkan gaji
para guru minimal Rp
2 juta. Tak
itu saja,
Ramaswati juga
menanyakan terjadinya
diskriminasi sumbangan
dana pemerintah
untuk sekolah
swasta dan
negeri. Sumbangan
kepada sekolah
swasta dinilai
jauh lebih
kecil dibandingkan
dengan sekolah
negeri.
Terhadap janji
peningkatan gaji
guru, Agastia mengatakan
jika pernah
dijanjikan seperti
itu hendaknya
guru terus menyuarakannya.
Pihaknya juga
akan meneruskan
aspirasi itu
ke pusat.
Soal adanya
diskriminasi, Ngurah
Oka mengatakan
dulu memang
ada kesan
seperti itu.
Tetapi belakangan,
sekolah swasta
juga sudah
mendapat perhatian.
Terbukti, dana
block grant atau proyek-proyek
juga sudah
mengucur ke
sejumlah sekolah
swasta. Ke
depan, perhatian
kepada sekolah
swasta akan
diupayakan terus
meningkat. (lun)