Kader PDI-P Merasa
Jadi Sasaran
Tembak
SELAIN
segera dituntaskan,
penanganan kasus
penyimpangan APBD ini
hendaknya jangan
pandang bulu.
Hal ini ditegaskan
mantan anggota
DPRD Klungkung, Wayan
Mastra. Dia
sangat mendukung
langkah Kejari
dalam menegakkan
supremasi hukum.
''Itu
harus ditelusuri
secara tuntas.
Yang bertanggung
jawab dalam
pengesahan APBD itu
bukan hanya
anggota Dewan
tetapi juga
pejabat eksekutif.
Belum lagi,
Perda APBD yang dihasilkan
juga sudah
mendapat persetujuan
dan pengesahan
Gubernur bahkan
Mendagri. Hal
itu juga
mesti dilihat,''
katanya.
Secara psikis,
gebrakan Kejati
ini juga
ada hasilnya.
Ketua Fraksi
PDI-P IGM Suryanta Putra
di DPR Tabanan
berterus terang,
jika Dewan
sekarang merasa
khawatir dan
takut dalam
menetapkan APBD tahun
anggaran 2005 mendatang.
Payung hukum
sekarang dinilai
belum jelas
untuk dijadikan
dasar penetapan
APBD seperti yang terjadi
sebelumnya. Terbukti,
sebuah produk
hukum perda
dan aturan
lainnya nyatanya
masih bisa
dipersoalkan.
Sedangkan Ketua
DPRD I Wayan Sukaja
melihat sebenarnya
APBD tersebut sudah
melewati prosedur
dan mekanisme
yang berlaku yakni
disampaikan ke
Gubernur diteruskan
ke Mendagri,
Kejaksaan, dan
lembaga-lembaga pemerintah
terkait lainnya.
''Secara
pribadi saya
melihat nuansa
politik cukup
kental di
balik upaya
penegakan hukum
yang berjalan setengah-setengah
ini,'' tudingnya.
Keprihatian
juga dilontarkan
Bupati N. Adi
Wiryatama, S.Sos.,
M.Si. Sama
halnya dengan
Sukaja, ia
juga menanyakan
kenapa kasus
serupa yang pernah
terjadi sebelumnya
tidak pernah
diungkit. Kenapa
baru sekarang
disentuh dan
justru melibatkan
semua kader
PDI Perjuangan. Sebaliknya,
kalau mengacu
pada penegakan
supremasi hukum,
ia setuju
saja hal
itu dilaksanakan.
Sementara itu,
Ketua DPRD Gianyar
Agus Mahayastra,
juga menuding
kejadian itu
sangat kental
nuansa politisnya.
Dia juga
mengaku heran,
mengapa baru
saat ini
ada aparat
hukum yang sampai
"mengobok-obok" atau
"membedah" APBD.
Yang lebih
mengherankan lagi,
"pembedahan" APBD itu
baru dimulai
atau hanya
menyasar anggota
DPRD periode 1999-2004 yang notabene
didominasi kader-kader
PDI-P. Jadi, sepertinya,
kader PDI-P hanya
dijadikan sasaran
tembak. Kendati
begitu, kader
PDI-P dari Payangan
ini mengharapkan
rekan-rekannya jangan
sampai trauma menyikapi
permasalahan tersebut.
Menurut dia,
Kamis kemarin
pihaknya langsung
menggelar rapat
di tingkat
internal partai (DPD PDI-P
Bali-red) untuk menyikapi
permasalahan tersebut.
Tujuannya, agar komponen
PDI-P jangan sampai
terpancing emosi
dan melakukan
reaksi-reaksi yang berlebihan.
"Artinya,
kami menghormati
hukum yang berjalan.
Karena ini
adalah tugas
dia (maksudnya
kejaksaan-red), kewenangan
dia dan
kewajiban dia.
Kami hormati
dan ikuti
prosedur yang ada,"
katanya lagi.
(Tim BP)